“Nyonya ini adalah bagian-bagian dari Mansion Duke, dan di sini tempat para kesatria Alastair berlatih.”
Carlisle dapat melihat bagaimana kerasnya para kesatria itu berlatih, mereka begitu serius, dan tak ada yang main-main dengan latihannya. Sangat jauh berbeda dengan kesatria keluarga Targayen.
Pantas memang jika pasukan keluarga Alastair menjadi yang terbaik di kekaisaran. Komandan kesatria yang melihat kedatangan Silas dan Carlisle segera datang menghampiri keduanya.
“Salam untuk Anda, Nyonya. Selamat datang di Oraballe dan tempat pelatihan kesatria ini, perkenalkan saya Berkant, komandan kesatria keluarga Alastair.”
Carlisle mengangguk, “Terima kasih untuk penyambutanmu.”
“Tidak perlu berterima kasih, Nyonya, itu sudah semestinya dilakukan.”
Carlisle tersenyum, perhatiannya kembali teralih pada para kesatria yang tengah berlatih.
“Kau benar-benar melatih mereka dengan baik,” puji Carlisle.
“Tentu saja, mereka memang harus berlatih keras. Apalagi dengan wilayah Duke yang luas, kami harus senantiasa berjaga-jaga, Nyonya.”
Ya, setelah sarapan pagi Silas langsung mengajak Carlisle mengelilingi Mansion. Mulai dari kamar tamu sampai ke tempat terakhir yang kini keduanya kunjungi,
“Silas, tolong jaga dan perlakukan Nyonya baru kita dengan baik, ya,” ucap Berkant.
“Tentu saja, aku akan berusaha melayani Nyonya Duchess dengan baik.”
Carlisle tersenyum kecil, “Kau tidak perlu berkata seperti itu Berkant, kalian semua sudah memperlakukanku dengan sangat baik, itu sudah sangat cukup bagiku.”
...****************...
Di hari yang sama setelah berkeliling Mansion hingga siang, Carlisle kini berada di ruang kerja Duke, ia duduk di salah satu meja yang sekarang menjadi miliknya.
“Apa sekarang aku dan Duke berbagi ruang kerja yang sama?” tanya Carlisle sembari merapikan tumpukan buku di mejanya.
“Ya, Nyonya bisa dibilang begitu, mulai sekarang Anda dan Tuan akan bekerja di ruangan yang sama.”
“Benarkah apa itu perintah dari Duke?”
Silas menggeleng, “Tidak, tapi Duke tidak ingin ada perubahan di Mansion-nya”
Carlisle mengerutkan kening “Tidak?”
“Ya, Nyonya, saya belum menceritakannya pada Anda. Dulu ruangan ini juga digunakan oleh Duke dan Duchess terdahulu, setelah kematian mereka Duke Elios tidak ingin ada yang berubah di Mansion ini, ia ingin kenangan Duke dan Duchess terdahulu tetap hidup.”
“Sungguh, apa Duke tidak marah jika aku berada di sini? Bisa saja aku mengganggu konsentrasinya bekerja?”
“Dan bisa saja tanpa sengaja menghancurkan benda berharga milik Duke dan Duchess terdahulu, itu akan menjadi masalah untukku,” ucap Carlisle lagi dengan ekspresi datarnya.
Silas tersenyum, “Itu tidak akan terjadi Nyonya, dan berhentilah berpikiran buruk. Justru tuan Duke yang menyuruh kami untuk memperlakukan Anda dengan baik.”
“Anda tidak perlu menghawatirkan apa pun Nyonya, tinggallah dengan nyaman di Mansion ini, Anda seorang Duchess dan Mansion ini juga milik Anda sekarang.”
Carlisle menatap lekat wajah Silas, kata-katanya membuat wanita itu sadar diri, bahwa ia bisa mati kapan saja di tangan Duke jika tak melakukan tugasnya dengan benar.
“Kau benar,” balas Carlisle singkat.
Wanita itu menghela nafas panjang beberapa kali, barulah kemudian kembali menatap Silas. “Bisakah sekarang kau memberi daftar tugas dan pekerjaanku?” tanya Carlisle yang telah selesai mengosongkan sebagian mejanya dari tumpukkan buku.
Silas tercengang, “H-hari ini? Apa tidak terlalu cepat Nyonya?”
“Aku tidak ingin membuang waktu, masih banyak hal yang harus kupelajari untuk menjadi seorang Duchess, Silas. Untuk itu lebih baik mempelajari semuanya lebih awal bukan?”
Untuk sesaat Silas terdiam, dan kemudian wajah itu tersenyum sambil menatap haru Carlisle.
“Jujur saat tuan Duke mengirim surat pada kami dan memberi tahu tentang pernikahannya, kami benar-benar senang, walau memang saya tidak menyangka akan semen dadak itu.”
“Rasanya seperti mimpi, Duke berusia 34 tahun yang hanya mementingkan pekerjaan akhirnya memutuskan berkeluarga.”
“Baiklah, saya akan membawa apa yang Anda inginkan.”
“Terima kasih Silas.”
Tak beberapa lama kepala pelayan itu datang membawa beberapa buku untuk Carlisle.
“Nyonya ini adalah catatan pengeluaran dan anggaran Mansion, saya senang akhirnya bisa memberikannya pada Anda, Duchess baru keluarga ini.”
“Juga ini adalah hal-hal yang butuh pertimbangan Anda sebagai Duchess,” ucapnya sembari meletakan setumpuk kertas di meja Carlisle.
“Sebanyak ini Silas?” tanya Carlisle lagi saat melihat tumpukan kertas tersebut.”
“Walau saya yang memegang tanggung jawab posisi Duchess yang kosong, saya tetap tidak bisa sembarangan mengambil keputusan, saya hanya kepala pelayan, Nyonya.”
“Jadi selama ini pekerjaan lain terlantar? Lalu kenapa kau tidak menyerahkannya pada Duke saja?”
“Saya ingin, tapi Duke selalu sibuk, kecuali ketika masalah yang terjadi begitu mendesak, barulah saya memberitahunya pada Duke.”
Ternyata benar, tidak ada yang sempurna di dunia ini, dia memang hebat dalam melatih para kesatria, tapi tidak dengan masalah dalam Mansion-nya.
Setelahnya Carlisle mulai sibuk membereskan beberapa pekerjaan yang selama ini terbengkalai di Mansion. Berkat pengetahuan yang ia dapatkan dari akademi dan bantuan Silas, Lise dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.
Karna pekerjaannya itu Carlisle baru keluar dari ruang kerja ketika malam telah datang, meski begitu tak tampak raut kelelahan di wajahnya
Semua akan baik-baik saja Carlisle, orang itu tidak akan membunuhmu tanpa alasan, dan setidaknya kau bisa hidup layak di Mansion ini.
...****************...
“Selamat pagi Nyonya!” ucap Alie memberi salam saat melihat tuannya terbangun.
“Saya sudah menyiapkan air hangat dan sarapan untuk Anda,”
“Ya, terima kasih Alie,” balas Carlisle sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Melihat raut bahagia Alie, Carlisle sontak bertanya “Alie bagaimana harimu kemarin?”
Alie tersenyum senang, “Sangat menyenangkan Nyonya, Anda tahu tuan Silas meminjamkan saya seekor kuda. dan saya mengelilingi pasar Oraballe dengan itu.”
“Sungguh Oraballe sangat indah, meski tidak sebesar ibu kota, tapi tempat ini benar-benar berbeda. Anda juga harus berkeliling Oraballe nanti.”
“Saya juga membeli banyak makanan dan barang dari uang yang Anda berikan, terima kasih, Nyonya.”
Carlisle mengangguk, “Baguslah jika kau menikmati waktu berliburmu.”
Wanita itu kemudian turun dari ranjangnya dan duduk untuk sarapan, Carlisle menikmati menu yang dibawa Alie, meski masakan Oraballe dan Ibu kota berbeda, tapi soal rasa Oraballe pemenangnya.
“Nyonya sudah dua hari kita di Oraballe, apa tuan Duke masih sibuk dengan wilayahnya yang lain?”
Carlisle kembali mengangguk, “Itu yang dikatakan Silas, aku juga tidak tahu kapan tuan Duke akan kembali.”
“Semoga tuan cepat kembali, saya penasaran seperti apa sosok tuan Duke,” ucap Alie berharap.
“Dan nyawa kita pun juga ikut kembali,” tambah Carlisle.
“Nyonya jangan menakuti saya, tidak mungkin Duke membunuh kita tanpa alasan.”
“Siapa yang tahu Alie, julukannya saja seorang Monster.”
“Nyonya saya yakin beliau tidak seburuk itu, jika tuan buruk sudah pasti tidak akan ada yang mau bekerja dengannya.”
Carlisle tersenyum melihat wajah takut Alie, ia pun kembali menyuap makanan ke mulutnya.
Ya dia tidak seburuk itu, selama aku melakukan tugasku dengan baik tidak mungkin dia membunuhku.
Setelahnya Carlisle bersiap pergi menuju ruang kerja, seperti kemarin ada banyak tugas yang harus ia kerjakan, tapi ia tak merasa berat akan itu, karna Silas dan Alie ada di sisinya untuk membantu.
...****************...
Hari terus berlalu, tak terasa sudah dua minggu lamanya Carlisle tinggal di Mansion Duke, ia mulai terbiasa dengan tugas dan orang-orang di Mansion. Selama itu pula Elios belum kembali, sampai-sampai Carlisle lupa bahwa ia telah menikah.
“Terima kasih Silas, maaf aku menyusahkanmu” ucap Carlisle kala melihat Silas membawakannya menu makan siang.
“Justru kamilah yang menyusahkan Anda. Anda sudah banyak berkorban untuk keluarga ini. Anda menanggung kesalahan yang tidak Anda lakukan,”
Sontak Carlisle menatap aneh Silas karna kata-kata terakhirnya. Silas tersenyum melihat ekspresi wajah tuannya itu.
“Anda rela meninggalkan keluarga, rela menikah dengan orang yang tidak Anda cintai, dan sama sekali tak mempermasalahkan ketika pernikahan tidak diadakan semewah bangsawan lainnya,” sambung Silas.
“Yang bahkan pengantin pria tidak hadir dalam penyambutan wanitanya ke tempat tinggalnya yang baru.”
Carlisle terdiam mendengar perkataan kepala pelayan tersebut, ia tidak merasa semua itu sebagai bentuk pengorbanan, baginya itu biasa dilakukan dan baru kali ini ia menemukan seseorang yang menghargai perbuatannya.
“Kau tahu tentang yang terjadi sebenarnya? Bukankah surat kabar menulis tentang diriku.”
“Ya, saya tahu surat kabar menceritakan semua itu kesalahan Anda, tapi orang-orang di Mansion ini tahu apa yang terjadi sebenarnya.”
“Saat para penduduk melaporkan tentang penggusuran tanah Torren, mereka memberi tahu sosok putri Duke yang menjadi dalangnya, tentu saja kami dapat menebak dengan mudah siapa orangnya.”
“Di kekaisaran ini hanya ada empat keluarga Duke, dan siapa yang tidak mengenal putri tercantik di kekaisaran.”
“Aku pikir kalian juga sama seperti yang lainnya, pantas saja kalian tidak merasa jijik dengan wanita gendut dan buruk rupa ini,” balas Carlisle.
“Nyonya tidak seburuk itu, berhenti merendahkan diri Anda sendiri.”
Carlisle tertawa kecil, “Tapi aku memang wanita buruk, orang-orang menyebutku wanita jahat dan aku ... aib keluarga.”
“Bahkan ketika saya mendengar tentang Anda, seorang sampah dan aib keluarga, itu sungguh tidak benar. Saya memang sempat berpikir begitu, tapi setelah bertemu Anda semuanya berubah.”
“Anda tidak seburuk itu Nyonya. Anda berkah bagi keluarga ini, padahal Anda baru beberapa minggu di Oraballe, tapi sudah melakukan banyak perubahan.”
Carlisle tersenyum hambar, ia merasa sulit harus berekspresi seperti apa mendengar pujian Silas, wanita itu menghala nafas beberapa kali dan kemudian kembali melakukan tugasnya.
Ketika malam kembali datang dan semua pelayan di Mansion telah tertidur, Carlisle masih berada di ruang kerjanya, ia tak dapat tidur dan memutuskan tetap di sana sembari membaca sebuah buku.
Entah mengapa kali ini matanya tetap terjaga, persis seperti saat pertama kali ia di Oraballe. Kala itu hujan juga turun dengan lebat membuat suasana malam semakin dingin dan mencekam.
Huh kenapa hari ini aku lagi-lagi tak dapat tidur?
Merasa malam semakin larut, Carlisle pun memutuskan kembali ke kamarnya.
Ya, mungkin jika aku mencoba tidur, kantuk akan datang dengan sendirinya.
Carlisle segera menutup bukunya dan mengambil pohon lilin sebagai penerang jalannya, tak lupa wanita itu mematikan perapian sebelum pergi.
Dalam pejalannya menuju kamar, Carlisle tak sengaja mendengar sayup-sayup suara langkah kaki seseorang, ia pun memperlambat langkahnya dan berjalan tanpa suara.
Benar saja saat Carlisle berbelok, ia dapat melihat seorang pria tinggi dengan jubah hitam yang basah tengah membelakangi dirinya, pria itu tampak sibuk mencoba membuka sebuah ruangan.
Sontak Carlisle bersembunyi di balik dinding, wanita itu segera mematikan lilin yang dibawanya.
Siapa dia? Dia tidak terlihat seperti pelayan di Mansion ini, apa jangan-jangan dia pencuri?
Seketika itu jantung Carlisle berdetak kencang, ia tidak ingin nyawanya berakhir di sini, tapi jika melawan ia sendiri pun tidak ahli dalam bela diri.
Apa yang harus kulakukan, bagaimana cara aku melawannya?
Di tengah kepanikannya mata Carlisle tertuju pada pohon lilin di tangannya.
Ya, pasti ini akan berhasil, batin Carlisle.
tanpa pikir panjang ia mendekati pria tersebut, Carlisle berjalan mendekat tanpa suara, saat ia mengayunkan pohon lilin dan hampir mengenai kepala pria tersebut, orang itu dengan cepat berbalik dan merebut pohon lilin dari tangan Carlisle.
Carlisle terkejut melihat pria itu menangkis, belum usai dengan keterkejutannya, dalam waktu singkat Carlisle lah yang kini berada di dekapan pria tersebut dengan pisau ditodongkan ke lehernya.
Apa dia ingin membunuhku? Seharusnya aku belajar bela diri sejak dulu.
“S-siapa kau! Apa yang ingin kau curi dari Mansion Duke!”
“Apa kau tidak takut dengan Duke Monster! Jika dia tahu kau ingin mencuri pasti dia akan membunuhmu!” teriak Carlisle.
Mendengar ucapan Carlisle, pria itu perlahan melepaskannya. Sadar selamat dari maut, Carlisle segera menjauh beberapa langkah dari pria tersebut.
“S-siapa kau, a-apa yang kau inginkan di Mansion Duke ini?” tanya Carlisle terbata-bata.
Di tengah temaram cahaya lilin, Carlisle dapat melihat wajah pria yang hampir membunuhnya itu. Rambut berwarna hitam legam yang basah karna hujan, dan mata semerah darah menatap tajam dirinya.
“Aku suamimu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Bzaa
rambut item dan mata merah, sama kayak kaisar Leon dan theo
2024-11-19
0
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
😃 salah sendiri lah dateng pulang kaya maling
2024-12-12
0
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
aishhh aku suamimu manis betulll
2024-11-23
0