17.

Seorang pria yang sudah berumur terduduk di kursi kebanggaan nya sambil meremas kertas yang ia baca dengan perasaan begitu kesal.

"Haha," ia tertawa pelan meredakan amarah pada dirinya.

"Apa yang aku baca ini?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Memuakkan!"

Ia memejamkan matanya sejenak, ia memukul kuat meja di depannya. meluapkan perasaan yang memenuhi hatinya.

"Dari dulu anak ini memang membuat ulah," gumamnya. "Aku membesarkannya sepenuh hati ini balasannya,"

"Memang anak yang tidak tau diuntung!" geramnya. "Vero!"

"Aku disini tuan Gavra," Vero memasuki ruangan tersebut dengan menunduk hormat.

"Vero," panggil Gavra.

Gavra Sa Venson, kepala keluarga utama Venson grub. Walaupun umurnya tidaklah muda namun ambisinya tetap sama dari dulu, haus akan kekuasaan.

"Ya tuan!" Vero menatap dengan serius.

"Bagaimana menurutmu tentang Venter?" tanya Gavra sambil memainkan pena di tangannya.

Vero menunduk ragu. "Beliau cucu kesayangan tuan," ucapnya.

Gavra tertawa pelan. "Cucu ya. Sudah lama aku tidak melihatnya," gumamnya yang masih terdengar oleh Vero.

Vero yang paham langsung menunduk sopan. "Aku akan siapkan semuanya tuan!" ia pun menyingkir dari hadapan Gavra.

Gavra menatap foto di depannya, foto keluarga Venson yang hanya ada di ruangannya, lalu menyentuh foto wajah Venter saat masih kecil.

"Cucu yang harus dididik kembali agar menjadi penurut,"

...∆∆∆...

Venter kali ini mengajak Vee dan kedua anaknya pergi ke mall besar yang ada di daerahnya.

"Wah! Besar sekali!" teriak kagum Alvaro saat keluar dari mobil dan memandang gedung besar di hadapannya.

 "Lihat Alano! Balon!" teriak Alvaro membuat Alano memegang kedua telinganya.

"Berisik!" protes Alano. Venter hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kedua putranya yang bertolak belakang.

"Apa Alvaro menuruni sifatmu?" tanya Venter pada Vee.

Vee memukul pundak Venter dengan pelan. "Apa kau akan bilang bahwa aku cerewet dan tidak bisa diam?!" ucapnya dengan sedikit mengomel.

Venter terkekeh pelan. "Aku tidak bilang begitu," ucapnya. "Kau yang mengakuinya sendiri," sambungnya membuat Vee menatap sinis.

"Mommy! Disini sangat besar tapi kenapa hanya kita yang ada disini?" tanya Alvaro heran, Alano mengangguk setuju.

Vee terdiam sejenak, ia sampai tidak sadar melihat sekelilingnya. Ia pun menatap di depannya, dan benar saja hanya penjual saja dimana yang lain? Tidak mungkin mall terkenal ini kosong dan hanya dirinya yang ada disini.

Vee menoleh kearah Venter dengan menyipitkan matanya, pasti ulah pria di sampingnya ini.

"Kau yang melakukannya?" tanya Vee dengan tatapan menyelidik.

"Siapa yang tau hari ini mall akan sepi seperti ini," alibi Venter

Memang dirinya yang menjadi pelaku nya karena ia tidak mau Vee dan kedua putranya terekspos oleh media walaupun jika ada yg memotret mereka tidak akan ada satu pun akan muncul di media karena Venter tidak akan membiarkan wajah orang yang ia sayang jadi konsumsi publik.

"Wanitaku jadi tontonan laki laki lain, big no!" batin Venter.

...∆∆∆...

Gavra sudah datang di rumah Venter namun kosong hanya beberapa pelayan dan penjaga disini. Ia mengusap rambutnya.

"Dimana bocah itu?" tanya Gavra pada Vero.

"Aku dapat kabar jika tuan Venter sedang ada di mall milik tuan Alfred," ucap Vero.

Gavra berdecih kesal. "Dia ada waktu untuk bermain main? Wanita itu benar benar merubahnya," ucapnya. "Apa kau sudah mencari latar belakang wanita yang bersama Venter?"

Venter menunduk. "Maaf tuan, sepertinya tuan Venter sudah memblokir semua data yang berhubungan dengan wanitanya," ucapnya.

Gavra menyeringai. "Yah walaupun dia memiliki banyak waktu main tapi ia masih menggunakan gen Venson dengan benar," ucapnya.

"Sayang sekali," ucap Gavra sambil berjalan mengelilingi mansion milik Venter.

"Lain waktu, aku bisa bertemu dengan wanita yang Venter lindungi," seringai Gavra semakin terlihat di bibirnya.

Gavra dan Vero pun akhirnya pergi dari mansion milik Venter namun pergerakan mereka terlihat oleh Nick.

Nick berdecak. "Untuk apa pak tua itu disini? Astaga memperumit masalah saja!" gumamnya, ia pun menghubungi Liam.

"Liam, kau ingat yang di perintahkan Venter? Lakukan sekarang! Gavra, kepala keluarga utama Venson datang tadi!" ucapnya dengan tegas lalu kembali mematikan ponselnya.

Nick menghela nafas kasar. "Ya Tuhan, kenapa aku tidak mendapat hari hari yang damai!" teriaknya frustasi. "Sehari saja aku bisa tidur dengan tenang sepertinya tidak bisa,"

Nick pun berlalu memerintahkan yang lain untuk berhati-hati mulai sekarang, ia pun menghubungi Venter lewat video call.

"Ada apa? Kau mengganggu waktu liburku!" ucap Venter. Nick mendelik dengan kesal.

"Heh bodoh! Kakekmu Gavra datang tadi!" ucap Nick heboh namun Venter hanya membalas tatapan malasnya seolah olah ia tau jika kakeknya akan datang.

"Hm, dia sudah datang lebih cepat teryata. Baguslah," ucap Venter dengan santai.

Nick menatap tidak percaya. "Oi? Kau--"

"Sudahlah. Mulai sekarang dan selamanya dia tidak akan pernah melihat Vee dan kedua anakku bahkan seujung jari mereka saja tidak akan pernah!"

Venter mematikan ponselnya, ia yakin Nick pasti mengumpat di ujung sana. Ia tidak peduli. "Ingin mencari tau? Heh, walaupun kau hidup lebih lama dariku tapi aku ini lebih cerdik darimu kakek!"

...∆∆∆...

...TBC ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!