19.

Venter menatap Vee dari kejauhan, ia melihat wanita itu tengah sibuk melayani pelanggannya begitu pula dengan si kembar yang senantiasa membantu walaupun mereka terlihat kesulitan.

"Jadi belum ada pergerakan?" tanya Nick sambil memberikan segelas kopi kepada Venter.

Venter mengambil gelas kopi tersebut dan meminumnya. "Belum, dan dia bukan tipe yang akan diam saat ada orang yang ingin memberontak," ucapnya.

Nick mengangguk setuju. "Kau benar. Kakekmu pasti memiliki seribu satu cara untuk menghilangkan semuanya," ucapnya.

"Bagaimana Liam?" tanya Venter.

"Liam lolos tahap seleksi dan besok dia mulai mengawal kakekmu di mansionnya," ucap Nick membuat senyuman Venter tercipta di wajahnya.

"Berjalan lancar," ucap Venter.

Nick tampak menatap kesana kemari. "Dimana sepupu Liam yang kau perintahkan untuk menjaga Vee? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya nya bingung.

"Dia bukan tipe yang akan diam di tempat. Pasti bocah itu melakukan sesuatu lagi," ucap Venter santai.

"Contohnya?" Nick kembali bertanya.

"Mencuri," ucap Venter membuat Nick melotot kearahnya.

"Kau gila? Kau menyuruh pencuri untuk menjaga Vee? Dimana otakmu?!" protes Nick dengan kesal.

Venter terkekeh pelan membuat Nick kembali menatapnya kesal. "Tapi itulah keunggulan nya. Data hitam apapun yang kau cari dia pasti memilikinya. Terutama kelemahan kakekku!"

∆∆∆

Vee membereskan meja di hadapannya dengan kain. Saat akan bergeser ke arah meja di sampingnya seorang pria menahan tangan Vee.

"Kau sangat cantik, apa bisa temani aku minum disini?" tanya pria itu namun Vee menggeser tangan pria itu dengan sopan.

"Maaf, aku banyak kerjaan yang harus di selesaikan. Silahkan nikmati minuman mu," ucap Vee dengan sopan. Walaupun rasanya ia ingin memukul wajah pria yang menatapnya dengan mesum.

Krakk'

Nick menoleh kearah sumber suara, teryata Venter mematahkan sumpit yang ia pegang saat dirinya ingin memakan makanan yang di buatkan oleh Vee.

"Apa aku boleh menghabisinya disini?" tanya Venter dengan kepalan tangannya.

Nick meringis. "Kau tidak boleh melakukan itu. Vee bisa membencimu nanti," ucapnya.

Venter menatap tajam kearah pria yang menggoda wanitanya. Ingin rasanya memecahkan kepala pria itu di depan Vee beraninya dia menggoda seperti itu. Hanya dirinya saja yang boleh menggoda Vee bukan pria lain!

Venter menggenggam tangannya dengan kuat sedangkan Nick hanya menghela nafas lelah. Ia pun memanggil Vee pada akhirnya.

"Ada apa? Bagaimana rasanya?" tanya Vee saat dia datang di meja Nick dan Venter.

"Makananmu memang juaranya," ucap Nick, ia pun berbisik pada Vee. "Tolong singkirkan pria yang terbakar api cemburu di sebelahku ini," bisiknya.

Vee menatap Venter yang berada di sebelah Nick yang sedang memegang sumpit yang patah di tangannya. Ia pun paham, lalu tersenyum tipis.

Vee menarik dasi yang di kenakan Venter membuat pria itu langsung berdiri bangun dan menatap bingung.

"Sini! Dari pada kau mematahkan semua sumpit daganganku," ucap Vee.

Venter menatap Nick namun pria itu hanya melambaikan tangannya. "Aku tunggu Venter junior yang lain," ucapnya membuat Vee mendelik.

"Akhirnya aku bebas," ucap Nick bernafas lega.

...∆∆∆...

Vee membawa Venter kearah dapurnya, pria itu hanya menurut dan diam. Seperti anak yang mengikuti ibunya.

"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Venter bingung sambil menatap Vee yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Vee melepaskan pegangannya pada dasi Venter. "Apalagi? Menghindari terjadinya perkelahian," ucapnya. "Aku tidak mau kedaiku hancur,"

Venter mengerutkan keningnya bingung. "Kau terlihat seperti seorang pria yang tengah cemburu," ucap Vee.

Venter memutar bola matanya dengan malas. ah teryata tentang yang tadi, siapa yang tidak cemburu? Memiliki wanita yang cantik lalu di goda oleh orang lain bukan kah sangat mengesalkan?

"Memang," ucap Venter berterus terang. "Lalu apa yang harus aku lakukan lagi selain cemburu? Membakar pria itu?" tanyanya mendapat pukulan dari Vee.

"Aku tidak suka. Jika mereka menatapmu dengan pandangan menjijikan padahal kau tidak memakai pakaian terbuka. Aku ingin mencongkel matanya!" sambung Venter dengan kesal.

Vee tersenyum tipis. "Jadi kau cemburu?" tanyanya sekali lagi.

Venter mendengus. "Ya dan aku membencinya karena rasanya penuh di otak dan hatiku!" protesnya.

Vee terkekeh mendengar penuturan dari Venter. "Apa kau tidak pernah merasa seperti itu dulu?" tanyanya.

Venter terdiam sejenak, ia pun berpikir. dulu juga dirinya memiliki kekasih tapi rasa posesifnya tidak segila sekarang. Rasa cemburu ini pada Vee begitu gila, bahkan ingin meledak rasanya.

"Tidak," balas Venter. Vee menatap tidak percaya.

"Jangan bercanda," ucap Vee.

Venter berjalan mendekati Vee yang sibuk dengan bumbu racikannya lalu memeluk pinggang wanita itu dari belakang.

"Aku tidak bercanda," bisik Venter sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Vee menghirup aroma kesukaannya.

"Walaupun kau bukan yang pertama yang membuat aku cemburu tapi aku segila ini hanya padamu. Kau orang pertama yang membuatku gila Vee. Orang itu adalah dirimu sendiri,"

...∆∆∆...

...TBC...

Terpopuler

Comments

Yunita Widiastuti

Yunita Widiastuti

🦋🌻

2024-01-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!