“Aku suamimu.”
Dua kata singkat yang cukup mendiamkan dan mengejutkan Carlisle di saat bersamaan. Bagaimana tidak, rupa pria yang berdiri di hadapannya itu benar-benar berbeda dari apa yang selama ini dirumorkan.
Padahal aku sudah mempersiapkan diri apa pun yang terjadi nanti, tapi kenapa ini benar-benar berbeda, batin Carlisle.
Carlisle yang tak dapat bicara menatap Elios dari atas sampai bawah, perhatiannya terkunci pada perut sang suami yang mengeluarkan banyak darah, meski begitu Elios tak terlihat kesakitan, ekspresi wajahnya datar seolah tak terjadi apa-apa.
“Anda terluka?”
“Ini hanya luka kecil.”
“Luka kecil tidak mengeluarkan banyak darah, tuan Elios,” balas Carlisle.
Elios terdiam, dan Carlisle berpindah menatap ruangan yang ingin dibuka sang suami, wanita itu kembali berucap. “Silas mengunci kamar Anda, dia takut jika ada barang yang hilang selama kepergian Anda.”
“Jadi percuma jika Anda ingin membukanya dengan tangan kosong.”
“Saya akan memanggilkan Silas jik—“
“Tidak perlu, aku tidak ingin membuat keributan di tengah malam,” balas Elios memotong perkataan Carlisle.
...****************...
“Saya akan mencarikan obat untuk Anda,” ucap Carlisle sembari mencari kotak obat di lemari.
Elios mengangguk, sementara menunggu Carlisle mencari obat pria itu mulai melepas jubah dan kemeja putih yang ia kenakan.
Ya, Carlisle membawa Elios ke kamarnya, karna hanya ruang kerja dan kamarnya yang terbuka. Awalnya suaminya itu menolak, tapi Carlisle kekeh dengan pendiriannya. Rasa takut Carlisle pada Elios seolah sirna begitu saja, bagi wanita itu luka suaminya lebih penting dari rasa takut yang ia miliki.
Setelah berhasil menemukan kotak obat, Carlisle pun berbalik dan wanita itu tertegun melihat sang suami bertelanjang dada, ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali tenang dan memasang kembali ekspresi datarnya seperti biasa.
“Biarkan saya membantu Anda,” ucap Carlisle sembari duduk di dekat Elios dan meletakkan kotak obat di meja.
“Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri.” Pria itu mengambil obat juga perban, lalu beranjak dan berjalan ke dekat Cermin.
Carlisle tak mempermasalah penolakan Elios, ia tetap duduk di tempatnya sambil melihat sang suami mengobati lukanya sendiri.
“Baiklah jika itu yang Anda inginkan.”
Lama Carlisle memperhatikan Elios mengobati dirinya sendiri, selama itu pula tak ada yang bicara di antara keduanya, hanya suara hujan yang menjadi pemecah keheningan kala itu.
Carlisle yang menatap lekat Elios tak dapat berbohong jika pria itu memang tampan, wajahnya terpahat sempurna dengan garis rahang tegas, dan alis tebal di atas mata merah indahnya yang tajam.
Apa lagi tubuh gagah dan berotot yang dimilikinya membuat ia begitu sempurna, jauh berbeda dengan rumor yang selama ini terdengar tentang dirinya, seolah julukan ‘Monster’ benar-benar tak cocok disematkan padanya.
Padahal dia tampan, bagaimana bisa orang-orang memberi julukan monster padanya? Batin Carlisle.
“Biar saya membantu Anda,” ucap Carlisle saat melihat Elios kesusahan mengolesi obat ke belakang punggungnya.
Seperti yang terjadi di awal Elios menolak, tapi Carlisle begitu kekeh dan berhasil merebut obat dari tangan sang suami.
“Tolong terima bantuan saya, tuan Elios. Lagi pula Anda tidak bisa mengolesi obat itu sendiri kan?”
Elios terdiam, ia akhirnya mengizinkan Carlisle membantunya.
Saat ia ingin mengoles obat ke punggung pria tersebut, dapat Carlisle lihat berbagai bekas luka di tubuh Elios, menjadi saksi dari betapa mengerikannya peperangan.
“Apa semua bekas luka ini akibat perang?” tanya Carlisle sembari mengolesi obat ke luka kecil Elios.
Elios balas mengangguk.
Setelah mengolesi obat, tanpa sadar tangan Carlisle bergerak menyentuh salah satu bekas luka di punggung sang suami, dapat ia rasakan betapa beratnya perjuangan Elios selama ini.
Menyadari apa yang dilakukan Carlisle lewat cermin, sontak membuat Elios berbalik menghadap sang istri, yang juga membuat Carlisle terkejut melihat Elios tiba-tiba berbalik ke arahnya.
“Maaf, saya tidak memiliki n-niatan buruk, melihat bekas luka Anda membuat saya mengerti, kenapa Anda bisa mendapatkan julukan monster,” jelas Carlisle terbata-bata.
Elios tetap diam, hanya sorot matanya saja yang berubah tak setajam sebelumnya. Karna diamnya Elios tentu membuat suasana menjadi canggung, buru-buru Carlisle mengalihkan topik.
“Oh, ya, apa yang m-membuat Anda bisa terluka?” tanya Carlisle.
“Ada perampok yang menghadang di jalanan Torren saat aku ingin kembali kemari."
“Beruntung mereka bertemu denganku, sehingga aku bisa menumpas kejahatan mereka.”
Ada kengerian yang Carlisle rasakan saat mendengar jawaban Elios. Meski wanita itu takut, ia masih memasang wajah tenang.
“A-apa Anda hanya sendirian? K-kenapa t-tidak membawa kesatria?” tanya Carlisle lagi,
“Aku tidak membiarkan para kesatria terlibat, para perampok itu telah berani mengacau di wilayahku, maka aku menggunakan tanganku sendiri untuk menghabisi mereka.”
Carlisle semakin bergidik ngeri mendengarnya, matanya bergerak menatap tangan besar Elios. “Jadi itu sebabnya Anda pergi ke Torren, untuk menghabisi para penjahat di sana?”
“Aku ke Torren untuk mengawasi pembangunan kembali rumah-rumah korban penggusuran.”
Mendengar jawaban Elios, mata Carlisle kembali berpindah menatap Elios. “Maaf atas apa yang saudara saya lakukan.”
Sang suami menghela nafas, “Untuk apa kau meminta maaf atas kesalahan yang tidak kau lakukan?”
“Karna saya merasa perlu meminta maaf pada Anda, tuan Elios. Anda banyak dirugikan karna masalah ini.”
Elios mengernyit, “Kau masih menganggap dirimu bagian dari keluarga Targayen? Kau tak sadar mereka membuangmu?”
Kata-kata Elios tepat mengenai jantung Carlisle, ia tidak bisa mengelak, memang itulah faktanya, kedua orang tuanya bahkan tidak peduli putrinya itu masih hidup atau tidak.
Tidak ingin menunjukkan kesedihannya Carlisle memasang senyum. “Walaupun saya dibuang, tapi anehnya Anda masih mau memperlakukan sampah ini dengan baik.”
“Tentu saja, kau itu istriku, kau Duchess Alastair, bagaimana aku bisa memperlakukanmu dengan buruk, sedangkan kau juga memimpin wilayah ini bersamaku,” balas Elios.
Carlisle diam tak membalas, ia tak menyangka akan mendapat balasan seperti itu dari Elios, orang yang masih mau menganggapnya meski telah tahu rupa dirinya yang buruk.
Keduanya yang sama-sama diam membuat suasana hening kembali menguasai. Karena melihat Carlisle diam tak membalas, Elios mengembalikan perban ke tangannya.
“Terima kasih untuk bantuanmu,” ucap sang suami.
“Y-ya,” balas Carlisle yang kembali tersadar dari lamunannya.
“Apa kau punya selimut lebih?” tanya Elios.
“Ada beberapa di lemari, tapi lebih baik untuk malam ini Anda tidur di kamar ini saja.”
Alis pria itu mengernyit, “Maksudmu berbagi tempat tidur yang sama?”
Sontak Carlisle menggeleng, “T-tidak, saya tidak bisa tidur, jadi Anda bisa tidur di ranjang saya.”
“Apa alasannya karena aku?” tanya Elios dengan tatapan menyelidik.
Wanita itu tertawa kecil, “Tentu saja tidak tuan Elios, itu bukan karena Anda. Sejak awal saya tidak bisa tidur, itulah mengapa saya berada di ruang kerja hingga larut malam,” jelas Carlisle.
“Kau belum terbiasa di Oraballe?”
“Saya juga tidak tahu, lebih baik Anda beristirahat sekarang, Anda pasti lelah karna melawan perampok itu seorang diri dan menempuh perjalanan jauh kemari.”
Elios mendengus kesal, “Kau orang aneh, saat berada di dekatku kau tampak tak nyaman, tapi kau begitu khawatir saat melihatku terluka.”
“Kapan saya merasa tak nyaman di dekat Anda? Apa sikap saya aneh, wajar bukan jika luka itu harus cepat diobati.” Kilah Carlisle.
“Ya, Tapi nada suaramu seperti menyembunyikan sesuatu, apa lukaku mengingatkanmu pada hal yang menyakitkan?” tanya Elios penuh selidik.
Alis Carlisle terangkat, “Ya, saya mengakui kehebatan Anda dalam menilai sesuatu, tapi walaupun benar Anda tidak perlu tahu tentang apa yang menyakitkan saya, dan selamat malam untuk Anda,” balas Carlisle yang kemudian tersenyum tuk mengakhiri pembicaraan.
“Baiklah, selamat malam untukmu,” jawab Elios.
Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, “Jika kau mengantuk maka tidurlah di sampingku,” ucap Elios yang langsung terlelap tidur setelahnya.
Carlisle tak membalas ia masih terpaku di tempatnya, tatapannya berubah sendu.
Ya, aku pernah mengalami luka sepertimu, rasanya hampir mati dan semua orang tak peduli, batin Carlisle
Wanita itu tersenyum hampa, “Kata mereka, aku hanya bersandiwara.”
...****************...
Pagi kembali datang, di hari yang tak terlalu cerah juga tak mendung itu terlihat Silas dan Alie berjalan bersama menuju kamar Carlisle. Seperti biasa Alie membawa sarapan dan Silas membawa buku tugas untuk tuannya.
“Selamat pagi, Nyonya!” sapa keduanya sambil membuka pintu.
Ketika kamar tersebut terbuka sepenuhnya, Alie dan Silas terkejut mendapati Elios yang tertidur nyenyak di atas ranjang, sedangkan Carlisle sendiri tak terlihat batang hidungnya.
“Astaga, siapa pria itu? Berani-beraninya dia tidur di kamar Nyonya.”
“Itu tuan Duke,” balas Silas dengan ekspresi tak percaya menatap Elios.
Sontak Alie menoleh ke arah Silas, “Duke?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Ga pengen balas dendam apa
2024-12-12
0
Bzaa
lama2 jg bucin tuan duke
2024-11-19
0
ossy Novica
kekakuan yang lama2 bakal nyaman
2023-10-20
0