...****************...
Kembali dari makan malam eksklusif di sebuah restoran mewah di Hawaii, detektif Alex dan sekretarisnya Diana melangkah masuk ke dalam kamar hotel mereka. Di dalam kamar yang nyaman, Alex segera menuju meja dan membuka laptopnya. Matanya fokus pada layar, sementara dia berusaha mencari tahu apakah Arnold Harsono masih berada di Hawaii atau sudah kembali ke tanah air. Di meja sebelahnya, Diana duduk dengan tenang, menyimak dengan cermat setiap gerakan Alex.
“Diana, aku butuh informasi terbaru tentang Arnold Harsono. Bisakah kamu membantuku mencari tahu apakah dia masih berada di Hawaii atau sudah kembali ke tanah air?”
“Tentu, Bos Alex. Saya akan segera mencari informasinya.”
Dengan tekun, Diana mengambil laptop dari tasnya dan mulai mencari informasi terbaru tentang Arnold Harsono. Di sisi lain, Alex terus memantau layar laptopnya, mencoba mengumpulkan segala informasi yang bisa membantu dalam penanganan kasus tengah mereka hadapi. Suasana di dalam kamar terasa tegang, menyadari bahwa waktu sangat berharga dalam situasi ini.
“Sepertinya belum ada informasi terbaru tentang Arnold Harsono, Bos Alex. Namun, saya akan terus mencari di berbagai sumber yang tersedia.”
“Baik, teruskan pencarianmu. Kita perlu tahu apa yang sedang dia rencanakan. Pelabuhan di tanah air akan menjadi targetnya, dan kita harus siap menghadapinya.”
“Ya, Bos Alex. Saya akan memberitahumu segera jika ada perkembangan.”
“Terima kasih, Diana. Mari kita tetap waspada.”
Diana kembali menyelami pencariannya dengan penuh konsentrasi, sementara Alex tetap fokus pada layar laptopnya. Mereka berdua menyadari bahwa situasi semakin mendesak, dan setiap detik sangat berharga. Di dalam kamar hotel sepi itu, detektif Alex dan sekretarisnya bertekad untuk mengungkapkan kebenaran dan menghadapi tantangan yang ada dengan kepala dingin dan hati yang teguh.
Dengan kecanggihan teknologi dimilikinya, detektif Alex berhasil mengakses sistem CCTV bandara di Hawaii melalui laptopnya. Dia menemukan cuplikan video menampilkan Arnold Harsono dan sejumlah anak buahnya turun dari mobil, tampak buru-buru dan gelisah. Ekspresi wajah mereka mengisyaratkan bahwa mereka ingin segera meninggalkan kota tersebut.
“Diana, aku berhasil melacak Arnold Harsono. Dia baru saja tiba di bandara Hawaii. Tampaknya mereka sedang dalam keadaan tergesa-gesa. Mereka pasti punya rencana besar.”
“Apakah kita harus mengikuti mereka, Bos Alex?”
“Tidak, kita tidak punya cukup waktu untuk bersiap. Kita akan membuat rencana dan bertindak cepat begitu mereka sampai di tujuan.”
Dengan tekad membara, Alex dan Diana menyusun rencana strategis mereka untuk menghadapi Arnold Harsono dan anak buahnya. Mereka menyadari bahwa setiap langkah mereka ambil sekarang akan menentukan jalannya kasus ini. Dengan hati yang teguh, mereka siap untuk menghadapi tantangan berikutnya.
“Diana, kita harus segera pulang ke tanah air.”
“Baik, Bos Alex. Saya akan segera mengurus tiket pesawat dan persiapan lainnya.”
“Terima kasih, Diana. Ayo segera bersiap.”
Dengan keputusan tegas, detektif Alex memutuskan untuk kembali ke rumahnya di tanah air membuat strategis baru untuk menghadapi Arnold Harsono. Tanpa ragu, dia dan sekretarisnya, Diana, segera melakukan persiapan untuk kepulangan mereka. Di dalam hatinya, Alex merasakan kegugupan dan determinasi kuat untuk menyelesaikan kasus ini dengan baik. Dengan langkah mantap, mereka berdua meninggalkan kamar hotel dan menuju bandara untuk pulang ke tanah air.
Di bandara Hawaii, detektif Alex dan sekretarisnya, Diana, memasuki terminal VIP. Mereka menuju pesawat pribadi yang telah disiapkan untuk mereka. Suasana di sekitar mereka tenang, namun ketegangan dan antisipasi menyelimuti udara, mengingat situasi mendesak yang mereka hadapi.
“Diana, kita harus bergerak cepat bagaimana pun caranya. Persiapkan dirimu untuk perjalanan pulang.”
“Saya siap, Bos Alex. Semua tiket dan dokumen perjalanan sudah saya urus.”
“Bagus. Mari kita segera menuju pesawat,” ajak Alex.
Mereka melangkah dengan mantap menuju pesawat VIP berdiri megah di landasan pacu. Pintu pesawat terbuka, menyambut kedatangan detektif Alex dan Diana. Sebuah langkah besar menuju penyelesaian kasus mereka sedang di depan mata, dan mereka berdua bertekad untuk menghadapinya dengan kepala dingin dan keberanian. Pesawat pun segera lepas landas, meninggalkan Hawaii menuju tanah air mereka. Perjalanan pulang penuh tantangan telah dimulai.
Di dalam pesawat VIP, detektif Alex dan Diana duduk berdampingan di kursi nyaman. Mereka berdua menatap jendela pesawat, sementara awan-awan putih terlihat di bawah mereka.
“Kita harus membuat rencana dengan baik sebelum pergi ke pelabuhan. Aku ingin memastikan bahwa setiap langkah kita terencana dengan matang,” ucap Alex.
“Benar, Bos Alex. Kita perlu mempersiapkan segalanya dengan cermat agar tidak ada celah untuk kesalahan,” sahut Diana.
“Aku yakin, keamanan pelabuhan diperketat oleh orang-orang Arnold nantinya. Aku butuh kehadiran sahabatku, Toni,” ucap Alex.
“Saya akan menghubungi Toni, jika Bos Alex inginkan,” sahut Diana.
“Ide yang bagus. Aku minta kamu menghubungi Toni, dan bilang padanya tunggu aku di rumah.”
“Siap, Bos Alex!”
Dalam perjalanan pulang menuju tanah air, detektif Alex dan Diana terus merancang strategi mereka dengan cermat. Mereka menyadari pentingnya persiapan matang untuk menghadapi kedatangan Arnold Harsono dan anak buahnya di pelabuhan dalam waktu kurang 2 hari. Dengan fokus dan determinasi, mereka bertekad untuk mengatasi setiap rintangan yang mungkin muncul di depan mereka. Saat pesawat terus melaju menuju tujuan, mereka terus menyusun rencana mereka dengan seksama.
Pesawat mendarat dengan selamat. Alex dan Diana bergegas keluar dari dalam. Taksi membawa detektif Alex dan Diana tiba di depan rumah. Matahari sudah mulai terbit, memberikan sentuhan warna oranye ke langit. Mereka berdua turun dari taksi, dan detektif Alex terkejut melihat sahabatnya, Toni, berdiri di depan pintu rumahnya. Di sebelahnya, Isabella berdiri dengan senyuman misterius di wajahnya.
“Hai, Alex! Lama tidak bertemu, ya? Dan, darimana saja kalian berdua? Apa kalian berdua bulan madu?” sambut Toni dengan wajah kesal mengingat sahabatnya itu tidak memberi kabar apa pun.
“Bu-bulan madu?” gumam Diana.
Diana terkejut mendengar Toni mengatakan hal tersebut. Di saat nyawa berada di ujung pedang, bisa-bisanya Toni memikirkan hal seperti itu. Tidak dengan Alex, wajahnya tampak tak menghiraukan pertanyaan dari sahabatnya, Toni.
“Toni! Apa yang sedang terjadi di sini?” tanya Alex.
“Selamat datang, detektif Alex. Aku sudah cukup lama menunggu kehadiran Anda,” ucap Isabella, tampak kerinduan dan kelegaan di matanya.
“Ha-ha-hantu bisa bicara dan menyapa!” ucap Diana histeris.
Diana terdiam, matanya membesar dalam kebingungan mendalam ketika melihat Isabella berdiri di samping Toni. Sebuah kebingungan dan kepanikan melanda pikirannya. Dia tahu betul bahwa Isabella telah meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa waktu lalu. Bagaimana mungkin dia berada di rumah detektif Alex? Pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan terus berkecamuk di benaknya, dan dia merasa tidak bisa menahan diri.
“Tidak mungkin! Isabella... tapi... kamu...”
“Diana, tenanglah,” ucap Alex.
“Aku mengerti kebingunganmu, Diana. Tetapi, aku ada di sini untuk sebuah alasan,” ucap Isabella.
“Tapi... tapi... kamu... kamu telah meninggal!”
“Isabella, apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa kamu bisa dirumahku?” tanya Alex tampak heran.
Diana histeris, matanya berkaca-kaca karena ketakutan dan kebingungan. Dia merasa seperti berada dalam mimpi mengerikan yang tak kunjung berakhir. Namun, meskipun dalam keadaan terkejut dan bingung, dia mencoba meraih ketenangan diri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di tengah kebingungannya, satu hal yang pasti: kehadiran Isabella di rumah detektif Alex bukanlah kebetulan, dan mungkin saja ada sesuatu yang lebih dalam terkait dengan kehadirannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Mari ani
Iklan dulu kak
2024-02-25
0
R.F
semangat kak 1 mawarku hadir
2024-02-15
0
RIO SIAGAN
Mulutnya gak ada akhlak/Joyful/
2024-02-10
0