Keesokan harinya diruang tamu.
Saat ini baik lia maupun tristan baru saja menyelesaikan sarapannya. Namun tiba-tiba saja pria itu beranjak dari duduk nya seraya mengambil piring kosong bekas sarapan dan berjalan menuju dapur.
Malia kira, pria itu hanya akan menaruhnya di sana dan segera kembali. Namun setelah beberapa saat, tristan tidak kembali juga.
Penasaran dengan apa yg dilakukan pria itu, lia pun menghampirinya.
Terlihat disana, tristan tengah mencuci semua piring dan gelas kotor.
"loh, apa yg kakak lakukan? apa kakak tidak menginginkan untuk sembuh? Cepat letakan piring itu, biar aku saja yg mencucinya" ucap lia terkejut.
Baru saja ia hanya ingin duduk sebentar, sebelum mencuci semua piring dan mangkuk bekas sarapan, tapi tiba-tiba saja tristan mendahului.
Sesuatu yg hangat mengalir ke hati tristan dan ia juga sudah mulai terbuka dengannya. Belum lagi sifat humble lia yg membuat tristan tidak lagi merasa canggung.
Jujur saja, bagi tristan yg selama ini hidup diketentaraan, baru kali ini ia bisa dekat dengan lawan jenis.
Tentu saja bukan berarti di barak tidak ada wanita, namun tristan sendiri yg tak terlalu menanggapi mereka.
Berbeda dengan lia yg mampu menghangatkan situasi menjadi lebih kondusif. seolah ada aura positive disekelilingnya yg membuat orang menjadi lebih nyaman didekatnya.
tristan pun meletakan piring itu dan menatap sang gadis lekat yg membuat malia tidak nyaman dengan apa yg dilakukan pria itu.
Segera lia pun menanyakan alasannya.
"kenapa kakak menatap ku seperti itu?" tanyanya mengerutkan kening.
"tidak apa-apa. hanya saja luka ku sudah sembuh. Semua ini berkat perawatanmu. Terima kasih." ucap tristan tersenyum penuh kelembutan.
"Tapi ada beberapa hal yg ingin aku bicarakan. Bisakah?" lanjutnya setelah menjeda beberapa saat.
Malia menjadi lebih tidak nyaman oleh tatapan mata tristan, apalagi nada bicara pria itu yg terdengar lebih serius dari yg biasa ia dengar.
Ia mengernyit, namun tetap tenang. gadis itu yakin jika selama ini, dirinya tidak melakukan apapun yg membuat tristan curiga kecuali kecepatan pemulihan.
"apa jangan-jangan ia curiga dengan kecepatan pemulihannya?" ucap lia tersentak.
Melihat lia yg melamunkan sesuatu, tristan hanya tersenyum tipis. Ia berjalan kearah gadis itu, namun sepertinya gerakan itu membuat lia terkejut.
"apa yg kamu lakukan?" tanya lia sedikit menaikan intonasinya.
Mendengar nada bicara lia yg terdengar waspada, membuat tristan tersenyum tak berdaya. Apakah ia terlihat seperti b*j*ng*n?
"apa kau percaya padaku?" ucap tristan mengabaikan pertanyaan lia.
Percaya? Secara alami, tentu saja tidak. Apalagi mereka yg baru saja mengenal selama beberapa hari.
Tapi bukan berarti kepercayaan diantara mereka buruk. Toh, selama ini baik tristan maupun lia tidak menunjukan gelagat yg mencurigakan.
Sedangkan kondisi malia yg sering keluar untuk berbelanja juga bisa diartikan sebagai hobi. Wajar bukan, jika wanita memiliki hobi berbelanja?
lia tak menjawab, ia hanya berjalan kearah kursi dan duduk. Di ikuti tristan yg duduk di hadapannya.
"jadi apa yg ingin kakak bicarakan?" ucap lia yg bersikap jauh lebih tenang.
Ia tak ingin menduga-duga lagi. Jika tindakannya selama ini mengundang kecurigaan pria itu, maka biarlah lia menjelaskannya sejelas mungkin tanpa menyinggung sistem dan masalah transmigrasinya.
"Malia, seperti yg aku katakan kemarin, saat ini aku memegang jabatan mayor dan kapten pasukan khusus war wolf. Beberapa waktu yg lalu, aku ditugaskan dalam misi rahasia di kota busan." ucap tristan dengan ekspresi seriusnya.
"namun ketika aku dalam perjalanan kembali ke seoul setelah melaksanakan tugas itu, aku dikhianati dan beberapa pembunuh bayaran yg menyamar menyergapku. Setelah beberapa pertempuran, aku kehabisan makanan dan amunisi." lanjutnya dengan ekspresi suram.
"dengan luka-luka waktu itu ditambah dengan tidak adanya bantuan, aku sudah pasrah jika dalam waktu dekat ada kemungkinan aku tertangkap atau mungkin terbunuh"
"aku juga sudah menebak jika mereka akan memblokir jalan dan tidak akan membiarkan satu mobil pun masuk, tapi mendadak mobilmu datang dan aku sangat bersyukur."
"ini mungkin terdengar egois dan aku ingin meminta maaf karena telah melibatkanmu dalam bahaya, tapi percayalah bahwa aku tidak memiliki niat buruk terhadap penyelamatku."
tristan tidak menceritakan semuanya secara detail, situasinya begitu kritis saat itu. Tapi beruntung, tristan dapat lolos dan melarikan diri dengan membawa beberapa luka.
Hanya saja para pembunuh bayaran itu begitu keukeuh mengejarnya sehingga menyebabkan situasi dimana tristan dan lia bertemu.
Malia terkejut mendengar pengakuan tristan. Ternyata dalam beberapa hari itu, pria dihadapannya ini di ambang hidup dan mati. Namun dapat dipastikan jika lia tersentuh dengan pengakuannya tentang identitas.
Karena sedari yg gadis itu tahu tentang pasukan khusus, tidak ada dari member yg di izinkan untuk mengungkapkan jati dirinya bahkan jika itu kepada keluarga dekat.
Seandainya saja lia juga tahu jika tristan sendiri tidak benar-benar memiliki kesadaran untuk hidup dan mati demi negara.
Alasan sebenarnya ia memasuki ketentaraan adalah karena ketidaksengajaannya menyelamatkan seorang tentara.
Tentara itu melihat potensi tristan sebagai tentara. Lalu membujuknya agar ia mau mengikutinya ke barak.
Dan disinilah ia, sebagai pasukan khusus yg melakukan berbagai macam tugas khusus. Selama bertugas, tristan telah melihat banyak sisi gelap manusia dari berbagai tingkatan. Hal ini membuatnya tidak bisa mempercayai orang lain 100%.
Dalam pandangannya melayani sebagai tentara hanyalah profesi. Pria itu tidak berniat untuk bersikap patriotik.
Dia hanya akan berkorban untuk orang-orang yg ia sayangi dan menyayanginya. Diluar dari itu, tristan tidak akan perduli.
Untuk negara sendiri, sebagian dari para petinggi memiliki kesadaran untuk mengorbankan kehidupan orang lain demi mendapatkan lebih banyak manfaat dan tristan tidak menyukai pemikiran itu.
Karena itu setelah masalah ini benar-benar telah terselesaikan, tristan berencana untuk mengundurkan diri.
....
"aku mengerti alasan dibalik cepatnya penyembuhanku dikarenakan efek makanan dan minuman yg kamu berikan kepada ku." ujar tristan to the point.
Pada akhirnya tristan menyadari jika ada yg salah dengan kecepatan pemulihannya.
Meskipun ia memiliki fisik yg tangguh sehingga mampu untuk menyembuhkan lebih cepat, namun kecepatannya tidak akan secepat ini kecuali faktor eksternal terlibat.
Seperti beberapa ramuan herbal misalnya.
Hal ini membuat malia yg sedari tadi hanya menyimak tersentak, namun ia memilih diam. Menunggu kelanjutan dari apa yg akan dikatakan tristan.
"aku tidak akan menanyakan apa yg kamu berikan padaku ataupun asal dari 'sesuatu' itu. Bagaimanapun 'sesuatu' itulah yg membuat cedera ku lekas pulih." lanjutnya
"Sebagai penerima manfaat, aku akan berpura-pura tidak tahu. tetapi ada beberapa hal yg harus ku beritahu sebelum aku pergi." lanjutnya lagi.
Mendengar semua yg dikatakan pria itu, jelas lia bingung. Haruskah ia memberitahunya atau membiarkan dia terus menebak.
Atau mungkinkah tristan sedang menguji?
"lia, sebagai kapten pasukan khusus, aku telah melihat berbagai macam karakteristik manusia. ketamakan, keserakahan, kecemburuan, bahkan kebencian, aku sudah banyak berinteraksi dengan semuanya."
"alasanku mengatakan semua ini adalah agar kau selalu berhati-hati dan tidak sembarangan memberikan atau mengungkapkan 'sesuatu' itu kepada orang lain secara membabi buta." ucap tristan dengan serius.
"membabi buta? Apa maksudnya? apakah dia fikir aku senaif itu untuk memberikan jari emas yg ku punya kepada sembarang orang?" batin lia kesal.
"jika saja aku sedang tidak terburu-buru untuk mengumpulkan bahan, kau bahkan tidak akan menikmati kemewahan semacam itu" lanjutnya menggerutu.
tristan sendiri tidak menyadari perubahan raut wajah gadis dihadapannya dikarenakan lia yg pandai menyembunyikan ekspresi.
"kamu tidak akan sepenuhnya tahu isi hati manusia bukan? Jadi berjanjilah padaku jika dimasa depan, kamu tidak akan melakukan hal-hal ceroboh seperti ini lagi" lanjut tristan panjang lebar.
Saat tristan berkata tentang 'sesuatu' itu, lia telah memikirkan berbagai macam kemungkinan.
Awalnya ia berfikir jika tristan akan memaksanya untuk memberitahukan tentang obat rahasia itu kepada negara.
Atau menggunakan ini sebagai ancaman agar pria itu bisa mendapat lebih banyak, sehingga memudahkannya dalam menjalankan berbagai tugas.
Tapi apa yg dikatakan tristan selanjutnya malah membuat lia kebingungan.
Jelas dari ucapannya, pria itu tidak bermaksud untuk menyebarkan berita tentang 'sesuatu' itu.
Tapi kenapa?
Malia yg telah kehilangan cinta dan kasih sayang sejak kecil menjadi semakin tersentuh untuk sementara waktu.
Dikehidupan pertamanya, lia selalu terabaikan, mengingat banyaknya anak asuh yg harus dibesarkan panti juga karakter.
Melihat tristan yg begitu perhatian dan mengkhawatirkannya, hal ini membuat suasana hati lia menjadi kacau.
Disatu sisi ia ingin jujur tapi disisi lain ia masih harus berhati-hati.
mana yg harus ia pilih?
.
.
.
To be continue...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Rani Yulianti
hadehhh gampang banget tersentuh,ga berpendirian
2024-05-12
2
Ling Yue
Nahe, bukannya di kehidupan sebelumnya katanya dia udah tau tentang sifat manusia ya? Tapi kenapa dia gampang tersentuh? Aneh banget. Seharusnya dia lebih defensif kan? Misalnya mikir kalo ada orang yg baik tuh cuma karena dia pengen sesuatu. Tapi ini malah ada niat buat jujur? How the naiive are you..
2024-04-11
2
_cloetffny
ngapain jujur tolol, Tristan juga ga minta kalo gini kesannya lu beneran naiff cih
2024-03-15
2