EP 9

Ternyata Radit sangat pandai bermain monopoli, harta Ghea terkuras habis. "Kalau kalah kamu harus menuruti semua kata kata aku" Ucap Radit, Ghea menggeleng kan kepalanya tidak setuju. "Kak Radit, curang!" Sahut nya, Radit menyatukan alis nya kala dikatain curang oleh Ghea. 

"Kok curang? Kamu apaan si, ngga jelas banget"

"Sebelum memulai tadi, kak Radit harus nya kasih tahu dulu apa hukuman nya jika kalah. Jadi nya, aku tidak semangat untuk menang dan jadi kalah" Jelas nya, tentunya itu tidak masuk akal bagi Radit. "Dasar bocah" Ejek Radit, ia merapikan monopoli itu kembali ke tempat nya. 

"Intinya kamu udah kalah, jadi kamu mulai saat ini kamu harus memijat kaki aku" Ucap nya, Ghea terbelalak kaget mendengar nya. "Ngga mau! Aku ngga tukang pijit" Ucap nya, Radit duduk di sofa dengan tangan menopang wajah tampannya. 

Radit menarik pipi bagian dalam nya sambil memikirkan hal apa yang bisa ia beri kepada Ghea, "aku siap mendapatkan hukuman, tapi yang masuk akal dong" Ucap Ghea, ia sebenarnya berdebar menunggu hukuman Radit. Apa lagi pria itu terlihat sedang memikirkan secara matang, semakin membuat Ghea berdebar. 

"Lain kali aku akan mengatakan apa hukuman mu, sekarang bereskan barang-barang mu. Kita akan pindah malam ini" Ucap Radit, Ghea ingin bertanya tapi Radit sudah pergi keluar kamar. Ternyata pria itu memiliki kunci cadangan, lalu kenapa repot repot terkurung dikamar seharian tadi. 

~

Radit menuju dapur, ia mencari keberadaan sang ibu. "Ibu.." Sapa nya, Clara yang sedang mengupas buah seketika menatap kearah sang putra dengan heran. Ya bagaimana tidak, Radit bisa keluar dari kamar nya. Padahal seluruh kunci cadangan, sudah ia sembunyikan. 

"Aku punya duplikat nya, jauh sebelum menikah aku sudah menyiapkan nya" Jelas Radit tanpa menunggu sang ibu bertanya. Clara memalingkan wajahnya malas, rasanya putra nya itu sangat pintar. Mudah sekali membaca pikiran orang lain, hal itu membuat Radit sulit untuk dijahili. 

"Ibu, malam ini aku akan membawa Ghea ke Apartemen ku"

"Kenapa buru-buru? Dan kenapa harus Apartemen kamu? Kamu bisa tinggal disini, ibu dan Lovie juga tidak akan menganggu kamu"

"Bukan begitu bu, hanya saja aku ingin memiliki waktu berdua saja dengan Ghea. Biasa pengantin baru"

"Tapi.. "

"Ayolah ibu, kami ingin mandiri"rayu Radit, wajahnya seperti memelas dan memohon. Membuat Clara tidak tega menolak nya, dengan berat hati akhirnya Clara memberi restu untuk kepindahan mereka. 

Dan kini, Ghea sedang berada di Apartemen Radit. Radit duduk di sofa dengan meminum kaleng soda, dan Ghea hanya memerhatikan sekeliling Apartemen itu. 

"Itu kamar kamu, kita pisah kamar" Ucap Radit, Ghea bingung harus senang atau apa. Satu sisi, ia senang kala Radit benar-benar menepati janji untuk tidak meminta Hak nya, tapi sisi lain ia juga sedih, karna Radit benar-benar tidak ingin sekamar dengan nya. 

"Kamarnya luas, dan sangat pas untuk mu. Jika kau membutuhkan sesuatu, naik saja ke lantai atas" Ucap nya sambil menunjuk ke arah tangga. "Kamar ku ada disana" Lanjut nya, Ghea mengangguk mengerti. 

"Dan karna di Apartemen ini hanya ada kau dan aku, maka tugas membersihkan ruangan ini adalah kau"

"Kok aku?" Tanya Ghea cepat, Radit mengeryit mendengar pertanyaan itu. "Tugas seorang istri bukan?" Tanya Radit balik, astaga Ghea baru sadar akan itu. 

"Hmm.. Baiklah" Sahut nya pasrah, Ghea membawa koper nya menuju kamar yang ditunjuk Radit tadi. "Jangan lupa masak juga, aku ngga biasa makan di luar" Ucap Radit sedikit teriak. 

"Iya!!" Teriak Ghea, ia duduk dipinggir kasur dengan kesal dan wajah yang ditekuk. Ia tidak marah soal harus membersihkan Apartemen, tapi soal Radit yang memisah kamar dengannya. "Padahal kan, ngga ada perjanjian akan pisah kamar begini" Gerutu Ghea, tidak papa sebagai istri kertas pria itu. Asal Ghea terus melihat wajah tampan Radit dikala pria itu tidur, tapi naas sudah bayangan indahnya. 

Disisi lain, Radit memerhatikan kamar Ghea yang tertutup. Radit tahu jika Ghea sedang kecewa pada nya, "tapi kasihan juga dia, kalau membereskan Apartemen ini di setiap hari nya" Gumam Radit didalam hati, ia mengambil ponsel nya dimeja lalu memanggil salah satu pelayan di Mansion nya untuk membersihkan Apartemen nya. Pulang ketika pekerjaan nya sudah selesai, soal masak ia serahkan pada Ghea saja. 

Setelah selesai, Radit meletakkan ponsel nya di meja kembali. Ia sangat galau dan pusing dengan kehidupan yang sedang ia jalani, tentang apa yang terjadi saat 365 nanti habis. Bercerai, atau hal lain? Memikirkan nya membuat Radit sakit kepala, ia mengambil kunci mobil nya. Berniat mencari udara segar di luar, agar pikiran nya lebih rileks dan tidak memikirkan hal tidak penting seperti ini. 

Ghea hanya diam melihat kepergian Radit, sekarang hubungan yang sebenarnya sudah mulai terlihat. Radit yang acuh dan menganggapnya tak ada, hanya sebagai istri kertas nya saja. Padahal Ghea sangat suka berbicara dengan pria itu, sekalipun mereka hanya bertengkar terus menerus. Tapi, itu adalah kesenangan tersendiri bagi Ghea. 

Terpopuler

Comments

Lina aja

Lina aja

moga Radit sadar y klw mereka saling suka

2024-03-21

0

Nendah Wenda

Nendah Wenda

sabar Ghea mungkin dengan begitu lambat Laun Radit akan jatuh cinta

2023-12-07

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!