Melyana ibu Venter datang bersama suaminya Alfred dan tentunya tangan kanan nya Jack ada di dalam ruangan.
Vee menelan saliva nya saat Melyana ibu Venter menatapnya begitu intens hingga membuatnya tidak nyaman.
"Jangan menatapnya seperti itu!" Venter menatap tajam ibunya.
Melyana mengerjapkan matanya. "Ah ya, jadi dia wanita itu? Wajahnya lumayan," ucapnya.
"Dia cantik. Untukku dia sangat cantik!" Venter menekan kata cantik saat mengucap nya.
Alfred menyunggingkan senyum tipisnya, baru kali ini anaknya membela wanita seperti ini bahkan mantannya terdahulu ia tidak membelanya hingga begini.
Vee hanya diam tidak tau apa yang harus ia lakukan, ada kah seseorang yang bisa membawanya kabur dari sini? C'mon suasana disini begitu menyeramkan.
Untung saja Alano dan Alvaro tidak disini, mereka berdua di bawa oleh Nick agar tidak mendengarkan perdebatan orang tua dan anak disini.
"Siapa nama panjangmu sayang?" tanya Alfred, Vee menoleh dan menatapnya. wajahnya 11:12 dengan Venter sama tampannya.
"Monica Selveena," ucap Vee.
"Monica Selveena, kau lulusan dari Harvard university right?" Vee kembali menatap Melyana di depannya.
"Benar," ucap Vee.
Melyana menganggukkan kepalanya. "Kau sebagai lulusan terbaik saat itu, aku tau," ucapnya membuat Vee diam. Yah keluarga orang yang berkuasa pasti sudah lebih dulu mencari informasi tentang dirinya.
"Kalian bukan datang untuk mengorek informasi dari Vee kan?" tanya Venter datar.
Alfred terkekeh pelan, ia pun menatap istrinya. Ia pun menggenggam tangan Melyana, wanita itu menghela nafas pelan.
"Aku hanya ingin melihat siapa wanita yang bisa membuatmu normal," ucap Melyana dengan santai.
What the hell!
...∆∆∆...
Vee menatap Venter yang tengah menatap orang tuanya dengan kesal. "Jangan menatapku begitu," ucap Venter.
"Kalau aku tidak normal. Kau tidak akan mengandung benihku," ucap Venter blak blakan membuat wajah Vee memerah.
"Kau diam!" omel Vee.
Interaksi mereka berdua tidak luput dari pandangan Melyana dan Alfred, mereka berdua tersenyum begitu tipis.
"Jadi dimana cucuku?" tanya Alfred sambil menatap sekelilingnya.
Venter mengerutkan keningnya. "Kalian kesini bukan karena ingin mengusir Vee dan anakku?" tanyanya.
"Tadinya," jawab Melyana. "Tapi melihatmu sepertinya memang sudah jatuh hati aku tidak bisa melakukan apapun lagi,"
"Lagipula sudah terjadi," sambung Alfred. "Vee sudah melahirkan anakmu. Tidak ada yang bisa aku dan ibumu cegah,"
"Kalau begitu pintu keluar sebelah sana!" tunjuk Venter kearah pintu keluar membuat Vee melotot.
Vee memukul tubuh Venter. "Kau! Tidak sopan!" ucapnya sambil terus memukul tubuh Venter.
"Aku hanya menyuruh bukan mengusir," sanggah Venter.
"Begitukah caramu menyambut kami Venter," ucap Alfred.
"Karena aku tau Venson tidak akan menerima sambutan apapun dariku," Venter menatap dingin. Alfred menghela nafasnya dengan kasar.
Alfred dan Melyana hanya diam, mereka tau jika Venter masih belum menerima apapun yang berhubungan dengan Venson walaupun dia memiliki darah Venson.
"Kau tidak boleh seperti itu," celetuk Vee. "Bagaimana pun mereka orang tua mu!"
Venter mengangguk acuh. "Yah aku tidak bisa menyangkal juga. Mereka ada maka aku juga ada," ucapnya.
"Kakekmu menitipkan salam," ucap Melyana membuat tangan Venter terkepal.
"Begitu?" Venter terkekeh pelan. "Sampaikan salamku. Kenapa dia tidak cepat mati saja?!"
...∆∆∆...
Vee menemani Melyana saat Venter dan Alfred berbincang di ruang yang berbeda.
"Jadi bagaimana rasanya?" tanya Melyana pada Vee.
"Rasa?" tanya Vee bingung.
Melyana tersenyum tipis. "Bagaimana rasanya mengandung anak dari Venson?' tanyanya penasaran.
Vee terdiam sejenak. Ia memandang lurus. "Sejujurnya aku tidak tau selama ini jika yang bersama ku adalah anakmu, dari keluarga Venson," ucapnya.
Melyana menyunggingkan senyum tipisnya. Yah memang keluarganya begitu anti dengan kamera.
Melyana menatap Vee, "Aku tau perasaan mu," ucapnya.
"Keluargaku, termasuk orang yang berbahaya begitu pula anakku Venter. Aku tidak tau kenapa dia bisa seperti ini, mungkin juga karena didikan dari kakeknya," ucap Melyana, ia mengusap rambut Vee.
"Aku tidak membesarkan anakku," ucap Melyana membuat Vee terkejut. "Yang membesarkan Venter adalah kakeknya. Mungkin karena itu Venter tidak begitu dekat dengan kami," sambungnya.
"Aku tidak tau apa yang sudah di ajarkan kakeknya pada Venter, Vee. Hingga membuatnya seperti ini," Melyana mengusap kedua tangannya, lalu menggenggam tangan Vee menatapnya dengan penuh harap.
"Tolong rubah anakku menjadi lebih baik Vee. Aku bisa melihat masa depan yang baik dari Venter jika bersamamu," Melyana tersenyum, Vee hanya diam sambil menatap Melyana.
"Sepertinya aku tidak bisa," balas Vee. "Dia tidak mungkin mencintaiku, dia peduli padaku karena aku melahirkan anaknya," sambungnya.
Melyana tertawa kecil mendengar nya. "Vee, asal kau tau semenjak kau pergi waktu itu Venter seperti kehilangan dirinya. Bahkan dia berubah seperti bukan dirinya dulu Vee," ucapnya.
"Bahkan setelah bersamamu sekarang, Venter yang sekarang adalah Venter yang ingin aku lihat dari dulu Vee. Dan itu karena mu, terima kasih karena sudah membuat Venter jatuh hati padamu,"
...∆∆∆...
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
The Taste Of Love👩🍳👨🍳
Tuh kan dah dapat restu dari emak
2024-06-25
2