...Resor Mewah Hawaii...
Suara langkah-langkah elegan dan perbincangan bisikan terdengar di ruang konferensi resor Hawaii yang mewah. Sebuah kelompok orang terlihat duduk mengelilingi meja besar dengan peta dan dokumen tersebar di atasnya. Arnold Harsono, dengan wajah serius, memimpin pertemuan ini. Di antara obrolan ringan dan tawa, Arnold mengarahkan pembicaraan menuju topik lebih serius.
“Sebagai informasi, sebuah kapal pengangkut barang ilegal akan segera tiba di pelabuhan tanah air kita dalam waktu 4 hari di mulai dari sekarang. Barang-barang tersebut berisi persenjataan ilegal dan barang selundupan lainnya,” ucap Arnold Harsono.
“Sangat baik. Ini peluang besar untuk kita,” sahut salah satu anggota kelompok mengangguk.
Dengan kata-kata tegas, Arnold memberikan informasi tentang rencana selanjutnya. Semua anggota kelompok mendengarkan dengan penuh perhatian, menyadari pentingnya kesempatan ini untuk mengelola aliran barang ilegal mereka melalui salah satu pelabuhan di tanah air. Ruangan itu penuh dengan aura ketegangan dan antisipasi.
“Kita perlu memastikan operasi ini berjalan lancar. Jangan biarkan hal-hal kecil menghancurkan rencana kita,” ucap Arnold Harsono.
“Tentu, kita akan siapkan semuanya dengan hati-hati,” sahut salah satu anggota kelompok.
Sementara Arnold Harsono menjelaskan rencana tersebut, Alex dan Diana tengah berusaha menyamar dan mendekat, mencatat setiap kata yang diucapkan. Mereka menyadari bahwa informasi ini sangat bernilai dan dapat membuka pintu untuk mengungkap lebih banyak lagi tentang aktivitas kelompok kriminal tersebut.
“Barang-barang yang dibawa sangat berharga. Jangan sampai ada kesalahan di pelabuhan. Kita akan koordinasikan dengan pihak-pihak tertentu untuk memastikan segalanya berjalan lancar,” ucap Arnold Harsono menegaskan.
“Sangat mengerti, Bos.”
Pembicaraan terus berlanjut, dengan Arnold memberikan instruksi lebih lanjut kepada kelompoknya. Rencana selanjutnya diuraikan dengan detail, termasuk cara-cara menghindari pemeriksaan ketat di salah satu pelabuhan tanah air. Semakin dalam mereka terlibat dalam percakapan tersebut, semakin jelaslah gambaran mengenai kegiatan ilegal yang tengah direncanakan.
“Jangan lupakan, keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada kehati-hatian dan kecepatan tindakan kita. Kita tidak bisa memberikan ruang untuk kesalahan. Dan kalian harus hati-hati, jangan sampai kalian mati konyol seperti salah satu anggota kita,” ucap Arnold Harsono.
“Kami siap, Bos!”
Dengan penuh tekad, kelompok tersebut bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka. Alex dan Diana, sementara itu, mencari cara untuk mengungkap dan menghentikan operasi ilegal tersebut sebelum terlambat. Pada saat yang sama, kapal ilegal itu setengah jalan menjelang di salah satu pelabuhan di tanah air, membawa ancaman yang semakin mendekat.
Ruangan itu tiba-tiba menjadi hening, seolah waktu sendiri berhenti berputar. Aktivitas di sekitar meja konferensi terhenti, dan pandangan semua anggota kelompok tertuju pada Diana yang mencoba menyamar di antara mereka. Alex, memantau dari kejauhan, merasa detak jantungnya meningkat, menyadari bahwa rahasia mereka mungkin terungkap.
“Siapa Anda?” tanya Arnold Harsono dengan penuh mata tajam. Ia baru saja menyadari kehadiran Diana di sana.
“Saya hanya seorang tamu di resor ini, tuan,” sahut Diana tenang.
Diana mencoba mempertahankan posisinya, tetapi Arnold Harsono tampak tidak terkejut. Ekspresinya berubah menjadi serius, mencerminkan ketidakpercayaannya terhadap alasan Diana. Anggota kelompok yang lain terlihat gelisah, menunggu arahan selanjutnya dari Arnold.
“Kenapa anda sangat dekat dengan kami? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu untuk menguping pembicaraan kami?” tanya Arnold tampak serius.
“Saya bersumpah, tidak ada pembicaraan tuan yang saya dengar. Kedatangan saya sampai ke sini, karena makanan di sini sangat enak dari meja lainnya,” sahut Diana tenang.
Dengan perasaan cemas, Alex memakai kumis palsu, dan kaca mata hitam, lalu bergerak menuju tempat Diana, mencari cara untuk meredakan situasi yang semakin tegang. Arnold Harsono terus mendekati Diana, pandangannya tajam mencoba menembus alasan yang diberikan oleh wanita itu.
“Baby!” teriak Alex.
Arnold Harsono diam, memandang lurus kedatangan Alex yang saat ini tersenyum lebar menampakkan gigi hitam pada bagian depan. Penyamaran aneh Alex hampir membuat Diana tertawa, terlebih lagi melihat gigi hitam Alex.
“E kala mai, ʻo kēia wahine kāu ipo?” tanya Arnold dalam bahas Hawaii.
(“Permisi, apakah wanita ini kekasih anda?”)
“ʻAe, ua pilikia anei kēia wahine iā Haku?” (“Iya, apakah wanita ini menjadi masalah bagi tuan?”) tanya Alex kembali dalam bahasa Hawaii.
Alex berusaha memainkan perannya, tetapi ketegangan di ruangan itu tetap ada. Arnold Harsono mencoba membaca ekspresi wajah keduanya, mencari tanda-tanda kebohongan. Semua mata tertuju pada momen kritis ini, yang bisa merubah segalanya.
“Oh,” Arnold mengangguk.
“E kala mai iaʻu,” (“Permisi,”) pamit Alex.
“Saya minta maaf, tuan,” tambah Diana meminta maaf pada Arnold.
Alex menggenggam tangan Diana, merangkul mesra Diana layaknya seorang kekasih.
Dengan hati-hati, Alex dan Diana keluar dari resor mewah tersebut, mencoba meminimalkan kontak dengan orang-orang di sekitar mereka. Mereka tahu betul bahwa langkah berikutnya harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kecurigaan lebih lanjut. Mereka berjalan cepat menuju pintu keluar, bersyukur berhasil melewati tahap kritis di ruang pertemuan.
“Kita harus segera pergi dari sini!” tegas Alex.
“Benar Bos. Kedua kakiku terasa lemah tadi,” ucap Diana.
“Dasar bodoh,” umpat Alex.
Sesampainya di teras, taksi terhenti di depan mereka. Alex dan Diana segera melangkah masuk ke dalam taksi, memastikan tidak ada mata yang mengawasi gerak-gerik mereka. Dengan nafas lega, mereka menyebutkan nama hotel tempat mereka akan berlindung sejenak.
“Hotel terdekat,” ucap Alex.
“Baik, tuan,” sahut supir taksi.
Perjalanan dengan taksi terasa seperti pelarian yang ditunggu-tunggu. Dalam kegelapan malam, mereka melihat resor mewah itu memudar di kejauhan. Namun, meski telah keluar dari pengawasan langsung Arnold Harsono, mereka tetap merasa bahwa bayangan ancaman belum sepenuhnya menghilang.
“Aku merasa kita masih diawasi, Bos Alex,” ucap Diana.
“Kita harus tetap waspada. Di hotel, kita bisa memikirkan langkah selanjutnya,” sahut Alex.
Sang supir taksi melirik ke kaca tengah mobil, dari balik kaca mata hitamnya, ia menatap bayangan Alex terpantul di kaca. Sudut bibirnya sedikit terangkat, mengisyaratkan sebuah senyum misterius tercipta.
Setelah perjalanan relatif singkat, taksi tiba di depan Hotel. Mereka turun dari taksi, membayar sopir dengan cepat, dan masuk ke dalam hotel yang tampaknya menjadi tempat perlindungan sementara mereka. Saat pintu kamar hotel terbuka, mereka tahu bahwa akan ada banyak pertimbangan dan keputusan yang harus diambil untuk mengatasi situasi rumit sedang mereka hadapi.
“Kita perlu merencanakan langkah selanjutnya. Pertemuan tadi membuat semuanya menjadi rumit,” ucap Alex.
“Setuju. Saya harus menyelidiki lebih lanjut tentang rencana mereka, dan bagaimana kita bisa membongkar mereka,” ucap Diana.
“Apakah Arnold ada membahas mengenai kematian Isabella?” tanya Alex.
“Tidak. Tapi, saya sempat mendengar jika Arnold mengatakan mereka harus berhati-hati, jangan sampai mati konyol seperti salah satu rekan kelompok mereka,” sahut Diana menjelaskan apa yang di dengarnya.
“Begitu ya!” gumam Alex mengangguk.
“Bos Alex, saya mendengar akan ada sebuah kapal pengangkut barang yang berisi senjata selundupan yang akan segera berlabuh di tanah air,” ucap Diana menerangkan percakapan yang di dengarnya.
“Penyeludupan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Agan
tegang
2024-02-17
0
Dewi Payang
Masih tegang...
2024-02-13
0
F.T Zira
nah lho... siapa siapa😳😳
2024-02-12
0