Nick duduk sambil menahan kantuk saat dirinya berada di ruangan rapat. Venter memperhatikan materi yang di sampaikan dengan tatapan tajamnya.
Seperti hal biasa, ruangan rapat terasa mencekam karena Venter. Bahkan suasana di sekitar nya saja begitu suram.
"Bakar dokumen itu!" ucap Venter memecahkan keheningan.
Nick menoleh, ia menghela nafas. Ini sudah kesekian kalinya dokumen itu tidak di anggap oleh Venter karena kesalahan yang sedikit saja.
"Dasar maniac kerja!" teriak Nick dalam hati.
"Baiklah sudah cukup sampai disini rapat yang di sampaikan. Buat kembali dokumen yang di minta jangan sampai melakukan kesalahan lagi," ucap Nick membuat Venter menoleh.
Banyak orang di ruang rapat menatap Nick dengan kelegaan. "Silahkan kembali ke tempat kalian," ucap Nick.
Mereka pun dengan cepat meninggalkan ruangan rapat tanpa menoleh kebelakang takut jika menoleh kepala mereka akan di penggal.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Venter.
Nick mengangkat bahunya acuh. "Kalau kau lanjutkan aku tidak yakin masih ada yang tahan bekerja disini, karena beberapa karyawan bahkan sebagian kau pecat," ucapnya.
Venter mendengus. "Kalau kau mengoceh lebih baik kau keluar," ucapnya.
Nick mencibir. "Aku akan membuka lamaran pekerjaan. Jika di biarkan perusahaan akan kosong seperti tempat hantu," ucapnya sambil keluar dari ruangan rapat meninggalkan Venter sendiri di dalamnya.
...∆∆∆...
Vee tampak sibuk menyuapi anak kembarnya karena hari ini ia tidak berdagang sementara. Bahan makanan yang ingin di buat habis dan Vee harus belanja.
"Mom. Seperti apa Daddy?" tanya Alvaro dengan mulut penuh dengan makanan.
Kegiatan Vee terhenti mendengar pertanyaan Alvaro. "Ah itu, Daddy kalian sangat tampan," ucapnya.
"Apa seperti aku?" tanya Alvaro.
"Pastinya seperti aku," celetuk Alano.
"Lalu dimana Daddy? Aku ingin bertemu dengan Daddy," ucap Alvaro namun Alano menyikutnya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Alano.
Alvaro menatap Vee yang terdiam dan termenung. "Mom," panggilnya.
Vee tersentak. "Yes son? Daddy mu sedang bekerja sayang," ucapnya.
"Apa aku bisa bertemu dengan Daddy?" tanya Alvaro dengan pelan sambil memperhatikan mimik wajah Vee.
Vee mengangguk. "Kau dan kembaranmu akan bertemu nanti," ucapnya.
"Kapan itu?" tanya Alano. Vee mengusap rambut Alano dengan pelan.
"Hanya waktu yang menjawab sayang,"
...∆∆∆...
Brakk'
Nick yang mendengar suara benda jatuh menoleh kearah pintu ruangan Venter, ia pun bergegas masuk.
"Ada ap--"
Nick terdiam saat melihat Venter dengan wajah memerah dan rahang yang mengetat. Nick memperhatikan objek yang ada di depannya. Ia pun menghela nafas pantas saja Venter murka.
"Oh damn!" umpat Nick dalam hati.
"Bawa wanita sialan itu keluar! Kalau perlu hancurkan!" ucap Venter. Ia menunjuk kearah wanita setengah telanjang di hadapannya yang jatuh tersungkur karena ia memukulnya dengan kuat.
Nick hanya mengangguk, ia pun membawa wanita tersebut keluar dari ruangan Venter.
"Sialan!" Venter mengusap wajahnya gusar. Kenapa dari beberapa pendaftar pekerjaan tidak ada yang waras sedikit pun dan itu hanya satu atau dua orang? Ini gila!
Cklek'
Nick kembali masuk sambil membawakan segelas kopi untuk Venter. "Tenangkan dirimu," ucapnya.
"Kalau kau jadi aku pasti akan berbuat seperti itu juga," ucap Venter terduduk kesal.
Nick terkekeh. Memangnya siapa yang akan melewatkan kesempatan untuk menggoda pewaris tunggal perusahaan no 1? Mereka semua pasti akan tergoda melihat pahatan sempurna tuhan di depannya ini.
"Yah kau bisa membanggakan gen sempurna mu itu," ucap Nick.
Venter bangun dari duduknya. Ia lebih baik keluar dari perusahaan nya dulu. Dari pada dirinya membakar gedung beserta isinya karena otaknya mendidih.
"Kau mau kemana?" tanya Nick.
"Mencari es batu," balas Venter membuat Nick menatap aneh.
"Aku keluar bodoh! Otakku sebentar lagi akan meledak jika berlama lama disini!!"
...∆∆∆...
Vee sedang berjalan di temani anak kembarnya Alvaro dan Alano. Ia harus berbelanja untuk berjualan besok.
"Mom bisakah aku mendapatkan permen?" tanya Alvaro, Vee membalasnya dengan anggukan.
"Jangan terlalu banyak memakannya, gigimu bisa sakit," ucap Vee.
Alvaro bersorak gembira sedangkan Alano hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd kembarannya itu.
Vee berhenti di toko yang ia datangi. "Tunggu sebentar sayang. Mommy harus memilih barang yang mau di beli," ucapnya pada kedua anaknya.
"Aye aye captain?" Alvaro teriak sambil memberi hormat.
Alano memukul kepala Alvaro. "Kau berisik!" ucapnya.
Alvaro menyenggol Alano. "Apa?" tanya Alano.
"Bukankah itu paman yang waktu itu membantu kita?" tanya Alvaro berbisik.
Alano menatap kearah dimana Alvaro menunjuk. "Benar itu paman tampan waktu itu," ucap Alano.
"Tapi bukan kah paman itu terlihat mirip seperti kita?" tanya Alvaro. "Ayo kita kesana!" ucapnya sambil menarik tangan Alano.
Vee menatap anaknya yang berlari menjauh. "Astaga Alano Alvaro!" teriaknya. Ia pun mengejar anak kembarnya itu.
Vee berhasil menarik tangan anak kembarnya . "Kalian berdua--"
"Oh God. Akhirnya aku menemukanmu," ucap seseorang yang berada di depannya dengan suara yang berat.
Vee mendongakkan kepalanya dan tertegun. ia terdiam di tempatnya berusaha memahami apa yang terjadi di depannya.
"I got you girl!"
Katakan kalau ini adalah mimpi?
...∆∆∆...
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
yuning
akhirnya
2024-04-30
3
☠ᴳᴿ🐅ɴᴇ𝐀⃝🥀⍣⃝ꉣꉣ🥑⃟🔰π¹¹
hore ketemu
2024-01-21
1
Anonymous
akhirnya ketemu
2024-01-09
1