...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Toni berhasil melepaskan diri dari kehadiran Luca di klub malam mewah. Setelah keluar dari pintu klub, dia bergegas menuju mobilnya terparkir di tepi jalan. Dengan hati masih berdegup kencang, Toni memasuki mobilnya dan menutup pintu dengan keras. Dia memasukkan kunci ke dalam mesin, menyalakan mobilnya, dan memutuskan untuk menuju rumah detektif Alex, tempat dia berharap menemukan perlindungan dari bayangan yang mengancam.
“Beruntung bisa melepaskan diri dari situ. Semoga Alex bisa memberikan jawaban yang aku cari,” gumam Toni menghela nafas lega.
Dengan lampu-lampu kota yang melintas di sekitarnya, Toni memacu mobilnya dengan cepat. Pikirannya terus melayang pada pertemuan tadi dengan Luca, dan rasa ketidakamanan masih membayang di benaknya. Namun, harapan untuk menemukan kejelasan di rumah detektif Alex membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
“Semoga Alex tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi. Aku butuh bantuan, dan rumahnya bisa menjadi tempat yang aman,” ucap Toni pada dirinya sendiri.
Toni tiba di depan rumah detektif Alex. Cahaya lampu terlihat redup dari jendela-jendela rumah, menciptakan kesan ketenangan. Toni keluar dari mobilnya dan melangkah menuju pintu depan, berharap Alex dapat memberikan bantuan atau setidaknya jawaban atas situasi yang semakin rumit ini.
Toni mengetuk pintu rumah Alex, menunggu dengan harapan. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita dengan rambut panjang acak-acakan menjuntai, berpakaian piyama putih muncul dari balik pintu.
Isabella, wanita malam yang seharusnya telah meninggal dunia, menyambutnya di pintu rumah detektif Alex. Toni terpaku, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Isabella? Tapi, aku yakin kau...” ucap Toni terbata-bata.
Sebelum Toni dapat menyelesaikan kalimatnya, Isabella terkejut dan menjerit keras. Toni melihat tatapan terkejut di wajah Isabella saat dia kembali menatap Toni dengan pandangan takut. Tanpa bisa mengendalikan diri, Toni juga ikut teriak.
“Hantu!” teriak Isabella.
“Maling!” teriak Toni panik.
Saking panik dan terkejutnya, Isabella dan Toni sampai salah berteriak satu sama lain. Toni menunjuk wajah suram Isabella, sedangkan Isabella tetap menunjuk pada Toni sambil menggigil.
“Ka-kau itu hantu atau maling?” tanya Isabella terbata-bata.
“Aku makhluk zaman purba,” sahut Toni.
Toni merasa kebingungan dan frustrasi. Sesuatu seharusnya tidak mungkin terjadi, terjadi di hadapannya. Isabella, seharusnya telah meninggal dunia, sekarang berdiri di depannya dengan tanda-tanda kehidupan.
Dalam ketakutan dan kegelisahan, Toni mencoba memahami situasi yang semakin aneh ini. Dia merasa diawasi dan mungkin diikuti oleh Lucas, sehingga dengan langkah cepat, dia menerobos masuk ke dalam rumah Alex. Isabella, masih mencoba memproses kejadian sebelumnya, berteriak memanggil Toni, meminta dia keluar.
“Manusia purba, keluar dari sini! Kamu tidak boleh masuk begitu saja!” teriak Isabella.
“Alex! Alex, di mana kamu?” teriak Toni tanpa menghiraukan teriakan Isabella.
Teriakan Toni memecah hening di dalam rumah. Isabella, sementara mencoba mengusir Toni, memberitahu bahwa Alex telah pergi entah kemana ketika dia sedang tidur. Toni merasa semakin bingung, mencari jawaban tidak kunjung ditemukan.
“Manusia purba, kenapa kamu masuk begitu saja? Alex tidak ada di sini!”
“Apa yang sedang terjadi? Dimana Alex?” tanya Toni.
Isabella merasakan kegelisahan di wajah Toni, dan dengan cemas, dia menceritakan bahwa Alex pergi tanpa jejak ketika dia tertidur.
“Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu! Dia pergi begitu saja.”
“Kita perlu mencarinya. Ada sesuatu yang tidak beres di sini,” desak Toni.
“Mau cari kemana?” tanya Isabella.
Isabella dan Toni saling pandang, menyadari bahwa mereka berdua berada dalam situasi yang penuh misteri. Dengan hati berdegup kencang, mereka bersama-sama memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Alex, di tengah kekacauan semakin kompleks dan tak terduga.
Dalam kekosongan memenuhi rumah Alex, Toni merasa kebingungan dan lelah. Rasa putus asa mulai menghampirinya, dan dia memutuskan untuk memberikan dirinya sendiri sedikit istirahat. Dengan langkah berat, Toni memutuskan untuk menyerah sejenak dan mencari jawaban nanti. Dia menoleh pada Isabella dengan pandangan lelah.
“Isabella, aku tidak tahu lagi harus kemana. Mungkin kita butuh istirahat sejenak. Apakah di sini ada kopi dan sedikit makanan?” tanya Toni
“Tentu, ada di dapur. Aku akan menunjukkan,” sahut Isabella polos.
Toni dan Isabella berjalan menuju dapur, tempat Toni dengan cermat membuatkan kopi. Walaupun situasi sedang penuh teka-teki, aroma kopi yang harum memberikan sedikit kenyamanan. Toni menyusun beberapa cemilan di atas meja, dan keduanya duduk di ruang tamu yang sunyi.
“Terima kasih, Isabella. Aku butuh sedikit istirahat dan sesuatu yang bisa menenangkan pikiran.”
“Sama-sama, Toni. Ini pasti situasi yang sulit untuk kamu.”
Toni dan Isabella duduk di ruang tamu yang hening, cangkir kopi mereka di tangan. Toni mencoba mencari kata-kata untuk melanjutkan percakapan, mencari jawaban belum ditemukan. Isabella, meskipun masih misterius, tampaknya bersedia untuk berbicara.
“Isabella, bolehkah aku bertanya? Kenapa kamu tinggal di rumah Alex?”
“Sederhana, Toni. Kita semua punya rahasia.”
Toni meresapi jawaban misterius Isabella, namun dia memilih untuk tidak mengejar pertanyaan lebih jauh. Dalam suasana penuh ketidakpastian, mereka berdua melanjutkan obrolan, mencari kenyamanan dan mungkin temuan jawaban di antara tetes kopi dan percakapan yang lembut.
Di luar rumah Alex, di balik semak-semak gelap, terparkir sebuah mobil hitam yang mencurigakan. Beberapa orang berdiri di sekitar mobil, mengintai dengan hati-hati, mata mereka terfokus pada rumah yang tenang di depan mereka.
Terdengar suara bisikan-bisikan di antara mereka yang bersembunyi di balik semak-semak.
“Kita harus waspada. Tak boleh ada kesalahan kali ini,” ucap orang A.
“Ya, kita tidak bisa meremehkan detektif Alex. Dia cerdik,” ucap orang B.
Di dalam rumah detektif Alex, Toni dan Isabella duduk di ruang tamu sunyi. Udara di dalam rumah terasa tegang, seolah mencerminkan ketidakpastian dan kekhawatiran yang terjadi di luar sana. Mereka berdua merasa diambang sesuatu besar, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di dalam mobil hitam bersembunyi di luar rumah Alex, salah satu dari mereka mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Dengan suara rendah, dia memberitahu bahwa rumah detektif Alex tampaknya memiliki penghuni di dalamnya. Suasana tegang terasa di mobil tersebut, seperti mereka sedang menunggu arahan selanjutnya.
📱“Ya, bos. Rumah detektif Alex terlihat ada aktivitas di dalamnya. Apa langkah selanjutnya?” tanya orang C menelepon seseorang yang disebut ‘Bos’.
📱“Pantau terus. Jangan biarkan siapapun keluar dari situ tanpa kita ketahui. Kita tidak boleh gagal kali ini.”
📱“Baik, akan kami lakukan,” sahut orang C.
Orang-orang di dalam mobil hitam itu bertekad untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menyelesaikan misi mereka. Mereka merasa tertantang oleh ketegangan situasi ini, dan bersiap untuk bertindak sesuai dengan instruksi yang telah diberikan kepada mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Agan
siapa mereka
2024-02-20
0
Agan
Ayoo...bingungkan
2024-02-20
0
Agan
semangat. Ceritanya selalu menakjubkan
2024-02-18
0