Sebuah kapak besar muncul dari balik asap akibat ledakan, serangan itu datang dari atas dan sangat cepat. Untung saja reaksiku terbilang mampu mengikuti arah kapak yang datang padaku, jadi dengan menggunakan sabit darah di lenganku, aku berhasil mengubah jalur kapak itu, membiarkannya menghantam lantai.
Aku mendongak ke atas, Menatap orang yang baru saja menyerangku. Disana, Seorang pria kekar berambut cokelat dengan luka sabetan dimata kirinya berdiri dengan percaya diri dengan senyum lebar di wajahnya.
Tidak salah lagi, dia adalah Adrel.
Aku mengenali orang yang baru saja menyerangku hanya dengan sekali melihat. Tak ingin tinggal diam setelah diserang, aku menangkap lengan kanan Adrel, Memunggunginya, lalu dengan sekuat tenaga aku membantingnya ke kebawah lantai, itu cukup keras sampai-sampai tempat di mana ia mendarat langsung hancur seketika.
Tidak berhenti di sana, aku mengangkat kaki kananku keatas, memberinya satu tendangan keras tepat diwajahnya, sampai membuat seluruh kepala Adrel tertanam lebih dalam dibandingkan tubuhnya yang kekar.
BUUK!
Adrel*Tersenyum.
Melihatnya masih tersenyum, membuatku sedikit kesal. aku kemudian memutuskan untuk memberinya lebih banyak tendangan. sekali lagi aku mengangkat kakiku, kembali memberinya tendangan yang sama seperti sebelumnya, Lagi, lagi dan lagi. Sampai pada tendangan ke 9 dia tiba-tiba menangkap kakiku, lalu dengan senyuman yang semakin lebar diwajahnya, dia bangkit kemudian melemparku pergi sampai membentur tembok.
BRAKK!!
BRAKK!!
BRAKK!!
Tembok hancur setelah aku menabraknya.
Kini, aku berada di bagian belakang bangunan raja goblin, terbaring dengan perasaan sesak di dada setelah di lempar melewati 3 dinding tebal. Melihat ke atas, langit telah berubah dari biru muda menjadi orange yang menandakan sore telah tiba. Aku dengan kaku mengangkat tubuhku, berusaha untuk bangkit sebelum Adrel melancarkan serangan susulan padaku.
Lalu setelah sedikit perjuangan extra, aku berhasil bangkit. Darah segar mengalir di hidung dan telingaku. Tentu saja ini jelas bukan pertanda baik untukku. Bahkan topeng yang menjadi ciri khas dari ras Ghoul yang selalu ku pakai kini telah retak. Jadi untuk menghindari topeng ini hancur, aku melepaskannya, memasukannya ke dalam Inventory milikku.
Jujur saja, aku cukup penasaran dengan penampilanku saat ini. Karena kedua tanganku mengecil, artinya mungkin sekarang aku menjadi lebih muda dibandingkan diriku yang dulu.
"Sialan ... siapa sangka aku akan bertemu dengan party Prontagonis di tempat ini."Kataku, menyapu darah yang keluar dari hidung. "Akan lebih mudah melawannya dengan skill unlimited sword. Tapi, jika Rei melihatnya, dia mungkin akan menggunakan berbagai macam cara untuk menyalin skill yang menjadi andalanku ini, jadi mari lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika terpaksa, aku juga tidak akan ragu menggunakan seluruh poin statistik yang ku kumpulkan sejauh ini pada Axbility lalu kabur dari mereka."
Setelah berdiri cukup lama, akhirnya debu yang menghalangi visiku perlahan hilang. Kini, di depanku saat ini, Adrel menungguku untuk menyerang lebih dulu.
Bukannya aku orang yang mudah terprovokasi tapi, melihat orang yang akan tewas di lantai 77 meremehkanku seperti sekarang ini, membuat dadaku menjadi panas. Ini adalah perasaan yang sama seperti saat aku bertarung melawan kakek tua itu, perasaan yang mengingatkanku pada kenyataan bahwa diriku sangatlah lemah.
Waktu berjalan cukup cepat. Semua debu yang menghalangi penglihatan telah hilang, dengan pupil mata yang berubah menjadi merah. Aku menendang tanah, meluncur maju dengan sabit di kedua lenganku.
Melihat itu, Adrel mengangkat kapak miliknya dengan satu tangan lalu melesat maju ke arahku dengan sangat cepat.
"Matilah...!"kataku keras-keras.
"Bagus, bagus! Serang Lah aku... Bocah!!" teriaknya, membawa kapak di tangannya ke atas.
Dan saat kedua senjata kami akan bertemu, sesuatu terjadi...
FREEZE!!
Sebuah dinding es tebal terbentuk di depan kami, memaksa kami berdua untuk berhenti menyerang dan mengambil satu langkah kebelakang.
"Bukankah Rei telah melarang mu untuk bertarung dengan hal lain selain bertarung dengan Goblin?" kata gadis yang baru saja masuk.
Dari tempat Adrel tadi masuk seorang gadis yang kira-kira berumur 15 tahun berjalan masuk mengikuti jalurnya. Dengan rambut putih panjang dan kulit putih yang hampir menyamai warna rambutnya, Dia menatap tajam ke arah punggung Adrel. Tatapannya sungguh mempesona, Dengan iris mata biru muda, dia mungkin bisa menarik semua pria yang dia temui.
Gadis itu melangkah lebih cepat, lebih cepat dari sebelumnya, sampai pada saat dirinya dekat dengan gadis yang ku tolong, dia melompat gembira dan langsung memeluknya.
"Violin!! Syukurlah kau baik-baik saja!"katanya. "Maaf karena kakak terlambat violin! Maafkan aku."lanjutnya. air mata mengalir di antara pipinya dan pelukannya entah bagaimana semakin erat.
"Um.. Tidak apa-apa kok, kak."Kata gadis tahanan, menenangkan kakaknya yang memeluknya dengan erat. "Lagipula orang itu datang tepat waktu menolongku. Tapi ... Melihat reaksimu, apa dia bukan rekanmu?" katanya menunjuk ke arahku.
"Tidak, dia bukan rekan kami." jawabnya tegas.
Pertunjukan di depanku saat ini entah bagaimana sangatlah aneh. Awalnya aku mengira bahwa gadis yang ku tolong adalah kakaknya. Bahkan hanya dengan melihat sekilas bentuk tubuhnya, kita sudah bisa menebak siapa yang lebih dewasa. Perbedaannya seperti gadis berusia 18 tahun dan 15 tahun.
Meskipun mereka berbicara dengan suara yang relatif kecil. Namun, aku masih bisa mendengarnya dari jarak 20 meter dari tempatku berdiri.
Karena Irene sudah datang, Adrel tidak bisa lagi melanjutkan keinginannya untuk bertarung melawan diriku. Walaupun demikian, sepertinya dia masih sangat menginginkan pertarungan dari matanya.
Adrel berbalik lalu dengan santai mundur kebelakang, mendekati Irene dan saudarinya yang masih melakukan reuni mereka. Tubuhnya yang kekar dan berotot tiba-tiba mengeluarkan asap, dan secara tidak terduga seluruh tubuhnya mengecil, menampakkan dirinya dalam bentuk yang benar-benar baru, sebagai seorang anak kecil berusia 10 tahun.
Melihat itu, aku dibuat sangat terkejut, sampai-sampai pupil mataku seketika mengecil. Hal itu seharusnya hanya bisa dilakukan ketika Adrel mencapai puncak evolusi dari ras naga miliknya dan itu seharusnya terjadi ketika dia berada di lantai 57 saat bertarung dengan boss monster. Tapi kenapa Dia bisa melakukan itu di lantai satu?
Dinding es yang memblokir jalanku untuk maju tidak bertahan selamanya. Nampaknya, gadis itu menjelaskan beberapa hal yang bisa mengeluarkanku dari masalah yang bisa datang di masa depan.
Hanya dalam waktu waktu kurang dari 1 menit, es mencair. Aku berjalan mendekati mereka sebelum...
Menatap ke depan, wajah yang familiar muncul setelah diriku mengambil beberapa langkah ke depan. Ini akan menjadi pertemuan pertamaku dengannya, si Prontagonis cerita dari novel yang kubuat, Otsuka Rei.
Mereka berempat kini telah berkumpul, melihat dengan spontan ke arahku.
Ku rasa mereka ingin aku bergabung dengan mereka. Pikirku, berjalan mendekati mereka.
"Aku telah mendengarkan semua penjelasan dari Irene." kata Rei. "aku secara pribadi meminta maaf padamu."
"Ha? Kenapa kamu yang meminta maaf, sedangkan orang yang menyerangku adalah dia." jawabku, menunjuk bocah laki-laki yang bersembunyi di belakang Rei.
Meskipun aku tau kenapa dia meminta maaf, aku harus tetap menayangkan pertanyaan itu padanya, guna untuk memperjelas sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman.
"Yah... Itu karena dia adalah rekanku yang berharga." Jawab Rei sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya.
Ada yang salah. Seharusnya dia mengatakan bahwa Adrel adalah budaknya. Tidak, setelah ku perhatikan baik-baik ada yang aneh dengan Rei, entah kenapa aku merasa dia punya aura kelicikan di sekitarnya, seperti seorang ahli strategi perang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments