Venter mendengus saat mendengarkan penjelasan Nick yang membuat sakit kepala. Ia pun mengusap keningnya dengan kesal.
"Apa perlu aku pecahkan kepalamu?" tanya Venter dengan kesal. "Agar kau tetap diam!"
Nick menatap sinis. "Cih!"
"Jadi inti dari masalah ini adalah menghentikan kakek tuan Venter menyentuh Vee dan si kembar?" tanya Liam, Nick mengangguk.
"Menghentikan hal yang bisa membuat kita rugi. Gavra kakek Venter tidak boleh bertemu dengan Vee kita tidak tau apa yang akan di lakukan kakek tua itu untuk menyingkirkan Vee. Bahkan si kembar pun bisa ikut terseret," ucap Nick.
"Aku paham," ucap Liam. "Jadi apa tugasku?" tanya nya pada Venter.
"Kakekku tidak pernah bertemu denganmu kan?" tanya Venter, Liam menggelengkan kepalanya.
Venter menyeringai. "Bagus sekali. Kau masuk kedalam mansion kakekku. Nick akan mendaftarkan mu sebagai calon bodyguard kakekku," ucap Venter. "Dan tugas mu adalah sampaikan semua gerak gerik kakek ku yang mencurigakan pada ku! Aku tau kau bisa melakukannya," sambungnya.
"Baiklah, semoga saja tidak ada masalah. Tapi siapa yang akan ada untuk menjaga Vee?" tanya Liam bingung.
Venter menatap Nick. "Apa?" tanya Nick dengan galak. "Aku bukan Liam yang mahir senjata salah sedikit kepalaku di tembak kau tau!" protesnya.
Venter menatap sinis. "Aku tidak sebodoh itu untuk menyuruh orang bodoh sepertimu di sisi Vee," ucapnya.
"Kau!--"
"Jadi siapa?" tanya Liam.
"Sepupumu," balas Venter santai.
Liam mengerutkan keningnya. sepupunya? Memangnya ia punya sepupu yang bisa menjadi penjaga? Siapa yang handal dalam hal ini selain---
Liam menatap Venter tidak percaya. "Jangan bilang---"
Venter menganggukkan kepalanya. "Dia kandidat yang cocok. Selain mahir, dia juga tidak pandang bulu lawan siapapun. Seperti aku,"
...∆∆∆...
Vee memijat keningnya, ia memikirkan apakah ia bisa menjalani kehidupan bersama Venter dengan baik.
"Mommy!" panggil Alvaro.
"Ya sayang?" Vee menjawab dengan lembut.
"Ada paman yang tampan datang," celetuk Alano.
Vee menatap bingung, saat ini kedai nya tutup dan siapa yang datang? Vee pun bergegas mendatangi paman yang di bilang tampan oleh Alano.
Vee menatap punggung tegap di depannya dengan kerutan di keningnya. "Who are you?" tanyanya bingung.
Pria itu menoleh, ia pun menunduk sopan. "Perkenalkan, aku Adam Marley," ucap pria itu.
Memang tampan, tapi tidak setampan Venter. Vee terdiam, bisa bisanya dirinya malah membandingkan Venter dengan pria di depannya ini.
"Lalu? Kenapa kau datang kesini?" tanya Vee heran. "Kedai ini masih tutup kemungkinan besok baru akan buka," sambungnya.
Adam tersenyum tipis. "Aku kesini hanya ingin memastikan. Apa kau Monica Selveena yang Venter bicarakan?" tanyanya.
Vee mengangguk. "Iya itu aku. Ada apa?" tanyanya dengan bingung.
"Oke mungkin kau tidak akan paham sampai aku menjelaskan nya. Aku Adam sepupu Liam, aku di tugaskan menjaga mu mulai sekarang dan nanti. Itulah yang Venter katakan kepada ku," ucap Adam membuat Vee mencerna perlahan perkataan pria di depannya.
"Hah?" Vee menatap bingung.
"Aku tidak boleh membiarkan dirimu tergores sedikit pun. Bahkan tersentuh oleh siapapun seujung jarimu saja, itu yang di perintahkan Venter padaku,"
...∆∆∆...
Venter kembali berkutat dengan pekerjaannya dengan begitu serius, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya lalu pergi menemui Vee. Bahkan rasanya begitu rindu walaupun tadi pagi sudah bertemu dengannya
"Rasanya aku ingin membuang semua kertas tidak berguna ini," gumam Venter. "Aku merindukan Vee,"
Cklek'
Brakk'
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menyuruh orang asing untuk menjagaku dan anakku!" Vee datang dengan tergesa gesa.
Nafasnya begitu memburu, ia tidak mau hidup dengan penuh tekanan seperti ini.
Venter menoleh, ia tersenyum tipis lalu menutup dokumen yang ada di tangannya. "Kemarilah!" ucapnya sambil menepuk pahanya.
Vee menatap melotot kearah Venter. "Jawab Al Deventer Stevenson!" ucapnya sambil memanggil nama panjang Venter.
Venter menaikan bahunya acuh. "Sayang sekali paha ku menganggur jika kau tidak duduk disini," ucapnya.
Vee menggeram kesal. "Jangan mengalihkan pembahasan ini Venter!" ucapnya.
Venter terkekeh pelan, melihat wajah Vee yang memerah sangat lucu menurutnya dan begitu menggairahkan. Ah sudahlah, pikirannya semakin tidak beres.
"Aku akan menjelaskan nya tapi kau harus duduk disini," ucap Venter sambil menunjuk kearah pahanya lalu menepuknya pelan.
"Sialan! Kau--"
"Stt!" Venter berjalan mendekati Vee. "Aku tidak suka kau mengumpat padaku Vee. Itu sedikit membuat kesal," sambungnya.
"Kau diam disitu!" teriak Vee saat Venter berjalan mendekati nya dengan perlahan.
Venter menyeringai. "Kemana wanita yang galak tadi?" sindirnya. "Apa cuman segini yang bisa kau lakukan baby?!"
"Kau!!"
Venter menarik pinggang Vee dan memeluknya dengan erat walaupun Vee memberontak di dalam pelukannya namun itu tidak masalah untuk Venter.
"Shhh," Venter mengecup bibir Vee membuat wanita itu terkejut. "Diamlah sebentar, aku ingin mengurangi rasa lelahku dengan memelukmu," ucapnya sambil mengecup kening Vee.
"Tentang aku memerintahkan orang asing untukmu? Itu demi kebaikan mu Vee. Aku tidak rela sehelai rambutmu terlihat oleh orang yang menjadi musuhku. Benar benar tidak rela. Kau terlalu berharga untukku Vee,"
...∆∆∆...
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Niè
vener ven....calon istri bukan untk konsumsu publik....tpi diri sendiri....
2024-05-01
2
Videlia Laia
aku GK komen bukan karena GK bagus.memang jarang komen,tapi aku menghargai karya othor dgn memberi bunga dan like,bonus vote.😉😉🥴
2024-01-17
2
Sri Ayuu
cerita nya bagus tapi ga banyak yg komen ya readers nya
2024-01-12
1