Dengan tatapan ramah, rei tersenyum padaku, berniat untuk menanyakan sesuatu. "Ada sesuatu yang membuatku sedikit penasaran." kata Rei. "bisakah aku menanyakannya?"
Mendengar itu aku mengangguk, setuju untuk mendengarkan apa yang membuat Rei penasaran.
"Baiklah kalau begitu."Ujar Rei dengan ekspresi senang diwajahnya.
Dia kemudian melanjutkan. "Kenapa kamu membakar desa ini. Bukankah ada kemungkinan bahwa ada tahanan di salah satu bangunan yang kamu bakar? Atau... Kamu yakin, bahwa di sana tidak ada seorangpun didalamnya?"
Tanya Rei. Senyuman yang ia perlihatkan di pertemuan pertama kami sekarang telah berubah menjadi tatapan dingin yang penuh dengan rasa haus darah.
Aku tidak tahu apa cuma diriku saja yang merasakan rasa intimidasi yang kuat ini darinya tapi...
Melihat kebelakang Rei, rupanya, orang-orang yang datang bersamanya juga merasakannya. Tetapi, ekspresi mereka menunjukkan bahwa mereka sudah cukup terbiasa dengan rasa haus darah ini.
Dengan pertanyaan yang memaksa ini, aku sepertinya tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"lalu... Apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan bahwa 'Aku tidak peduli dengan para tahanan' apa kau akan membunuhku?" kataku dengan santai.
Tidak mungkin aku akan memberikan penjelasan yang bisa saja merugikanku sendiri nantinya.
SLASH!
"Hentikan...!"
Rei menarik pedang dari pinggang, lalu mengangkatnya ke atas dengan cepat menuju leherku. Tetapi, tepat sebelum pedang memenggal kepalaku, pedang itu terhenti.
Selama prosesnya, aku tidak bereaksi sama sekali, baik itu panik atau berkedip sedikitpun. Bukan karena lengah atau apa, tapi setelah kupikir lagi, itu adalah cara terbaik untuk menghindari kematian sekarang.
"Apa maksudnya ini Irene." ucap Rei, mengarahkan pandangannya ke Irene dengan tajam.
Tangan yang ia gunakan untuk menyerang kini telah diselimuti oleh es dingin. Aura es itu terasa sangat jelas di lengan Rei hingga membuat lengannya bergetar, Membuatnya gagal Memenggal kepalaku.
"Seharusnya itulah yang kukatakan." jawab Irene dengan satu tangan yang masih terangkat.
"Kamu bersungguh-sungguh ingin membunuhnya barusan, bukan?"
"Lantas jika iya, kenapa...!"
"Begitu ya. Kalau begitu, aku akan menghentikanmu, apapun resikonya. Aku tidak bisa membiarkan orang yang menolong adikku dibunuh di depanku begitu saja." kata Irene dengan tegas.
"Hah?" Rei ternganga, dia tidak pernah menduga bahwa orang yang tergila-gila padanya di masa lalu akan berdiri melawannya sekarang.
"... baiklah. Mari berhenti di sini." Rei mundur, tidak ingin melakukan hal yang akan merugikannya di masa mendatang.
Pedang yang berada di bawah daguku perlahan menjauh. Rei dengan sedikit rasa kecewa telah menarik pedangnya kembali ketempat nya.
Meskipun, Rei nampak sedikit kecewa dia memutuskan untuk mundur. Bagaimanapun Irene bukanlah orang sembarangan, dia tahu bahwa Irene adalah putri pertama dari kerajaan Elf di lantai 1.
Rei mundur? Itu sedikit mengecewakan. tapi, kenapa dia mundur? Meskipun itu adalah hal yang bagus tetapi, terasa ada yang janggal di sini. Rei sudah jelas lebih kuat dibandingkan dengan Irene, juga dengan bantuan Adrel, ini seharusnya menjadi pertarungan yang mudah.
Rencanaku untuk melarikan diri di saat pertarungan mereka terjadi sepertinya telah berubah. Ini juga memastikan bahwa party sementara ini akan segera bubar, mengingat Irene tidak tergila-gila dengan Rei. Lagipula, sejak awal alasan kenapa Irene selalu mengikuti Rei karena rasa cintanya yang kelewat batas. Bahkan sebagai author, aku sesekali merasa geli pada diriku sendiri Setiap kali menulis percakapan antara Rei dengannya. Pikir Nightmare.
Itu dulu.
Suasana di tempat ini langsung menjadi canggung karena mereka, jadi mau tidak mau aku harus maju dan mengubahnya.
"Sebenarnya aku bercanda soal membiarkan para tahanan mati." kataku dengan ekspresi datar.
"aku punya skill yang bisa mendeteksi apapun yang kulewati dalam jarak 1 km, tak terkecuali mahluk hidup. Dan sebelum bertarung dengan mereka, aku lebih dulu berkeliling ke seluruh tempat untuk mengambil beberapa item yang lumayan bagus."
"Begitu, ya." balas Rei. Melanjutkan. "Kalau begitu, dimana mereka ditempatkan? jika benar kamu sudah berkeliling tempat ini bukanlah seharusnya kamu membawa beberapa tahapan sekarang?"
"Aku bohong jika aku mengatakan tidak bertemu dengan tahapan di salah satu tempat yang ada." jawabku.
"...!" Rei menarik kerah bajuku dengan kesal, mengurangi jarak di antara kami berdua.
"Apa kau sadar sedang berbicara berputar-putar! kau bilang, kau membakar desa ini karena sudah memastikan bahwa tidak ada tahanan disana. Tapi, kau bertemu mereka dan tidak menolong mereka dan malah membakar mereka hidup-hidup. Apa yang sebenarnya kau pikirkan!!" dia meninggikan suaranya.
"Sudah kukatakan, bukan." kataku dengan ekspresi yang tidak pernah berubah.
"Aku bisa mendeteksi semuanya, tak terkecuali mahluk hidup. Bukankah dengan petunjuk itu kamu sudah bisa menebaknya? Atau haruskah aku memberi tahumu?"
"... jadi begitu. Mereka telah tewas."
"Benar, para tahanan yang berada di desa ini telah tewas dan daging mereka di jadikan makanan oleh para goblin." kataku.
"Setiap bangunan setidaknya punya 3 sampai 5 mayat wanita yang telah beberapa kali melahirkan anak-anak goblin sebagai makanan tambahan mereka."
"Tapi... jika itu benar, bukankah ada yang janggal?" kata Rei. Melepaskan tangannya dari kerah bajuku, mundur lalu berpikir sejenak.
"Apa yang aneh?" tanya Adrel yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami, dia menoleh ke arah Irene untuk mencari penjelasan.
Melihat Itu, Irene berkata. "Jika semua tahanan yang ada di desa adalah mayat, lalu bagaimana cara mereka untuk berkembang biak?"
"...?"
"Itu artinya, mereka pasti punya tempat yang di khususkan untuk menambah populasi mereka. Tapi, dimana?" gumam Rei. Tetapi dengan suara yang sebesar itu, tentu saja kami semua bisa mendengarnya.
"Itu ada di bawah tempat ini." kataku. "yang perlu kalian lakukan hanyalah mencari tombol untuk pergi ke bawah sana."
"baiklah." jawab Irene.
"Bisakah kamu menggunakan skill yang kamu punya untuk mencari tombol itu?" tanya Rei.
"Aku bisa. Tapi, aku tidak mau."
"Kenapa...?"
"karena itu tidak menguntungkan bagiku. Itu saja. Juga karena masalah ini telah selesai, aku akan pergi sekarang." kataku, berbalik berjalan pergi. Tapi belum cukup tiga langkah Irene memanggilku.
"Tunggu. Maukah kamu datang ke tempat kami? kami akan memberikan hadiah yang cukup sebagai kompensasi karena menolong adikku."
"Hm... Berapa jauh jarak antara tempat ini dengan tempat yang kamu maksud?"
"Sekitar 2 hari perjalanan."
"Itu lama. Apa kamu tidak punya sesuatu yang kamu bawa sekarang?"
Disaat percakapan kami berlangsung, Rei dan Adrel sudah mulai mencari tombol yang ku maksud. Mereka mencari di setiap sudut ruangan, mencari di sela-sela semua tempat.
7 menit berlalu.
Aku telah pergi dari desa Goblin, menuju ke Utara tempat kerajaan manusia berada. Sebagai hadiah atas bantuanku untuk Irene, aku meminta sebuah peta, beberapa item sihir dan seribu koin emas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Stephen (Phoenix dalam celana)
napa jadi formal gini dah bahasanya?
2023-12-10
0