“Terimakasih tuan muda”
“Bukankah tadi kau mengatakan aku saudaramu, lalu kenapa sungkan begini?!”, ucap Xiaoba yang melihat perubahan sikap mereka yang tanpak takut akan dirinya itu. Mereka semua semakin takut akan siapa Xiaoba ini, bagaimana ia memiliki pelindung yang tingkat dan posisi jelas mereka tidak di ketahui.
“Sebenarnya ada masalah apa kalian dengan keluarga Sheng itu?”
“Sebelumnya kami pergi ke kota kekaisaran untuk mendapatkan peruntungnan disana, tapi siapa sangka tuan muda Sheng tertarik pada Xufu dan Xufa, bahkan mereka teleh melukai bibi kami hingga lumpuh”, ucap Bufan sambil menunjukan ke wanita yang sudah tergeletak di tanah tanpa daya itu.
Padahal wanita itu adalah master yang melindungi mereka dalam perjalanan ke kota kekaisaran sebelumnya, namun keluarga Sheng yang keji itu melumpuhkan kultivasinya hingga ia lumpuh total begitu.
“Sebab itu ia selalu berada dalam tandu sebelumnya?”
“Iya, untuk melindungi Xufu dan Xufa ia mengalami ini semua”
Agrhhh
“Aku bersumpah, aku pasti akan membalaskan penghinaan ini”, ucap Bufan yang sakit hati atas apa yang telah di lakukan oleh keluarga Sheng berulang kali pada mereka saat ini. Terlepas dari itu semua, Xiaoba semakin takjub akan anggota sekte ini, mereka yang penuh beban itu masih saja mau membantu Xioba waktu itu, jika orang lain mungkin Xioba sudah diabaikan begitu saja.
“Sudahlah mari kita bahas sambil berjalan pulang saja, tidak baik berlama-lama disini”, ucap tetua ketiga itu, kemudian mereka kembali dengan membawa barang-barang yang masih tersisa saja. Dalam perjalanan mereka terus menatap Xiaoba dengan takjubnya terutama Xufu dan Xufa, mereka benar-benar berterimakasih pada Xiaoba berulang kali.
“Tapi saudara, siapa orang-orang yang telah menolong kita tadi?”
“Itu benar, apa mereka anggota keluargamu tuan Xioaba?”, tanya Xufu yang sangat kepo itu, entah kenapa Xiaoba ada perasaan nyaman terhadap gadis ini. Ia malah teringat pada adik kecilnya Rufu yang selalu menghantui Xioba dengan berbagai pertanyaan kala itu, kemudian ia terkekeh kecil atas tingkah gadis ini.
“Kenapa tuan muda tertawa?”
“Kau mengingatkan aku pada seseorang"
“Siapa?”
“Hemp, jangan mengalihkan. Siapa orang yang menolong kita berusan?”
“Aku juga tidak tahu siapa mereka”
“Ha??”
“Aku hanya merasakan mereka terus mengikuti kita, tapi mereka tidak ada niat membunuh. Jadi karena itu aku mencoba peruntungan saja”
“Apa?”
“Iya, jika mereka mengikuti kalian maka mereka akan membantu saat kita di serang tadi tapi aku tidak melihat mereka bergerak”
“Dengan kata lain kau berpikir mereka mengikutimu?”
“Ya, jika mereka benar-benar di utus untuk mengikutiku maka mereka hanya akan melindungiku. Dan benar saja mereka datang untukku, tapi aku tidak tahu siapa yang memerintahkan mereka karena tidak ada yang aku kenal dari mereka”
Ucap Xioba yang juga merasa heren akan siap penolongnya itu, Xioba yakin masalah mereka datang untuk mengawasi dirinya itu tidak sesederhana kelihatannya. Tapi untuk sekarang ia belum bisa mencari tahu kebenaran itu, karena ia bulum sanggup.
“Hem, apa pun itu kami tetap berterima kasih padamu”
Mereka pun terus berjalan meninggalkan huntan agar terhidar dari masalah yang lainnya mengingat mereka kini juga dalam keadaan terluka. Tapi tanpa Xiaoba sadari orang-orang tadi terus mengawasinya hingga sampai ke perbatasan sekte.
“Tidak mengecewakan menjadi anak dari mereka berdua”
“Ya, bahkan ia berani mengancam kita”
“Aku tidak sabar untuk melihat perkembangannya”
“Hem, kau benar”
“Tapi kita hanya bisa sampai disini saja”
“Kau benar, jika kita terus mengikutinya kita hanya akan membantunya seperti tadi”
“Tapi aku penasaran bagaiman ia mengatuhi keberadaan kita hanya selevel itu?”, ucap mereka yang kemudian pergi meninggalkan Xiaoba, kini Xiaoba sudah tiba di sekte Bambu Hijau sungguh betapa terkejutnya ia ketika melihat keadaan sekte yang terbelakang ini, ini tidak bisa disebut sekte pikir Xiaoba.
“Pimpinan sekte”, ucap serentak para rombongan yang baru tiba di gerbang sekte dan sudah di sambut oleh beberapa orang itu. Sungguh menyedihkan pasukan yang baru kembali ini, mereka semu terluka dan menderita begitu turun gunung, kepela sekte sangat merasa bersalah ketika melihat tetua kelima yang merupakan adik dari istrinya itu menjadi orang cacat begini.
“Ini semua salahku yang tak berguna ini, seharusnya aku yang pergi dari sini bukan kalian”
“Patriarki ini bukan salahmu, kami saja yang lemah”
Hiks.. hiks.
“Adikku, malang sekali nasibmu”
Hu..Hu..huu..
Tangis dari ibu Bufan yang sedih melihat kondisi sang adik yang cacat bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun itu, kemudian mereka membawa orang-orang yang terluka ini kedalam sekte untuk di obati. Setelahnya, Bufan menjelaskan semuanya pada sang ayah dan beberapa tetua yang ada disana.
“Jadi ini Xiaoba?"
“Ya, salam kenal pimpinan sekte dan para tetua”
“Terimaksih pahlawan telah melindungi anggota sekte kami”
“Tidak perlu sungkan begitu, aku dan Bufan adalah saudara”, ucap Xiaoba yang membuat orang-orang itu puas, sungguh betapa terhormatnya sikap Xiaoba ini. Ia memiliki pandangan yang luas, berbelas kasihan dan tidak angkuh layaknya tuan muda dari keluarga terpandang lainnya.
Setelah berbicara panjang lebar, Bufan membawa Xiaoba berkeliling sekte. Sebenarnya sekte ini cukup luas tapi sumber daya mereka yang lemah sehingga tidak bisa menampung banyak murid untuk berlatih, karena itu pula tidak ada yang mau memasuki sekte ini.
“Malam ini kau beristirahatlah di tempatku, besok akan di perbaiki tempat khusus untukmu”
“Tidak perlu merepotkan begitu”
“Jangan berbicara begitu, kau adalah penolong kami, jadi kami harus memperlakukanmu dengan baik”
“Hais..”
“Aku tidak mengangu lagi, aku pamit dulu”
“Baiklah”. Setelahnya Bufan pun pergi meninggalkan Xioba untuk beristirahat pikirnya, namun Xiaoba tidak bisa beristirahat ia malah berkultivasi lagi.
Ia benar-benar dapat pelajaran kali ini, ia sedikit berubah baik dari watak mau pun sikap, ia tidak mau menjadi orang lemah yang bisa membuat dirinya tidak bisa melawan hingga berada pada titik terlemahnya seperti tadi. Lebih tepatnya ia tidak mau di ejek lagi, cukup beberapa orang tua tadi yang mengatakan ia lemah tak berdaya.
“Aku harsu berlatih lebih keras lagi, kali ini aku juga harus menguasai pedang naga secepatnya”
Setelahnya Xiaoba melatih pedang naga di belakang gunung sekte, tak lupa ia menulis di pintu kamar kalau ia sedang melakukan pelatihan tertutup.
Saghh.. saghhh..
Srekkk
Trakk
“Auman pedang naga”. Xiaoba terus berlatih di belakang gunung itu, tanpa ia sadari kini ia sudah berada di sana selama 15 hari dan tentu ia juga telah membuahkan hasil sebab ia berlatih di dukung oleh beberapa harta yang di berikan keluarganya di tambah lagi harta yang ia panen sendiri di hutan terlarang itu.
Huff.. huff..
“Aku benar-benar tidak bisa bergerak lagi, aku harus mamakan ramuan ini lagi”. Kemudian ia pun memakan ramuan yang di butuhkan seusai dengan apa yang ada dalam kamus ramuan yang telah menyatu dalam lautan jiwanya itu.
Agrhh..
“Ini benar-benar pahit”, ucap Xiaoba yang sudah tidak tahan lagi harus memakan mentah ramuan obat-obatan itu, bukan ia tidak ingin menjadi peracik pil hanya saja, ia tidak memiliki inti api atau pun tungku obat, ia sedikit menyesal tidak mengambil salah satu tungku yang ada di kediamannya kala itu.
“Tidak terasa sudah lima belas hari berlalu, aku harus keluar dari sini”, ucap Xiaoba yang sadar jika ia telah lama berlatih, kini Xiaoba telah sampai pada ranah guru level 5, tapi ia menekan auranya di ranah pendekar level 1 sebab ia tidak ingin membuat orang-orang di sekte ini terkejut.
“Ah, melatih pedang naga itu terlalu banyak memakan energi, bahkan ramuanku mulai terkuras”, ucapnya ketika melihat jumlah ramuan yang ia miliki hanya tersisa 10 % lagi, kini ia sedikit menyesal karena tidak memetik habis setiap ramuan yang ada di area misterius kala itu, tapi itu juga belum tentu berguna untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments