Tolong jangan lupa beri like ya ^-^
__________________________________
"Lapor, Nona Shu awalnya pergi tokoh baju ternyata Nona menyamar menjadi pria, lalu Nona pergi lagi ke paviliun pelelangan Cheng, sepertinya Nona sedang mencari sesuatu di sana. Setelah itu Nona pergi lagi, tapi kami kehilangan jejaknya. Sepertinya Nona sudah tahu dari awal kalau kami mengikutinya." Pengawal yang beberapa jam lalu diperintah Tang Gou menjaga Shua Xie kembali melapor setelah mereka kehilangan jejak Shua Xie.
"Ternyata Nona Shu sangat hebat sampai tahu kalau kalian mengikutinya. Padahal kalian kultivator terlatih," gumam Tang Gou pelan.
Dasuke melirik ke arah Tang Gou, "Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan? Apa kita mencari jejak Nona lagi?" tanyanya menunggu perintah selanjutnya.
Tang Gou menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, sepertinya Nona sengaja menghilangkan jejaknya karena dia tidak ingin kita ikut campur urusannya. Biarkan Nona kita pergi ke tempat yang ia mau, aku yakin Nona bisa menjaga dirinya baik-baik. Ya sudah kalian boleh bertugas seperti biasa lagi," balas Tang Gou dengan nada tegas. Ke empat pengawal itu langsung pergi dari hadapan Tang Gou seketika.
***
Shua Xie menghela nafas lega setelah berhasil mengelabuhi pengawal yang terus mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Awalnya Shua Xie kira mereka adalah penjahat, tapi setelah melihat lambang baju mereka, Shua Xie teringat lambang baju mereka sama persis dengan lambang baju pengawal pribadi Tang Gou. Shua Xie yakin orang-orang yang mengikutinya itu adalah pengawal suruhan Tang Gou untuk melindunginya.
"Huft! Ada kala kita tidak boleh mengetahui banyak hal demi keselamatan sendiri. Jika mereka terlalu penasaran tentangku, aku tidak akan sungkan lagi," ujar Shua Xie dingin seraya melompat turun dari atap rumah.
Setelah keluar dari Paviliun Cheng, Shua Xie berpikir akan pergi mencari sesuatu yang menarik. Seperti rumah Bordil atau minum arak, sebagai gadis abad ke 21, melintasi waktu ke zaman kuno Shua Xie ingin manfaatkan sebaik mungkin. Shua Xie tidak pernah sebebas ini, tidak seperti di kehidupan lalunya ia selalu belajar melanjutkan bisnis ayahnya.
Shua Xie berjalan santai di tengah kesibukan kota. Kota yang begitu ramai dengan polesan kuno membuat Shua Xie menjadi lebih tenang, entah mengapa Shua Xie lebih senang hidup di jaman seperti ini daripada di jaman modern.
Setelah lama berjalan Shua Xie berhenti melangkah ketika ia mendengar suara hantam dari sisi lain. Beralih Shua Xie ke arah kiri dan melihat ada sekelompok pria yang sedang menindas dua orang lemah.
Shua Xie menyeringai pelan, "Hemp! Di dunia ini yang kuat menindas yang lemah sudah menjadi hukum mutlak. Sepertinya seru jika mengganggu kesenangan sekumpulan orang bodoh itu!" gumam Shua Xie seraya tersenyum jahat. Sepertinya kebiasaan Shua Xie mengusili orang atau mengikut campur urusan orang tidak pernah hilang.
Di saat yang bersamaan, sekumpulan pria itu semakin memojokkan dua orang korbannya. Salah satu dari mereka mengeluarkan pedangnya lalu menancapkannya tepat di samping kepala korbannya.
"Kau sebaiknya menurut saja! Berikan uang kalian aku jamin aku tidak akan membunuh kalian berdua," ujar Sang San salah satu murid sekte Sun. Dialah pemimpin sekelompok itu.
"Ka-kami sudah tidak punya uang!" seru gadis berambut coklat bernama Tena juga merupakan salah satu murid sekte Sun. Namun Tena termasuk murid paling lemah di sekte Sun.
"Benar! Uang Kakak sudah habis kalian ambil setiap hari!" seru adik Tena bernama Nokune. Pria kecil berumur 7 tahun.
Sang San menendang perut Nokune sangat kuat hingga ia terpental beberapa meter ke belakang. Seketika juga Tena berteriak kencang memanggil adiknya. Tena hendak berlari mengejar adiknya sayangnya Sang San langsung menarik tangannya.
"Mau ke mana Tena!? Urusanmu denganku belum selesai! Kalau mau adikmu selamat cepat berikan uang kalian padaku!" seru Sang San keras.
"********!" seru Tena keras sambil menghantam perut Sang San sekuat mungkin. Sang San mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya yang sakit. Tena segera berlari menuju adiknya lalu memeluk adiknya yang pingsan.
Ketika melihat ketua mereka dipukul, para bawahan Sang San langsung meledak marah hendak menyerang Tena. Namun terhalang oleh kemunculan sosok gadis yang tidak mereka kenal. Gadis itu bermata merah, berbaju hitam dengan dua pedang di sisi pinggangnya yang tak lain ialah Shua Xie. Tena juga sempat terkejut ketika Shua Xie muncul tanpa ia sadari sedikit pun kehadirannya.
"Siapa kau! Berani ikut campur sekte Sun akan membalasmu!" seru salah satu bawahan Sang San.
"Benar! Ketua tidak akan mengampunimu sekalipun kau seorang gadis! Tapi jika kau mau tidur dengan kami maka kami tidak akan melaporkannya pada ketua!"
Dua batu melayang sangat cepat ketika dua orang itu sudah selesai berbicara. Karena batu itu melesat sangat cepat, mereka berdua tidak sempat mengelak akhirnya terkena pukulan batu kerikil itu tepat di kepala mereka. Pukulan batu itu lumayan keras membuat ke dua orang itu pingsan.
Shua Xie melambung berulang kali satu batu di tangan kanannya seraya melirik ke arah Tena lalu beralih lagi kepada Sang San dan sisa rekannya.
"Banyak omong kosong! Beginikah murid dari sekte Sun, menindas seorang wanita lemah? Ck sekumpulan sampah!" sinis Shua Xie tajam.
"Gadis sialan! Berani kau menyebut kami sekumpulan sampah!" seru Sang San keras seraya menunjuk Shua Xie penuh kekesalan.
"Heh! Kalian memang layak disebut sekumpulan sampah!" ledek Shua Xie semakin senang.
Sang San mengeram kesal sampai urat-urat lehernya mulai terlihat, "Kau! Serang gadis sialan itu bersamaan! Pastikan kalian membunuhnya!" Perintah Sang San keras. Para bawahannya pun langsung menjalankan perintah menyerang Shua Xie secara bersamaan dengan senjata mereka masing-masing.
Sedang di sisi lain Tena terkejut ketika melihat Shua Xie diserang secara bersamaan oleh bawahan Sang San. Tena tahu betul seperti apa hebatnya orang-orang Sang San apalagi ketua mereka.
"Bagus ada mainan baru! Majulah sekumpulan sampah!" tukas Shua Xie bersemangat. Shua Xie berlari maju seraya melayangkan batu di tangannya tepat mengenai kepala salah satu musuhnya hingga pingsan.
Musuh-musuh Shua Xie mengayunkan senjata mereka dengan cepat tapi selalu berhasil Shua Xie hindari, semakin lama serangan mereka semakin cepat. Kombinasi mereka sangat bagus. Shua Xie terus menghindar, kadang Shua Xie juga menepis senjata mereka dengan sarung pedangnya, atau dengan kakinya. Lama mereka terus menyerang Shua Xie tanpa henti membuat Shua Xie semakin bersemangat.
Shua Xie melompat tinggi ke udara lalu mengayunkan kakinya ke bawah, "Tendangan Gelombang!"
Satu jurus gelombang angin berhasil Shua Xie keluarkan membuat sekumpulan musuhnya langsung terbaring keras ke tanah. Getaran dari jurus Shua Xie juga membuat Tena dan Sang San hampir kehilangan kendali. Kepulan debu memenuhi gang sempit itu membuat mereka sulit melihat dengan jelas.
"Uhuk, uhuk! Sialan ternyata dia kuat!" gumam Sang San kesal sambil mengibas debu yang terus membuatnya batuk.
Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya kepulan debu itu sudah menghilang. Sang San melirik ke kiri dan kanan melihat semua rekannya sudah tidak berdaya. Sang San mencari keberadaan Shua Xie tapi tidak ada sosok yang ia cari kecuali Tena dan Nokune yang masih duduk di tanah.
Tiba-tiba sesuatu benda tajam terasa menusuk pelan di punggung Sang San, "Kapan?! Kenapa aku tidak menyadarinya!" seru Sang San.
Shua Xie tertawa kecil, "Sejak debu sudah menghilang," jawabnya seadanya.
"Ergg!!! Berani kau menusuk punggungku aku pastikan kau tidak akan tenang seumur hidup!" Ancaman Sang San membuat Shua Xie semakin tertawa.
"Aku jadi semakin ingin menusuk punggungmu!" Shua Xie menekan pedangnya menusuk punggung Sang San membuat Sang San menjerit.
"Kau! Aku mengaku kalah!"
"Heh! Memang sekumpulan sampah!" Shua Xie melepaskan pedang yang ia genggam. Pedang itu adalah pedang milik Sang San yang tertancap sebelumnya di tembok batu.
Shua Xie menghilang secara tiba-tiba lalu muncul tepat di depan Tena. Tena dan Sang San terkejut tidak menyadari kapan Shua Xie berpindah tempat. Pantas saja Shua Xie bisa muncul secara tiba-tiba di belangkan Sang San, karena jurus langkah cepat sudah Shua Xie pelajari secara mendalam.
"Enyalah! Sebelum aku menebas lehermu!" tukas Shua Xie dingin. Sang San langsung lari secepat tanpa memperdulikan para bawahannya yang masih terbaring pingsan.
Setelah Sang San pergi jauh Shua Xie menghela nafas lalu berbalik menatap Tena.
"Terimakasih sudah menolong aku dan adikku."
"Tidak masalah! Kebetulan aku juga sedang bosan jadi aku membantumu," balas Shua Xie membuat Tena bingung.
"Siapa namamu?"
"Shua, panggil aku Shua," jawab Shua Xie.
Tena tersenyum, "Namaku Tena. Terimakasih telah menolongku Shua, suatu hari aku akan membalas budimu. Tapi sebaiknya kau pergi dari kota ini sejauh mungkin, sebab Sang San pasti akan melaporkan masalah ini pada ketuanya. Aku sarankan sebaiknya kau pergi."
"Pergi? Justru itulah yang sedang kutunggu, aku penasaran bagaimana reaksi Tetua sekte mereka jika bertemu denganku?" balas Shua Xie sambil memaparkan senyuman jahatnya, "Kau bawahlah adikmu pada tabib, biarkan tabib mengobati lukamu dan adikmu." Shua Xie melemparkan satu kantong batu spirit monster yang baru saja ia keluarkan dari cincin Ruang. Tena menyambut kanton batu spirit itu gelagapan sekaligus terkejut.
"Ini! Batu spirit monster?" tukas Tena terkejut, "Kenapa kau memberikannya padaku?" Tena menatap Shua Xie penuh keterkejutan.
"Untuk mengobati adikmu, bukannya kau sudah tidak punya uang. Ya sudah aku pergi dulu, jaga adikmu baik-baik." Shua Xie melangkah pergi meninggalkan Tena yang terus menatapnya.
***
Setelah Shua Xie memberikan sekatung batu spirit monster dia langsung pergi menuju satu kedai arak. Inilah satu tempat yang dari dulu Shua Xie ingin kunjungi, Shua Xie selalu penasaran seperti apa rasa arak jaman kuno.
Shua Xie melangkah masuk ke dalam dan melihat begitu banyak tamu di dalamnya terutama para kultivator yang sedang berpesta ria dengan rekannya. Shua Xie tersenyum kecil lalu melangkah menuju satu meja yang hanya diduduki satu orang pria bertudung. Shua Xie tidak dapat melihat jelas seperti apa wajah orang itu tapi satu yang Shua Xie ketahui ialah pria itu seorang kultivator hebat. Shua Xie dapat menebak dari aurah pria itu.
"Permisi boleh aku ikut duduk di sini?" tanya Shua Xie meminta izin terlebih dahulu kepada pria bertudung itu. Pria bertudung itu hanya membalas dengan anggukan.
"Pelayan dua botol arak terbaik!" teriak Shua Xie seraya duduk tepat di hadapan pria bertudung itu.
"Hem! Kau masih muda untuk minum arak." Pria bertudung itu membuka suara.
"Muda atau tua sama saja. Dalam kamusku tidak ada perbedaan tua ataupun muda," balas Shua Xie santai.
"Hahaha ... menarik. Siapa namamu?"
"Shua. Kau pun juga menarik, berpakaian seperti itu membuat dirimu menjadi pusat perhatian. Apa kau sedang bersembunyi dari seseorang?" balas Shua Xie sambil menatap pria bertudung itu.
"Benar, ada sekelompok bandit yang sedang mencariku."
Shua Xie mengerutkan keningnya merasa sedikit tertarik, "Apa kau seorang buronan?" tanya Shua Xie dengan suara pelan sambil tersenyum kecil.
Pria bertudung itu berdehem pelan, "Ehem ... benar aku seorang buronan. Kenapa, apa kau takut?"
"Hahaha ... takut? Aku justru menjadi penasaran seperti apa rasanya menjadi buronan!?" balas Shua Xie.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung
Halo dukung karya ini dengan beri like dan vote sebanyak mungkin ^-^
Jika ada typo atau kritsar silakan komen
Favoritin Juga Biar Tidak Ketinggalan bab berikutnya
sampai bertemu di bab berikutnya** ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Ana
campur" ye namanya
2022-09-20
0
Bibirnya Kyung-soo🐧🍉
Shua Xie km kan udah jadi Buronan pembasmi klan Langit. emang km mau jadi buronan apalagi hah??? gak puas km kemarin dikejar2 sampe jurang🤣
2022-02-18
0
Bibirnya Kyung-soo🐧🍉
bantai aja bantai😆. orang biasa menindas gk akan terima ketika ditindas, maka langsung tebas aja tuh leher😊
2022-02-18
0