Bab 14

Tolong jangan lupa beri like ya ^-^

__________________________________

"Lapor, Nona Shu awalnya pergi tokoh baju ternyata Nona menyamar menjadi pria, lalu Nona pergi lagi ke paviliun pelelangan Cheng, sepertinya Nona sedang mencari sesuatu di sana. Setelah itu Nona pergi lagi, tapi kami kehilangan jejaknya. Sepertinya Nona sudah tahu dari awal kalau kami mengikutinya." Pengawal yang beberapa jam lalu diperintah Tang Gou menjaga Shua Xie kembali melapor setelah mereka kehilangan jejak Shua Xie.

"Ternyata Nona Shu sangat hebat sampai tahu kalau kalian mengikutinya. Padahal kalian kultivator terlatih," gumam Tang Gou pelan.

Dasuke melirik ke arah Tang Gou, "Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan? Apa kita mencari jejak Nona lagi?" tanyanya menunggu perintah selanjutnya.

Tang Gou menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, sepertinya Nona sengaja menghilangkan jejaknya karena dia tidak ingin kita ikut campur urusannya. Biarkan Nona kita pergi ke tempat yang ia mau, aku yakin Nona bisa menjaga dirinya baik-baik. Ya sudah kalian boleh bertugas seperti biasa lagi," balas Tang Gou dengan nada tegas. Ke empat pengawal itu langsung pergi dari hadapan Tang Gou seketika.

***

Shua Xie menghela nafas lega setelah berhasil mengelabuhi pengawal yang terus mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Awalnya Shua Xie kira mereka adalah penjahat, tapi setelah melihat lambang baju mereka, Shua Xie teringat lambang baju mereka sama persis dengan lambang baju pengawal pribadi Tang Gou. Shua Xie yakin orang-orang yang mengikutinya itu adalah pengawal suruhan Tang Gou untuk melindunginya.

"Huft! Ada kala kita tidak boleh mengetahui banyak hal demi keselamatan sendiri. Jika mereka terlalu penasaran tentangku, aku tidak akan sungkan lagi," ujar Shua Xie dingin seraya melompat turun dari atap rumah.

Setelah keluar dari Paviliun Cheng, Shua Xie berpikir akan pergi mencari sesuatu yang menarik. Seperti rumah Bordil atau minum arak, sebagai gadis abad ke 21, melintasi waktu ke zaman kuno Shua Xie ingin manfaatkan sebaik mungkin. Shua Xie tidak pernah sebebas ini, tidak seperti di kehidupan lalunya ia selalu belajar melanjutkan bisnis ayahnya.

Shua Xie berjalan santai di tengah kesibukan kota. Kota yang begitu ramai dengan polesan kuno membuat Shua Xie menjadi lebih tenang, entah mengapa Shua Xie lebih senang hidup di jaman seperti ini daripada di jaman modern.

Setelah lama berjalan Shua Xie berhenti melangkah ketika ia mendengar suara hantam dari sisi lain. Beralih Shua Xie ke arah kiri dan melihat ada sekelompok pria yang sedang menindas dua orang lemah.

Shua Xie menyeringai pelan, "Hemp! Di dunia ini yang kuat menindas yang lemah sudah menjadi hukum mutlak. Sepertinya seru jika mengganggu kesenangan sekumpulan orang bodoh itu!" gumam Shua Xie seraya tersenyum jahat. Sepertinya kebiasaan Shua Xie mengusili orang atau mengikut campur urusan orang tidak pernah hilang.

Di saat yang bersamaan, sekumpulan pria itu semakin memojokkan dua orang korbannya. Salah satu dari mereka mengeluarkan pedangnya lalu menancapkannya tepat di samping kepala korbannya.

"Kau sebaiknya menurut saja! Berikan uang kalian aku jamin aku tidak akan membunuh kalian berdua," ujar Sang San salah satu murid sekte Sun. Dialah pemimpin sekelompok itu.

"Ka-kami sudah tidak punya uang!" seru gadis berambut coklat bernama Tena juga merupakan salah satu murid sekte Sun. Namun Tena termasuk murid paling lemah di sekte Sun.

"Benar! Uang Kakak sudah habis kalian ambil setiap hari!" seru adik Tena bernama Nokune. Pria kecil berumur 7 tahun.

Sang San menendang perut Nokune sangat kuat hingga ia terpental beberapa meter ke belakang. Seketika juga Tena berteriak kencang memanggil adiknya. Tena hendak berlari mengejar adiknya sayangnya Sang San langsung menarik tangannya.

"Mau ke mana Tena!? Urusanmu denganku belum selesai! Kalau mau adikmu selamat cepat berikan uang kalian padaku!" seru Sang San keras.

"********!" seru Tena keras sambil menghantam perut Sang San sekuat mungkin. Sang San mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya yang sakit. Tena segera berlari menuju adiknya lalu memeluk adiknya yang pingsan.

Ketika melihat ketua mereka dipukul, para bawahan Sang San langsung meledak marah hendak menyerang Tena. Namun terhalang oleh kemunculan sosok gadis yang tidak mereka kenal. Gadis itu bermata merah, berbaju hitam dengan dua pedang di sisi pinggangnya yang tak lain ialah Shua Xie. Tena juga sempat terkejut ketika Shua Xie muncul tanpa ia sadari sedikit pun kehadirannya.

"Siapa kau! Berani ikut campur sekte Sun akan membalasmu!" seru salah satu bawahan Sang San.

"Benar! Ketua tidak akan mengampunimu sekalipun kau seorang gadis! Tapi jika kau mau tidur dengan kami maka kami tidak akan melaporkannya pada ketua!"

Dua batu melayang sangat cepat ketika dua orang itu sudah selesai berbicara. Karena batu itu melesat sangat cepat, mereka berdua tidak sempat mengelak akhirnya terkena pukulan batu kerikil itu tepat di kepala mereka. Pukulan batu itu lumayan keras membuat ke dua orang itu pingsan.

Shua Xie melambung berulang kali satu batu di tangan kanannya seraya melirik ke arah Tena lalu beralih lagi kepada Sang San dan sisa rekannya.

"Banyak omong kosong! Beginikah murid dari sekte Sun, menindas seorang wanita lemah? Ck sekumpulan sampah!" sinis Shua Xie tajam.

"Gadis sialan! Berani kau menyebut kami sekumpulan sampah!" seru Sang San keras seraya menunjuk Shua Xie penuh kekesalan.

"Heh! Kalian memang layak disebut sekumpulan sampah!" ledek Shua Xie semakin senang.

Sang San mengeram kesal sampai urat-urat lehernya mulai terlihat, "Kau! Serang gadis sialan itu bersamaan! Pastikan kalian membunuhnya!" Perintah Sang San keras. Para bawahannya pun langsung menjalankan perintah menyerang Shua Xie secara bersamaan dengan senjata mereka masing-masing.

Sedang di sisi lain Tena terkejut ketika melihat Shua Xie diserang secara bersamaan oleh bawahan Sang San. Tena tahu betul seperti apa hebatnya orang-orang Sang San apalagi ketua mereka.

"Bagus ada mainan baru! Majulah sekumpulan sampah!" tukas Shua Xie bersemangat. Shua Xie berlari maju seraya melayangkan batu di tangannya tepat mengenai kepala salah satu musuhnya hingga pingsan.

Musuh-musuh Shua Xie mengayunkan senjata mereka dengan cepat tapi selalu berhasil Shua Xie hindari, semakin lama serangan mereka semakin cepat. Kombinasi mereka sangat bagus. Shua Xie terus menghindar, kadang Shua Xie juga menepis senjata mereka dengan sarung pedangnya, atau dengan kakinya. Lama mereka terus menyerang Shua Xie tanpa henti membuat Shua Xie semakin bersemangat.

Shua Xie melompat tinggi ke udara lalu mengayunkan kakinya ke bawah, "Tendangan Gelombang!"

Satu jurus gelombang angin berhasil Shua Xie keluarkan membuat sekumpulan musuhnya langsung terbaring keras ke tanah. Getaran dari jurus Shua Xie juga membuat Tena dan Sang San hampir kehilangan kendali. Kepulan debu memenuhi gang sempit itu membuat mereka sulit melihat dengan jelas.

"Uhuk, uhuk! Sialan ternyata dia kuat!" gumam Sang San kesal sambil mengibas debu yang terus membuatnya batuk.

Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya kepulan debu itu sudah menghilang. Sang San melirik ke kiri dan kanan melihat semua rekannya sudah tidak berdaya. Sang San mencari keberadaan Shua Xie tapi tidak ada sosok yang ia cari kecuali Tena dan Nokune yang masih duduk di tanah.

Tiba-tiba sesuatu benda tajam terasa menusuk pelan di punggung Sang San, "Kapan?! Kenapa aku tidak menyadarinya!" seru Sang San.

Shua Xie tertawa kecil, "Sejak debu sudah menghilang," jawabnya seadanya.

"Ergg!!! Berani kau menusuk punggungku aku pastikan kau tidak akan tenang seumur hidup!" Ancaman Sang San membuat Shua Xie semakin tertawa.

"Aku jadi semakin ingin menusuk punggungmu!" Shua Xie menekan pedangnya menusuk punggung Sang San membuat Sang San menjerit.

"Kau! Aku mengaku kalah!"

"Heh! Memang sekumpulan sampah!" Shua Xie melepaskan pedang yang ia genggam. Pedang itu adalah pedang milik Sang San yang tertancap sebelumnya di tembok batu.

Shua Xie menghilang secara tiba-tiba lalu muncul tepat di depan Tena. Tena dan Sang San terkejut tidak menyadari kapan Shua Xie berpindah tempat. Pantas saja Shua Xie bisa muncul secara tiba-tiba di belangkan Sang San, karena jurus langkah cepat sudah Shua Xie pelajari secara mendalam.

"Enyalah! Sebelum aku menebas lehermu!" tukas Shua Xie dingin. Sang San langsung lari secepat tanpa memperdulikan para bawahannya yang masih terbaring pingsan.

Setelah Sang San pergi jauh Shua Xie menghela nafas lalu berbalik menatap Tena.

"Terimakasih sudah menolong aku dan adikku."

"Tidak masalah! Kebetulan aku juga sedang bosan jadi aku membantumu," balas Shua Xie membuat Tena bingung.

"Siapa namamu?"

"Shua, panggil aku Shua," jawab Shua Xie.

Tena tersenyum, "Namaku Tena. Terimakasih telah menolongku Shua, suatu hari aku akan membalas budimu. Tapi sebaiknya kau pergi dari kota ini sejauh mungkin, sebab Sang San pasti akan melaporkan masalah ini pada ketuanya. Aku sarankan sebaiknya kau pergi."

"Pergi? Justru itulah yang sedang kutunggu, aku penasaran bagaimana reaksi Tetua sekte mereka jika bertemu denganku?" balas Shua Xie sambil memaparkan senyuman jahatnya, "Kau bawahlah adikmu pada tabib, biarkan tabib mengobati lukamu dan adikmu." Shua Xie melemparkan satu kantong batu spirit monster yang baru saja ia keluarkan dari cincin Ruang. Tena menyambut kanton batu spirit itu gelagapan sekaligus terkejut.

"Ini! Batu spirit monster?" tukas Tena terkejut, "Kenapa kau memberikannya padaku?" Tena menatap Shua Xie penuh keterkejutan.

"Untuk mengobati adikmu, bukannya kau sudah tidak punya uang. Ya sudah aku pergi dulu, jaga adikmu baik-baik." Shua Xie melangkah pergi meninggalkan Tena yang terus menatapnya.

***

Setelah Shua Xie memberikan sekatung batu spirit monster dia langsung pergi menuju satu kedai arak. Inilah satu tempat yang dari dulu Shua Xie ingin kunjungi, Shua Xie selalu penasaran seperti apa rasa arak jaman kuno.

Shua Xie melangkah masuk ke dalam dan melihat begitu banyak tamu di dalamnya terutama para kultivator yang sedang berpesta ria dengan rekannya. Shua Xie tersenyum kecil lalu melangkah menuju satu meja yang hanya diduduki satu orang pria bertudung. Shua Xie tidak dapat melihat jelas seperti apa wajah orang itu tapi satu yang Shua Xie ketahui ialah pria itu seorang kultivator hebat. Shua Xie dapat menebak dari aurah pria itu.

"Permisi boleh aku ikut duduk di sini?" tanya Shua Xie meminta izin terlebih dahulu kepada pria bertudung itu. Pria bertudung itu hanya membalas dengan anggukan.

"Pelayan dua botol arak terbaik!" teriak Shua Xie seraya duduk tepat di hadapan pria bertudung itu.

"Hem! Kau masih muda untuk minum arak." Pria bertudung itu membuka suara.

"Muda atau tua sama saja. Dalam kamusku tidak ada perbedaan tua ataupun muda," balas Shua Xie santai.

"Hahaha ... menarik. Siapa namamu?"

"Shua. Kau pun juga menarik, berpakaian seperti itu membuat dirimu menjadi pusat perhatian. Apa kau sedang bersembunyi dari seseorang?" balas Shua Xie sambil menatap pria bertudung itu.

"Benar, ada sekelompok bandit yang sedang mencariku."

Shua Xie mengerutkan keningnya merasa sedikit tertarik, "Apa kau seorang buronan?" tanya Shua Xie dengan suara pelan sambil tersenyum kecil.

Pria bertudung itu berdehem pelan, "Ehem ... benar aku seorang buronan. Kenapa, apa kau takut?"

"Hahaha ... takut? Aku justru menjadi penasaran seperti apa rasanya menjadi buronan!?" balas Shua Xie.

.

.

.

.

.

.

**Bersambung

Halo dukung karya ini dengan beri like dan vote sebanyak mungkin ^-^

Jika ada typo atau kritsar silakan komen

Favoritin Juga Biar Tidak Ketinggalan bab berikutnya

sampai bertemu di bab berikutnya** ....

Terpopuler

Comments

Ana

Ana

campur" ye namanya

2022-09-20

0

Bibirnya Kyung-soo🐧🍉

Bibirnya Kyung-soo🐧🍉

Shua Xie km kan udah jadi Buronan pembasmi klan Langit. emang km mau jadi buronan apalagi hah??? gak puas km kemarin dikejar2 sampe jurang🤣

2022-02-18

0

Bibirnya Kyung-soo🐧🍉

Bibirnya Kyung-soo🐧🍉

bantai aja bantai😆. orang biasa menindas gk akan terima ketika ditindas, maka langsung tebas aja tuh leher😊

2022-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66 ( Arc 1 and penyesalan )
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Q&A Part 1 (Bukan Update)
176 Bab 175
177 Bab 176
178 Bab 177
179 Bab 178
180 Bab 179
181 Bab 180
182 Bab 181
183 Bab 182
184 Bab 183
185 Bab 184
186 Bab 185
187 Bab 186
188 Bab 187
189 Bab 188
190 Bab 189
191 Bab 190
192 Bab 191
193 Bab 192
194 Bab 193
195 Bab 194
196 Bab 195
197 Bab 196
198 Bab 197
199 Bab 198
200 000
Episodes

Updated 200 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66 ( Arc 1 and penyesalan )
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Q&A Part 1 (Bukan Update)
176
Bab 175
177
Bab 176
178
Bab 177
179
Bab 178
180
Bab 179
181
Bab 180
182
Bab 181
183
Bab 182
184
Bab 183
185
Bab 184
186
Bab 185
187
Bab 186
188
Bab 187
189
Bab 188
190
Bab 189
191
Bab 190
192
Bab 191
193
Bab 192
194
Bab 193
195
Bab 194
196
Bab 195
197
Bab 196
198
Bab 197
199
Bab 198
200
000

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!