***
Siluet Otsuka Rei
Sejak kecil saya selalu menjadi bahan ejekan, baik itu teman, sahabat, sampai keluarga saya sendiri.
Saya sendiri tidak tahu alasan saya di ejek seperti ini. Dan hal ini terus terjadi sampai saya berusia 17 tahun.
Sampai pada suatu hari, dunia tiba-tiba bergetar tanpa seorangpun yang tahu penyebabnya.
Para ahli mengatakan bahwa itu hanyalah gempa bumi biasa. Namun anehnya, tidak hanya satu dua negara yang terkena dampak gempa tersebut.
Tapi, semua negara. Yang artinya, satu planet telah terguncang oleh sesuatu yang tidak diketahui secara pasti.
Setelah gempa terjadi. Banyak hal aneh yang mulai bermunculan, seperti lebih dari 10 juta manusia menghilang di saat yang bersamaan di hari pertama. Di hari kedua, 10 juta orang kembali menghilang.
PUKUL 8 MALAM.
Saya duduk di depan tv. Layar menampilkan berita tentang hilangnya 20 juta manusia di hari kedua, dengan panas. Mereka juga memprediksi hal yang sama juga akan terjadi besok dan seterusnya, hingga membuatku sedikit merinding.
Apa yang terjadi dengan mereka yang menghilang? Kemana mereka pergi? Dua pertanyaan itu datang ke kepalaku, dengan perasaan panik. Kemudian pertanyaan lain datang. Bagaimana jika besok saya yang akan menghilang? Apa yang harus saya lakukan?
Merasa rasa takut saya semakin kuat, saya mematikan televisi. Berjalan menuju kamarku dan tidur untuk mengurangi rasa takut saya dengan hari esok.
4.21
Waktu berlalu, ketakutan yang kurasakan telah menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan. Kini, saya terbangun di tengah lautan massa yang juga bernasib sama seperti saya.
Itu dulu.
Seorang gadis cantik dengan dua sayap di pinggang muncul di atas kepala kami, menjelaskan tentang tujuan kami di bawah ke tempat ini. Dia memberi kami penjelasan yang rinci, namun saya masih belum mengerti semuanya.
Gadis itu mengatakan bahwa kami sekarang sedang dalam Sebuah permainan dan Jika kami ingin hidup, kami semua harus bertarung.
Lalu dengan alasan kebanyakan, kami dipaksa bertarung sama lain, satu lawan satu di dalam sebuah tempat yang cukup luas.
Lawanku adalah seorang pria dengan fisik yang luar biasa, otot kekarnya terlihat jelas bahkan saat dirinya menggunakan pakaian. Saat itu, saya pikir saya akan mati. Tetapi, pria itu tidak bergerak, bahkan setelah pertandingan dimulai.
Saya yang ragu tidak berusaha untuk melangkah maju, rasa takut saya memuncak hingga ketitik dimana seluruh tubuh saya menjadi terasa sangat berat.
Gemetar. Saya memegang pedang di tangan saya, mengarahkannya ke hadapan pria yang berdiri di depan saya. Lalu ...
Dia melangkah maju dengan pedang yang sama dengan yang saya pegang. tubuh saya di buat semakin bergetar kuat. Tapi, sesuatu yang aneh terjadi. Pria yang berjalan ke arah saya tidak berhenti, bahkan setelah pedang yang saya pegang menembus dadanya.
Dengan ekspresi bingung dan takut, saya memaksa kepala saya terangkat, melihat wajah pria yang menjadi lawan saya. Disana, Seorang pria tersenyum ramah.
"Tidak perlu takut, tidak perlu menyesal. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk hidup. Aku senang hidupku bisa berharga satu nyawa. Hah-" sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, dia jatuh ke belakang, meninggalkan diriku dalam kesunyian total.
Setelah melakukan pengurangan jumlah, saya jatuh berlutut, rasa mual saya memuncak dan akhirnya sayapun muntah di tengah kerumunan. kami kemudian di kirim ke tempat yang di sebut sebagai Dungeon.
Disana, saya bertarung, bertarung dan terus bertarung. Sampai pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan lantai 100 dan lanjut ke tempat terakhir yang di sebut dunia baru.
Dunia baru yang saya datangi jauh berbeda dengan Dungeon.
Setelah tiba, kami semua mendapatkan 2 Quest yang sama, yaitu lulus di Akademi terbaik, Novaria.
Hadiah yang diberikan juga bukan main-main. Bertahan selama setahun akan mendapat 50 poin statistik, dua tahun 150 poin statistik dan tiga tahun 300 poin statistik.
Jika ditotalkan, kami akan mendapatkan 500 poin statistik hanya dengan lulus saja.
Melihat sebuah kesempatan yang sangat luar biasa, saya menjadi sangat gembira. Bagaimanapun sejak mencapai level 120 perkembangan saya terhenti, entah sebanyak apapun saya membunuh monster.
Dan satu lagi, bertahan dari serangan Iblis dari neraka.
Awalnya saya menganggap remeh Quest kedua ini. Sampai pada suatu waktu. 7 tahun setelah saya lulus di Akademi, Quest kedua dimulai.
Serangan di satu bulan pertama masih bisa kami tahan, begitupun di bulan seterusnya sampai 8 bulan berlalu. Di bulan kesembilan barulah kami menghadapi musuh yang luar biasa kuat, mereka menyebut diri mereka sebagai 7 pangeran Nereka.
Saya maju bersama rekan-rekan saya untuk bertarung melawan salah satu pangeran Nereka, namanya adalah Lucifer.
Karena bersama dengan orang-orang yang saya percayai, saya menjadi sangat percaya diri. Rasa gembira menggebu-gebu di dadaku, ini sama seperti yang biasa saya rasakan ketika bertarung dengan lawan yang kuat.
Namun... Rasa percaya diri saya menghilang hanya beberapa menit saja setelah bertemu dengan Lucifer. Awalnya, kami bertarung dengan cukup baik karena dia sama sekali tidak menarik pedang yang ada di pinggangnya.
Lucifer melakukan itu karena menganggap remeh kami, mengatakan bahwa kami tidak layak untuk bertarung melawan dirinya yang serius.
Gertakan. Itulah yang saya pikirkan sebelum kami memojokkannya dan memberinya luka, walaupun tidak dalam dan mematikan.
"Hahahaha! Menarik. Aku tidak menduga ada manusia yang bisa membuatku seperti ini." kata Lucifer terbaring di puing-puing bangunan. "Kau bahkan tidak membangkitkan kemampuan bawaan dari ras naga milikmu... tapi sudah sekuat ini? Luar biasa! dan juga skill yang kau punya berapa banyak sebenarnya? Tidak, mari lupakan itu. Kau ingin melihatku serius, bukan?"
Lucifer bangkit, bersiap menarik katana yang ada di pinggangnya. Saya bersiap untuk menghadapi serangan yang akan datang dengan skill perisai terkuat yang saya punya. Lalu ...
Hanya dengan sepersekian detik, aura pedang keluar begitu Lucifer menarik pedangnya. Melesat, menghancurkan apapun yang dilewatinya. Dan ...
Krakk!!
Perisai hancur, aura yang datang meledak dan menewaskan seluruh rekan yang bersembunyi di belakang saya.
Lucifer sengaja melakukan hal ini, dia sengaja menyisakan diri saya seorang untuk tidak di bunuh dalam sekali serang.
Ditelan ketakutan, saya memaksa diri saya bangkit, berniat menyerang. Tapi, Lucifer Telah berdiri di depanku, memandang rendah diri saya. Entah mengapa tatapannya mengingatkan saya dengan tatapan mata teman-teman saya yang ada di bumi.
"Sangat disayangkan, matilah."
Satu tebasan mengakhiri hidup saya dan saya mati.
Itulah yang saya pikirkan, sebelum saya sadar dengan sesuatu yang mengejutkan.
Saya telah kembali ke masa lalu dengan ingatan saya yang masih ada. Tepat sebelum saya di kirim masuk ke Dungeon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments