Alena melangkah mendekati Aslan. Ketika sudah berjarak 2 langkah Aslan dengan sengaja menarik Belt seragam yang merekat di pinggang Alena membuatnya seketika mendekat tanpa jarak kepada Tuan Muda
Zlapp...
"Dasar lambat,apa kakimu kehabisan baterai?" Tanya Aslan dengan tangan yang sudah melepas ikat rambut Alena
sreettttt .... Wushhh...
Angin kencang yang bertiup dari jendela balkon kamar Aslan mengibarkan rambut Alena yang sudah tergerai bebas. Untuk sejenak Aslan memandangi wajah datar Alena, Alena tampak biasa saja bahkan seperti sengaja Alena menyorot tajam mata Aslan
Astaga Tuan muda,tidak kah kau tau rambut bergelombang itu mudah kusut batin Alena
"Hei, wajahmu itu kenapa. Kau protes ha?"
Tanya Aslan mencubit pipi pengasuhnya sambil menggoyangkan ke kiri dan ke kanan layaknya memainkan jelly
Ia benar benar benar memperlakukan Alena bagai boneka hidup, sungguh menyenangkan bagi Aslan. Tak sia sia ia mempunyai pengasuh berwajah datar ini. Alena hanya tersenyum kecil dan berkata
" Tidak Tuan Muda. Tapi bolehkah saya berkata jujur " tanya Alena
"silahkan" jawab Aslan
"Jika Tuan Muda terus menerus melakukan hal ini pada pipi saya. Maka saya akan sakit gigi dan Tuan Muda akan menghirup aroma tidak sedap dari mulut saya nantinya bahkan bisa terjangkit" kata Alena ambigu, bagaimana mungkin cubit pipi sakit gigi
Bugh... Ketika mendengar kata kata Alena Aslan yang sedang menyisir rambut Alena tangan kanan dan tangan kiri menarik pipinya berhenti dan langsung mendorong bahu Alena hingga terbentur tiang ranjang di belakang nya.Alena sedikit meringis merasakan sakit akibat dorongan Tuan Muda
Alena tersenyum miring sambil menundukkan kepala ia berkata " maaf Tuan Muda,sepertinya tulang punggung saya retak. Anda menggunakan tenaga dalam ketika melakukannya" rambut Alena yang sudah berantakan menutupi wajah nya dan menambah kesan mengerikan di mata Aslan
"Menyusahkan, pergilah dan obati punggungmu. Satu lagi,sikat gigi mu 12 kali besok . Pastikan tak ada bakteri yang tertinggal. Jangan sampai sakit gigi atau aku akan mencabut seluruh gigimu,lalu memasangkan gigi palsu" ujar Aslan
Ia jijik dengan yang namanya penyakit dan sesuatu yang kotor.
"Tapi Tuan, Anda kan belum makan malam. Saya bisa pergi sebentar mengambilkan makanan Anda kemudian saat anda sudah selesai saya akan pergi" jawab Alena ,setengah mati ia berusaha menahan geli di hatinya
"Tidak'ucap Aslan sambil mengangkat tangan ke hadapan Alena' pergi sana bersihkan dirimu. Sudah sana,aku tidak berselera makan malam" jawab Aslan
" Anda bisa sakit Tuan Muda. Bagaimana jik.." kata Alena mencoba menganggu Aslan lagi,kapan lagi kan. Pikirnya
"Pergi aku bilang, aku masih sehat dan tidak lumpuh. Kepala pelayan yang akan membawakan makan malam kemari. Kau,jangan masuk sebelum memastikan steril dan tidak sakit gigi" Aslan mulai emosi, Alena yang sudah melihat perubahan Tuan Mudanya tak berani membantah,ia langsung pamit keluar dari kamar
Sebenarnya Alena hanya bercanda,ia memang kesakitan ketika pipinya di tarik tarik tanpa henti oleh Aslan. Tapi hasil candaannya malah di luar praduga Alena.
Alena terkikik geli saat sudah keluar kamar Aslan, ini benar benar menggelikan bagaimana mungkin seorang yang cerdas seperti Aslan sang pewaris Benedict junction dengan mudah ia bohongi dengan penjelasan ambigu Alena. Jika tau begini ke depannya ia akan semakin melakukan hal hal di luar nalar kepada Tuan Mudanya
Keesokan harinya, ketika pagi hari Alena memasuki kamar Tuan Muda. Alena tidak menemukan keberadaan Aslan, kemudian sang pengasuh memeriksa kamar mandi. Betapa terkejut nya ia menemukan Tuan Mudanya tergeletak di lantai dalam ke adaan hidung berdarah bahkan piyama sang tuan bersimbah darah yang tak tahu entah sejak kapan ini terjadi.
Sontak saja Alena berlari keluar menuju ke arah pintu kamar sang Tuan Muda kemudian menekan tombol darurat yang terletak di dinding belakang pintu.
TRINGHHG..... TRINGGG...... TRIIINGGG.......
Suara alarm darurat menggema seantero hunian mewah Oslan Benedict. Bahkan sang Ayah yang baru saja mengenakan kemeja berlari keluar menuju kamar anak semata wayangnya. Jantungnya memompa dengan cepat, ia berlari sekuat tenaga kemudian memasuki kamar sang anak dengan wajah pucat dan banjir keringat
" Ada apa, di mana anakku" tanya Benedict yang baru saja tiba di hadapan Alena dengan napas tersengal
"Tuu.. Tuuan muda, Jatuh di kamar mandi" jawab Alena terbata bata. Ia sama terkejutnya dengan Tuan besar Benedict
"Apa, bagaimana bisa? Minggir! Astaga anakku Aslan" ucap Benedict dengan wajah terkejut. Ia menggeser bahu Alena dengan gerakan spontan, mata nya melotot menatap sang anak bersimbah darah. Sungguh rasanya nyawa Benedict tercabut paksa dari raganya. Dengan segera ia mengangkat sang anak dan membawa ke tempat tidur.
"Kau,panggilkan kepala pelayan. Cepat! Suruh dia menelpon Dokter Rahardian sekarang juga" perintah Benedict , Alena langsung berlari keluar kamar.
Ketika membuka pintu Alena nyaris terjengkang kaget melihat wajah kepala pelayan tepat di hadapannya lalu di belakangnya seluruh pelayan berbaris di depan kamar Aslan
"Aku sudah menghubungi dokter Rahardian" ucap kepala pelayan yang sejak tadi mendengar suara besar Tuan Benedict dari celah pintu yang tak tertutup rapat.Alena menganggukkan kepala seraya mengucapakan " Terimakasih kepala pelayan"
ucapnya
"kau berhutang penjelasan padaku,Alena. Berdoalah semoga Tuan Muda baik baik saja. Nasibmu sedang di ujung tanduk" ucap kepala pelayan. Alena hanya bisa menundukkan kepala nya ,ia juga bingung harus menjelaskan bagaimana bisa Tuan Mudanya terjatuh di kamar mandi
Seketika suasana Mansion pagi ini berubah mencekam, selang 30 menit kemudian dokter Rahardian tiba di tempat. Pemeriksaan mulai di lakukan, di kamar Aslan masih saja belum membuka matanya, Tuan besar Benedict hanya bisa meremas kedua tangannya seraya berdoa semoga sang anak baik baik saja.
Di kamar yang di huni 3 orang lelaki berbeda usia itu hening. Dokter Rahardian memasang infus di tangan kiri Aslan agar memudahkan pergerakan tangan kanannya dengan posisi infus yang ia gantung pada tiang di atas kepala Aslan yang memang sudah di sediakan sejak awal Aslan mengidap kelainan mental. Benedict yang tak sabar langsung saja mencecar dokter paruh baya itu dengan segelintir pertanyaan
"Bagaimana, anakku baik baik saja? Bagaimana bisa ia mimisan? Bukankah sudah lama Aslan tak pernah lagi mimisan lalu, mengapa sekarang ia tergeletak begitu saja?Jawab aku Ardian jangan diam saja. Nyawa anakku dalam bahaya!" ucap Benedict ia bahkan mengguncangkan bahu Dokter keluarga nya
Rahardian menghela napas, kemudian menurunkan tangan sahabat nya ia berkata secara perlahan "Tenang Oslan,tenanglah! Putramu baik baik saja, ia hanya kekurangan cairan. Dan seperti nya putramu kelelahan, apa dia tidur malam dengan baik?" tanya sang dokter
Benedict mengernyitkan dahi " Apa katamu, kelelahan? Aku tidak tau,karena selama ini Aslan baik baik saja dan Aslan tidur sendiri jadi tidak ada yang tau apa dia tidur dengan baik atau tidak. Kau tahu kan selama ini Aslan paling risih dekat dengan orang lain" jawab Benedict.
Dokter Rahardian menggelengkan kepala
" huftt bagaimana kau ini? Apa selama ini kau tidak membiarkan pengasuh nya berada di dekatnya 24 jam. Letakkan saja pengasuhnya di dekat Aslan, atau kau bisa memberi satu kamar di samping kamar Aslan" ujar Rahardian
"ck yang benar saja kau. Jika satu kamar dengan pengasuhnya. Yang ada wanita itu akan mati di cekik Aslan besoknya " jawab Benedict
Dokter Rahardian tertawa keras mendengar ucapan sahabatnya ini " Tidak mungkin segila itu jika kau menemukan gadis yang tepat" ucapnya
Oslan Benedict mencerna semua perkataan sahabat lama nya itu. Sepertinya dia memang harus mencari jalan keluar agar kejadian ini tak terulang lagi . Ia tak ingin sampai sang Anak lagi dan lagi harus tergeletak bersimbah darah, jangan sampai ia juga kehilangan putra tunggalnya. Sang pewaris benedict adalah segala nya bagi Benedict. Hampir 2 jam lamanya mereka berbincang di kamar dengan kondisi Aslan yang masih lelap dalam pingsannya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ruk Mini
hadehhhh..apa lgi drama mu bank ..
2024-07-17
0