Sontak Alie menoleh ke arah Silas dengan mata terbelalak, “Duke?”
“Itu tuan Duke?”
“Sungguh? Kau tidak berbohong Silas?”
Silas yang masih menatap tuannya itu mengangguk perlahan, “Tuan tidak memberitahuku jika dia akan kembali,”
Tak lama Carlisle keluar dari ruang ganti pakaiannya, melihat Alie dan Silas berdiri di ambang pintu, ia segera berjalan menghampiri keduanya.
“Kalian di sini? Maaf, kalian harus menunggu lama karna aku.”
“Aku baru saja selesai mengganti gaun, sudah berapa lama kalian berdua berdiri di sini?” tanya Carlisle.
Saat melihat kedatangan Carlisle, ekspresi wajah Alie dan Silas seketika berubah. Seolah pikiran keduanya terhubung, dengan mudah dapat menyimpulkan bahwa mereka datang di saat yang tidak tepat.
“Tidak terlalu lama Nyonya?” balas Silas.
“Nyonya bisakah saya tahu kapan tuan Duke datang?” tanya Silas kemudian.
“Dia datang kemarin malam.”
“Sungguh, kenapa tidak membangunkan saya?”
“Duke tidak ingin mengganggu waktu istirahat kalian. Oh, Alie bisa kau membawa menu tambahan?”
Bukannya membalas Alie malah bertanya hal lain, “Nyonya kenapa Anda terlihat begitu lelah hari ini? Maksud saya kantung mata Anda...”
“Apa begitu terlihat? Ya, aku memang tidak bisa tidur semalam ... tapi itu tidak terlalu penting aku masih bisa bekerja.”
Mendengar jawaban Carlisle sontak kedua pelayan itu saling padang, apa lagi melihat Elios tidur bertelanjang dada membuat keduanya semakin membenarkan keyakinan mereka, Alie dan Silas kembali menatap Carlisle dengan ekspresi tak nyaman.
Carlisle mengernyit, bingung dengan apa yang mereka pikirkan, bagi wanita itu tak ada yang salah dengan dirinya.
“Nyonya kalau begitu kami permisi, maaf mengganggu waktu Anda.”
“Apa? Ini memang waktunya aku bekerja, ada apa dengan kalian?”
“T-tidak Nyonya, Anda beristirahat saja, maaf telah mengganggu waktu Anda bersama Duke, saya lupa jika Anda berdua pengantin baru,” balas Silas yang bersiap mengambil langkah seribu bersama Alie.
Tunggu tuan Elios?
Pengantin baru?
Dan kamarku apa hubungannya?
Oh astaga!
Menyadari kesalahpahaman itu Carlisle sontak mencegat keduanya, “Tunggu a-ku belum menyuruh kalian untuk pergi, berhenti!”
Silas dan Alie pun kembali berbalik, tuk menutupi kesalahan keduanya tersenyum. “Ya, Nyonya a-ada apa?” tanya Alie.
Dengan wajah bersemu merah Carlisle kembali menghampiri Alie dan Silas, “Dengar itu t-tidak seperti yang kalian pikiran, Duke tidur di kamarku karna kelelahan, dan aku benar-benar tidak bisa tidur kemarin malam, k-kalian mengertikan?” tanya Carlisle yang tergagap karna malu.
Kedua pelayannya itu mengangguk perlahan antara mengerti dan tidak, karna bagi mereka kata-kata tuannya malah semakin meyakinkan apa yang keduanya pikirkan.
“Baiklah itu tidak penting sekarang. Ayo, kita pergi ke ruang kerja, banyak yang harus dikerjakan hari ini.”
“B-baik Nyonya,” balas keduanya bersamaan.
...****************...
Duke terbangun dari tidur nyenyaknya, ia menggeliat dan menatap sekitar, menyadari tak ada orang selain dirinya di kamar tersebut Elios pun bangkit.
Pria itu kembali menatap sekitar mencoba mencari keberadaan sang istri. Karna tak mendapat tanda-tanda adanya Carlisle, Elios berjalan menuju balkon.
Pemandangan Oraballe yang indah membuat rasa lelah Elios hilang, baginya tidak ada yang lebih indah dari Mansion penuh kenangan dan pemandangan Oraballe. Di saat bersamaan Silas datang membawakan tuannya itu sarapan.
“Selamat pagi, Tuan. Saya membawakan Anda sarapan.”
Mendengar suara Silas, pria itu pun menengok.
“Apa Anda tidur nyenyak semalam?” tanya Silas lagi yang melihat kemeja dan jubah Elios tergeletak di sofa.
Sembari berjalan menghampiri sang pelayan Elios mengangguk, ia tak peduli pelayannya itu berpikiran apa.
Melihat perban yang melilit di perut tuannya sontak Silas kembali mengajukan pertanyaan.
“Apa Anda terluka saat menuju kemari?”
“Ini hanya luka kecil,” balas Duke Alastair singkat sambil memakan roti isi yang pelayannya itu bawa
“Silas ke mana perginya wanita pemilik kamar ini?”
“Maksud Anda Nyonya Duchess? Beliau telah lebih dulu pergi ke ruang kerja, Tuan.”
Elios terdiam sesaat sambil mengunyah roti isinya, baru setelahnya pria itu kembali mengajukan pertanyaan lain
“Lalu seperti apa dia selama di sini? Apa wanita itu melakukan tugasnya dengan baik?”
“Ya, Tuan. Nyonya Duchess bahkan mulai melakukan tugasnya sejak pertama tinggal di Mansion ini, dan Anda tahu selama di sini Nyonya banyak melakukan perubahan.”
“Nyonya menaikkan gaji para pekerja yang melakukan perkerjaan berat, ia juga memecat beberapa pelayan yang tak jujur dalam bekerja, bahkan Nyonya juga mengambil pekerjaan Anda yang terbengkalai.”
Alis Elio terangkat, “Dia melakukan pekerjaanku?”
“Ya, Tuan. Nyonya bilang dia ingin membantu Anda agar setelah kembali tak merasa letih mengurus kertas yang bertumpuk di atas meja.”
Elios terdiam, ia tak lagi mengajukan pertanyaan dan melanjutkan kembali ritual makannya dengan tenang.
“Maaf atas kekurangan saya selama ini, Tuan. Seharusnya memperhatikan para pelayan adalah pekerjaan saya, tapi malah Duchess yang menangani semuanya,” ucap Silas kemudian.
“Tak perlu merasa bersalah Silas. Kau juga manusia, selama ini kau yang mengurus semua keperluan di Mansion, dan kau selalu berusaha melakukan yang terbaik.”
Silas tersenyum, “Ternyata Anda dan Nyonya Duchess benar-benar cocok. Saya tidak tahu, apa yang membuat Anda sampai menyetujui perjodohan itu. Tapi saya berharap Anda dan Nyonya Duchess selalu bahagia dan bersama sampai kapan pun.”
Meski tak menjawab doa baik pelayannya, Elios membalas Silas dengan anggukan pelan.
Setelahnya pria itu memungut kemeja dan jubahnya yang tergeletak di sofa lalu memberikannya pada Silas. “Bersihkan ini.”
“Baik, Tuan.”
...****************...
Elios yang telah kembali ke kamarnya, tampak bersiap-siap pergi ke ruang kerja. Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas khas seorang Duke. Penampilan itu membuat Elios semakin berkarisma.
Bersama Silas ia pergi menuju ruang kerja. Akan tetapi ketika keduanya telah sampai di depan pintu ruangan, sang Duke tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Tuan kenapa Anda tiba-tiba berhenti?” tanya Silas yang berjalan di belakang Duke.
Elios diam tak membalas, pintu ruangan yang dibiarkan terbuka itu membuat sang Duke dapat melihat sang istri. Carlisle begitu sibuk dengan berkas di mejanya, sampai-sampai tak menyadari kehadiran suaminya sendiri.
“Dia bekerja di sini?” tanya Elios pada Silas tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun dari Carlisle
“Ya, Tuan. Karna Anda tidak ingin Anda yang berubah dari Mansion, akhirnya saya menunjukkan ini sebagai ruang kerja untuk nyonya Duchess.”
“Juga sesuai seperti yang Anda katakan dalam surat. Bahwa Duchess saat ini harus mendapatkan hak yang sama seperti Duchess terdahulu,” ucap Silas lagi.
Ya, Elios lupa jika ruang kerja kedua orang tuanya dulu berada di ruangan yang sama. Apalagi surat yang ditulisnya untuk Silas pun terbilang singkat, bukan salah sang pelayan jika Elios tak menulis pengecualian untuk Carlisle.
“Jika Anda ingin saya akan memisahkan ruang ker—“
“Tidak perlu, dengan begini aku bisa mengawasinya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Hhmmm
2024-12-12
0
Bzaa
tidurnya terpisah ya
2024-11-19
0
Ita Xiaomi
Silas, Alie jgn suka mengarang bebas ya 😁
2024-07-29
0