"ssttt,, akkhh." terdengar suara ringisan dari mulut tristan.
"jangan banyak bergerak dulu." ucap lia dengan terburu-buru.
"saya harap anda tidak salah paham. Baru saja, saya hanya ingin memeriksa apakah ada luka lain di tubuh anda." lanjutnya sedikit canggung.
"anda memiliki terlalu banyak luka, terutama luka tembak yg ada di perut kiri bagian bawah dan lengan kiri bagian atas. Belum lagi ada beberapa luka tusukan yg lumayan parah."
"karena itu, saya ingin mengecek apakah ada cedera lain selain beberapa luka yg barusan saya sebutkan. Tapi anda keburu mencekal tangan saya." jelas lia panjang lebar.
"maaf, ini memang kebiasaan saya." ucap tristan menyesal
"tidak masalah.. Tapi luka itu perlu segera ditangani, apalagi luka tembak itu. Dan jika anda tidak keberatan, saya bisa membantu anda untuk mengeluarkannya"
"Anda seorang dokter?" tanya tristan seraya mengangkat sebelah alisnya.
"lebih tepatnya mahasiswa kedokteran tahun ke 6." jawab lia canggung.
"kurang dari 1 tahun lagi dan saya akan mendapatkan ijazah serta sertifikat dan gelar dokter" lanjutnya lagi.
"Jadi bagaimana? Apa kau tidak keberatan jika aku yg mengeluarkan peluru-peluru itu?" tanya lia menatap mata pria itu dengan binar dimatanya.
"kalau begitu mohon bantuannya." ucap tristan sambil tersenyum tipis.
Tentu saja jika itu hanya untuk mengeluarkan peluru, tristan juga bisa menyelesaikannya sendiri.
Namun melihat kepercayaan diri penolongnya, entah kenapa tristan enggan untuk berkata tidak.
"baiklah,, kalau begitu tolong tunggu sebentar, saya akan mengambil peralatannya terlebih dahulu dikamar." ucap lia yg langsung saja berlari ke kamarnya tanpa mendengar jawaban sang pasien.
Di meja ruang tamu, malia memang sudah membawa kotak peralatan medisnya. Tapi isinya hanya berupa beberapa obat, kapas, alkohol, perban, dan lain sebagainya.
Tidak ada alat bedah disana. Maka dari itu, dirinya kembali ke kamar untuk mengambil alat bedah itu.
Sebagai seorang mahasiswa ahli bedah medis, wajib hukumnya bagi lia untuk memiliki alat bedah meski tidak terlalu lengkap.
Beberapa menit kemudian..
"maaf lama menunggu." ucap lia yg datang dengan kotak medis di tangannya.
"tidak masalah." ucap tristan pelan.
"saya tidak memiliki obat bius, hanya ada obat pereda rasa sakit yg bisa anda minum setelah operasi selesai. Jadi disaat operasi,, saya harap anda dapat menahannya." jelas lia merasa bersalah.
Meski ia adalah calon dokter, tapi jika itu masalah obat-obatan, ia tidak bisa berbuat banyak.
"lakukan saja, saya masih bisa menahannya." ucap tristan tegas.
"ehmm, kalau anda mau, saya punya beberapa sapu tangan bersih. Apakah anda membutuhkannya untuk mengalihkan rasa sakit?" tanya lia lagi.
Memang beberapa sapu tangan bersih tertata rapi disamping alat bedah yg tadi lia ambil.
"terima kasih." jawab tristan.
Mendengar jawaban pria pucat itu, lia pun segera memberikan sapu tangannya kepada tristan.
Ia pun mulai mensterilkan semua alat bedah medisnya dengan alkohol. Setelahnya, lia memasang masker medis diwajahnya juga memakai sarung tangan medis.
Kecuali pakaiannya yg tidak sesuai, penampilannya saat ini benar benar terlihat seperti dokter profesional.
"kalau begitu saya akan mulai." ucap lia tegas.
Malia pun memulai semua dari luka tembak yg ada di perut bawah, karena luka itu yg paling parah dan harus cepat ditangani. Barulah setelah itu ia menjahit luka yg ada di bagian lengan kiri atas.
Beruntung cedera lain tidak separah luka tembak, sehingga lia bisa dengan cepat menanganinya.
Lia sendiri cukup kagum dengan pria yg ditolongnya ini.
Karena bahkan saat operasi pengangkatan peluru sedang berlangsung, pria itu tidak berteriak dan hanya mengertakan gigi sambil sesekali meringis juga mengepalkan tangannya.
Beberapa jam kemudian.
"selesai." ucap lia sambil menghela nafas lega.
Setelah mengeluarkan peluru itu, lia juga masih harus menjahit luka akibat bekas operasi dan beberapa luka akibat sayatan benda tajam.
lia sendiri meringis ngilu. Jika ia yg berada di posisi laki-laki itu, entah sudah berapa kali ia akan pingsan.
"tuan jung.." ucap lia namun segera dipotong oleh suara dingin tristan.
"panggil saja saya tristan, sepertinya usia kita tidak berbeda jauh." ucap tristan.
"mmm, oke." ucap lia ragu tapi tetap meng-iyakan permintaan pasiennya.
"bagaimana dengan, panggilan kak tristan? Anda tidak keberatankan jika saya memanggil mu seperti itu?" ucap lia gugup.
"lagi pula sepertinya anda juga lebih tua dari saya?" lanjutnya lagi.
"baiklah, jika itu membuatmu lebih nyaman." jawab tristan pelan.
lia tersenyum tipis, syukurlah jika pria itu tak salah paham, fikirnya.
Ia pun melihat jam dan tak terasa jika waktu sudah menunjukan pukul 03.10 pagi.
Kruyukkk kruyukkkkkk (suara perut lia yg minta di isi)
Pipinya memerah,, ia malu saat suara perutnya yg keroncongan minta di isi terdengar oleh pria itu.
Walau wajar saja jika lia lapar, belum lagi acara pertarungan tadi, ia juga masih harus menyelesaikan operasi.
Hal itu terlalu menguras energi dan mental.
"ekhem, aku akan membuat makanan. apa an,, maksudnya, apa kak tristan ingin ku buatkan juga?" tanya lia mencoba untuk tetap tenang dan melupakan rasa malunya.
"saya merepotkan anda lagi kalau begitu" jawab tristan seraya tersenyum tipis yg menambah kadar ketampanannya.
Namun kali ini lia tidak terpesona. Ia hanya menganggukan kepalanya dan langsung berjalan menuju dapur.
"apakah kak tristan memiliki alergi atau sesuatu yg tidak disukai?" tanya lia yg berhenti didepan pintu dapur.
Untungnya jarak antara ruang tamu dan dapur cukup dekat, sehingga ia tak perlu kembali atau berteriak.
"tidak ada. Saya bukan orang yg pemilih." jawab pria itu.
"tunggu sebentar kalau begitu, aku akan memasakan sesuatu untuk kita berdua." ucap lia.
Setelah beberapa saat aroma masakan pun mulai tercium dari arah dapur. Bisa tristan rasakan jika gadis penolongnya ini pintar memasak.
Tak lama lia pun keluar dari dapur sambil memegang nampan yg diatasnya terdapat buah-buahan yg sudah dipotong.
"kak, makanlah buah-buahan ini terlebih dahulu. Selain untuk makanan pembuka, buah-buahan ini juga berfungsi sebagai penambah darah alami." ucap lia sembari meletakan nampan itu.
Dilihatnya, jika nampan itu berisi buah apel, buah naga, buah pisang, serta buah jeruk.
Pihak lain tidak berbicara banyak, ia hanya mengambil beberapa buah dan langsung memakannya.
Tak lupa, lia juga memberikan air putih yg telah ia campur dengan beberapa tetes air lingquan.
Setelah ia meminumnya, tak lama tristan pun merasakan jika tubuhnya mulai relax serta rasa sakit yg ia rasakan telah mereda.
Ia mengernyit bingung.
Meski dirinya tidak bekerja dalam bidang medis, tristan tentu tahu khasiat dari buah-buahan ini.
Bahkan ia sering mencicipinya. Namun hal itu tidak akan membuat rasa sakit di tubuhnya menghilang dalam waktu singkat.
Atau mungkinkah karena air yg ia minum?
"makanan akan siap dalam beberapa menit lagi, harap tunggu sebentar." ucap lia tenang, menyentak tristan dari lamunannya.
Gadis itu tahu jika tristan tengah mencurigai air yg diminumnya. Lagipula air itu memang telah ia campurkan dengan mata air spiritual.
Sehingga wajar jika tristan mulai merasakan efeknya.
Well, bukannya lia sengaja melakukan itu. Ia hanya ingin jika Pria itu lekas sembuh dan segera pergi meninggalkan apartemennya.
Toh, saat ini lia pun tak punya banyak waktu untuk merawat pasien. Masih banyak hal yg harus dirinya lakukan, terutama berkaitan dengan pengumpulan materi.
[ding.. Selamat karena telah berhasil menyelamatkan nyawa seseorang]
[hadiah : 1. Kemampuan ilmu bela diri tingkat master.
Satu set senjata dingin yg tidak akan pernah tumpul]
"hahh?" ucap lia tersentak.
Dirinya tak pernah menyangka jika akan mendapatkan hadiah dari sistem setelah menyelamatkan tristan.
Hanya saja untuk saat ini, lia mengabaikan hadiah itu.
Ia tak mau di anggap orang gila karena berbicara sendiri oleh tristan. Bahkan jika ia dapat berkomunikasi melalui fikiran, lia masih tetap tak bisa ceroboh.
Terlebih, lia juga tak ingin makanan yg ia masak malah gosong hanya karena ia terus mengobrol dengan sistem.
"makanan siap." ucap lia berjalan kearah tristan yg kini sudah bisa duduk di sofa.
TO BE CONTINUE.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments