"Om Hendrik," panggil Daniel.
"Ya Daniel ada apa?" tanya Hendrik
"Ngomong-ngomong, ada dimana semua orang? Maksud saya, ada dimana istri Om dan juga anggota keluarga Om yang lainnya?" tanya Daniel merasa rumah tersebut sangat sepi.
"Istri Om belum pulang dari luar kota," balas Hendrik.
"Belum pulang? Memangnya sedang apa di luar kota?" tanya Daniel ingin tahu.
"Dia sedang mengontrol kantor cabangnya yang berada di luar kota sana," balas Hendrik.
"Oh begitu, sepertinya istri anda sangat sibuk ya." ucap Daniel.
"Ya, semenjak sukses. Dia tidak pernah berhenti bekerja," balas Hendrik bangga.
"Hm, lalu bagaimana dengan anak Om yang lainnya?" tanya Daniel kembali.
"Adik-adiknya Mei sedang berada di dalam kamar mengerjakan tugas sekolah, kalau Yuan kakaknya sedang sibuk mengurus pekerjaan kantor," balas Hendrik.
"Ternyata Mei punya banyak saudara ya, pasti rumah ini selalu ramai." Daniel terkekeh kecil.
"Ya seperti itulah," balas Hendrik.
Sedangkan Mei Chen hanya diam saja, mendengarkan perbincangan yang menurutnya tidak penting.
Tak berselang lama kemudian Alin baru saja tiba di kediamannya. "Apa tamu Mei Chen sudah datang?" tanyanya pada Endah.
"Sudah Nyonya Alin," balas Endah.
"Kalau begitu siapkan meja makan ya," titah Alin.
"Baik Nyonya," patuh Endah.
Setelah memberi perintah kepada Endah, Alin segera bergabung dengan Hendrik dan juga Mei di ruang tamu.
"Nah itu istri Om," ucap Hendrik setelah melihat istrinya masuk.
Daniel tersenyum. "Malam Tante," sapanya.
"Malam," balas Alin tersenyum lalu duduk. "Apa kamu Daniel yang di ceritakan oleh Om Tjandra itu ya?"
"Ya Tante saya Daniel," balas Daniel ramah.
Alin tersenyum senang, sambil memindai penampilan Daniel keseluruhan. Ia sangat terkesan dengan cara berpakaian Daniel yang rapih dan juga memiliki tutur bahasa yang sopan.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama. Bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu dan mengobrol setelah makan saja!" tawar Alin mengajak semua orang untuk makan malam bersama.
"Ya aku setuju! Daniel kau juga makanlah disini bersama kami," timpal Hendrik.
"Baik Om, Tante!" balas Daniel setuju.
Lalu semua orang pun pergi menuju ruang makan untuk menyantap makan malam bersama, yanh kebetulan juga disana sudah ada Yuan, Marlina dan Michael menunggu.
"Sini Ce!" ucap Marlina pada Mei Chen agar duduk disebelahnya.
Mei Chen tersenyum dan pergi menghampiri, namun dicegah oleh sang ayah.
"Duduk disebelah Daniel!" larang Hendrik memberi perintah.
Mei Chen yang semula ceria, nampak cemberut. Lalu duduk disamping Daniel dengan rasa tidak ikhlas.
"Kenapa Mei?" tanya Yuan yang duduk berhadapan dengan Mei Chen dan juga Daniel.
"Enggak apa-apa!" balas Mei Chen.
"Mei, aku merasa senang sekali bisa makan bersama denganmu." Daniel melontarkan pujian serta ucapan-ucapan manis, berharap agar Mei mau memberikan sedikit senyuman kepadanya. Namun hasilnya sia-sia.
Tidak patah semangat, Daniel mencoba menyenangkan hati keluarganya Mei Chen. "Kalian sekeluarga begitu baik, mau mengajak saya makan malam bersama dalam satu meja yang sama. Hal bahagia yang belum pernah rasakan selama ini," ucapnya berharap orang lain iba.
"Benarkah begitu? Apa kau tidak pernah makan bersama dengan keluargamu?" tanya Alin merasa iba.
"Ya Tante, kedua orang tua saya sudah tiada. Jadi saya tidak pernah berkumpul bersama seperti ini," balas Daniel memelas.
Alin merasa terenyuh mendengarnya, begitupula dengan Hendrik dan yang lain. Tapi tidak dengan Mei Chen, ia merasa pria disebelahnya itu sangat berlebihan. "Lebay banget sih," gerutunya dalam hati.
"Kalau begitu makanlah yang banyak, anggap saja kami semua disini adalah keluargamu," ucap hangat Hendrik menjamu.
Daniel tersenyum. "Terima kasih Om," balasnya dan merasa senang karena telah berhasil menarik hati kedua orang tua Mei Chen.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya menyantap makan malam. Mereka kembali berbincang untuk lebih mengenal sosok Daniel yang nantinya akan dijodohkan oleh Mei Chen.
Seperti pekerjaan dan juga lain sebagainya.
"Saya memiliki usaha dibidang artis dan juga modeling, memang tidak terkenal seperti pengusaha-pengusaha yang lain. Namun usaha saya ini mampu bersaing didunia bisnis hiburan, bahkan orang-orang dari saya sudah banyak yang sukses dan terkenal sebagai artis maupun sebagai model," tutur Daniel menjelaskan pekerjaan samarannya.
"Begitu, saya memang tidak terlalu paham mengenai dunia hiburan dan model. Tapi Mei mungkin saja suka," ucap Hendrik.
"Benarkah Mei? Kau suka dengan dunia hiburan?" tanya Daniel antusias.
"Tidak juga," balas Mei Chen.
"Apanya yang tidak juga, Daddy ingat sewaktu kau kecil kau suka sekali menari dan menyanyi. Kau juga suka berjalan lagaknya seorang model," ucap Hendrik mengingatkan betapa centil putrinya itu sewaktu masih kecil.
"Daddy, kenapa sih bicara seperti itu? Mei sudah bilang kan sebelumnya, Mei itu tidak suka kalau Daddy membicarakan masa kecilku di hadapan orang asing!" tegur Mei Chen protes.
"Tapi memang benar begitu," balas Hendrik apa adanya.
Yuan terkekeh melihat wajah Mei Chen yang memerah, ia juga teringat masa-masa kecil Mei Chen yang begitu centil dan juga genit.
Dan bukan itu saja, selain centil Mei juga sangatlah galak. Terutama kepadanya apabila digoda.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Mei Chen pada Yuan.
Yuan menggeleng. "Tidak kenapa-kenapa, hanya lucu saja bila mengingat masa kecil kita."
"Apanya yang lucu? Memangnya aku badut!" tanya Mei Chen ketus. "Dan kau sendiri, memangnya masa kecilmu tidak lucu apa? Aku ingat saat itu kau pernah terjungkal dari sepeda baru karena dikejar-kejar anjing komplek sampai ngompol dicelana," cerocosnya membalas.
Yuan sontak terdiam dan merasa malu saat Mei menceritakan kejadian masa silam. "Berhenti membahas masalah itu!" kecamnya.
"Kenapa? Kau duluan sih!" balas Mei Chen sengit.
Yuan menghembus nafas kasar dan akhirnya mengalah setelah kedua orang tuanya menasehati agar tidak terus beradu mulut.
"Sudahlah jangan berdebat terus, malu! Kalian sudah besar, harusnya bisa mengendalikan emosi. Apalagi sekarang ini kita sedang kedatangan tamu, jadi tolong bersikaplah yang sopan!" tegur Alin menasehati.
"Ya Mom," balas Mei Chen dan Yuan bersamaan.
"Haha ... Kalian berdua sangatlah lucu. Bertengkar dengan saudara kandung memanglah sangat mengasyikkan, jika saja saya punya kakak atau adik. Mungkin saya juga akan bertindak sama seperti kalian, berdebat dimeja makan!" ucap Daniel tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Mereka memang saudara, tapi bukan saudara kandung." ucap Hendrik memberitahu.
"Bukan saudara kandung?" tanya Daniel sambil menatap Yuan dan Mei Chen bergantian.
"Benar, Mei adalah putri kandungku. Sedangkan Yuan adalah putra kandung dari Tante Alin. Mereka bahkan teman sekelas sewaktu kecil dan masih saja sering bertengkar sampai saat ini," balas Hendrik menjelaskan.
"Begitukah?" tanya Daniel mulai merasa tidak enak mendengar kabar tersebut.
"Benar, tapi apapun itu mereka berdua saling menyayangi seperti saudara kandung sendiri," timpal Alin.
Daniel mengunyah makanannya perlahan, sambil terus memperhatikan gerak-gerik Yuan maupun Mei Chen bergantian.
"Itu artinya mereka adalah saudara tiri dan tidak ada hubungan darah diantara keduanya. Melihat kedekatan mereka, aku ragu kalau keduanya tidak memiliki perasaan yang sama." Duga Daniel saat melihat Yuan dan Mei Chen saling mengejek satu sama lain.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Lee
Hendrik jgn lgsg prcya sma Daniel, minimal selidiki dlu biar km gk nysel
2024-07-18
0
neng ade
Hendrik km kan pengusaha sukses dan pintar selidiki dulu lah itu si Daniel .. jngn percaya begitu aja sm omongan nya .. begitu juga dngn saudara mu itu.. berhati hatilah !!
2024-02-07
0
Lina Zascia Amandia
Cpt smbh Kak Nov.... gas trs Kka Nov
2024-01-22
0