Bab 14. kerajaan Sunlight.

Aku, Kini berjalan ke Utara, menuju kerajaan manusia yang bernama Sunlight.

Di perjalanan, aku sesekali bertemu dengan monster dan mahluk lainnya. Dalam waktu yang singkat itu, aku merasa senang untuk pertama kalinya dalam hidupku di tempat yang baru ini, Walaupun wajahku tidak menunjukkan hal itu, tapi aku tetap senang.

Sedari dulu aku selalu kesulitan mengekspresikan perasaanku. Mungkin ini adalah efek samping dari masa lalu yang selalu menyakitkan setiap kali ku ingat.

...----------------...

Puluhan... ratusan... ribuan. aku tidak tahu lagi sudah berapa kali tubuhku menerima pukulan, baik itu dari orang yang ku kenal dan juga tidak.

Aku berhasil menjalani kehidupan yang sedikit normal berkat pria tua yang memungutku dan membantuku untuk berubah. Dia mengajarkan banyak hal kepadaku, cara bertarung menggunakan pedang dan senjata lainnya, cara untuk menipu orang-orang lalu menggunakannya, cara untuk menarik perhatian baik itu untuk wanita dan pria.

Semua hal yang ia tahu ia ajarkan padaku tanpa terkecuali.

Pada periode itu, aku mendapatkan diriku lebih menderita dari pada kehidupan sehari-hariku yang dulu, membuatku terpaksa berhenti bersekolah pada umur 14 tahun. Namun, aku yakin... bahwa setelah semua kepahitan yang diriku alami saat itu, akan ada sebuah cahaya untuk ku ikuti dengan kepala ke atas.

Umur 18 tahun, pria yang sangat berjasa di hidupku tewas dibunuh.

Aku tidak menerima hal itu, marah dan sedih berkumpul di dadaku, aku berlutut di tanah depan kuburannya di saat hujan sedang turun dengan deras, meneteskan air mata, bukan karena kesakitan tetapi hati saya seperti di hantam oleh sesuatu yang tumpul, dadaku sesak.

Selamat 1 jam penuh, aku terus berlutut di sana, menyesali kepergian dari orang yang kuanggap berharga.

Melihat ke atas, langit telah berubah, hujan deras yang terjadi beberapa saat lalu digantikan oleh langit biru yang belum sepenuhnya cerah. Itu adalah siang hari.

Aku bangkit, memberi penghormatan sekali lagi terhadap pria yang telah merubah hidupku, lalu kemudian berjalan pergi.

Aku membiarkan para pembunuh itu pergi begitu saja? ...Tentu tidak. Demi mencari pembunuh yang membunuh orang yang kuanggap sebagai guru sekaligus orang tua angkatku, Aku menghabiskan 1 tahun penuh untuk menemukan mereka.

Jumlah mereka ada 7 orang dan masing-masing punya sesuatu yang mereka punya.

Januari, tanggal 13, Kamis.

Aku berhasil menangkap salah satu dari mereka, dia adalah Ryuichi Sakamoto, seorang ketua Yakuza dengan penampilan; bertubuh besar tapi tidak gemuk, penuh tato dan punya luka sabetan di wajahnya. Dia punya kulit coklat dan gaya rambut gundul.

Aku menangkapnya saat dia sedang mabuk. Saat itu, dia berjalan ke toilet untuk... Yah untuk apalagi.

Dengan langkah kaki ringan, Aku berjalan di belakangnya dengan tongkat bisbol di tangan kidal. Dan saat dia menoleh ke belakang untuk melihat, tongkat bisbol telah terayungkan, memberinya satu pukulan keras di bagian kepalanya hingga membuatnya pingsan seketika.

Gudang pribadi milik Nolan.

Ryuichi berbaring dengan tangan dan kaki yang terikat rantai, dia berbaring di sebuah meja besi yang cukup luas untuk ukuran tubuhnya.

Dia tersadar. "A...apa?! Dimana ini?" katanya bingung.

"Sepertinya kamu sudah sadar, ya. Ryuichi Sakamoto."Kataku, berjalan menghampirinya.

Mendengar suaraku yang tidak jauh dari tempatnya, dia menoleh ke sana kemari, mencari lokasiku saat berbicara. Karena diriku berhenti berbicara, dia kemudian memulai percakapan.

"Siapa kau?" katanya dengan santai.

Jujur saja, aku sedikit terkejut dengan ketenangan yang dia miliki. Aku harus mengakuinya, dia sangat tenang atau ... Dia sama sekali tidak tahu situasinya? mungkin itu yang terakhir.

"Hasabe Otsuka. Apa kamu kenal nama itu?"

"H..hah?! Bagaimana kau tau nama orang itu?" reaksinya menjelaskan segalanya.

Sekarang aku yakin dia adalah salah satu orang yang merencanakan pembunuhan guruku.

"Jadi... Kalau tahu!" aku menatapnya dengan tajam, mengambil pisau bedah yang tidak jauh dari tempatnya.

aku perlahan menurunkan pisau bedah yang ku pegang, membelah dagingnya, membuka paha Ryuichi hingga tulangnya kelihatan. Dalam prosesnya dia mengerang kesakitan, berteriak dengan sepenuh kemampuannya.

Darah mengalir dengan lancar, tersembur keluar sampai mengotori pakaianku.

Jika terus begini dia akan mati karena kekurangan darah.

Tidak ingin Ryuichi tewas karena kehabisan darah, aku mengambil jarum dan benang yang telah dilapisi serpihan kaca, lalu mulai menjahit lukanya.

Dia kembali menangis, berteriak, dan memberontak. Tetapi, itu percuma, aku telah menyuntikkan beberapa obat pelumpuh pada beberapa bagian tubuhnya. Jadi, meskipun dia berhasil lolos dari rantai dia tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini.

Aku terus menjahit sampai pada jahitan ke 56.

Karena terlalu fokus menjahit, hingga aku lupa memperhatikan Melihat ke arah Ryuichi yang telah pingsan karena kesakitan.

Melihat itu, aku memutuskan untuk mundur hari ini, tidak, jam ini. Aku akan kembali dalam beberapa saat lagi untuk melanjutkan beberapa metode yang menarik.

Guru... Tunggu saja, semua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhanmu akan segera menyusul roh mu. Disana, siksalah mereka semua sama seperti saat tubuh anda dicincang oleh pedang mereka.

1 jam berlalu dengan cepat.

Ryuichi terbangun dengan keringat dingin di dahinya, seperti seorang yang baru saja bermimpi buruk. Tetapi, setelah melihat sekitarnya, dia kembali ke kenyataan, bahwa yang dia anggap sebagai mimpi adalah hal yang benar-benar terjadi.

"L... lepaskan aku.!! Sialan.!!!" dia berteriak.

Karena banyaknya gerakan yang ia lakukan saat memberontak, benang yang berada di pahanya bergeser. Darah segar kembali mengalir setelah beberapa saat setelah dia sadar.

Rasa pedih, sakit, dan beberapa rasa lainnya berkumpul dalam satu waktu.

"Aaaaa...!!!" Teriakannya semakin kuat, hingga saat suara langkah kakiku ia dengar, dia langsung terdiam.

"Sepertinya kamu sudah sadar." kataku dengan senyuman lebar dan menakutkan.

"selamat datang kembali, Ryuichi-san." kali ini diriku mengambil tang, menarik tempat duduk kayu dan kemudian duduk di dekat kaki Ryuichi.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu, Ryuichi-san."Kataku, mengelus-elus ibu jarinya.

"jika kamu memberiku jawaban jujur, aku akan mempertimbangkan untuk melepaskanmu."

"Hahaha sungguh lucu. Kau pikir aku akan percaya padamu setelah semua ini? kau naif, bocah!" tertawa. Dia menghina diriku.

Mengabaikan itu, saya mulai mengajukan pertanyaan saya. "Kenapa kamu membunuh guruku?"

"..." dia tidak menjawab, mengabaikan pertanyaanku sepenuhnya.

Marah. Saya meletakkan tang di ibu jarinya, menekan tang dengan tangan kanan, yang saya anggap sebagai dominan. Lalu ... Dengan kasar menarik sekuat tenaga.

*Tercabut.

"Aaaaaahhh!!!!" dia berteriak sekuat tenaga.

"Katakan...! Atau yang lain akan segera menyusul kuku ibu jarimu." kataku.

"Sialan!!! Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan bocah...!!"suaranya semakin keras. Marah, dia mencoba mengigit lidahnya untuk bunuh diri. Namun, ekspresinya seketika menjadi suram.

"Ada apa?" tanyaku padanya.

"A..apa yang k..kau lakukan padaku." dia tergagap, melihatku dengan tatapan gelisah.

"Kukuku. Kamu tidak perlu khawatir Ryuichi-san. Untuk menghindari kamu mengigit lidah mu secara tidak sengaja, aku sudah menyuntikkan beberapa obat ke pipimu sebagai langkah pencegahan. Jadi, mari lanjutkan permainan ini sekarang." kataku.

Aku terus melanjutkan pekerjaan mencabut kuku, sampai seluruh kuku di seluruh tubuhnya telah ku simpan di baskom besi.

Beberapa kali akan pingsan, aku kembali menyuntikkan beberapa obat padanya, obat yang akan membuat seseorang terjaga selama dia masih hidup. Obat paling ampuh untuk menyiksa seseorang.

Dan untuk membunuh ketujuh orang yang menjadi targetku selanjutnya, aku membutuhkan waktu 2 tahun lebih secara keseluruhan.

Setelah selesai, aku memutuskan untuk membakar rumah dan gudang, untuk menghapus barang bukti dan mulai menikmati kehidupan sehari-hariku yang biasanya. Seperti dahulu, sendirian.

Disaat itu juga, aku mulai menulis dan mencari pekerjaan di sana.

Kerajaan manusia Sunlight.

Kerajaan yang punya sejarah ribuan tahun di lantai satu. Terkenal karena punya banyaknya petualang dan prajurit yang sangat kuat.

Jujur, aku tidak tahu ada tempat seperti ini di lantai 1, baik itu kerajaan Elf dan kerajaan ini.

Sebuah perubahan, entah kenapa ini bisa terjadi, ini membuatku menjadi bingung.

Didepan gerbang masuk, aku diberhentikan oleh dua penjaga.

Mereka mendekat, lalu bertanya. "Permisi, silahkan perlihatkan kartu anda." katanya, mengulurkan tangan, meminta sesuatu padaku.

"kartu?" tanyaku bingung.

"Iya kart- oh, Tunggu apa anda adalah player?" katanya dengan ekspresi sedikit senang.

"Iya."

"Kalau begitu silahkan masuk. Untuk bisa keluar masuk dari sini anda memerlukan sebuah kartu kependudukan, jadi silahkan ke guild petualangan untuk membuatnya." katanya.

"Disana, bangunan paling unik, anda lihat?" tunjuk ke arah bangun dengan sebuah patung kuda berada di atas atapnya.

"Um." saya mengangguk lalu berjalan masuk.

Kartu kependudukan? Player? aku sedikit bingung. Apa aku bukan player pertama di sini?

...[ Nama :      Nightmare ]...

Level : 11

Title : Goblin killer, Goblin Nightmare.

Strength : 11

Axbility : 14

Stamina : 12

Power  : 9

Skill.      : Unlimited sword (2), Bola api (9), panah beracun (9), sabit darah (8), Penerjemah (9), Detection (8)

Skill bawaan : Peniadaan sihir (8), Nafas gelap (8), observer (8+)

Poin yang belum digunakan : 20 ]

Terpopuler

Comments

Stephen (Phoenix dalam celana)

Stephen (Phoenix dalam celana)

thor, ada apa ini thor?, kenapa kok kalimatnya jadi agak terasa formal gini?

2023-12-10

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!