Sebulan bukanlah waktu yang singkat untuk Aisyah yang hampir setiap hari harus bertemu dengan Lucas, sang mantan suaminya. Sebulan ini keduanya sering bertemu, sehingga membuat Aisyah berharap banyak pada Lucas yang terus berusaha untuk menyakinkan pria itu jika dia adalah istrinya.
Namun, Lucas masih tetap kekeh tak mau mengakui Aisyah. Seperti pagi ini Aisyah yang tak bisa menahan diri memaksa Lucas untuk mengakui dirinya dan anak-anaknya. Terlebih lagi, Rezi diam-diam selalu memaksa Aisyah untuk meminta wanita itu membawa dirinya ke makam sang ayah jika memang ayah mereka telah tiada.
"Tuan, apapun yang saya katakan benar adanya. Anda adalah orang yang sama yang saya kenal enam tahun yang lalu, tidak mungkin saya salah orang,"Aisyah berkata dengan suara yang sedikit memaksa. Lucas yang mendengar hal itu pun akhirnya marah.
"Selama ini saya mengakui jika kinerja kerja kamu bagus, saya menerima kamu sebagai perwakilan perusahaan PT. Angkasa. Meskipun saya sendiri tak menyukai adanya wanita di dalam perusahaan ini." Lucas berdiri dari sofa tempat dia duduk semula, lalu menatap Aisyah yang duduk di sofa lain.
"Jika kamu butuh uang, katakan saja! Mungkin aku bisa membantunya, tetapi tidak dengan melakukan trik kotor seperti ini,"lanjut Lucas dengan sinis, yang membuat Aisyah tercengang lalu ikut berdiri dari tempat duduknya.
Aisyah menatap netra Lucas dengan lekat, Lucas melirik ke arah wanita itu melihat netra Aisyah yang berkaca-kaca yang membuat Lucas mengeluarkan kedua tangannya dari saku. Lucas tak bermaksud menyinggung hati wanita ini hanya saja Aisyah terus mendesaknya untuk mengakui jika mereka berdua adalah suami-istri.
"Selama enam tahun kita berpisah, aku tak pernah menuntut sepersen pun uang darimu. Tahun ini aku bertemu lagi dengan Anda Tuan Lucas, aku sempat berpikir mungkin ini adalah jawaban atas doa-doa yang pernah ku panjatkan setelah sujudku di atas sajadah. Tetapi, nyatanya ... Aku berharap pada orang yang salah,"ucap Aisyah diakhir kalimatnya dengan pelan. Lalu, Aisyah meraih tas dan map biru yang ada di atas meja pergi meninggalkan ruangan Lucas, dengan posisi Lucas yang terdiam atas ucapan klimaks dari Aisyah barusan.
Elliot berpapasan dengan Aisyah yang baru saja keluar dari ruangan Lucas. Elliot, dapat melihat netra Aisyah yang memerah mungkin saja sedang menahan air matanya agar tak menangis di tempat itu.
"Tuan, ini dokumen yang Anda inginkan. Semuanya sudah diperiksa, memang Nona Aisyah sangat bagus dalam bekerja dapat kita andalkan untuk proyek berikutnya,"ujar Elliot, meletakkan dokumen di tangannya di atas meja kerja Lucas. Pria itu berjalan ke arah mejanya, lalu duduk di kursi kebesaran dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
"Tuan,"panggil Elliot lagi saat melihat Lucas tak merespon ucapannya barusan.
"Elliot, cari informasi mengenai anak-anak dari wanita itu. Tempat dia sekolah dan kesibukan mereka sehari-hari apa?"
Elliot menaikan alisnya ketika Lucas menyebut anak dari Aisyah.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan perintahku?"lanjut Lucas dengan tatapan sangarnya.
"Ti-tidak! Tentu saja tidak, perintah Anda akan segera saya laksanakan. Sepuluh menit lagi saya akan kembali dengan berbagai informasi dari keluarga Nona Aisyah."Elliot berkata dengan bibir yang berbentuk bulan sabit, sehingga membuat Lucas menatapnya dengan tajam.
"Saya permisi dulu, Tuan."Lanjut Elliot, ketika melihat tatapan maut dari Bos-nya itu.
"Istri? Anak? Apa yang tidak ku ketahui selamat enam tahun ini?"gumam Lucas sembari mengetuk meja kerja dengan jari jemarinya.
Di tempat lain, Aisyah baru saja kembali ke PT. Angkasa. Sebelum menemui Pak Dirsa, Aisyah lebih dulu merapikan penampilannya, serta membenarkan riasannya akibat menangis.
Aisyah mengetuk pintu ruangan Pak Dirsa lebih dulu sebelum dia masuk. Setelah mendengar jawaban dari sang pemilik ruangan, barulah Aisyah masuk. Ternyata di dalam ruangan tersebut sedang ada klien yang datang bertemu dengan Pak Dirsa.
"Pak, ini dokumen dari Hosea. Saya telah mengajukan proyek yang baru, tetapi belum ada tanggapan dari mereka," Aisyah meletakkan dokumen tersebut di atas meja Pak Dirsa.
"Kerja yang bagus, Aisyah. Kamu bisa ke ruangan HRD untuk meminta bonus bulanan kamu, bukankah kamu butuh dana untuk transfusi darah anakmu? Maka segera ke sana untuk mengambil bonusnya. Sedangkan, gajimu sudah dikirim oleh pihak perusahaan ke rekening bank-mu,"ujar Pak Dirsa, yang tersenyum ramah kepada Aisyah.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu, terima kasih."Aisyah sedikit membungkuk, sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Aisyah begitu senang setelah mendapatkan bonus dari Pak Dirsa. Setidaknya cukup untuk kebutuhan anak-anaknya dan untuk membayar uang sekolah mereka berdua. Aisyah, juga harus membayar uang les komputer Reza tingkat IT. Bahkan, saat ini Reza sendiri sudah bisa menguasai banyak jaringan rahasia yang biasa para hacker gunakan. Selain memiliki darah emas, Reza juga memiliki otak yang genius dibanding anak seusianya yang lain. Rezi juga tak kalah hebat, hanya saja Rezi lebih lambat dari Reza.
Jam 16:45, sore. Aisyah telah kembali ke rumahnya. Reza hari ini dijemput oleh Dokter Kevin di tempat lesnya. Sehingga begitu Aisyah tiba di rumah dia melihat Dokter Kevin yang duduk di teras rumahnya.
"Assalamualaikum,"ucap Aisyah pelan, begitu wanita hijab ini tiba di depan dua orang yang sedang sibuk bermain game.
"Waalaikumsalam,"jawab Dokter Kevin, lalu berdiri menyambut kepulangan Aisyah. Pria itu tersenyum dan dibalas senyuman ramah dari Aisyah.
"Terima kasih, hari ini dokter sudah menjemput Reza lagi, di tempat lesnya. Padahal, dokter tak perlu repot-repot. Aku bisa menjemputnya ketika pulang dari kantor,"pungkas Aisyah dengan penolakan halus agar tak menyinggung Dokter Kevin.
"Tidak masalah, kebetulan saya lewat dari sana."Dokter Kevin, berkata. Hanya satu harapan Dokter Kevin yang sudah tertunda selama enam tahun.
Namun, sampai saat ini Aisyah belum mampu membuka hatinya untuk siapapun pria yang datang kepadanya. Apalagi, sekarang kemunculan Lucas di hidup Aisyah dan anak-anaknya mungkin takkan ada kesempatan untuk pria lain bisa memiliki Aisyah dan mempersunting wanita ini.
"Tuan, ini informasi lain tentang anak-anak dari Nona Aisyah. Ini juga alamat sekolahnya dan alamat rumah. Kalau Tuan mau, aku bisa memberikan informasi rekening bank mereka untuk Anda,"ujar Elliot. Tanpa melihat wajah Lucas yang sudah siap ingin memakan Elliot hidup-hidup.
"Saya permisi dulu,"ucap Elliot ketika melihat tatapan maut dari Bos-nya. Begitu Elliot keluar, Lucas membaca semua informasi tentang Aisyah dan anak-anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Firman Firman
lanjut
2024-04-15
0
Alexandra Juliana
Apakah Aisyah tdk memakai uang yg ada di tabungan yg diberikan Alex saat mengantar ke bandara?
2024-02-29
1
titiek
cerai kenapa sih. krn di awal Aisyah blg cerai berarti sebelum ilang ingatan mereka udah cerai duluan ya??
2024-02-27
3