"Kau berbohong padaku Yuan! Katanya kau pergi karena ingin menelepon seseorang dan membawa cemilan kesini, tapi kau malah membawa wanita lain kehadapanku!" protes Caroline.
"Wanita lain? Dia Mei Chen adikku," balas Yuan tidak terima. "Dan masalah cemilan Bi Endah akan mengantarnya sebentar lagi," sambungnya.
"Terserah apa katamu tapi aku tidak suka melihat dia ada disini," balas Caroline menyatakan keberatannya.
"Nah kau lihat sendiri kan? Dia tidak menyukaiku, tapi kau malah memaksaku agar ikut kesini dan bergabung bersamanya!" balas Mei Chen turut kesal.
"Kalian ini bagaimana sih? Kenapa jadi marah-marahan seperti ini, sudahlah duduk dengan tenang dan kita bisa mengobrol kembali," bujuk Yuan.
"Aku mau ngobrol tapi cuma berdua saja denganmu," ucap Caroline.
"Aku juga enggak mau ngobrol disini bersama dia, mending ke kamarku lagi saja!" serobot Mei Chen.
"Kembali ke kamarmu dan mengintip lagi seperti tadi," bisik Yuan.
"Huh! Itu bukan urusanmu!" cebik Mei Chen lalu pergi dari sana.
"Hei Mei, kenapa kau pergi begitu saja!" panggil Yuan ingin menyusul.
"Yuan, sudahlah. Biarkan dia pergi, lagi pula aku tidak mau ada orang lain diantara kita berdua," ucap Caroline memeluk lengan Yuan agar tidak menyusul Mei Chen yang telah pergi entah kemana.
"Tapi aku ingin kita bisa mengobrol bersama," balas Yuan.
"Aku tidak mau mengobrol dengannya Yuan, aku maunya berduaan saja denganmu!" pinta Caroline bersikeras.
Yuan menghela nafas panjang, lalu duduk kembali bersama dengan Caroline. Walau hatinya merasa kurang keberatan. "Coba saja kalau Mei mau menemaniku mengobrol dengannya, pasti keadaan tidak akan membosankan seperti ini." batinnya pasrah.
Bersamaan dengan hal tersebut, Endah datang dengan membawakan beberapa cemilan dan juga minuman dingin. Membuat Yuan tidak enak hati jika ditinggal begitu saja.
"Loh, mana Non Mei Chen?" tanya Endah.
"Mei sudah kembali ke kamarnya," balas Yuan.
"Oh begitu, ya sudah biar Bibi anter saja ke kamarnya," balas Bi Endah membawa cemilan dan minuman yang sebelumnya disuguhkan untuk Mei di taman.
"Ya Bi," balas Yuan setuju.
Endah undur diri dari tempat tersebut dan masuk kembali ke dalam dapur untuk seterusnya mengantarkan cemilan itu ke kamarnya Mei Chen. Namun belum sempat ia memijakkan kedua kakinya terlalu jauh, Endah melihat Mei Chen sedang berada disudut ruangan berbeda.
"Eh itu dia non Mei Chen, tapi ngapain berdiri disitu ya?" gumamnya sembari menghampiri.
Lalu jawaban atas pertanyaannya terjawab ketika melihat Mei Chen sedang memandang ke luar, tepatnya memandang Yuan dan Caroline yang sedang duduk bersama.
"Non," sapa Endah.
"Eh iya Bi ada apa?" tanya Mei Chen sambil terjingkrak kaget.
"Ini Bibi bawain cemilan buat Non," balas Endah.
"Hm makasih ya Bi," sambut Mei Chen menerima.
"Sama-sama, oh iya Non Mei lagi ngapain duduk di pojokan begini?" tanya Endah ingin tahu.
"Lagi enggak ngapa-ngapain, lagi duduk aja. Cari suasana baru," jawab Mei Chen beralasan.
"Oh begitu, kirain lagi ngintipin non Caroline sama tuan muda," celetuk Endah berpikir demikian.
"Idih ngapain Mei lihat mereka, kayak kagak ada kerjaan lain aja!" sangkal Mei Chen.
"Ya kirain Bibi Non lagi lihat mereka pacaran, ternyata bukan toh. Habisnya Bibi penasaran, tumben-tumbennya aja Non duduk di pojokan dapur kayak begini," balas Endah.
Mei Chen mengunyah cemilannya perlahan, mendengar kata-kata pacaran membuat hatinya berubah lesu.
"Kenapa Non?" tanya Endah.
"Enggak apa-apa Bi," balas Mei Chen.
"Ya sudah Bibi tinggal dulu ya, mau urusin tamunya tuan besar," pamit Endah.
"Ya Bi," angguk Mei Chen. Lalu melihat kembali kearah luar, dimana Yuan dan Caroline masih berbincang bersama.
...***...
Ruang keluarga.
Perjodohan Yuan dan Caroline sudah memiliki titik temu, kedua keluarga sepakat akan mengadakan pesta pertunangan tahun ini, dan melanjutkan pernikahan yang rencananya akan terjadi pada dua tahun setelah hari pertunangan.
Selain membahas perjodohan Yuan dan Caroline, Tjandra juga sempat membahas perjodohan untuk Mei Chen.
"Oh iya Koh Hendrik, bagaimana dengan Mei Chen? Kebetulan aku sudah menemukan beberapa pria dari kalangan pebisnis yang mungkin cocok dengannya," ucap Tjandra memberitahu dan menunjukkan beberapa foto dan mengenalkannya satu persatu.
"Coba biar aku lihat dahulu," Hendrik nampak serius menatap satu persatu foto pria yang ditunjukkan oleh Tjandra, ia begitu seksama memperhatikan latar belakang dan juga selak beluk masing-masing dari pria-pria tersebut.
Karena ia ingin mencarikan pria terbaik untuk putrinya, agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.
"Bagaimana menurutmu sayang? Apakah diantara pria-pria muda ini ada yang cocok untuk Mei?" tanya Hendrik meminta pendapat.
Alin menghela nafas panjang, ia merasa sedikit keberatan dengan ide suaminya itu. "Sayang, aku mengerti kekhawatiranmu terhadap Mei Chen dan juga masa depannya. Tetapi mengenai perjodohan Mei, aku merasa apakah perlu melakukan itu padanya?"
"Kenapa? Apa yang salah? Mei sudah setuju kalau aku sendiri yang mencarikan pria untuknya," ucap Hendrik mengingatkan.
"Benar, tapi kalau menurutku ini terlalu tergesa-gesa. Biarkan saja waktu berjalan sebagaimana mestinya dulu, siapa tahu kita bisa menemukan pria yang cocok dihatinya Mei Chen," balas Alin menurut sudut pandangnya.
"Mei sudah cukup umur untuk menikah, lagipula aku tidak mau ia sampai terjerumus lagi untuk yang kedua kalinya. Dan kau lihatlah semua foto pria ini, sayang. Mereka semua adalah pria berpendidikan, selain itu mereka juga memiliki pekerjaan yang cemerlang dan memiliki wajah cerah. Aku yakin Mei tidak akan menolak pria yang akan aku pilih untuknya nanti," ucap Hendrik yakin.
Alin mengangguk. "Kau benar, tapi ada baiknya kita panggil Mei dan tanyakan padanya terlebih dahulu. Siapa tahu dia bisa memilih satu diantara para pria dalam foto ini," balasnya menyarankan.
"Baiklah," balas Hendrik setuju. Lalu meminta pelayan disana memanggil Mei Chen.
Tak butuh waktu lama, Mei datang menghampiri. "Ya Daddy ada apa memanggilku?" tanyanya.
"Sini duduklah!" pinta Hendrik.
Mei Chen mengangguk patuh, lalu duduk bersebelahan dengan ayahnya.
"Lihatlah semua foto pria diatas meja ini, pilihlah satu dan katakan pada Daddy, mana pria yang cocok untukmu?" tanya Hendrik memberi kesempatan untuk Mei Chen memilih sendiri.
"Baiklah Dad," patuh Mei Chen pasrah. Lalu memperhatikan satu persatu pria yang menurutnya cocok.
Banyak yang membuat Mei Chen kagum, biodata serta karir yang cemerlang. Hingga ia kesulitan untuk memilih, namun bayang-bayang Yuan dan juga Caroline yang sedang berduaan. Membuat Mei Chen terdiam sambil memegangi foto seseorang.
"Hm pilihan yang bagus!" ucap Tjandra ketika melihat Mei termenung cukup lama didepan selembar foto seorang pria pengusaha dalam dunia bisnis artis dan juga modeling.
"Eh tapi," ucap Mei Chen terkejut dan belum sempat menolak.
"Oke, kalau kamu tertarik dengan pria ini. Maka Daddy juga akan setuju," ucap Hendrik merasa senang. Lalu meminta Tjandra mencarikan waktu yang tepat untuk mempertemukan keduanya.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Lee
Knpa Mei chen ikut djdohin jg kasian..
2024-07-05
0
neng ade
kasihan nasib mu Mei ..
2024-02-07
0
Dewi Payang
5🌹buat kak author
2024-01-31
0