Detik-detik ketidakpastian menggelayuti ruang tidur Alex setelah Isabella kembali ke dalam mimpi. Cahaya redup lampu tidur menghiasi ruangan, memantulkan bayangan lembut di sekeliling. Alex melangkah menjauh dari tempat tidur, meninggalkan Isabella yang tertidur di sana, dan menuju lemari pakaian.
“Mengingat ada dua bukti yang berbeda berada di genggaman tanganku. Apakah sebaiknya aku bertanya tentang Laura kepada Isabella?” batin Alex.
Alex menghentikan langkahnya di depan lemari pakaian, memandang arwah Isabella tertidur di tempat tidurnya. Dua dokumen berisi bukti-bukti mengenai meninggalnya Isabella benar-benar membuatnya bingung. Tidak ingin penyelidikannya tersendat, Alex memutuskan untuk mencari informasi sedikit dengan arwah Isabella.
“Siapa sebenarnya Laura, Isabella? Apa hubunganmu dengannya?” tanya Alex.
Isabella membuka mata dan berkata, “Laura?”
“Iya. Apa kamu mengenal seorang wanita bernama Laura?” tanya Alex.
“Aku tidak tahu siapa itu Laura,” sahut Isabella, namun dirinya teringat bahwa Alex adalah seorang lelaki hidung belang yang terkadang menyewa wanita malam untuk melampiaskan depresinya.
“Oooh!!! Jangan bilang kalau anda baru saja bersenang-senang dengan wanita malam yang bernama Laura?” cetus Isabella bersemangat.
“Aku serius, Isabella!”
“Tidak, aku tidak mengenal wanita bernama Laura,” ucap Isabella.
“Apakah kamu tidak memiliki teman, keluarga, atau semacamnya?” tanya Alex kembali, tubuhnya masih berdiri di depan lemari pakaian, membelakangi Isabella.
“Tidak. Aku hanya seorang diri di dunia ini. Dan…teman sejatiku hanya dunia yang kejam ini,” sahut Isabella dengan suara lembut, namun di dalam sorot matanya menyimpan sebuah kepedihan, dan sekilas kenangan pahit, sebuah ruang tamu yang dilumuri darah, serta jejak-jejak pemberontakan.
“Apakah ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan?” tanya Alex menyelidiki.
Wajah Isabella tampak penuh kebingungan, mencerminkan ketidakmengertian atas pertanyaan Alex. Suasana yang tadinya penuh misteri, kini terasa semakin rumit.
“Detektif Alex, aku tidak punya rahasia darimu. Aku hanya tahu sebatas yang aku alami selama hidupku.”
Alex mengangguk, menerima jawaban Isabella meski masih merasa ada yang tidak beres. Dengan langkah-langkah pelan, ia membuka lemari pakaian untuk mengambil piyama tidur.
“Baiklah, mungkin aku sedang memikirkan terlalu banyak hal. Aku akan mengganti pakaian di kamar mandi. Kamu bisa tidur dengan tenang,” ucap Alex.
Isabella tersenyum lembut, seakan-akan memahami bahwa pertanyaan Alex tidak bermaksud menyudutkannya. Alex mengambil pakaian piyama dari dalam lemari dan meninggalkan ruangan menuju kamar mandi.
“Kalau kamu butuh sesuatu, beritahu aku. Aku akan di sini,” ucap Alex.
Alex menutup pintu kamar mandi di belakangnya, memberikan waktu dan ruang untuk merenung. Air pancuran mengalir, menyirami pikirannya yang dipenuhi pertanyaan. Dia merasa seolah berada di tengah-tengah teka-teki yang tak kunjung selesai.
“Laura... dan misteri di baliknya. Apakah aku sedang terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari diriku?” tanya Alex pada dirinya sendiri.
Dengan pertanyaan tak terjawab menghantui pikirannya, Alex melanjutkan mengganti pakaian, berusaha menyingkirkan rasa ragu yang masih menyelimuti. Sementara itu, Isabella tetap tertidur dengan wajah tenang di tempat tidur, seolah-olah membawa rahasia yang belum terungkap.
Setelah selesai mengganti pakaian, Alex keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh pemikiran. Cahaya lampu lembut menyinari ruangan, mengungkapkan Isabella yang masih tertidur dengan damai di tempat tidur. Wajahnya yang tenang seperti tidak mencerminkan segala misteri dan pertanyaan tengah berkecamuk di dalam benak Alex.
“Apa sebenarnya yang terjadi malam ini? Dan kenapa aku merasa terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar” tanya Alex pada dirinya sendiri.
Alex berdiri di samping tempat tidur, memandang Isabella dengan rasa bingung dan perasaan keterlibatannya semakin mendalam dalam pusaran misteri ini. Detektif yang teguh ini, biasanya berurusan dengan fakta-fakta dan bukti-bukti, kini merasa seperti terjebak dalam alur cerita yang tidak masuk akal.
“Mungkin aku perlu mencari jawaban lebih lanjut. Tentang Laura, tentang Isabella, tentang segalanya. Aku harus menyelidiki lebih lanjut.”
Dalam keheningan malam yang hanya dipecah oleh napas tenang Isabella, Alex merenung. Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalanya seperti sebuah pusaran tak terkendali, memaksa detektif ini untuk mempertimbangkan pilihannya dan menjelajahi jalur yang belum diketahui.
“Mungkin Isabella punya jawaban. Aku akan menanyakan lebih banyak ketika dia bangun,” ucap Alex memandang wajah damai Isabella.
Dengan langkah tenang, Alex bergerak ke arah pintu kamar. Matanya masih terpaku pada Isabella, seakan berharap menemukan jawaban di wajah damai wanita itu. Namun, satu hal pasti, malam ini membuka lembaran baru dalam buku kasus detektifnya yang penuh misteri.
“Aku harus bersiap untuk menghadapi kebenaran, apa pun itu.”
Detektif itu meninggalkan kamar dengan perasaan campuran di hatinya. Dalam kegelapan koridor, langkahnya bersenandung dengan ketidakpastian dan tekad untuk mengejar kebenaran yang mungkin melibatkannya lebih dalam dalam misteri tak terduga.
Langkah Alex melewati pintu kamar menghantarkannya ke ruang kerjanya yang tenang. Ruang itu dipenuhi dengan aroma buku dan kesan profesional. Detektif itu langsung menuju meja kerjanya dan duduk di kursi berputar, memandangi sejumlah dokumen telah dikumpulkannya. Sebuah aura ketegangan memenuhi udara, seolah ruang itu sendiri menyimpan rahasia belum terungkap.
“Bukti-bukti dari Laura dan Isabella. Apa yang sebenarnya mereka tahu?”
Alex meraih selembar kertas dan melihatnya sekilas. Bukti-bukti ini adalah potongan-potongan puzzle yang belum terbentuk. Dia mencoba menyusunnya, mencari makna di balik setiap petunjuk ditinggalkan oleh Laura dan Isabella.
“Apa hubungan Laura dan Isabella dengan semua ini? Dan mengapa aku merasa ada yang disembunyikan?”
Mata Alex terus memandang dokumen-dokumen itu. Ia mulai menyadari bahwa pemberian Laura dan Isabella tidak hanya menyangkut dunia paranormal, tapi juga melibatkan sesuatu lebih besar, sesuatu yang terkait erat dengan dunia kriminal dan korupsi.
“Apa mereka berdua berusaha membongkar konspirasi ini? Dan apa yang aku punya untuk membantu mereka?”
Setelah cukup lama memandangi kertas-kertas berisi bukti, Alex merasa ada kebutuhan untuk mencari informasi lebih lanjut. Dia membuka laptopnya dan mulai mengetikkan nama "Isabella" di mesin pencarian.
“Mari kita lihat apa yang bisa aku temukan tentang Isabella. Identitasnya seharusnya ada di dunia maya.”
Alex menyusuri hasil pencarian, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkannya. Identitas Isabella seperti terlindungi, menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Detektif ini semakin terjerat dalam kegelapan informasi.
“Kenapa identitasnya begitu sulit dikejar? Siapa sebenarnya Isabella?” gumam Alex frustasi.
Alex menutup laptopnya dengan ringan, merenung sejenak. Ia merasa semakin terdorong untuk mengungkap rahasia ini, tetapi seolah ada kekuatan tak terlihat menyembunyikan fakta-fakta yang dibutuhkannya.
“Aku harus mencari lebih dalam lagi. Semakin banyak yang aku ketahui, semakin banyak yang harus dipelajari.”
Detektif itu kembali memandangi dokumen-dokumen di meja kerjanya, memutuskan untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam lapisan misteri yang semakin tebal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Agan
Apakah Laura org suruhan?
2024-02-12
0
Dewi Payang
Isabella tidak mengenal Laura, tp sepertinya Laura mengenal Isabella
2024-02-09
0
RIO SIAGAN
Jadi siapa Laura
2024-02-07
0