3.

Seorang wanita cantik tengah menyiapkan barang barangnya untuk memulai usaha yang sudah ia tekuni. Ia menjual berbagai makanan pencuci mulut di pinggir jalan dengan kedai yang lumayan kecil namun ramai peminat.

"Mommy, i'm so hungry!" teriak kedua anak nya yang masih kecil.

"Wait a minute son," ia tersenyum pada kedua anak nya.

Monica Selveena kerap di sapa dengan nama Vee, nama panggilan nya sedari waktu kecil. Wanita yang sudah tinggal sebatang kara sejak berusia 12 tahun. Orang tua nya meninggal karena kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi dan Monica di besarkan di panti asuhan yang di dirikan oleh neneknya yang sudah merawatnya hingga saat ini.

Dulu ia hidup hanya bersama neneknya yang sering sakit sakitan tapi sekarang, ia memiliki dua anak laki laki. Ya, mereka kembar. Vee tidak tau jika dirinya mengandung saat kejadian 3 tahun lalu ia kabur meninggalkan pria yang sudah mengambil barang berharganya.

Vee takut, jika pria itu bangun dan menghabisi dirinya padahal malam itu mereka sama sama menikmati malam yang panas. Dan Vee tidak menyesali itu karena bagaimanapun ia dan pria itu menghadirkan kedua malaikat tampan nya yang kini berada di hadapannya.

"Mom, apa yang mommy pikirkan?" tanya Alano , dan kembarannya Alvaro.

"Tidak ada sayang," balas Vee sambil tersenyum dan mengusap rambut kedua anak nya.

"Mom. Apa aku tampan?" tanya Alvaro membuat Vee terdiam. Alvaro memang memiliki sifat yang keterbalikan dari pada saudaranya Alano. Apa ini sifat dari pria itu?

Vee mengangguk. "Kau selalu tampan," balasnya.

Alvaro mengusap rambutnya sambil tersenyum narsis, Alano hanya menatap ketus. Vee tersenyum, ia akui anak kembar nya ini sangat tampan karena pria yang bersama nya tidak kalah tampan saat itu. Bisa di katakan Vee memperbaiki keturunannya.

Vee terkekeh sendiri. "Apa yang aku pikirkan astaga!"

...∆∆∆...

Venter berjalan tergesa tanpa memperdulikan orang orang yang menyapanya dengan sopan.

Brakk'

Nick terperanjat dari tempat yang ia duduki. Ia mendengus kesal. "Berapa kali aku bilang padamu! Kau lembut sedikit membuka pintu. Aku bisa terkena serangan jantung!" ucap nya.

Venter mengangkat bahunya acuh. "Apa yang kau dapat?" tanyanya tanpa basa basi.

Nick menggeleng. "Wajahnya di cctv tidak terlalu terlihat dan sedikit buram. Aku tidak bisa mengidentifikasi wajahnya," ucapnya.

Venter memukul meja di depannya. Apa lagi lagi ia gagal? Tidak bisa. Ia harus menemukan kedua anak itu sampai dapat. Hanya itu satu satunya cara agar ia bertemu dengan wanita itu.

"Kau ingin memastikan anakmu atau bukan? Atau ingin bertemu dengan wanita yang membuatmu jadi gila?" ucap Nick.

Venter menatap tajam. "Aku tidak gila!"

"Ok lalu? Apa aku harus bilang kau sedang mabuk cinta?" ucapnya Nick sambil menatap remeh.

"Aku tidak mencin--"

"Heh bodoh! Kau pikir aku buta? Sampai tidak bisa membedakan antara seorang yang jatuh cinta atau tidak? Kau sudah jatuh cinta Venter. Jangan membohongi dirimu sendiri!" ucap Nick kesal membuat Venter terdiam.

Apa dia jatuh cinta? Tidak mungkin? Kalau bukan cinta apa ini? Ia bahkan merindukan wanita itu setiap malam tanpa terlewatkan. Masih teringat jelas wajah cantik nan sayu saat itu terekam jelas di otaknya.

"Aku tau kau bingung. Tapi kau sudah jatuh hati pada wanita itu bodoh! Apa kepalamu harus aku benturkan dulu sampai kau sadar? Kau sudah menjadi gila!" Nick menggoyangkan tubuh Venter dengan frustasi.

"Apa jatuh cinta seperti ini?"

...∆∆∆...

Malam hari pun datang. Venter dan Nick mendatangi sebuah club' malam dimana teman teman bisnis mereka berada disana.

"Lupakan sejenak. Tenangkan pikiranmu. Kita pasti menemukannya," ucap Nick pada Venter.

Venter hanya diam dan berjalan masuk ke dalam club. Suara musik yang memekakkan telinga terdengar begitu keras.

"Hey Venter!"

Venter menoleh. Teryata rekan bisnis nya musuhnya dulu. "Batalkan kerja sama ini," ucap Venter pada Nick.

Nick menatap melongo. "What the fu--"

"Apa kau masih dendam tentang yang dulu Venter?" Oliver menatap Venter sambil terkekeh.

"Tidak ada urusannya yang seperti itu!" Venter menatap tajam kearah Oliver.

Oliver menggelengkan kepalanya. "Sudahlah. Lagi pula aku sudah meminta maaf atas apa yang terjadi," ucapnya.

Venter menarik kerah baju yang di gunakan Oliver. "Apa menurutmu kematian seseorang bisa kembali karena kau meminta maaf bedebah?!" rahang Venter menegang mengingat apa yang Oliver lakukan padanya.

Oliver tertawa kecil. "Hey dude. Aku hanya menyelamatkan dirimu," ucapnya.

Venter mengendurkan genggaman tangannya yang berada di kerah baju Oliver. Nick menatap heran. "Menyelamatkan apa maksudmu?" tanyanya.

Oliver melepaskan tangan Venter. "Alice memanfaatkan keuangan Venter, menggelapkan beberapa dana keuangan agar di kelola oleh keluarganya. mengambil banyak hak orang lain yang Venter perjuangkan dengan diam diam," ucapnya.

"Aku tidak bermaksud untuk membunuhnya. Saat itu ia ketahuan olehku dan menjadi panik karena aku melihat Alice berusaha meracunimu dengan minuman yang dibuatnya. Tidak sengaja terpeleset dan terjatuh dari tangga. Dan waktu itu kau lewat dan melihatku. tanpa mendengar penjelasan ku kau menghajarku hingga beberapa tulang rusukku patah dan koma," ucap Oliver membuat Venter termenung.

Oliver memukul pundak Venter. "Aku tidak mempermasalahkan kau yang membuatku koma. Bukannya mendapat ucapan terima kasih tapi kau malah membuatku masuk rumah sakit Venter!" ucapnya sambil mendengus.

...∆∆∆...

...TBC...

Terpopuler

Comments

yuning

yuning

bagus ceritanya

2024-04-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!