...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, suasana kota terasa segar ketika matahari baru terbit. Alex bersiap-siap untuk pergi ke kantor detektif miliknya, berharap hari ini berjalan seperti biasa. Namun, kejutan menanti di ambang pintu rumahnya.
“Selamat pagi, detektif Alex,” sapa Isabella tersenyum misterius.
“Isabella? Bagaimana dia bisa...?” gumam Alex terkejut.
Isabella, dengan penampilannya yang tetap cantik dan lembut, memberikan salam pagi membuat Alex terkejut. Dia berdiri di ambang pintu rumah, menyapa dengan senyuman yang tidak bisa dijelaskan oleh logika detektif itu.
“Apa anda tidak senang melihatku?” tanya Isabella mengarahkan telunjuknya ke wajahnya sendiri.
“Tentu, tapi kemarin kamu... Bagaimana kamu bisa muncul seperti ini? Di…di pagi hari?”
Isabella hanya tertawa lembut, seolah-olah menikmati kebingungan Alex. Dia melangkah mendekati detektif itu, memperdalam suasana misterius yang selalu menyertainya.
“Detektif, ada hal-hal lebih besar di dunia ini daripada yang bisa dijelaskan oleh pikiranmu yang rasional,” ucap Isabella.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku harus pergi ke kantor!” tegas Alex.
Meskipun Alex mencoba untuk membuang perhatian dari kehadiran Isabella, detektif itu tetap merasa ada sesuatu yang tidak beres. Isabella melihatnya dengan tatapan tajam sepertinya menembus pikiran Alex.
“Hati-hati, detektif Alex. Bahaya mungkin mengintai di setiap sudut. Jaga diri baik-baik,” ucap Isabella menakut-takuti Alex.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud. Dan aku bisa menjaga diri sendiri.”
Isabella hanya mengangguk, seolah-olah mengerti bahwa detektif itu tidak mudah dipengaruhi oleh kata-katanya. Namun, sebelum Alex bisa memberikan tanggapan lebih lanjut, Isabella pergi begitu saja keluar gerbang rumah Alex, meninggalkan Alex yang merasa semakin bingung.
“Ini semua tidak masuk akal,” gumamnya frustasi.
Dengan perasaan campur aduk, Alex melanjutkan perjalanannya ke kantor miliknya. Di dalam hatinya, rasa penasaran dan kegelisahannya semakin tumbuh.
...****************...
Alex memasuki kantor detektifnya dengan pikiran masih terguncang oleh kehadiran misterius Isabella. Seakan melupakan bayangan misterius itu, dia disambut oleh atmosfer sibuk di kantor. Sambil berjalan ke ruang kerjanya, seorang karyawan cantik, selalu andal dalam menangani tugas-tugasnya, Diana, mengikutinya.
“Selamat pagi, Bos. Ada sesuatu yang perlu aku informasikan,” sapa Diana.
“Apa itu?” tanya Alex.
Diana, dengan senyuman profesionalnya, memberikan informasi mungkin relevan untuk Alex. Karyawan tersebut selalu bisa diandalkan dan menjadi tulang punggung kantor detektif Alex.
“Pagi ini pukul 09.00, ada seorang tamu yang sudah mengonfirmasi janji. Dia mengatakan memiliki informasi yang bisa berguna untuk kasus Isabella,” ucap Diana memberitahu.
“Baik, terima kasih atas informasinya. Pastikan ruang rapat sudah siap untuk pertemuan,” sahut Alex memberi perintah.
Diana mengangguk dan melanjutkan untuk memastikan persiapan pertemuan berjalan lancar. Alex melanjutkan untuk masuk ke ruang kerjanya, tetapi Diana tetap mengikutinya, sementara memandang sekitar dengan rasa bangga akan kinerja timnya.
“Bos, apakah ada hal lain yang perlu aku bantu hari ini?” tanya Diana.
“Tidak, Diana, itu saja. Terima kasih atas kerjamu yang selalu luar biasa,” sahut Alex.
Alex merasa beruntung memiliki karyawan seperti Diana. Wanita pintar dan efisien, selalu siap menangani tugas-tugasnya tanpa mengalami kesulitan. Namun, ada sesuatu masih mengganjal di dalam pikiran detektif itu.
“Diana, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Aku mengalami kejadian aneh beberapa hari ini. Apakah kamu percaya pada hal-hal supernatural?”
“Tidak, Bos. Aku lebih suka berpegang pada fakta dan bukti yang nyata,” sahut Diana menyampaikan keyakinannya pada pendekatan rasional dan fakta.
“Baiklah, tetapi jika ada sesuatu yang menarik perhatianmu, beri tahuku. Aku yakin kita bisa menyelesaikannya bersama-sama,” ucap Alex.
“Tentu, Bos. Aku akan memastikan semuanya berjalan lancar,” sahut Diana.
Dengan senyuman dan salam hormat, Diana meninggalkan ruang kerja Alex untuk mempersiapkan pertemuan dengan tamu yang akan datang. Sementara itu, detektif itu duduk di mejanya, memikirkan misteri mengitari kehidupannya dan menunggu pengungkapan rahasia mungkin muncul dalam pertemuan selanjutnya.
Kantor detektif Alex dipenuhi dengan aroma kopi dan atmosfer serius ketika dia melangkah menuju ruang rapat. Pukul 09.00 tepat, pintu ruang rapat terbuka dan seorang wanita muda, rambut pendek berwarna hitam berkilau, dengan tatapan gelap dan berpenampilan elegan memasuki ruangan.
“Selamat pagi. Saya Alex. Anda pasti yang mengonfirmasi janji pertemuan jam 9, bukan?” tanya Alex pada wanita muda berdiri di depan pintu.
“Ya, saya memang. Saya Laura. Ada sesuatu yang sangat mendesak, detektif,” sahut wanita itu tersenyum tipis.
Laura duduk di seberang meja, menutup pintu rapat dengan hati-hati. Wajahnya memancarkan ketegangan dan kecemasan. Alex mengamati dengan tajam, siap mendengarkan permintaan kliennya.
“Tentu, Laura. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Alex.
“Saya membutuhkan bantuan Anda untuk menyelidiki kematian Isabella. Saya yakin ada orang di balik itu, dan saya tidak tahu kepada siapa harus berbicara,” sahut Laura.
Alex sedikit tercengang. Mata Laura menyiratkan rasa putus asa dan keinginan untuk kebenaran. Detektif itu mulai merenung, menggali kenangan tentang Isabella dan peristiwa tragis yang terjadi.
“Kenapa Anda yakin ada yang terlibat dalam kematian Isabella? Dan apa hubungan Anda dengan dia?” tanya Alex.
“Saya adalah sahabatnya. Kami berbagi banyak rahasia. Dan ada sesuatu yang harus diketahui dunia tentang siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya,” sahut Laura.
Percakapan terhenti sejenak. Alex memperhatikan sorot mata Laura yang penuh emosi, mencoba membaca di balik kata-kata dan ekspresi wajahnya.
“Baik, Laura. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membantumu. Apa yang bisa Anda berikan untuk dimulai?” tanya Alex.
“Saya punya catatan percakapan kami, pesan, dan banyak informasi lainnya. Saya ingin Anda menyelidiki dengan seksama,” sahut Laura.
Alex mengangguk, mengumpulkan dokumen yang diberikan Laura. Mata detektif itu penuh dengan tekad untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Isabella. Pertemuan ini menjadi poin awal dari investigasi yang akan membawa Alex ke dunia misteri yang semakin dalam.
“Saya akan segera memeriksanya, Laura,” ucap Alex.
“Terima kasih, Detektif. Saya yakin Anda adalah orang yang tepat untuk membantu,” ucap Laura menghela nafas lega.
Alex membuka berkas yang disodorkan oleh Laura, dan tatapannya langsung terpaku pada bukti-bukti ada di depannya. Sorot matanya menyiratkan campuran kejutan dan ketidakpercayaan.
“Ini... sungguh luar biasa. Bagaimana kamu bisa memiliki semua ini?” tanya Alex.
“Isabella memberikannya padaku sebelum kepergiannya. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres, dan dia khawatir akan keselamatanku,” sahut Laura.
Laura memandangi Alex dengan mata penuh harapan, seakan memberikan tanggung jawab besar pada detektif itu. Alex menyadari bahwa bukti-bukti ini bukanlah sekadar petunjuk biasa.
“Baiklah, saya akan memeriksanya dengan seksama. Tetapi saya butuh lebih banyak informasi. Apakah ada yang mencurigakan sebelum atau setelah kejadian tersebut?”
“Beberapa minggu sebelumnya, Isabella terlihat sangat gelisah. Dia bahkan menyebutkan nama-nama orang yang mungkin terlibat,” sahut Laura menjelaskan sedikit demi sedikit.
Detektif dan kliennya terus bertukar informasi, mencoba merinci setiap detail yang mungkin mengarah pada dalang di balik kematian Isabella. Alex mencatat segala informasi penting dalam catatan investigasinya.
“Nama-nama ini dapat menjadi titik awal yang baik. Apa yang kita butuhkan adalah bukti lebih lanjut. Saya akan bergerak cepat untuk mendapatkan jawaban,” ucap Alex menegaskan.
“Saya yakin anda bisa melakukan itu, Detektif. Hanya Anda yang bisa membongkar kebenaran ini.”
“Sebelum lanjut menyelidiki kasus kematian Isabella. Apakah kamu tahu berapa tarif—”
“Soal tarif. Anda tidak perlu khawatir detektif Alex, saya sudah menyediakan jumlah uang yang sesuai dengan pencarian ini,” sela Laura cepat.
“Oh, bagus kalau seperti itu,” ucap Alex, bibirnya terus melempar tawa kecil, tangannya menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Karena uang yang akan kau terima setara dengan nyawamu,” batin Laura.
Dengan tekad membara, Alex mengangguk pada Laura dan memulai perencanaan untuk menyelidiki lebih lanjut. Berkas-berkas yang diberikan Laura menjadi petunjuk penting, dan Alex siap menghadapi setiap rintangan dalam membawa keadilan untuk Isabella.
“Saya akan bekerja secepat mungkin. Jika ada perkembangan, saya akan segera memberi tahu kamu,” ucap Alex.
“Terima kasih, Detektif. Saya akan menunggu kabar baik dari Anda.”
“Tentu,” sahut Alex dengan anggukkan.
“Mari saya antar sampai ke depan,” ucap Diana memberikan sebuah penawaran.
“Baik, terimakasih Diana,” sahut Laura.
Laura beranjak dari duduk. Ditemani Diana, mulai melangkah anggun meninggalkan ruang rapat. Alex menyimpan berkas-berkas itu kembali ke dalam mapnya, dan Laura meninggalkan ruang rapat dengan harapan baru yang terpancar di wajahnya. Detektif itu merenung sejenak, menyadari bahwa misinya tidak hanya untuk mencari kebenaran, tetapi juga untuk memberikan keadilan bagi Isabella.
Laura telah melangkah anggun keluar dari kantor Alex. Langkah kakinya terhenti di samping mobil berwarna putih, ia masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Jalankan mobilnya,” tegas Laura menyuruh supir untuk meninggalkan daerah perkantoran Alex.
Mobil mewah berwarna putih itu telah pergi meninggalkan daerah perkantoran Alex. Laura, membuka rambut hitam indahnya, wajah tirus dan cantik itu di tutupi kaca mata hitam, sudut bibirnya terangkat sedikit, tersenyum misterius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Wah ternyata ada udang di balik batu nih
2024-02-20
0
Agan
bener kecurigaanku, Laura seeprtinya bukan teman Isabella. Soalnya, dari awal arwah Isabella sudah datangi Alex. Berarti dia mati dalam keadaan tidak tenang
2024-02-10
0
RIO SIAGAN
Jangan percaya. Kalau memang Isabella memiliki sahabat, kenapa arwahnya langsung ingin minta tolong
2024-02-06
0