7.

Vee merasa terusik saat merasakan sebuah tangan memeluknya. Ia pun membuka matanya perlahan lalu menunduk. Ia terkejut sepasang tangan kekar memeluknya. Ia pun menoleh.

"Kenapa dia ada disini?" tanya Vee dalam hati.

Tangan yang memeluk nya teryata tangan Venter, pria itu tertidur sambil memeluknya. Vee mengedarkan pandangannya, kenapa rasanya kamar yang tadi terasa berbeda. Dan dimana kedua putranya.

Vee berusaha menyingkirkan tangan Venter dengan perlahan agar tidak membangunkan pria itu. Vee berjalan dan ingin membuka pintu namun tidak bisa, pintunya terkunci.

"Kau sudah bangun," suara berat itu membuat Vee menoleh.

"Ini dimana?" tanya Vee menatap Venter yang tengah menyadarkan tubuhnya di pinggir kasur.

Lihat lah cara dia duduk, sangat menggoda dengan rambut yang berantakan. Kancing kemeja yang terbuka dan pakaiannya yang kusut namun malah terlihat seksi di mata Vee.

Tunggu, seksi? Vee langsung menggelengkan kepalanya.

"Rumahku. Tentu saja," balas Venter seadanya.

"Aku harus pulang," ucap Vee langsung membalikkan badannya.

"Pulang? Disini rumahmu. Rumahku menjadi rumahmu. Mulai sekarang," ucap Venter, Vee menoleh menatap heran.

"Tidak aku izinkan kau meninggalkan rumah ini bahkan selangkah pun,"

...∆∆∆...

Vee bergerak mundur saat Venter berjalan mendekat. Tubuhnya terhenti saat dirinya berada di antara pintu yang tertutup. Venter menghalangi tubuh Vee dengan kedua tangannya.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi lagi seperti malam itu," ucap Venter. Ia mendekatkan wajahnya namun Vee memalingkan wajahnya dengan gugup.

"Kau bahkan tidak meninggalkan apapun saat itu. Apa kau pikir aku adalah gigolo mu?" bisik Venter sambil menggigit telinga Vee dengan pelan.

Vee memberanikan diri menatap Venter walaupun jantungnya berdetak tidak karuan di hadapan makhluk tuhan yang tampan ini.

"Aku ingin pulang," cicit Vee dengan pelan.

"Tidak aku izinkan!" ucap Venter dengan tegas, ia menatap tajam Vee.

"Kenapa?" tanya Vee.

"Aku belum membuat perhitungan padamu dasar wanita nakal," balas Venter.

Venter menatap Vee dari atas hingga bawah. "Apa yang harus aku lakukan padamu ya?!" ucapnya dengan seringainya yang khas.

Mata Vee membola. "Jangan macam macam!" ucapnya.

Venter terkekeh kecil melihat tingkah Vee yang seperti kucing. "Hanya satu macam," bisiknya

......∆∆∆......

Nick menatap lelah karena dirinya di perintahkan untuk mengawasi kedua putranya yang aktifnya luar biasa.

"C'mon boys! Apa kalian tidak lelah? Aku yang melihat nya saja begitu lelah," ucap Nick pada Alvaro dan Alano.

Nick acungi jempol untuk Vee karena wanita itu sanggup mengurus kedua nya tanpa bantuan orang lain.

"Paman? Kenapa disini banyak sekali mainan? Aku ingin memainkan semuanya," ucap Alvaro.

Nick tersenyum. "Apa kau suka? Daddy mu yang memilihkannya," ucapnya.

Alvaro dan Alano mengangguk kepalanya secara bersamaan dengan antusias.

"Mommy juga memberikan kami mainan," ucap Alano. "Tapi tidak sebanyak ini,"

Nick mengusap rambut Alano. "Menurutmu. Bagaimana mommy kalian berdua?" tanyanya penasaran.

"Mommy baik. Mommy sangat perhatian bahkan saat Alano sakit Mommy tidur tengah malam untuk memeriksanya," ucap Alvaro. Nick mengangguk, Vee memang wanita yang kuat.

"Tapi Mommy terkadang tidak sempat untuk makan karena harus melayani pembeli," ucap Alano.

Nick mengangguk paham, berarti selama ini wanita itu berjualan untuk membiayai putra kembarnya.

"Mommy kalian sangat hebat. Kalian harus bisa menjaga mommy kalian dengan baik, ok boys?"

...∆∆∆...

Vee berjalan menelusuri rumah milik Venter yang sangat amat besar menurutnya, bahkan nyalinya semakin menciut melihat perbandingan dirinya dengan Venter.

Rumah ini bahkan lebih besar empat kali lipat dari rumah yang ia huni dengan si kembar. Bahkan rasanya ia berlari pun bisa jika disini.

"Seberapa besar rumah ini? Bahkan mengelilinginya saja begitu melelahkan," gumam Vee, ia pun menuruni anak tangga satu persatu.

Ia berhasil keluar dari kamar tersebut. Keluar dari zona menyeramkan menurut Vee karena ia harus berada terus di sisi pria yang tampak menggoda itu.

"Kau sudah bangun," suara tersebut membuat Vee terkejut.

Nick terkekeh pelan. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuat mu terkejut," ucapnya.

"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Nick.

Vee mengangguk. "Sepertinya begitu. Aku juga tidak sadar jika sudah berada di tempat ini dalam keadaan tertidur," ucapnya.

Nick tertawa kecil. "Wajar saja, kau kelelahan. Ah, aku lupa bilang. Selamat datang di kediaman Venson Vee," ucapnya.

Vee menatap canggung tidak enak. "Aku hanya sementara disini," ucapnya.

Nick mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak yakin kau bisa lepas dari Venter lagi. Lagipula dia pria yang sangat berambisi terutama padamu Vee," ucapnya.

Vee menatap bingung sambil mencerna perkataan Nick. Pria itu hanya tertawa kecil lalu mengusap rambut Vee. "Jangan di pikirkan. Bagaimana pun Venter, dia tidak akan melepaskan orang yang sudah membuatnya menjadi gila selama tiga tahun,"

"Dan itu karena kau Vee,"

...∆∆∆...

...TBC...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!