Hari ini hari dimana Vee kembali membuka kedai makanan manis miliknya di temani kedua putranya dan juga Venter tentunya.
"Untuk apa kau ada disini? ini bukan tempatmu," ucap Vee pada Venter yang sedang membersihkan meja di depannya.
Venter? Membersihkan meja? Luar biasa sekali ya, Venter yang selalu memerintahkan bawahannya pada hari ini ia yang membersihkan meja sendiri.
"Aku tidak ada kerjaan," ucap Venter.
Vee menatap tidak percaya, seorang Venter tidak ada kerjaan? Pembohong publik. Jelas jelas dari tadi ponselnya berbunyi dan di bantingnya agar diam padahal tinggal di matikan nya.
"Bercanda?" tanya Vee.
Venter mengangkat bahunya acuh. "Terserah kau saja. Lagi pula aku disini ingin membantumu," ucapnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Vee. Ia mulai menyusun beberapa piring kecil di depannya.
"Dan kau memiliki aku yang bisa berbagi pekerjaan agar lebih mudah," balas Venter, ia tersenyum tipis saat melihat Alano dan Alvaro mendorong ember yang berisikan air sambil membawa kain kecil untuk membersihkan kaca.
Teryata selama ini mereka semua melakukan hal yang berat begini. Kenapa dirinya tidak berusaha dengan keras mencari mereka dengan cepat.
"Awas kalian bisa terjatuh! Lantai licin!" ucap Venter.
"Kalau aku dan Alano terjatuh kami akan bangun lagi. Mommy bilang kalau laki laki tidak boleh menangis," Alvaro tersenyum lebar.
...∆∆∆...
Kedai milik Vee begitu ramai pembeli walaupun hanya kedai yang lumayan kecil namun banyak peminat karena rasanya yang enak.
"Kau tidak mau ada pegawai?" tanya Venter saat melihat Vee tampak sibuk di dapurnya.
Vee menggeleng. "Aku belum sanggup jika harus memberi gaji karyawan. Lagipula aku masih ada hutang yang harus di bayar," ucapnya sambil mengaduk adonan di depannya.
Venter mengusap pipi Vee membuat wanita itu terkejut. "Ada tepung yang menempel," ucap Venter.
Vee kembali melanjutkan pekerjaannya. "Kau berhasil mendidik mereka," ucap Venter, Vee menoleh kearah objek yang sedang di lihat Venter.
Pria itu menatap Alano dan Alvaro yang sedang memberi air minum untuk pelanggan walaupun tampak kesusahan mereka saling membantu satu sama lain.
"Anak kecil seumuran mereka akan tau banyak hal tanpa di larang dengan kekerasan. cukup peringati saja, mereka akan paham," ucap Vee.
Venter menatap Vee sambil tersenyum tipis. "Aku paham. Seandainya aku melihat mereka saat baru lahir, mungkin aku juga akan ikut merawatnya," ucapnya. Tidak ada yang perlu di sesali karena sekarang ia bertemu dengan Vee.
"Ah ya!" Vee menoleh terkejut saat Venter mengucapkan suara begitu keras. "Tentang hutang yang kau bayar. Mulai sekarang kau tidak perlu membayarnya," sambungnya.
Vee menatap heran. "Kau bercanda?"
Venter menggeleng tegas. "Dengan satu syarat. Kau menikah denganku,"
...∆∆∆...
Menikah? Menikah dengan Venter? Vee langsung terdiam mendengarnya walaupun jantungnya berdegup begitu kencang.
"Tolong jangan membuat jantungku berdetak gila Venter!" teriak batin Vee. Ini tidak baik untuk kesehatannya, bisa bisa dirinya nanti terkena serangan jantung.
"Aku tau kau masih ragu," ucap Venter namun Vee tetap melanjutkan pekerjaannya.
Venter kembali mendekati Vee dan mengusap pipi wanita itu perlahan. "Aku mencarimu dari tiga tahun yang lalu, bahkan tanpa melewatkan apapun itu. Dan teryata selama aku mencari dan bertemu denganmu di tempat yang tidak aku sangka,"
Venter melingkarkan tangannya di pinggang Vee. "Apa yang kau lakukan?!" tanya Vee gelagapan.
"Vee," panggil Venter dengan suara beratnya dan mata menatap nya sendu.
Vee menelan salivanya. "Monica Selveena, aku tau kau tidak akan percaya pada pria seperti ku. Tapi tolong terima aku menjadi suamimu," Venter mengeratkan pelukannya dan mengecup pundak Vee sambil menyandarkan kepalanya.
"Aku memang bukan orang yang baik tapi aku akan menjadi orang yang baik untukmu. Suami sekaligus ayah untuk Alano dan Alvaro. Aku menikahi mu bukan karena kau melahirkan anakku," Venter menghirup wangi tubuh Vee yang menurutnya menenangkan.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Bunuh aku jika aku menyakitimu Vee!" ucap Venter dengan tegas.
Tubuh Vee membeku saat Venter mengusap perutnya. Terasa seperti kupu kupu terbang di perutnya.
"Tolong aku!" batin Vee menjerit.
"Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab," Venter mengecup pipi Vee.
"Tapi sejak malam itu, aku selalu terbayang oleh mu. Aku tau jika aku sudah jatuh hati padamu tapi aku selalu menyangkalnya," Venter menggenggam tangan Vee.
Vee terdiam, ia juga merasakan hal yang sama. Tidak pernah ia melupakan Venter bahkan sedetik pun.
Venter menatap Vee dengan lekat, ia tersenyum manis. begitu manis, Venter mengecup punggung tangan Vee.
"Dan saat bertemu kembali denganmu, tekadku hanya satu Vee. Aku akan membuatmu menjadi milikku. Itu janjiku!"
...∆∆∆...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Suci Imas Sadah
thor ad yg drevisikah novel ini,,aku udh 2x baca nh novelny sprtiny ad part2 yg hilang dan sdkt beda kalimat2ny..tp klo aku ga salah inget sh😃..intinya baguuus karyamu❤️
2024-05-15
1
GRL VJAESUKE
ini yg meleleh bukan vee aja
2024-01-23
2
LISA
Romantis bgt nih..ternyt mereka saling merindukan slm 3 thn..
2024-01-08
1