Venter mendengus saat melihat tumpukan dokumen di atas mejanya walaupun sudah di kerjakan beberapa oleh Nick namun tidak semua bisa di lakukan selain Venter yang menyelesaikan nya.
"Rasanya ingin aku membumi hanguskan dokumen ini!" gumam Venter.
Venter mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Ia mau mulai dari mana pun bingung, karena terlalu banyak pekerjaan yang harus dirinya lakukan. seandainya ada Vee dan kedua putranya disini.
Namun karena dirinya harus menyelesaikan dokumen terus menerus sudah tiga hari ia tidak melihat Vee hanya melihat foto Vee yang di kirimkan Liam padanya saat ia bekerja.
Ia sungguh sangat merindukan Alano dan Alvaro terlebih wanitanya Vee, ia ingin segera memeluk dan mencium wanitanya. Rasanya saat itu ingin menghabiskan waktu bersama dengan Vee.
Venter menghela nafas kasar, ia pun kembali menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin cepat cepat bertemu dengan Vee dan putra kembarnya jika tidak ia tidak yakin akan meledak disini.
Cklek'
Venter menggeram kesal sudah berapa kali ia bilang jika dirinya tidak suka di ganggu. "Aku sudah bilang jangan ada yang masuk! Apa kau bod--"
"Ah baiklah aku akan pergi dari sini," suara familiar membuat Venter langsung menegakkan kepalanya. Teryata yang datang adalah Vee.
Namun belum sempat dirinya berbalik badan pintu terkunci otomatis, Vee menatap Venter yang tengah memegang remot di tangannya.
Venter mengangkat tubuh Vee dengan cepat membuat wanita itu terhuyung dan berpegangan di kedua pundak Venter.
"Kau mau membuatku jantungan?!" ucap Vee kesal.
Venter menyunggingkan senyumannya. Ia pun mengecup bibir Vee, wanita itu melotot kearahnya.
"Morning baby,"
...∆∆∆...
Vee menahan wajah Venter yang terus menerus mencium wajahnya, ia menatap kesal. Vee juga menahan tangan Venter yang ingin memeluk pinggangnya. Namun tenaganya yang tidak begitu besar tidak bisa menahan tangan Venter
"Apa kau tidak bisa diam Venter?!" tanya Vee kesal.
Venter tidak menjawab, ia membawa tubuh Vee untuk duduk di pangkuannya. Lalu kembali mencium wajah Vee dari kening hingga bibir wanita itu habis di ciumnya.
"S-stop!" Vee menahan wajah Venter dengan tangannya. "Apa kau mau membunuhku?!" tanyanya kesal.
"Aku belum siap untuk menjadi duda," balas Venter seadanya. Vee berdecih, ia menatap wajah Venter. Mungkin keberuntungan lagi berpihak padanya karena bisa bisanya pria yang begitu tampan jatuh hati padanya.
Venter menatap jari manis Vee, ia menarik tangan Vee dengan pelan lalu mengecup punggung tangannya.
"Kau harus selalu memakainya," gumam Venter.
"Kalau aku lepas kau tidak akan membiarkanku bernafas," decih Vee membuat Venter terkekeh pelan.
"Dengan begitu aku anggap jawaban mu ya. Kau akan menikah denganku," ucap Venter dengan senyuman manisnya.
"Jangan menciumku lagi!" Vee menatap tajam kearah Venter. "Lalu bagaimana keluargamu?"
Venter mengangkat bahunya acuh. "Ibu dan ayahku menjawab ya dan berarti aku bisa menikah denganmu. sisanya aku tidak peduli," ucapnya sambil mengelus rambut Vee.
"Bagaimana bisa--"
Cup'
"Aku tidak peduli! Keluargaku hanya ibu dan ayahku. sisanya tidak akan aku anggap termasuk kakekku!"
...∆∆∆...
Nick hanya mengusap wajahnya dengan kasar saat Venter dengan kurang ajarnya mengantar dokumen begitu banyak di atas meja nya.
"Dasar iblis!" gumam Nick kesal.
"Bisa bisanya kau sibuk dengan wanitamu sedangkan aku sibuk dengan dokumen gila ini, Arghhh!!" Nick berteriak frustasi.
"Tabahkan aku ya tuhan!"
Nick mengelus dadanya berusaha meredam emosi karena Venter. Ia rasanya ingin memukul kepala Venter dengan kuat.
"Tidak ingat umur!" geram Nick saat melihat Venter yang seperti remaja sedang jatuh cinta membuatnya mual seketika.
Lain Nick lain juga Venter, pria itu memilih berbaring tidur di paha Vee dengan santai.
"Dimana Alano dan Alvaro?" tanya Venter.
"Bersama neneknya. Tentunya Liam, yang selalu kau suruh untuk memantauku!" sindir Vee kesal.
Venter tersenyum tipis. "Yah itu lebih baik dari pada aku kirimkan belasan bodyguard yang aku punya untuk menjagamu," ucapnya. Vee menatap tidak percaya.
"Kau ingin membuatku mati cepat ya!" Venter terkekeh pelan mendengarnya.
Vee menatap kantung mata di wajah Venter dan menyentuhnya. "Kau tidur jam berapa?" tanyanya heran.
"Entahlah, mungkin satu atau dua jam tidur," Venter menggenggam tangan Vee yang sedang menyentuh wajahnya.
"Kau gila ya? Pantas saja kau terlihat seperti burung hantu! Lihat kantung matamu!" omel Vee.
"Yang penting aku masih tampan," ucap Venter dengan pedenya.
Vee tidak habis pikir dengan apa yang Venter katakan. Bisa bisanya pria di depannya masih begitu narsis padahal yang ia lihat Venter sedikit berantakan dari biasanya.
"Kau terlihat berantakan," ucap Vee. Venter membalas dengan gumamanya karena ia mulai memejamkan matanya karena dirasa begitu mengantuk.
Vee hanya mengusap rambut Venter perlahan hingga pria itu tenggelam di dalam mimpinya. Vee menatap Venter lalu mendekatkan wajahnya di telinga Venter untuk membisikan sesuatu.
"Selamat tidur calon suamiku,"
...∆∆∆...
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
sherly
sabar ya Nick.
2024-05-02
1
LISA
hmm..so sweet 😊
2024-01-08
2
L.bremai
sweet bgt mereka 😍
2024-01-07
3