15.

Pagi yang begitu cerah terlihat Nick yang baru saja menyelesaikan dokumennya. Bisa gila, dirinya hanya tertidur tiga jam. Matanya seperti mata hantu, bewarna hitam.

Nick menggeram kesal, bisa bisanya Venter memberikannya tugas yang membuatnya ingin bunuh diri sedangkan ia bersikap santai seperti liburan.

"Jika saja Venter bukan sahabatku, aku pasti menghabisinya karena wajahnya menyebalkan!" gumam Nick kesal.

Brakk!

Nick terperanjat dari tempatnya. "Sudah berapa kali aku bilang jangan---fuck! Venter sialan! Kau bisa membuat pintu apartemen ku rusak!" teriaknya frustasi.

Venter menatap Nick aneh. "Sepertinya aku salah masuk ruangan," ucapnya sembari berbalik badan.

Nick hanya menatap tidak percaya dengan hal yang ada di depannya. "Oi!!" teriaknya.

"Kau seperti gelandangan," ucap Venter dengan tatapan kasihannya pada Nick.

Nick menggeram kesal. "Apa otaknya tidak ada? siapa yang membuatku seperti ini sialan!" umpatnya dalam hati.

"Carikan aku cincin terbaik bahkan lebih mahal lebih bagus!" perintah Venter.

Nick terdiam. "Untuk apa? Kau cari saja sendiri. Aku masih banyak kerjaan!" ucapnya sambil mendengus kesal.

"Dua juta setiap jam kerja yang di pakai?" Nick terdiam, kapan lagi jam kerja nya di bayar billionaire di depannya ini.

"DEAL!!"

......∆∆∆......

Alano dan Alvaro tampak sibuk mewarnai buku di hadapannya. Vee memberikan mereka buku untuk di gambar oleh mereka agar mereka berdua diam di tempatnya sedangkan dirinya sibuk merias kue pesanan.

"Mommy lihat yang aku gambar!" Alvaro berdiri sambil memegang buku gambar di tangannya.

Vee menoleh, ia menatap gambar yang di buat oleh Alvaro. "Kau pintar menggambar," ucapnya saat melihat gambaran yang teryata gambar dirinya walaupun terlihat seperti boneka bambu yang di beri rambut.

Rasanya ia ingin tertawa tapi apa boleh buat karena yang menggambar bocah yang baru mau memasuki umur 3 tahun. Hanya keajaiban jika mereka bisa menggambar seperti ahli melukis.

Ah sudahlah, yang penting mereka diam dan tidak menganggu dirinya bekerja. Jika di ganggu lagi mungkin pekerjaannya akan selesai besok.

Vee memperhatikan Alano. "Lalu apa yang kau gambar Alano?" tanyanya.

Alano berdiri dan menunjukkan gambarnya pada Vee. "Ini aku, Alvaro," ucapnya sambil menunjukan gambar yang baru saja ia warnai. "Lalu ini Mommy dan daddy,"

Vee mengerutkan keningnya. "Kenapa memegang pedang dan perisai?" tanyanya sambil menunjuk kearah gambaran Alano karena yang ia lihat Alano dan Alvaro memegang benda tersebut.

"Karena aku dan Alvaro akan melindungi mommy dan daddy!"

...∆∆∆...

Vee akhirnya menyelesaikan pekerjaannya karena sempat tertunda sebab Venter tidak mau lepas dengannya seperti anak kecil.

"Huh, akhirnya," ucap Vee sambil mengusap keningnya yang berkeringat "Selesai juga,"

Ia pun memilih untuk duduk dan memejamkan matanya, untung saja Alano dan Alvaro sudah tertidur karena lelah bermain jadi dirinya bisa beristirahat sejenak, mereka tertidur di karpet tebal dengan pensil warna yang masih di genggamnya masing masing.

Tak lama setelah itu, ia tertidur di kursinya dan tepat setelah Vee tidur Venter memasuki ruangan Vee.

Ia menoleh, menatap Vee dengan senyuman manisnya. Wanitanya tertidur begitu pulas menandakan dirinya yang begitu kelelahan.

Venter berjalan mendekati Vee, saat berada di dekat Vee ia mengusap pipi wanita nya dengan pelan takut membangunkan nya.

"Sangat lelah ya," Venter membersihkan tepung yang menempel pada wajah Vee dengan sapu tangan miliknya.

Venter pun mengecup kening Vee, perlahan ia mengangkat tubuh Vee dengan begitu pelan takut jika hal yang ia lakukan membangunkan Vee. Venter akhirnya memindahkan Vee ke sofa panjang karena jika ia memindahkan nya ke dalam mobil untuk pulang ia yakin Vee pasti terbangun di tengah jalan karena telinga wanita itu memang sensitif.

Venter membuka jas yang ia kenakan dan menutup tubuh Vee dengan jas tersebut lalu memperbaiki tubuh Vee begitu pelan agar saat wanita itu bangun tidak merasakan pegal karena kesalahan saat tidur.

"Mimpi indah Vee," bisik Venter.

Venter menatap kedua putranya yang tertidur lelap juga lalu memindahkan mereka agar tidur di sofa. Venter menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vee dan anak kembarnya yang sama. Karena mereka bisa tertidur dimana pun jika sudah mengantuk.

Venter menatap gambar yang di buat Alano dan Alvaro, ia menyunggingkan senyumannya. Lalu Venter menyimpan gambaran Alano dan Alvaro di atas meja.

Venter mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, lalu ia pun memasangkan cincin tersebut di jari manis Vee perlahan.

"Sangat pas," gumamnya. Venter mengecup punggung tangan Vee. Ia pun mengusap rambut Vee sambil berbisik pelan.

"Vee, aku akan menciptakan keluarga yang luar biasa baik untukmu. Dan sudah aku bilang aku tidak akan melepaskan mu dari pandanganku, apapun yang terjadi,"

...∆∆∆...

...TBC...

Terpopuler

Comments

Ami Kerto Surat

Ami Kerto Surat

langsung kaya ya Nick....sehari waktu 24 jam...kamu tidur cuma 3 jam...jadi waktu kerja mu 21 jam d bagi 2...dalam sehari kamu d gaji 10 juta hahaha d kalikan 1 bulan uuuuwwwwwoooooooowww gak bisa ngitung nya aku

2024-05-25

1

Niè

Niè

kereeennn ah .....gr2 mba Pasha .....aku nemu novel ini.....kereeenn ...

2024-05-01

1

Al Vian

Al Vian

lanjut thor

2023-12-23

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!