“Tuan Xiaoba kau disini”
“Ya, apa aku mengangu latihan kalian?”
“Tentu saja tidak. Semuanya sapalah, ini dermawan kita tuan Xiaoba”, ucap Bufan yang memperkenalkan Xiaoba dengan bangganya.
“Apakah dia tabib suci itu?”, komentar salah satu murid yang tidak lain adalah anggota keluarga tabib Nam. Tentu ia mendapatkan informasi itu dari tabib Nam yang merupakan kakeknya. Lou Haru, merupakan tuan muda ketujuh dari keluarga Lou yang mau menerima saran dari sang kakek untuk memasuki sekte terbelakang dari kerajan Xilan itu.
“Sepertinya begitu”, komentar murid lain yang juga mendengar rumor bahwa dalam sekte ada seorang tamu dermawan yang telah menyelamatkan tetua ke lima dari maut kala itu.
“Ehemm, apa kalian tidak berniat untuk menyapa tuan muda Xiaoba?” ucap Bufan yang menyadari mereka untuk segera bersifat sopan dan jangan sampai menyinggung tamu kehormatan sekte itu.
“Ah, salam tuan muda Xiaoba”, ucap para murid yang sadar akan situasi saat itu.
Xiaoba yang terus memperhatikan mereka sedikit canggung karena sikap penuh hormat dan kewaspadaan itu.
“Baiklah kalian lanjut saja latihannya, aku ingin keluar dari sekte untuk melihat-lihat”, ucap Xiaoba yang tidak mau menganggu latihan para bocah ini, apa lagi dengan tatapan mata yang penuh semngat dari para peserta pelatihan itu.
“Apa tuan Xiaoba ingin turun gunung?”, tanya Bufan yang hendak tau kemana Xiaoba ingin pergi dan tentu ia tidak ingin Xiaoba pergi sendiri.
Saat ini Xiaoba yang menjadi tamu kehormatan sekte mereka telah menjadi buah bibir dalam masyarakat kerajaan Xilan oleh karenanya bagaimana bentuk pelayanan yang diterima Xiaoba akan mencerminkan penting tidaknya tamu tersebut, dan hal itu untuk memperlihatkan seberapa bagus atau buruknya sebuah sekte memperlakukan tamunya.
Dengan alasan demikian Bufan tidak ingin Xiaoba turun gunung sendirian, namun Xiaoba sendiri merasa terbebani jika ia diasawi atau diikuti oleh orang lain karena dia sendiri adalah anak yang bebas dari pengawasan keluarganya dari ibu kota kekaisaran itu.
“Ya, aku cukup penasaran akan ibu kota kerajaan Xilan ini”, ucap Xiaoba yang menyadari tujuan dari Bufan.
“Kalua begitu tuan tunggu sebentar, saya akan panggilkan Xufu dan Xufa untuk menemani tuan turun gunung”
“Tidak, tidak perlu. Aku sendiri saja”
“Tidak bisa tuan, biarkan mereka yang memandu tuan. Karena ini merupakan kehormatan bagi sekte kami”, ucap Bufan dengan maksud lain.
Tentu Xiaoba mengerti kearah mana perkataan Bufan itu hingga ia tidak bisa menolaknya. Setelah beberapa saat Xufa dan Xufu pun berkumpul yang juga di ikuti oleh Anna dan beberapa murid terbaik dari sekte yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Hal itu justru membuat Xiaoba semakin terbebani. Ia yang awalnya ingin pergi dengan santai dan mencoba melihat-lihat hal yang bagus dan menarik dari ibu kota kerajaan Xilan itu pun akan terhalangi jika ia pergi bergerombolan begini.
“EHh, apa mereka semua akan ikut dengan ku?”
“Ya, kami semua sudah siap”, ucap mereka tanpa beban. Bagi sebagaian dari mereka merasa bangga jika mereka dapat kesempatan untuk melayani orang dermawan yang menjadi tamu kehormatan sekte ini, namun tidak dengan Xiaoba sendiri.
“Maaf, tapi aku tidak bisa pergi jika terlalu ramai begini”, ucap Xiaoba yang memandangi wajah Bufan memohon bantuan.
Melihat ketidak nyamanan dari Xiaoba itu Bufan pun memilih beberapa orang saja yaitu Anna, Xufa, Xufu dan tiga murid pilihan yang akan menemani Xiaoba untuk menelusuri ibu kota kerajaan itu. Setelah keputusan itu di buat beberapa dari murid yang awalnya antusias itu pun tanpak kecewa kerena tidak bisa mengawali Xiaoba.
Setelah beberapa saat Xiaoba dan tiga gadis ini pun mulai menuruni gunung menuju ibu kota kekaisaran mengunakan artefak terbang berbentuk daun milik tetua ketujuh.
“Ini kah ibu kota kerajaan Xilan?”, ucap Xiaoba yang melihat bahwa ibu kota yang mereka sebut itu justru terlihat seperti sebuah desa di kekaisaran saja.
Pemandangan yang ada disana sangat berbeda dengan ibu kota kekaisarain yang meriah dan dipenuhi dengan berbagai hal menarik yang akan di kunjungi dari berbagai kerajaan. Mungkin ini lah yang disebut tingkatan dari kerajaan yang sesungguhnya. Semakin besar kerajaan tersebut semakin besar pula pusat kotanyan dan semakin berkualiatas pula perlengkapannya baik dari sarana maupun prasarananya.
“ya tuan, inilah ibu kota kerajaan Xilan. Sangat berbeda dengan ibu kota kerajaan yang mengah itu”, ucap Xufu dengan polosnya.
Selanjutnya mereka pergi kearah pasar untuk melihat-lihat hal yang menarik yang ada disana, perjalanan yang awalnya menyenangkan itu berubah menjadi hal yang tak menyenangkan ketika Xiaoba bertemu dengan pangeran satu-satunya kerajaan Xilan yang tidak mendapat pengakuan rakyat untuk menjadi putra mahkota.
Bukan tanpa alasan ia tak mendapat pengakuan baik dari raja mau pun rakyatnya, hal itu lantaran bakat kultivasinya yang sangat rendah. Sejak ia mencapai tingkat prajurit beladiri level 8 ia tidak pernah lagi menerobos tingkat, sementara sang adik perempuan yang lebih muda dua tahun darinya kini telah berada di tingkat pendekar bela diri level 5.
“Apa yang kau lakukan”, ucap sang pangeran yang marah pada salah satu tuan muda yang merebut barang miliknya.
Xiaoba yang baru saja keluar dari salah satu paviliun obat yang ada di ibu kota kerajaan itu pun teralihkan dari tujuannya karena melihat seorang bocah yang kira-kira berumur 10 tahun tengah di ganggu oleh sekelompok remaja dan tentu dari pakaian mereka, terlihat bahwa mereka adalah kumpulan anak-anak usil dari keluarga-keluarga terhormat yang ada di kota itu.
Setelah memperhatikan dengan seksama betapa terkejutnya Xiaoba yang menyadari siapa sosok bocah sepuluh tahun itu yang tak lain adalah adik sepupunya. Ia baru teringat bahwa salah satu dari bibinya saat itu menikah ke sebuah kerajaan kecil yang ia lupa akan nama dari kerajaan itu.
Namun ia mengenali bocah tersebut dari liontin milik sang bibi yang tergantung pada baju bocah itu, tentu ia teringat kabar dari sang bibi beberapa tahun yang lalu bahwa ia telah melahirkan anak laki-laki yang kira-kira umur mereka saat ini sama.
“Barang ini aku menginginkannya”, ucap salah satu dari penganggu ini.
“Tapi, aku sudah membayar untuk itu!”
“Pangeran tak berguna sepertimu tidak pantas memiliki Kumis kucing yang berharga ini”
“Itu benar, apa yang akan kau lakukan pada ramuan ini?”
“Kau ingin berendam atau memakannya?”
“Dengan bakatmu itu, percuma kau mengunakan ramuan berharga. Itu tidak akan membantumu”
Hahahaaha
Begitulah celoteh orang-orang itu, namun tak ada yang mau membantu sang pangeran lantaran orang-orang disana tak peduli pada pangeran yang dicap sebagai sampah pada generisinya saat ini terlebih lagi salah satu dari mereka memiliki kultivasi pendekar level 8 dari sekte cahaya yang merupakan sekte terkuat di kerajaan Xilan saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments