Setelah perkataan Aslan barusan, suasana menjadi hening pancaran cahaya temaram yang berasal dari lampu lampu jalan yang berjarak 15 meter dari tempat mereka berada sekarang. Alena juga harus berhati hati dalam berucap jika salah sedikit maka Tuan Muda di hadapannya ini akan tersinggung. Wanita itu menetralkan napasnya
"Tuan,jika boleh saya berkata. Cinta habis di orang pertama antara nyata atau tidak, ibarat perbandingannya 50 50 iya dan bisa jadi tidak. Iya karena cinta nya mendarat pada orang yang tepat tidak jika cinta nya melesat kepada jiwa yang buta akan ketulusan" ujar Alena ia memberi jeda sesaat saat Aslan belum membuka suara nya kemudian melanjutkan perkataanya
"Keputusan Tuan untuk tidak mengenal wanita dan membuka hati untuk mencintai adalah pilihan Tuan tidak siapapun bisa mengubahnya kecuali Tuan sendiri" Alena tersenyum melihat ke aras wajah Aslan yang ternyata memandangi nya dengan lekat sejak tadi. Lelaki itu menatap serius ke mata Alena. Sedikit banyak nya dia faham makna perkataan Alena
"Begitu juga dengan dirimu Tuan Muda. Mendiang Nyonya Besar berpulang terlebih dahulu itu sudah menjadi Garis Takdir nya ia pergi bukan berarti bermaksud sengaja meninggalkan luka pada Tuan Besar. Cinta mereka terpisah karena kematian bukan pengkhianatan" setelah berkata demikian sebuah ciuman mendarat pada bibir manis Alena, gadis itu memejamkan matanya menikmati ci*man lembut Aslan, tak terkesan menggebu dan penuh emosi. Alena mengalungkan tangannya pada leher Aslan,lelaki itu memegang pinggang Alena dengan kedua tangan kekarnya. Setelah beberapa saat Alena memukul pelan Bahu Tuan Muda menandakan ia butuh oksigen. Aslan Melepaskan ci*man mereka memandangi gadis di hadapannya dengan tulus ia berkata "Terimakasih" Alena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Mereka kembali pulang setelah makan malam di luar, begitu sampai mereka membersihkan diri masing masing. Aslan mengatakan bahwa ia akan melakukan semua sendiri,Alena faham mungkin Aslan butuh waktu sendirian
......................
Hari berganti minggu,minggu berganti Bulan,dan sudah satu tahun Alena menjadi Pengasuh Tuan Muda Benedict gadis manis berambut ikal itu tetap konsisten menjalankan pekerjaannya. Setiap Bulan setelah mendapat izin Aslan, ia akan meminta Bibi koki untuk menemani mengirim uang kepada Ibu pengurus Panti tempat ia bernaung sejak kecil hingga bisa berada di negara Asing tempatnya mengais pundi pundi rezeki. Ketika pulang Alena juga tidak lupa membeli kue dan jajanan yang akan ia berikan kepada beberapa pelayan,tentu saja sikap Alena membuat para pelayan termasuk Bibi Koki dan Bagian pekerja lainnya senang. Setiap bulan dia mendapatkan bonus pribadi dari Aslan,sebagian ia tabung sisa nya ia akan belikan jajanan dan keperluan pribadi. Sementara gaji utamanya ia kirimkan 30% nya kepada Ibu Panti. Perbincangan tentang pernikahan tidak lagi menjadi bahasan utama Oslan, ia hanya cukup bahagia melihat wajah ceria sang Anak yang semakin hari semakin terpancar,tak lagi mengamuk walaupun terkadang bertingkah menjengkelkan di beberapa waktu.
Keesokan harinya ,ketika waktu sarapan kehebohan kembali terjadi dalam Mansion besar Benedict. Oslan sang Tuan Besar jatuh tak sadarkan diri tanpa sebab ketika di meja makan. Aslan yang melihat Ayahnya pingsan segera melarikan kerumah sakit,begitu tiba pertolongan pertama di lakukan. Setelah mendapatkan perawatan,Tuan Besar di letakkan dalam ruangan eksklusif khusus para Petinggi Rumah Sakit, kemudian Dokter mengatakan jika penyakit jantung sang ayah kumat di akibatkan tekanan dan pikiran yang stress. Dokter berkata untuk sementara waktu Tuan Besar harus di rawat inap beberapa hari kedepan, Aslan menurut saja ia berpesan lakukan yang terbaik bagi Ayahnya
Alena yang menemani Aslan dari awal hingga kini tidak berkata apapun. Ia tahu tak berguna perkataan ketika keadaan sedang menyulitkan hati seseorang, Alena hanya memperhatikan Aslan,memberi minum dan mengingatkan makan siang. Bahkan walaupun Aslan menolak Alena tetap menyuapi hingga lima sendok masuk ke dalam perut Aslan,setelah memastikan Tuan Muda nya aman Alena berniat meninggalkan kamar yang menjadi ruang inap Tuan Besar namun pada saat yang sama sang Tuan Besar tersadar dari pingsannya.
Alena memanggil Dokter dengan tombol Nurse Bell,Dokter dan dua orang perawat lainnya tiba tak lama setelah Alena menekan tombol di bagian sisi atas ranjang Tuan Besar. Ketika para Dokter selesai Alena ikut keluar bersama dengan para medis dan membiarkan Aslan berbicara kepada sang Ayah. Ruangan bernuansa putih di sertai pancaran sinar sang Surya pagi hari yang berasal dari jendela sebelah kiri tempat Oslan berbaring,keadaan ruangan hanya di isi kesunyian, beberapa saat kemudian Aslan mendekat menyentuh tangan Ayahnya ia belum berucap satu katapun.
Aslan menekan tombol di dekat pahanya setelah memastikan Ayah nya duduk dengan benar Aslan juga menyusul duduk di sebelah lelaki paruh baya tersebut
"Pa" ucapnya
Dia mengecup pelan punggung tangan yang tertancap infus, guratan keriput terlihat pada kulit tangan lelaki itu menandakan pemilik jiwa sudah mulai menua seiring berjalannya waktu. Oslan tersenyum melihat raut sedih dari wajah anaknya
"Papa ,dulu tangan ini menuntunku agar bisa berjalan. Papa selalu tertawa jika aku jatuh. Papa tidak pernah lelah menguatkan aku,juga selalu berkata 'Jatuh bukan berarti dirimu lemah,jatuh awal kebangkitan dari kesuksesanmu untuk berjalan lebih lancar lagi' hehehe Papa ingatkan bagaimana cerewet nya papa dulu" Aslan berkata dengan mata yang sudah berbias penuh kaca.
Sekali saja ia mengedip maka luruh sudah air mata yang dia tahan sedari tadi.
Oslan menyentuh wajah sang Anak
"Tuan Muda Aslan boleh bersedih tapi tidak untuk terjatuh. Disini Tuan Benedict masih kokoh menopang Tuan Muda" mereka terkekeh bersama kala mengulang perbincangan masa kecil Aslan, air mata Aslan sudah menetes membasahi tangan Oslan. Sang Ayah mengejek Putranya
"Lihat ini ,air mata ini berlian mahal kenapa kau buang sia sia Aslan?" Aslan lagi lagi tertawa kali ini beriringan dengan tangis yang semakin jelas.
Ia lemah jika melihat Ayahnya menangis demi apapun seorang Aslan tak pernah bisa melihat Ayah nya bersedih dan terluka, alasan ia tidak pernah membangkang pada Ayah selain urusan pernikahan karena ia tau bagaimana lelaki Tua yang sedang terduduk dengan alat alat medis ini berdiri sendiri melawati hari demi hari dengan penuh perjuangan tanpa orang lain tau jika lelaki ini pada dasarnya lemah kala mengingat istri ny di malam hari.
"Aku akan menuruti keinginan Papa,jika Papa ingin aku menikahi Alena maka baiklah. Tapi berjanjilah satu hal. Sehat lah untukku Pa,di masa depan anak anakku harus tahu kakeknya itu lelaki hebat. Papa juga harus menjaga mereka hmm agar aku bisa terus berbulan madu dengan istriku kelak." ia kembali mengelap air mata nya dengan punggung tangan kanannya lalu berkata kembali
"Bagaimana Tuan Besar,anda setuju?" ujar Aslan, ia menyodorkan tangannya di hadapan Oslan. Tingkah yang tidak Aslan tunjukkan pada siapapun termasuk Alena. Hanya sang Ayah tempatnya bermanja manja bertingkah bak anak kecil tanpa ingat usia. Oslan menarik telinga anaknya
"Dasar anak Nakal. Jika Mama mu disini melihat mu bertingkah maka habislah dirimu" setelah berkata demikian Aslan memeluk erat dan menenggelamkan kepalanya di dada Tua Sang Ayah dengan terisak isak beberapa saat kemudian Aslan berucap
"Papa harus sehat, sungguh Pa! Tiada siapapun lagi bersama ku di dunia ini kecuali Papa. Aku berjanji Pa saat Papa kembali kerumah mari bicarakan kelanjutan pernikahan ku dengan gadis yang Papa inginkan"
"Terimakasih Putraku" ujar Oslan
Aslan bersungguh sungguh, baginya jika benar Alena yang di inginkan Papanya,ia akan terima. Setahun sudah Alena menemani diri nya, ia mengenal wanita itu sekalipun hanya wajah datar yang tampak namun ia tau ketulusan tersimpan di dalam hati nya. Siapapun akan sulit mengetahui jika tidak di fahami dengan baik karakter Alena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ruk Mini
akhirnya...gmn sm nenk y .maen .deal aje
2024-07-17
0