9.

Vee akhirnya sampai di tempat nya, langkahnya terhenti saat melihat begitu banyak barang berserakan di depannya.

Vee menarik nafas dengan berat, ia pun melangkah masuk. Ia melihat neneknya terbaring jatuh langsung membantu nya untuk berdiri.

"Harus berapa kali aku katakan. Don't touch my grandma!" Vee menatap tajam kearah Sabella yang mendengus sambil membuang beberapa barang miliknya.

"Dan harus aku katakan juga. Uang! Beri aku uang! kau tidak lupa kan. Ayahmu dan ibumu itu memiliki banyak hutang pada ayahku!" ucap Sabella.

Vee menatap Sabella. Sebenarnya ia tidak tau apakah benar ayah dan ibunya memiliki hutang? Tapi paman nya bersikeras jika keluarga nya memiliki hutang begitu banyak padanya.

Vee menghela nafas. "Kalau begitu tunjukkan bukti! Bukti jika ayah dan ibuku memiliki hutang!" ucapnya.

"Heh, Bukti?!" Alvian, sang paman menyeletuk dengan wajah meremehkan.

"Apa aku harus memberimu bukti hutang waktu kau belum lahir Monica Selveena," ucap Alvin, ia menatap wajah Vee dengan tajam.

Vee terdiam. "Tentu saja," ucapnya ia menatap wajah Alvian dengan menantang. "Selama aku membayarnya terus menerus kau tidak pernah memberikan ku surat bukti berapa sisa dari yang aku bayar. Apa menurutmu aku bisa kau bodohi?" ucapnya sinis.

"Dan lagi aku sudah bilang padamu jangan pernah menyentuh nenekku. Kau tidak pantas menyentuhnya!" teriak Vee membuat tangan Alvian terangkat ingin menamparnya.

Vee berdecih. "Tampar aku! Kau sentuh wajahku, aku akan hancurkan wajahmu!" ucapnya.

Liam, kaki tangan Venter yang dari tadi hanya menyimak saja. Karena yang ia lihat Vee bisa mengatasinya langsung.

"Jangan karena aku selalu diam kau dan anakmu bisa seenaknya padaku!"

...∆∆∆...

Liam hanya menonton, ia bingung apakah harus bergerak sekarang atau tidak.

"Aku perhatikan sajalah," gumam Liam. Ia pun kembali menatap Vee dan Alvian yang berdebat.

"Kenapa kau tidak masuk?" suara dari belakang membuat Liam terperanjat kaget. Venter datang bersama Nick dan rombongan lainnya.

"Ah, tuan muda. Wanitamu tidak tersentuh oleh mereka," ucap Liam.

"Walaupun begitu, kau tidak boleh membiarkannya," ucap Venter, ia pun memasuki tempat Vee bersama dengan yang lainnya.

Vee menggeram kesal, ia pun menarik kerah baju Alvian. "Kau sentuh lagi nenekku. Kau dan anakmu akan ku habisi!" ancamnya.

Alvian menyeringai. "Heh, apa kau pikir aku akan takut dengan ancaman mu jalang, lihat dirimu. Kau hamil tanpa tau siapa ayah dari kedua bocah sialan itu! Teryata kau lebih liar, kenapa tidak kau jual saja tubuhmu padaku? Setidaknya mengurangi hutang orang tuamu padaku," ucap nya sambil menatap tubuh Vee. "Sayang sekali tubuh indahmu tidak di sentuh. Kau juga pasti menginginkan nya kan,"

Bugh'

Vee terkejut saat Nick memukul wajah Alvian hingga tersungkur jatuh dengan bibir yang berdarah.

"Ah sial! Harusnya aku memukulnya pakai besi. Wajahnya lebih keras dari batu. Tanganku terluka!" ucap Nick mendramatisir.

Venter memeluk pinggang Vee membuat wanita itu terkejut. "Setidaknya jadikan dirimu sedikit berguna," ucap Venter membuat Nick mendengus.

"Kenapa kau disini?" tanya Vee.

Venter menatap Vee begitu dalam. "Apakah aku harus membiarkan pria tua sialan itu menatap tubuhmu dengan nafsu?" ucapnya dengan dingin.

"Tidak rela rasanya aku ingin menghabisinya sekarang juga!"

...∆∆∆...

Sabella yang tadinya menonton, ia pun terkejut namun sedetik kemudian ia terpesona melihat sosok di samping Vee dan yang lainnya.

"Tampan sekali," gumam Sabella sambil menatap wajah Venter.

Alvian meringis, ia menyentuh ujung bibirnya yang terluka. "Sialan! Siapa kau?!" ucapnya.

"Siapa aku tidak perlu kau tau. Yang harus kau tau aku orang yang akan menghabisi mu mewakilkan Venter," ucap Nick sambil menggulung lengan bajunya.

Venter? Alvian terdiam. Nama yang familiar, ia pun menatap Venter yang tengah menatap nya tajam.

Alvian berdecih. "Tidak aku sangka ternyata Vee benar benar wanita jalang," ucapnya.

Nick menggeram kesal. "Kau--"

Venter menahan tubuh Nick. "Tahan dirimu," ucapnya.

Nick mendengus, ia berusaha menahan sebelum dia membuat Alvian babak belur. Bahkan rasanya masuk rumah sakit pun masih kurang.

"Liam!" panggil Venter.

"Ya, tuan muda," ucap Liam. Vee menatap Venter namun pria itu hanya tersenyum tipis padanya.

"Bawa wanitaku dan neneknya pergi. Aku dan Nick akan tetap disini," ucap Venter sambil mengusap rambut Vee dan mengecup keningnya membuat wanita itu wajahnya memerah.

"Baik tuan," Liam pun pada akhirnya membawa Vee beserta neneknya.

"Apa kau pria yang membayar Vee? Berapa yang kau bayar? Bagaimana rasanya? Aku yakin sangat banyak pria yang memakai tubuhnya," ucap Alvian.

Tangan Venter terkepal kuat begitu kuat, wajahnya merah padam karena menahan amarah.

"Kau tutup mulutmu sebelum aku menghancurkannya!" Venter menatap tajam, ia berjalan beberapa langkah.

"Apa sebelum itu kita perkenalan dulu brengsek?" Venter menatap nyalang sambil menarik kerah baju yang di gunakan Alvian.

"Aku Al Deventer Stevenson. Yang kau bilang jalang dan sialan itu adalah wanita dan putraku bajingan!" Alvian terdiam saat mendengar Stevenson nama belakangnya.

Alvian membulatkan matanya. "K-Kau--"

"Ya aku!" Venter berdecih, ia menatap sekelilingnya lalu kembali menatap Alvian. "Aku malaikat pencabut nyawamu bajingan!"

...∆∆∆...

...TBC...

Terpopuler

Comments

Ami Kerto Surat

Ami Kerto Surat

malaikat mu sungguh rupawan ya Alvian hehehe

2024-05-25

0

❣️**@beybie💋

❣️**@beybie💋

ceritanya bagus the best deh pokonya,,cmn dri dialog yang ini aku kurang faham,,agk bingung aku ulang2 bca tetep aja ngalieurkn,,bsa d jelaskan gk ka😁

2024-05-03

0

☠ᴳᴿ🐅ɴᴇ𝐀⃝🥀⍣⃝ꉣꉣ🥑⃟🔰π¹¹

☠ᴳᴿ🐅ɴᴇ𝐀⃝🥀⍣⃝ꉣꉣ🥑⃟🔰π¹¹

sokor kau pama

2024-01-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!