Ya, baik Levi maupun Lucia tidak dapat menyembunyikan kondisi Shea atau lebih tepatnya Zhea yang malah mengalami kecelakaan di waktu liburannya. Levi dan Lucia akhirnya memberitahu Rayden dan Zhia tentang kecelakaan yang membuat Shea hilang ingatan. Meski sebenarnya Shea bertukar peran dengan saudari kembarnya yaitu Zhea.
Setibanya di rumah sakit, Shea atau lebih tepatnya Zhea langsung disambut dengan hangat oleh Rayden dan Zhia. Zhea yang pada dasarnya baru bertemu untuk pertama kalinya dengan Grandpa dan Grandma nya itu. Tentu saja hanya menatap bingung pada kedua orang tuanya seolah menuntut penjelasan.
“Shea, Sayang! Ya, Tuhan pasti ini sakit sekali, ya?”
Zhia menitikkan air mata ketika melihat cucunya yang terbaring lemah dengan bagian kepala yang masih dibalut perban. Sementara Zhea hanya menatap bingung wanita paruh baya yang mash terlihat sangat cantik di depannya saat ini.
Kemudian Zhea mengalihkan pandangan matanya pada Levi dan Lucia untuk meminta penjelasan tentang siapa wanita dan pria paruh baya yang kini menatapnya dengan sendu serta penuh kesedihan. Zhea memanggil keduanya dengan tatapan bingung, “Mom! Dad?”
“Mereka Grandpa dan Grandma mu, Sayang!” Lucia yang memberikan jawaban kepada Zhea seraya tersenyum lembut membelai wajah putrinya itu.
“Nak, benarkah Shea…”
Rayden menggantung ucapannya ketika melihat Lucia dan Levi menganggukkan kepalanya secara serentak. Rayden dan Zhia tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Jujur saja, saat ini mereka semakin kecewa dengan anak dan menantunya itu yang tidak bisa menjaga ataupun membahagiakan cucu mereka dengan baik.
Baik Rayden dan Zhia kembali teringat pada saat, Shea menceritakan bahwa Levi dan Lucia sangat perhatian dan menyayanginya. Gadis itu bercerita dengan penuh antusias dan bahagia, padahal di balik semua itu Shea selalu merasa kesepian. Karena semua cerita yang penuh kebahagiaan itu adalah keinginan dan harapannya semata yang tidak pernah terwujud selama ini.
“Sayang, tidak apa-apa kalau Shea belum bisa mengingat siapapun untuk sekarang. Tapi ingatlah bahwa kami adalah Grandma dan Grandpa mu. Shea bisa bercerita apapun pada Grandpa maupun Grandma seperti sebelumnya,” ucap Zhia disertai senyuman hangatnya pada Zhea.
“Iya, Sayang! Grandpa dan Grandma akan selalu mendengarkan ceritamu seperti biasanya,” imbuh Rayden yang kini mengecup kening cucunya itu penuh cinta dan kasih sayang.
“Grandpa! Grandma,” panggil Zhea lirih dengan bibir bergetar menahan tangis bahagianya.
“Iya, Shea Sayang! Ini Grandpa dan Grandma,” ujar Zhia yang langsung memeluk cucunya itu.
“Terima kasih banyak, Shea! Berkat dirimu aku bisa memiliki keluarga impian seperti yang aku harapkan selama ini. Sekarang hanya kurang dirimu, Shea. Dan setelah itu kita semua akan menjadi keluarga yang utuh,” batin Zhea yang merasa sangat bahagia bahkan sampai tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Rayden pun tidak mau kalah, dia turut memeluk cucunya dan sesekali mengecupi keningnya. Levi dan Lucia hanya diam menyaksikan interaksi antara Kakek, Nenek beserta cucunya itu.
Perasaan bersalah tentu saja keduanya rasakan, apalagi menyadari bahwa Rayden dan Zhia sangat kecewa kepada mereka bahkan melihat dari sorot matanya saja mereka bisa langsung mengetahuinya.
...****************...
Sementara Rayden, Zhia dan Levi menemani Zhea di ruang rawatnya. Lucia pun memutuskan pergi untuk melihat kondisi Noland dan Julia. Dia segera menemui Dr. Olivia untuk meminta riwayat kondisi Noland dan Julia selama dia pergi.
“Dr. Olivia, bagaimana dengan perkembangan kondisi pasienku. Apakah sudah ada perkembangan sekarang?” tanya Lucia begitu menemukan Dr. Olivia yang ternyata sedang berada di Laboratorium untuk mengambil hasil dari beberapa pemeriksaan yang dia lakukan terhadap Noland dan Julia.
“Dr. Lucia, anda sudah kembali? Saya dengar putri anda mengalami kecelakaan ketika berada di sana. Apakah kondisinya baik-baik saja?” Bukannya menjawab Dr. Olivia malah bertanya balik tentang kondisi Shea.
“Keadaannya sudah jauh membaik hanya saja ingatannya yang belum bisa pulih,” jawab Lucia sekenanya.
“Lalu bagaimana dengan kondisi pasienku?” Terpaksa Lucia harus mengulang pertanyaan yang sebelumnya dia tanyakan.
“Saya sudah melakukan pemeriksaan lebih spesifik dan ini hasilnya. Sepertinya anda saja yang membaca hasilnya agar lebih tahu bagaimana kondisinya.” Dr. Olivia pun menyerahkan hasil pemeriksaan itu kepada Lucia.
Tanpa buang waktu, Lucia suda pasti langsung membacanya dengan seksama. Memang beberapa kali Noland dan Julia mengalami penurunan detak jantung, tapi dari hasil pemeriksaan terakhir dapat Lucia lihat bahwa ada perkembangan kerja saraf otak Noland dan Julia yang membuat Lucia memekik bahagia.
“Ada apa?” tanya Dr. Olivia ketika melihat Lucia yang tiba-tiba menyunggingkan senyumannya.
“Dr. Olivia, lihatlah ini!” Lucia menunjukan hasil pemeriksaan itu.
“Ada perkembangan pesat di saraf otaknya, Dr. Lucia! Hal itu bisa menandakan bahwa pasienmu akan segera sadar kembali dari komanya. Ini sungguh sebuah keajaiban,” ujar Dr. Olivia yang turut senang karena Noland dan Julia memang termasuk salah satu pasiennya.
“Iya, kau benar Dr. Olivia! Aku akan memberitahukan tentang perkembangan ini pada keluargaku,” ucap Lucia yang kemudian bergegas untuk menemui keluarganya.
Dari kejauhan Lucia melihat bahwa Papah, Mamah serta suaminya baru saja keluar dari ruang rawat Shea berada. Dengan langkah yang penuh kebahagian, Lucia menghampiri mereka. Namun, Lucia tidak menyadari kemarahan dan kekecewaan yang tersirat di wajah kedua orang tuanya.
“Pah! Mah, Bee lihat ini aku membawa kabar bahagia untuk kita semua,” ujar Lucia seraya berjalan menghampiri mereka semua dengan senyum penuh kebahagiaan.
Namun, bukannya senyuman yang Lucia dapatkan sebagai balasan tapi sebuah tamparan cukup keras yang Zhia layangkan hingga tepat mendarat di pipinya. Rayden dan Levi pun tampak terkejut dnegan sikap Zhia yang tiba-tiba saja menampar Lucia dengan penuh kemarahan.
“Zhi, jangan seperti ini.” Rayden mengingatkan pada istrinya, sementara Levi langsung merengkuh tubuh Lucia dalam pelukannya.
Suasana diantara mereka terasa sangat mencekam, Zhia dan Lucia terus saling menatap mengabaikan perkataan Rayden dan Levi yang menyuruh keduanya untuk bersikap tenang. Dapat Zhia rasakan tangannya yang gemetar hebat, karena untuk pertama kalinya dia memukul anaknya sendiri. Lucia pun merasakan perih dan panas pada salah satu pipinya, tapi perih di hatinya lebih sakit bila dibandingkan.
“Mah…” Suara Lucia bergetar dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
“Apakah tamparan Mamah belum juga membuatmu sadar, Lucia?” Bukannya merasa bersalah, perkataan Zhia malah semakin tajam pada putrinya setajam tatapan matanya yang bergenang air mata.
“Sadar akan apa, Mah? Aku datang ingin memberi kabar bahagia bahwa kemungkinan Grandpa dan Grandma bisa sadar kembali. Tapi Mamah malah tiba-tiba menamparku seperti ini?” Lucia mencecar Mamahnya dengan meluapkan segala emosinya.
“Sadar Lucia! Kau hampir kehilangan putrimu satu-satunya yang tersisa karena sikap tidak peduli mu ini!” bentak Mamah Zhia tak kalah emosinya.
^^^Bersambung, ....^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
🇱🇪🇴
mengandung bawang
2024-11-10
0
Abinaya Albab
di judul yg ini banyak meweknya ya Thor /Cry/
2024-06-01
0
Putriani Putriani
huhu
2024-04-18
1