Elliot berjalan menuju koridor rumah sakit. Tetapi, ketika tiba di depan ruangan Lucas. Elliot terkejut yang melihat Reza berada di sana sembari melipatkan kedua tangannya di dada. Elliot tersenyum melihat raut wajah anak kecil itu selain dingin dia juga sedikit menampilkan raut wajah yang tegas. Tetapi, masih terlihat begitu menggemaskan.
"Adik kecil sedang apa kamu di sini?"
"Reza!"
"Haah?"
"Reza, namaku Reza. Bukan adik kecil,"Reza berkata sembari menoleh ke arah Elliot dengan tatapan datarnya bak selancar itu.
Akan tetapi, hal itu justru membuat Elliot tertawa renyah yang membuat Reza semakin menatapnya dengan wajah kesal.
"Maaf-maaf. Oke, Reza sedang apa kamu di sini? Apa kamu mencari Bundamu?"
Reza tak menjawab, lalu berbalik dan berdiri tepat di depan Elliot. Melihat tingginya Reza yang tak sama dengannya, lantas Elliot berjongkok hingga menyamakan tingginya dengan Reza.
"Adik kecil," Elliot langsung menggembungkan kedua pipinya ketika melihat ekspresi Reza yang sedang marah ketika dipanggil adik kecil.
"Oke, maaf. Reza kenapa kamu di sini? Bagaimana kalau Bunda mencarimu?" Elliot masih berusaha untuk bertanya tentang tujuan Reza yang berada di depan ruangan Lucas.
"Jauhi Bundaku, aku tak ingin orang sepertimu mendekatinya. Apalagi, mencoba mengambil keuntungan darinya!" Reza berkata dengan tegas sembari menunjuk ke arah wajah Elliot.
'Anak ini tak seperti anak lain yang lucu dan bodoh. Dia begitu pintar dan juga tahu cara melindungi orang tuanya. Jika benar dia anak Tuan. Maka Tuan sangat beruntung,'batin Elliot.
"Baiklah, saya sudah paham. Apa perlu saya mengantar kamu ketempat orang tuamu?"
"Tidak perlu! Aku sudah mandiri sejak kecil. Jadi, Anda simpan saja tenaga Anda yang mungkin Anda lebih membutuhkannya,"ujar Reza dan berlalu pergi dari hadapan Elliot dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana sekolahnya.
Elliot melihat Reza dengan senyuman di wajahnya. Anak sekecil itu memiliki pemikiran yang dewasa. Bahkan, dia tak pernah takut dengan orang asing manapun. Elliot langsung masuk ke dalam ruangan Lucas dan ternyata Lucas sudah bangun saat ini sedang duduk di atas hospital bed-nya.
"Habis dari mana kamu?"Lucas bertanya dengan raut wajah yang datar membuat Elliot mengerutkan keningnya.
'Bapak sama anak sama-sama dingin kayak es balok,' batin Elliot dan menghampiri Lucas
"Aku baru saja bertemu dengan dokter untuk membahas tentang masalah kesehatan, Tuan. Sepertinya perlu di CT scan kembali untuk memastikan jika gumpalan darah di kepala tak semakin memburuk,"ujar Elliot yang berbohong karena Lucas paling membenci orang yang melakukan sesuatu diluar perintahnya. Apalagi, tentang tes DNA Lucas sudah pasti tak setuju.
"Elliot, berikan ipad-ku. Aku ingin melihat jadwal ku besok,"ucap Lucas mengulurkan tangannya ke arah Elliot. Pria itu memberikan iPad untuk Lucas.
"Tuan, meeting untuk besok sudah saya undurkan. Anda bisa melakukan CT scan untuk nanti malam, lalu bisa beristirahat di sini sampai besok sore."Imbuh Elliot, Lucas hanya mengangguk sekilas dan menatap layar iPad yang ada di tangannya.
Hari ini Lucas terpaksa bermalam di rumah sakit demi menunggu jadwal pemeriksaan CT scan-nya. Sedangkan, di kamar lain yang tak jauh dari kamar Lucas ada Aisyah yang sedang menjaga sang anak yang masih berbaring lemah di atas ranjang pasien. Rezi, terlihat begitu bersusah payah untuk bernapas. Harusnya, besok adalah jadwalnya untuk menerima transfusi darah. Tetapi, dia malah tak menerimanya yang membuat Rezi dalam kondisi yang berbahaya untuk saat ini.
Reza yang melihat kecemasan dari raut wajah Aisyah. Membuat bocah ini duduk tak tenang tidur pun tak nyenyak. Reza bolak balik tidur di atas sofa tetapi tak bisa memejamkan matanya memikirkan sang adik dan Bundanya.
'Semoga saja tes DNA itu segera keluar. Jika DNA Rezi dan Pria asing itu cocok, maka aku akan memaafkan kesalahannya yang pernah meninggalkan kami. Asal dia mau mendonorkan darahnya untuk Rezi, maka semua kesalahannya bisa ku maafkan!' batin Reza yang pada akhirnya mencoba memejamkan matanya kembali dan berlayar di dalam mimpi.
Suara denting yang berdengung di daun telinga Reza membuat sang empunya bangun dari tidurnya. Reza merenggangkan otot serta menguap sebentar. Tetapi, terkejut ketika melihat beberapa dokter dan juga perawat yang berada di dalam ruangan Rezi membuat Reza beranjak turun dari sofa. Di sisi ranjang ada Aisyah yang menunggu cemas, serta memeluk tubuh dengan kedua tangannya berharap sang anak baik-baik saja.
"Dok, bagaimana?" Aisyah bertanya dengan suara yang lemah.
"Rezi membutuhkan segera pendonor. Oksigen hanya bisa membantunya sebentar, tetapi tak bisa membuatnya bertahan begitu lama,"jawab Dokter Anna, dokter anak sebagai pendamping Dokter Kevin. Mendengar hal itu Aisyah semakin cemas.
"Bunda are you oke?"Reza menarik ujung jas formal yang dikenakan Aisyah sejak kemarin. Bahkan, dia belom sempat berganti pakaian karena mencemaskan sang anak.
"I'm oke. But...."Aisyah melirik ke arah Rezi yang berbaring di atas ranjang dengan keadaan yang begitu sulit bernapas. Padahal, dokter telah memasang oksigen untuknya.
"Bunda jangan cemas, nanti kalau Rezi lihat dia akan sedih. Bunda harus tersenyum di depan Rezi," ucap Reza sembari memegang kedua pipi Aisyah yang membuat wanita ini segera memeluk sang anak. Anak yang selalu menguatkan dirinya, yang selalu memberi semangat untuknya.
Di dalam ruangan Dokter Kevin. Elliot dan Dokter Kevin sama-sama cemas menunggu hasil DNA yang saat ini ada di tangan Dokter Kevin. Dokter Kevin sangat berharap DNA mereka cocok agar bisa melakukan transfusi darah untuk menolong Rezi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Firman Firman
lnjut athour 💪💪
2024-04-15
0
Neulis Saja
cocoklah karena dia anak dan bapak
2024-02-23
4
Ida Lailamajenun
kereen 👍👍
2024-02-13
1