“Ya, apa yang ingin Anda beri tahu pada saya?”
“Besok aku akan pergi ke Torren, pembangunan di sana sudah hampir selesai dan mungkin aku akan berada di sana selama seminggu.”
“Aku memberi tahu ini agar kau bisa membicarakan masalah mendesak yang kau miliki denganku sekarang.”
Carlisle menggeleng, “Saya tidak punya masalah mendesak, Tuan. Untuk pembangunan Torren saya amat senang mendengarnya.”
“Mengingat semua itu karna ulah saudara saya, membuat saya sangat bersalah pada rakyat Torren. Tuan semoga perjalanan dan pekerjaan Anda lancar tanpa hambatan di sana.”
Elios mengangguk, “Jika semua sudah selesai, aku akan mengajakmu melihatnya.”
Senyum Carlisle merekah, “Sungguh? Terima kasih Tuan, saya akan menantikan hari itu tiba.”
...****************...
Saat keduanya sampai di Mansion hari mulai gelap. Kala itu Elios langsung menuju ruang kerjanya, sedangkan Carlisle yang merasa lelah memilih untuk pergi ke kamar.
Di ruang kerjanya Elios terlihat memeriksa pekerjaan yang telah selesai dikerjakan Lise, satu persatu ia melihat kertas tersebut dan tampak dari ekspresinya Elios puas dengan hasil pekerjaan sang istri.
Di tengah kesendiriannya terdengar seseorang tiba-tiba mengetuk pintu.
“Permisi Tuan, bolehkah saya masuk?” tanya Silas.
“Ya, masuklah.”
Pria setengah baya itu pun masuk sembari membawa sebuah surat di tangannya.
“Tuan, maaf jika saya mengganggu. Saya datang untuk memberikan surat ini pada Anda.”
Elios meletakkan kembali hasil pekerjaan Lise ke atas meja dan mengalihkan pandangannya ke arah surat tersebut.
Melihat segel surat berwarna kuning keemasan itu tentu membuat Elios dengan cepat tahu siapa pengirimnya.
“Pasti dia memintaku untuk datang ke pesta,” gerutu Elios.
“Kenapa Paman tidak pernah berhenti, bahkan setelah aku menuruti permintaannya.”
Silas tersenyum. Sifat tuannya memang tak berubah, setiap kali kaisar mengirimkan surat, raut wajah Elios pasti berubah kesal.
Yang Silas tahu dari Elios, setiap kaisar mengirimkan surat isinya selalu sama. Tidak lain dan tidak bukan untuk menyuruh keponakannya itu segera menikah, dan menghadiri pesta kerajaan yang selama ini selalu ia hindari.
“Tidak ada salahnya untuk membacanya terlebih dahulu Tuan. Lagi pula Anda sudah menikah, tidak mungkin isi suratnya akan sama.”
Elios menghela nafas, “Berikan padaku.”
Saat surat kaisar telah berpindah ke tangannya, Silas pun berpamitan pergi, yang tentu saja kembali menyisakan Duke seorang diri.
Duke tanpa pikir panjang langsung membuka surat tersebut, Elios tampak gusar setelah selesai membaca isi surat dari kaisar, ia langsung membuang surat tersebut ke perapian.
“Kapan ini semua akan berakhir.”
...****************...
Pagi harinya, Duke dan Duchess terlihat sarapan pagi bersama. Setelah kemarin banyak menghabiskan waktu dengan Elios, Carlisle merasa kecanggungan di antara ia dan Duke mulai berkurang.
“Bagaimana pendapatmu tentang Oraballe, Nyonya Carlisle?” tanya Elios membuka pembicaraan.
Lise yang sibuk dengan ritual makanannya itu pun mendongak. “Sempurna, saya tidak melihat adanya kekurangan di wilayah ini.”
“Anda sungguh mengelola wilayah kekuasaan Alastair dengan baik, sangat jauh berbeda dengan wilayah kekuasaan Targayen,” ucap Carlisle lagi.
Elios mengangguk mendengar jawaban Lise. “Syukurlah jika kau puas dengan Oraballe.”
“Nyonya Alastair, aku juga ingin memberitahumu sesuatu. Untuk pesta kekaisaran tahun ini, Kaisar meminta kita untuk datang,”
“Karna ini pesta pertama kita setelah menikah dia ingin kau dan aku bisa datang. Setelah memikirkannya aku memutuskan kita akan pergi, bagaimana menurutmu?”
“Saya tidak masalah, tapi Anda sungguh ingin membawa saya?” tanya Carlisle meyakinkan.
Mendengar itu Elios balik bertanya, “Jadi kau tidak ingin ikut?”
“Tidak bukan begitu. Saya senang bisa ikut, t-tapi kehadiran saya hanya akan mempermalukan Anda di sana, dan saya tidak ingin Anda dicemooh karna saya.”
Elios menatap lekat Carlisle, “Sudah kukatakan berapa kali padamu, aku tidak peduli dengan perkataan mereka,” ucap Elios menekankan.
“Mulailah untuk tak mendengarkan perkataan mereka Nyonya Alastair. Lagi pula sekarang kau istriku, bagaimana mungkin aku datang seorang diri tanpa membawamu?”
Mendengar Elios menganggapnya sebagai seorang istri, entah mengapa membuat Carlisle tersipu malu. Karna selama ini ia merasa tak pantas dengan kata itu.
Seulas senyum pun muncul di wajah Carlisle, ia lagi-lagi dibuat kagum akan sikap Elios. “Baiklah, Karna Anda bilang tidak peduli, saya akan mencoba untuk tidak mendengarkan lagi.”
“Maaf jika saya lagi-lagi seperti ini,” ucap Carlisle lagi.
“Sepertinya kau juga harus menghilangkan kebiasaan meminta maafmu, Nyonya Alastair.”
“Baiklah itu tak penting sekarang. Aku memutuskan kita akan pergi setelah pekerjaanku di Torren selesai, bagaimana?”
Carlisle mengangguk setuju.
...****************...
Setelah sarapan Carlisle langsung pergi ke ruang kerja. Di sana ia bekerja seorang diri, karna sang suami yang harus mempersiapkan perjalanannya dan berlatih.
Beruntung tugas yang harus Carlisle kerjakan tak terlalu banyak, sehingga ia dapat menyelesaikan semuanya sebelum sore.
Saat semuanya selesai, Lise berniat kembali ke kamarnya dan beristirahat. Tapi niatnya itu batal ketika Alie datang menemuinya.
“Permisi Nyonya bolehkah saya masuk?” tanya Alie sambil membawa nampan berisi teh dan camilan.
“Ya, masuklah Alie.”
Pelayanan itu pun masuk dan berdiri di dekat tuannya dengan masih memegang nampan di tangan.
“Nyonya pekerjaan Anda sudah selesai?”
Carlisle yang tengah menyusun kembali kertas di mejanya itu pun mengangguk.
“Wah kebetulan sekali! Nyonya kalau begitu ayo minum teh di taman saja, cuacanya bagus di luar,” ajak sang pelayan.
“Hm, tidak Alie, rasanya aku masih lelah,”
“Ayolah Nyonya, selama ini Anda selalu bekerja, Anda tidak pernah menikmati waktu istirahat dengan baik. Saya yakin rasa lelah Anda akan hilang dan Anda tidak akan menyesal,”
Mendengar Alie sebegitunya memohon akhirnya dengan berat hati membuat Carlisle setuju. “Baiklah, ayo minum teh di luar, tapi sebagai syaratnya kau juga harus minum bersamaku,”
Alie begitu senang mendengarnya dan mengangguk cepat, “Ya, apa pun itu asal Anda setuju.”
...****************...
“Alie aku tak menyangka kau merencanakan ini,” ucap Carlisle dengan menatap tajam Alie.
Namun yang ditatap tak merasa bersalah dan hanya tersenyum bahagia. “Nyonya Anda harus menikmatinya, kapan lagi waktu seperti ini akan terulang.”
Ya, awalnya Carlisle tak curiga sama sekali dengan pelayannya itu. Saat persiapan minum teh selesai dan Alie membawa Carlisle ke taman, di situlah Duchess menyadari sesuatu.
Memang tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tapi Elios tengah berlatih bersama para kesatria lainnya di sana.
Tentu saja saat ia datang Elios yang peka terhadap sekitar menyadari kehadirannya, meski jarak keduanya berbeda 10 meter Carlisle sadar sang suami menatapnya.
Apalagi kursi yang diduduki Lise mengarah langsung ke tempat pelatihan, membuat Carlisle terus menerus membuang muka. Ia takut sang suami malah berpikiran buruk tentangnya.
Jauh berbeda dengan sang pelayan yang membelakangi tempat pelatihan tersebut.
“Alie seharusnya aku menyadari maksud terselubungmu itu sejak awal,”
Alie tertawa kecil, “Nyonya aku tidak berbohong, lihatlah suasana sekitar menenangkan bukan?”
Carlisle tak dapat mengelak, memang benar adanya jika suasana di taman itu cukup menenangkan baginya.
“Benarkan apa yang saya katakan?”
Lise tak membalas, dengan wajah yang masih kesal Carlisle memilih menyesap teh miliknya.
Duchess melihat ke sekitar, perasaan kesalnya perlahan menghilang kala melihat bunga-bunga yang bermekaran di sekeliling.
“Nyonya jangan marah pada saya, lihat saya telah menyiapkan banyak makanan untuk Anda,” bujuk Alie sambil menunjuk nampan bertingkat berisi kue scones dan dessert.
Melihat kue-kue ini entah mengapa malah membuatku merindukan Iliana. Batin Carlisle.
Tapi di saat bersamaan aku gelisah karna pesta itu.
Walau tuan Elios menyuruhku untuk tak memedulikannya, tapi tetap saja rasanya pasti sakit jika harus mendengar orang sebaik tuan Duke dicemooh karna diriku.
“Nyonya kenapa Anda diam? Anda tidak suka kuenya?” tanya Alie saat melihat tuannya itu terdiam cukup lama.
“Tidak, aku suka semua kue yang kau sajikan,” balas Lise sembari mengambil satu kue scone.
“Tapi mulai sekarang jangan terlalu banyak menyiapkan makanan untukku Alie.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ayu Septiani
mungkinkah lise akan diet ?
2024-11-12
1
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Dari awal sama Alie ini rada2 mencurigakan 🤔 hhmm
2024-12-13
0
Bzaa
rasanya bgtu... 😄
2024-11-19
0