Bab 17. Pelelangan ( bagian 2 )

Berjalan melewati pintu, aku melangkah kedalam ruangan 5×5 persegi. Kaca bening berdiri di depanku setelah masuk sepenuhnya, melihat keluar, aku melihat orang-orang yang berada di lantai bawah menggunakan tempat duduk yang saling berdekatan.

Mereka dengan tenang duduk di kursi mereka masing-masing.

Membuatku sedikit penasaran bagaimana peraturan pelelangan ini sampai-sampai semua orang yang hadir sangat patuh.

Menoleh ke belakang sekilas, aku tidak lagi melihat Nael, bahkan hawa kehadirannya telah menghilang sepenuhnya setelah aku memasuki tempat ini.

Bukan cuma tempat duduk untuk melihat barang yang dilelang dari atas, disini juga terdapat kasur yang sama seperti yang kugunakan di penginapan.

Kasur yang lembut dan juga empuk.

Memutuskan untuk mengamati orang-orang lantai bawah sebentar lagi, aku berdiri dalam diam untuk sesaat, sampai ketika pintu ruangan kembali terbuka.

Seorang gadis putih cantik berusia 20 tahun dengan pakaian pelayan berdiri di depan pintu. Tubuhnya yang ramping menyempurnakan penampilan miliknya.

Dia kemudian Membungkuk lalu berjalan masuk menuju kasur dan duduk di pinggirnya.

Melihat sekilas ke arahnya, aku kembali menoleh, kembali melihat keadaan lantai bawah dengan perasaan cukup menyenangkan.

Itu dulu.

10 menit berlalu tanpa interaksi apapun yang terjadi antara aku dengan gadis itu. Dia masih saja diam di pinggir kasur yang sekarang menjadi milikku pribadi saat ini.

Berjalan mendekatinya dengan wajah datar, aku duduk di kasur setelah sampai di sana.

Gadis itu sepertinya menjadi sedikit malu setelah mata kami bertemu satu sama lain. Dia mengalihkan pandanganya menuju pintu tempatnya tadi masuk, merapatkan kedua pahanya dengan kedua tangan di atasnya.

Karena kurangnya pemahaman tentang wanita, membuatku menjadi sedikit bingung dengan tingkah lakunya.

Sama seperti pepatah 'hati wanita bagai jarum di tumpukan jerami' sulit ditebak dan sulit dimengerti.

"Siapa kamu? Dan apa tujuanmu kesini?" tanyaku, melihat ke arahnya.

"Saya lily tuan, dan saya ditugaskan disini oleh senior Nael sebagai asisten anda dalam pelelangan ini. Apa senior Nael belum memberi tahu anda?" jawabnya, Bertanya balik padaku dengan mata kami yang saling bertemu.

Mengingat penjelasan Nael yang ia berikan dalam perjalanan membuatku mengerti sekarang. "Jadi begitu ya." kataku. "Tapi, kenapa kamu duduk di kasur dan bukan tempat lain seperti..." aku melihat sekeliling, rupanya di ruangan yang luas ini hanya ada beberapa hal, yakni kasur, kursi, dan meja.

Terbilang sedikit untuk ruangan seluas ini. Meskipun begitu, tempat ini dipenuhi oleh beberapa alat yang dibuat untuk kenyamanan, seperti pendingin ruangan, bel untuk memesan makanan, kamar mandi dan beberapa pakaian yang digantung di samping kasur.

Tapi, entah mengapa ada yang aneh dengan beberapa pakaian itu. Kebanyakan dari mereka adalah pakaian perempuan dengan model yang cukup terbuka. Apa mungkin...

Tidak, lupakan. Pikirku.

"Jadi kamu kesini sebagai asistenku dan bertugas untuk menjelaskan tentang Item apa saja yang akan tampil?" tanyaku.

"Ya tuan. Saya juga akan melakukan apapun agar anda bisa menikmati pelelangan malam ini." jawabnya dengan nada tegas.

Dia takut. Walaupun lily menjawab dengan tegas dan tanggap tapi, ekspresi diwajahnya tidak salah lagi adalah ekspresi dari seorang yang ketakutan.

Apa yang dia takutkan? Apa dia punya trauma? Atau jangan-jangan...

Menemukan satu alasan yang bisa membuat siapa saja akan trauma dibuatnya, saya bertanya. "Apapun? Apa itu termasuk berhubungan badan?" kataku dengan ekspresi yang tidak berubah.

Dia tersentak. "Y-ya tuan." Jawabnya tergagap.

Sekarang semua menjadi jelas. Di pelelangan sebelumnya mungkin Lily bertemu dengan seorang yang kasar dan gila akan nafsu, sehingga membuat dia memiliki trauma yang terus menghantuinya.

Selama 5 hari setelah tragedi yang menimpa hidupnya, dia pasti sangat menderita. Setiap malamnya teringat dengan sesuatu yang tidak ingin dia ingat pasti akan mengikis jiwanya hingga akhirnya dia menjadi gila.

Tapi... Alih-alih berakhir menjadi gila, dia malah bangkit dan kembali berdiri di Medan perang yang akan terus menghantuinya.

"Lily, apa kamu punya keluarga?" tanyaku.

"Keluarga? K-kenapa anda penasaran dengan hal itu." dia tergagap. "t-tentu saja saya punya keluarga tuan. Saya punya dua orang tua yang masih sehat dan bugar."

"Bukan itu yang ku maksud. Keluarga yang aku maksud adalah suami dan anak."

"..!" Lily terkejut. "Tentu tidak tu-" sebelum perkataannya selesai, aku memotong.

"Jangan berbohong, semuanya sudah jelas dari ekspresimu."

"J-jika anda sudah tahu dari awal, kenapa anda malah bertanya?" kata Lily mengakui.

"Mendengarnya langsung dari sumbernya lebih baik."

"... Baiklah. Saya mengakuinya, saya punya seorang suami dan 2 putri kembar yang masih berusia 6 tahun. Tapi mengapa anda menanyakan hal itu? Apa anda tidak ingin berhubungan badan dengan seorang yang sudah berkeluarga?"

"Tidak. Aku tidak pernah tertarik dengan hubungan badan atau apapun sejenisnya." kataku. "Aku cuma penasaran, kenapa seorang gadis yang sudah berkeluarga rela mencari pekerjaan seperti melayani pria lain, apa suamimu setuju dengan pekerjaanmu ini?"

Meskipun aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah pribadinya tapi, mungkin aku bisa menggunakannya untuk menemukan sesuatu yang menarik di pelelangan ini, seperti dimana mereka menyembunyikan semua item sebelum di lelang.

"Itu... Dia sama sekali tidak tahu aku bekerja seperti ini. Dia hanya tahu bahwa aku diangkat menjadi asisten di lantai atas dengan gaji yang lumayan besar, jadi semuanya akan baik-baik saja." ujar Lily.

Jadi begitu ya.

"Mohon perhatiannya para hadirin sekalian." seorang gadis dengan rambut kuncir kuda berwarna oranye, berdiri di tengah podium dia memegang mic guna memperjelas suaranya, meminta perhatian semua orang untuk tertuju padanya seorang.

"Selamat datang di acara lelang yang selalu dilakukan setiap 6 bulan sekali ini. Saya Riel, pejabat lelang dengan ini kami akan memulai lelang. Jujur saja, kali ini kami mendapatkan beberapa barang yang langka dan aneh. harap bijak dalam memilih karena kami tidak akan menerima pengembalian barang."

Tiba saatnya, aku bangkit lalu berjalan menuju kursi yang tersedia. Duduk didepan kaca. Meja yang awalnya jauh dibelakang tiba-tiba bergeser menuju kedepan ku .

Diatas meja terukir beberapa angka dengan tiga warna yang berbeda. Tembaga, perak dan emas.

Ini sepertinya digunakan untuk menaikkan harga dari barang yang dilelang.

Terpopuler

Comments

Stephen (Phoenix dalam celana)

Stephen (Phoenix dalam celana)

lanjut thor, tapi kata-katanya jangan terlalu formal ya thor.

2023-12-11

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!