...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, di dalam ruangan mewah dengan dinding-dinding dihiasi seni mahal, Kepala Kepolisian Brigjen. Farhan Prasetyo duduk di seberang meja besar dari Vito, ketua kriminal tinggi yang merajai dunia kejahatan. Suasana tegang menciptakan aura kuat di antara mereka, dan cahaya gemerlap ruangan menyoroti kehadiran para ketua kriminal lain yang hadir dalam pertemuan ini.
“Farhan, kita perlu bicara tentang kasus Isabella. Aku yakin Anda menyadari betapa pentingnya untuk mengatasi masalah ini,” ucap Vito.
“Saya memahami, tuan Vito. Ini adalah kasus sensitif. Tetapi kita harus mengikuti prosedur hukum,” sahut Brigjen. Farhan Prasetyo.
Vito melemparkan senyuman samar, menunjukkan kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan. Para ketua kriminal di sekitarnya terlihat hanya sebagai bayangan setia, setuju dengan segala diucapkan oleh Vito. Kepala Kepolisian Brigjen. Farhan Prasetyo merasa tekanan untuk menuruti permintaan Vito.
“Kamu tahu apa yang harus dilakukan, Farhan. Aku tidak ingin kasus ini berlarut-larut dan merugikan bisnisku,” ucap Vito.
“Apa yang ingin tuan Vito lakukan dengan kasus kematian Isabella?” tanya Brigjen. Farhan Prasetyo.
Suasana ruangan menjadi semakin tegang, dan suara langkah-langkah tertuju pada tujuan bersama. Vito memimpin percakapan, memastikan bahwa setiap keputusan diambil akan melindungi kepentingan bisnis dan memastikan bahwa bayangan kejahatan tetap terkendali.
“Aku percaya Anda dapat menyelesaikan ini, Farhan. Jangan biarkan berita terus menyebar,” ucap Vito.
Vito mengangkat sejumput foto dan dokumen, menunjukkan bukti bahwa kematian Isabella memiliki potensi untuk merusak reputasi bisnis dan organisasinya.
“Apa ini, tuan Vito?” tanya Brigjen. Farhan Prasetyo, memandang foto dan dokumen yang ditunjukkan oleh Vito.
“Aku tahu Anda dapat mengendalikan situasi ini. Jangan biarkan kepercayaanku pada Anda menjadi sia-sia, Brigjen. Farhan,” sahut Vito menekan nada suaranya saat memanggil nama 'Brigjen. Farhan'.
“Saya mengerti sekarang,” ucap Brigjen. Farhan Prasetyo.
Brigjen. Farhan Prasetyo meletakkan foto dan dokumen di atas meja. Sebuah pandangan penuh misteri memandang wajah dingin Vito yang saat ini memberikan tatapan tajam.
“Sudah mengerti? Aku ingin kasus ini di tutup, dan hentikan pemeriksaan bajingan Alex menyelidikinya. Aku tak ingin bajingan tengil itu memperlambat bisnisku,” ucap Vito tegas.
“Bagiku itu adalah tugas yang gampang, asal—”
“Anda butuh bayaran,kan?” sela Vito cepat.
“Tentu saja. Semua kasus bisa dihentikan asalkan semua bayaran sesuai,” ucap Brigjen. Farhan Prasetyo.
“Tenang saja, aku sudah menyediakan uang untuk tikus kotor sepertimu,” sahut Vito.
Di meja di depannya terdapat sebuah koper berisi uang tunai sejumlah satu miliar. Keputusan besar sedang dalam proses pembuatan, dan atmosfer ruangan penuh dengan ketegangan yang tidak terucapkan.
“Berikan uang itu kepadanya,” ucap Vito memberi perintah kepada anak buahnya.
Anak buah Vito memberikan koper berisi uang satu milliar kehadapan Brigjen. Farhan Prasetyo, lalu kembali ke samping Vito. Brigjen. Farhan Prasetyo tampak tak sabar, segera dibuka koper itu. Wajahnya tampak puas dengan jumlah uang yang diinginkannya, kemudian koper itu ditutupnya.
“Tuan Vito benar-benar orang yang sangat dermawan,” puji Brigjen. Farhan Prasetyo.
“Anda seorang pejabat, dan pejabat juga butuh uang yang banyak. Sayangnya, aku tidak butuh pujian dari mulut kotormu. Aku ingin segera kasus kematian Isabella di tutup, dan jangan biarkan detektif rubah itu menyelidikinya,” ucap Vito bernada dingin.
“Baik, segera kasus itu akan saya tangani. Untuk detektif licik yang mesum dan matrek itu. Hem…”
“Segera tuntaskan kasus ini. Dan satu lagi, aku ingin anda segera membunuh Richard!” tegas Vito mengejutkan brigjen. Farhan Prasetyo.
Vito memancarkan otoritas dan keputusan yang mendalam. Namun, kerumunan tersebut menjadi tegang ketika nama Richard disebutkan, menciptakan gelombang ketidaknyamanan di antara para hadirin.
“Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Richard telah membuat kekacauan dengan perbuatan bodohnya. Isabella bukan hanya sekadar wanita malam, dia adalah bagian dari kita,” ucap Vito.
“Apa harus membunuhnya?” tanya Marco.
Vito memandang Brigjen Farhan Prasetyo tanpa ekspresi, menuntut penyelesaian untuk masalah yang telah diciptakan oleh Richard.
“Farhan, Richard harus dihentikan. Dia terlibat dalam kematian Isabella, dan itu tidak dapat ditoleransi,” perintah Vito.
“Apa yang tuan Vito inginkan?” tanya Brigjen Farhan Prasetyo memastikan perintah Vito.
“Bunuh dia. Sederhana,kan?” sahut Vito.
Ketegangan memenuhi ruangan. Ketua kriminal lainnya menatap Brigjen. Farhan Prasetyo dengan campuran ketakutan dan penasaran. Membunuh sesama rekan dalam dunia kriminal adalah langkah yang keras dan berbahaya, bahkan bagi mereka yang terbiasa dengan kegelapan.
“Bunuh tuan Richard? Bagaimana kita bisa menjamin ini tidak akan melibatkan kepolisian dan pihak lainnya?” tanya brigjen. Farhan Prasetyo.
“Manusia kotor sepertimu, aku yakin Anda akan menemukan cara. Aku hanya perlu membersihkan jejak-jejak ini, dan Richard harus mati.”
Ruang rapat penuh dengan ketegangan. Vito memandang Brigjen. Farhan Prasetyo dengan intensitas memaksa. Farhan, meskipun terlibat dalam kegiatan kriminal, merasa tertekan oleh tugas sangat berbahaya ini.
“Waktu berjalan cepat, Farhan. Buktikan bahwa keberanian Anda setara dengan uang yang telah aku berikan,” ucap Vito.
“Sa-saya akan menyelesaikannya, tuan Vito,” sahut Farhan.
Brigjen. Farhan Prasetyo keluar dari ruangan rapat, menerima beban tugas yang tak terhindarkan. Langkahnya terasa berat, seakan-akan membawa beban moral semakin merayap di hatinya. Dia tahu bahwa mematikan seseorang, bahkan dalam dunia kejahatan, akan meninggalkan bekas yang sulit dihapus.
“Benar-benar kacau, aku telah terlibat dengan mereka begitu dalam,” batin brigjen. Farhan Prasetyo.
Brigjen. Farhan Prasetyo melangkah menuju koridor yang sepi, mencoba menata pikirannya. Terjebak dalam lingkaran kejahatan semakin mengencang. Memikul perintah membunuh sesuai dengan keinginan Vito, membuatnya merenung tentang jalur hidup yang telah ia pilih.
“Membunuh tuan Richard hanya akan memperparah segalanya. Tetapi tuan Vito memiliki kendali atas kehidupanku, dan kehidupan lainnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
Dalam kegelapan koridor sunyi, Farhan merenungkan konsekuensi dari pilihan-pilihannya. Mematikan Richard berarti mengorbankan seseorang untuk melindungi rahasia dan kepentingan Vito. Hati dan pikirannya berjuang dalam pertarungan tak terhindarkan.
“Apa yang akan aku lakukan? Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan tindakan ini?”
Sementara itu, di ruangan rapat, Vito kembali menyibukkan diri dengan pembicaraan tentang langkah-langkah selanjutnya. Dia merasa yakin bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai rencananya.
“Semua akan berjalan sesuai rencana. Farhan pasti akan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik,” ucap Vito.
“Apa yang kita lakukan jika dia menolak, Vito? Farhan terlalu terikat dengan Richard?” tanya Marco.
“Dia tidak punya pilihan. Kita memiliki kendali atasnya.”
Ruang rapat dipenuhi dengan asap rokok dan keputusan berat. Vito tahu bahwa langkah yang diambilnya adalah suatu risiko, tetapi risiko ini harus diambil untuk melindungi kepentingan bisnisnya yang gelap.
“Mungkin ini adalah kesempatan untuk mengganti kepemimpinan di dalam kepolisian. Kita bisa memiliki seseorang yang lebih patuh,” ucap Maria.
“Tidak. Farhan sudah terlibat dalam banyak hal. Dia tidak bisa lepas begitu saja,” sahut Vito, sebuah senyuman licik tergambar di wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Agan
Vito jahat. Mentang mentang banyak uang, main bunuh aja
2024-02-17
0
Dewi Payang
Farhan mulai ragu, ga mudah memang melenyapkn nyawa seseorg. Mundur saja Farhan.
2024-02-15
0
F.T Zira
🌹 mendarat untukmu..
2024-02-13
0