9 Pembicaraan

...Resor Mewah Hawaii...

Suara langkah-langkah elegan dan perbincangan bisikan terdengar di ruang konferensi resor Hawaii yang mewah. Sebuah kelompok orang terlihat duduk mengelilingi meja besar dengan peta dan dokumen tersebar di atasnya. Arnold Harsono, dengan wajah serius, memimpin pertemuan ini. Di antara obrolan ringan dan tawa, Arnold mengarahkan pembicaraan menuju topik lebih serius.

“Sebagai informasi, sebuah kapal pengangkut barang ilegal akan segera tiba di pelabuhan tanah air kita dalam waktu 4 hari di mulai dari sekarang. Barang-barang tersebut berisi persenjataan ilegal dan barang selundupan lainnya,” ucap Arnold Harsono.

“Sangat baik. Ini peluang besar untuk kita,” sahut salah satu anggota kelompok mengangguk.

Dengan kata-kata tegas, Arnold memberikan informasi tentang rencana selanjutnya. Semua anggota kelompok mendengarkan dengan penuh perhatian, menyadari pentingnya kesempatan ini untuk mengelola aliran barang ilegal mereka melalui salah satu pelabuhan di tanah air. Ruangan itu penuh dengan aura ketegangan dan antisipasi.

“Kita perlu memastikan operasi ini berjalan lancar. Jangan biarkan hal-hal kecil menghancurkan rencana kita,” ucap Arnold Harsono.

“Tentu, kita akan siapkan semuanya dengan hati-hati,” sahut salah satu anggota kelompok.

Sementara Arnold Harsono menjelaskan rencana tersebut, Alex dan Diana tengah berusaha menyamar dan mendekat, mencatat setiap kata yang diucapkan. Mereka menyadari bahwa informasi ini sangat bernilai dan dapat membuka pintu untuk mengungkap lebih banyak lagi tentang aktivitas kelompok kriminal tersebut.

“Barang-barang yang dibawa sangat berharga. Jangan sampai ada kesalahan di pelabuhan. Kita akan koordinasikan dengan pihak-pihak tertentu untuk memastikan segalanya berjalan lancar,” ucap Arnold Harsono menegaskan.

“Sangat mengerti, Bos.”

Pembicaraan terus berlanjut, dengan Arnold memberikan instruksi lebih lanjut kepada kelompoknya. Rencana selanjutnya diuraikan dengan detail, termasuk cara-cara menghindari pemeriksaan ketat di salah satu pelabuhan tanah air. Semakin dalam mereka terlibat dalam percakapan tersebut, semakin jelaslah gambaran mengenai kegiatan ilegal yang tengah direncanakan.

“Jangan lupakan, keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada kehati-hatian dan kecepatan tindakan kita. Kita tidak bisa memberikan ruang untuk kesalahan. Dan kalian harus hati-hati, jangan sampai kalian mati konyol seperti salah satu anggota kita,” ucap Arnold Harsono.

“Kami siap, Bos!”

Dengan penuh tekad, kelompok tersebut bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka. Alex dan Diana, sementara itu, mencari cara untuk mengungkap dan menghentikan operasi ilegal tersebut sebelum terlambat. Pada saat yang sama, kapal ilegal itu setengah jalan menjelang di salah satu pelabuhan di tanah air, membawa ancaman yang semakin mendekat.

Ruangan itu tiba-tiba menjadi hening, seolah waktu sendiri berhenti berputar. Aktivitas di sekitar meja konferensi terhenti, dan pandangan semua anggota kelompok tertuju pada Diana yang mencoba menyamar di antara mereka. Alex, memantau dari kejauhan, merasa detak jantungnya meningkat, menyadari bahwa rahasia mereka mungkin terungkap.

“Siapa Anda?” tanya Arnold Harsono dengan penuh mata tajam. Ia baru saja menyadari kehadiran Diana di sana.

“Saya hanya seorang tamu di resor ini, tuan,” sahut Diana tenang.

Diana mencoba mempertahankan posisinya, tetapi Arnold Harsono tampak tidak terkejut. Ekspresinya berubah menjadi serius, mencerminkan ketidakpercayaannya terhadap alasan Diana. Anggota kelompok yang lain terlihat gelisah, menunggu arahan selanjutnya dari Arnold.

“Kenapa anda sangat dekat dengan kami? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu untuk menguping pembicaraan kami?” tanya Arnold tampak serius.

“Saya bersumpah, tidak ada pembicaraan tuan yang saya dengar. Kedatangan saya sampai ke sini, karena makanan di sini sangat enak dari meja lainnya,” sahut Diana tenang.

Dengan perasaan cemas, Alex memakai kumis palsu, dan kaca mata hitam, lalu bergerak menuju tempat Diana, mencari cara untuk meredakan situasi yang semakin tegang. Arnold Harsono terus mendekati Diana, pandangannya tajam mencoba menembus alasan yang diberikan oleh wanita itu.

“Baby!” teriak Alex.

Arnold Harsono diam, memandang lurus kedatangan Alex yang saat ini tersenyum lebar menampakkan gigi hitam pada bagian depan. Penyamaran aneh Alex hampir membuat Diana tertawa, terlebih lagi melihat gigi hitam Alex.

“E kala mai, ʻo kēia wahine kāu ipo?” tanya Arnold dalam bahas Hawaii.

(“Permisi, apakah wanita ini kekasih anda?”)

“ʻAe, ua pilikia anei kēia wahine iā Haku?” (“Iya, apakah wanita ini menjadi masalah bagi tuan?”) tanya Alex kembali dalam bahasa Hawaii.

Alex berusaha memainkan perannya, tetapi ketegangan di ruangan itu tetap ada. Arnold Harsono mencoba membaca ekspresi wajah keduanya, mencari tanda-tanda kebohongan. Semua mata tertuju pada momen kritis ini, yang bisa merubah segalanya.

“Oh,” Arnold mengangguk.

“E kala mai iaʻu,” (“Permisi,”) pamit Alex.

“Saya minta maaf, tuan,” tambah Diana meminta maaf pada Arnold.

Alex menggenggam tangan Diana, merangkul mesra Diana layaknya seorang kekasih.

Dengan hati-hati, Alex dan Diana keluar dari resor mewah tersebut, mencoba meminimalkan kontak dengan orang-orang di sekitar mereka. Mereka tahu betul bahwa langkah berikutnya harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kecurigaan lebih lanjut. Mereka berjalan cepat menuju pintu keluar, bersyukur berhasil melewati tahap kritis di ruang pertemuan.

“Kita harus segera pergi dari sini!” tegas Alex.

“Benar Bos. Kedua kakiku terasa lemah tadi,” ucap Diana.

“Dasar bodoh,” umpat Alex.

Sesampainya di teras, taksi terhenti di depan mereka. Alex dan Diana segera melangkah masuk ke dalam taksi, memastikan tidak ada mata yang mengawasi gerak-gerik mereka. Dengan nafas lega, mereka menyebutkan nama hotel tempat mereka akan berlindung sejenak.

“Hotel terdekat,” ucap Alex.

“Baik, tuan,” sahut supir taksi.

Perjalanan dengan taksi terasa seperti pelarian yang ditunggu-tunggu. Dalam kegelapan malam, mereka melihat resor mewah itu memudar di kejauhan. Namun, meski telah keluar dari pengawasan langsung Arnold Harsono, mereka tetap merasa bahwa bayangan ancaman belum sepenuhnya menghilang.

“Aku merasa kita masih diawasi, Bos Alex,” ucap Diana.

“Kita harus tetap waspada. Di hotel, kita bisa memikirkan langkah selanjutnya,” sahut Alex.

Sang supir taksi melirik ke kaca tengah mobil, dari balik kaca mata hitamnya, ia menatap bayangan Alex terpantul di kaca. Sudut bibirnya sedikit terangkat, mengisyaratkan sebuah senyum misterius tercipta.

Setelah perjalanan relatif singkat, taksi tiba di depan Hotel. Mereka turun dari taksi, membayar sopir dengan cepat, dan masuk ke dalam hotel yang tampaknya menjadi tempat perlindungan sementara mereka. Saat pintu kamar hotel terbuka, mereka tahu bahwa akan ada banyak pertimbangan dan keputusan yang harus diambil untuk mengatasi situasi rumit sedang mereka hadapi.

“Kita perlu merencanakan langkah selanjutnya. Pertemuan tadi membuat semuanya menjadi rumit,” ucap Alex.

“Setuju. Saya harus menyelidiki lebih lanjut tentang rencana mereka, dan bagaimana kita bisa membongkar mereka,” ucap Diana.

“Apakah Arnold ada membahas mengenai kematian Isabella?” tanya Alex.

“Tidak. Tapi, saya sempat mendengar jika Arnold mengatakan mereka harus berhati-hati, jangan sampai mati konyol seperti salah satu rekan kelompok mereka,” sahut Diana menjelaskan apa yang di dengarnya.

“Begitu ya!” gumam Alex mengangguk.

“Bos Alex, saya mendengar akan ada sebuah kapal pengangkut barang yang berisi senjata selundupan yang akan segera berlabuh di tanah air,” ucap Diana menerangkan percakapan yang di dengarnya.

“Penyeludupan?”

Terpopuler

Comments

Agan

Agan

tegang

2024-02-17

0

Dewi Payang

Dewi Payang

Masih tegang...

2024-02-13

0

F.T Zira

F.T Zira

nah lho... siapa siapa😳😳

2024-02-12

0

lihat semua
Episodes
1 1. KEJANGGALAN KECELAKAAN WANITA MALAM
2 2. Seminggu setelah kejadian (Arwah Isabella)
3 3 Desas desus
4 4 Menghantui dan mencari informasi
5 5
6 6 Bukti Lain dari Isabella
7 7 Siapa Laura, dan siapa Isabella?
8 8 Hawai
9 9 Pembicaraan
10 10 Pencarian dan Percakapan mendalam
11 11 Permintaan Vito
12 12 Pembicaraan Bisnis H@ram Richard
13 13 Strategi Alex. Perjumpaan Toni dan Lucas di Klub Malam
14 14 Hantuuu!!! Maliing!!!
15 15 Kembali ke Tanah Air Mengatur strategi Kembali
16 16 Rencana
17 17 Markas Darwin
18 18 Bergegas, curhat singkat Toni
19 19 Martinus
20 20 Menggerebek
21 21 Siapa Arnold?
22 22 Markas diserang Kedatangan Isabella
23 23 Dihantui Masa Lalu. Keterkejutan Detektif Alex
24 24 Rahasia Isabella dibocorkan Martinus
25 25 Arnold di Hukum. Pernyataan Martinus
26 26 Aku Bayar Dengan Tubuhku. Kesaksian Pelaku
27 27 Strategi Menangkap Vito!! Dalang Dibalik Semua Kriminal
28 28 Menyerbu Villa Vito!!! Detektif Alex Diserang
29 29 Serangan Bertubi-tubi Untuk Alex!!! Kehadiran Vito
30 30 Mari Kita Kerja Sama!!! Urus itu Luca!
31 31 Diego, tangan kanan Vito
32 32 Diana dan Toni Dalam Situasi Gawat!!
33 33 Bujukan Maria Untuk Detektif Alex
34 34 Tim Detektif Alex Dalam Situasi Gawat!!!
35 35 Anda Harus Segera Sadar
36 36 Hinaan Diego!! Asap Beracun Dikeluarkan!
37 37 Mencari Jalan Keluar
38 38 Gawat!! Vito Dan Anak Buahnya Pura-pura Terluka
39 39 Vito Menyudutkan Martinus
40 40 Diego Menembak Diri Sendiri
41 41 Detektif Alex Menyerah
42 42 Presiden Rossi
Episodes

Updated 42 Episodes

1
1. KEJANGGALAN KECELAKAAN WANITA MALAM
2
2. Seminggu setelah kejadian (Arwah Isabella)
3
3 Desas desus
4
4 Menghantui dan mencari informasi
5
5
6
6 Bukti Lain dari Isabella
7
7 Siapa Laura, dan siapa Isabella?
8
8 Hawai
9
9 Pembicaraan
10
10 Pencarian dan Percakapan mendalam
11
11 Permintaan Vito
12
12 Pembicaraan Bisnis H@ram Richard
13
13 Strategi Alex. Perjumpaan Toni dan Lucas di Klub Malam
14
14 Hantuuu!!! Maliing!!!
15
15 Kembali ke Tanah Air Mengatur strategi Kembali
16
16 Rencana
17
17 Markas Darwin
18
18 Bergegas, curhat singkat Toni
19
19 Martinus
20
20 Menggerebek
21
21 Siapa Arnold?
22
22 Markas diserang Kedatangan Isabella
23
23 Dihantui Masa Lalu. Keterkejutan Detektif Alex
24
24 Rahasia Isabella dibocorkan Martinus
25
25 Arnold di Hukum. Pernyataan Martinus
26
26 Aku Bayar Dengan Tubuhku. Kesaksian Pelaku
27
27 Strategi Menangkap Vito!! Dalang Dibalik Semua Kriminal
28
28 Menyerbu Villa Vito!!! Detektif Alex Diserang
29
29 Serangan Bertubi-tubi Untuk Alex!!! Kehadiran Vito
30
30 Mari Kita Kerja Sama!!! Urus itu Luca!
31
31 Diego, tangan kanan Vito
32
32 Diana dan Toni Dalam Situasi Gawat!!
33
33 Bujukan Maria Untuk Detektif Alex
34
34 Tim Detektif Alex Dalam Situasi Gawat!!!
35
35 Anda Harus Segera Sadar
36
36 Hinaan Diego!! Asap Beracun Dikeluarkan!
37
37 Mencari Jalan Keluar
38
38 Gawat!! Vito Dan Anak Buahnya Pura-pura Terluka
39
39 Vito Menyudutkan Martinus
40
40 Diego Menembak Diri Sendiri
41
41 Detektif Alex Menyerah
42
42 Presiden Rossi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!