Pada malam harinya Carlisle memutuskan memulai perjalanan ke barat, Alie pelayan setia Carlisle juga ikut bersamanya.
“Ayah, ibu aku pergi.”
“Ya, jaga dirimu baik-baik di sana, jangan memalukan keluarga Targayen,” jawab Duke.
“Kakak, aku akan selalu merindukanmu,” ucap Esmeralda sembari memeluk sang kakak.
“Ya, tolong hiduplah dengan baik Esmeralda,” balas Carlisle.
Meski ketiganya menyertai kepergian Carlisle, sama sekali tak terlihat raut kesedihan di wajah mereka. Sebaliknya Duke dan Duchess terlihat lega saat Carlisle menaiki kereta, seolah telah lama menunggu momen tersebut.
Carlisle tahu akan hal itu, tapi ia tidak ingin ambil pusing, baginya sudah cukup untuk menangisi keluarga yang tak peduli pada nasib putrinya sendiri.
Karna seberapa keras pun Carlisle berkorban, sekeras apa pun ia mencoba untuk mendapatkan cinta keluarganya, dia tetaplah putri sampah yang tak dianggap.
“Nona kenapa Anda tidak memberi tahu saya, jika Anda telah menikah?” tanya Alie kala keduanya telah berada di kereta.
“Bukankah aku sudah memberitahumu pagi tadi.”
“Ya, tapi saya tidak tahu jika Anda menikah secepat itu. Maksud saya biasanya akan ada perundingan untuk pesta dan semacamnya.”
“Kaisar yang meminta kami untuk mempercepat pernikahan, dan lagi pula Duke Alastair begitu sibuk, aku tidak ingin membebankannya tentang masalah kecil seperti itu.”
“Astaga! Anda bilang itu masalah kecil? Nona, itu bukan maslah kecil, pernikahan hanya dilakukan sekali seumur hidup, dan Anda melewatkannya begitu saja?”
Carlisle tertawa kecil, “Aku mengerti kekesalanmu, tapi walau kami mengadakan pesta pernikahan besar pun itu hanya akan memalukan Duke Alastair.”
Seketika ekspresi wajah Alie berubah “Tolong jangan berkata seperti itu Nona. Jangan anggap diri Anda seperti itu.”
Carlisle tersenyum, “Aku sadar diri Alie, siapa yang ingin menikah dengan wanita gendut dan buruk rupa sepertiku, dengan dia tetap mau melanjutkan pernikahan ini saja sudah begitu baik bagiku.”
Alie terdiam sesaat dengan wajah bersalah, lalu kemudian ia kembali mengajukan pertanyaan. “Apa tuan Duke benar-benar sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa merencanakan pesta pernikahan?”
“Alie aku yang setuju untuk menikah dengannya tanpa pesta, dan lagi pula setelah kami menandatangani pernikahan Duke Alastair langsung kembali ke Barat. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya.”
“Lalu apa tuan Duke Alastair memang seperti yang dirumorkan?”
“Mungkin, aku belum mengenalnya lebih dekat. Wajahnya saja aku tidak tahu seperti apa?”
“Bukankah Anda sudah menikah dengan tuan Duke, lalu bagaimana bisa Anda tidak tahu wajahnya?” tanya Alie lagi.
“Dia mengenakan jubah sejak awal aku bertemu dengannya, sehingga wajahnya tidak terlalu jelas terlihat.”
“Oh, saya harap Duke tidak seperti yang dirumorkan,” ucap Alie.
“Dan semoga tuan Duke bisa memperlakukan Anda dengan baik, jauh lebih baik dari Tuan dan Nyonya Duke Targayen.”
...****************...
Setelah menempuh perjalanan hampir dua minggu lamanya, barulah Carlisle sampai di wilayah Oraballe Barat, pantai dan tanah yang subur menjadi ciri khas daerah tersebut. Walaupun Oraballe tak seramai ibu kota, tapi ia memiliki keunikannya sendiri.
Musim semi semakin menambah keindahan Oraballe kala itu, di mana sepanjang perjalanan menuju Mansion, Carlisle dapat melihat hamparan bunga dan berbagai tumbuhan lainnya bermekaran.
Dapat Carlisle rasakan suasana nyaman dan menenangkannya Oraballe, sekaligus membuat Carlisle mengerti kenapa Elios lebih memilih tinggal di Barat dari pada di ibu kota seperti bangsawan lainnya.
Sesampainya di Mansion Duke Alastair, Carlisle disambut hangat oleh para pelayan di sana. Carlisle tak menyangka kedatangannya disambut baik oleh para bawahan Elios.
Ia menatap lekat Mansion besar yang kini ada di hadapannya, itu dua kali lebih besar dari pada Mansion keluarga Targayen, apa lagi letaknya yang berada di antara perbukitan dan pantai semakin menambah indahnya Mansion tersebut.
“Selamat datang di Oraballe, Nyonya.”
“Perkenalkan saya Silas, kepala pelayan di Mansion ini,” ucap pria setengah baya itu memperkenalkan diri.
“Nyonya, izinkan saya memandu Anda ke Mansion.”
“T-terima kasih Silas,” balas Carlisle yang masih saja menatap ke sekelilingnya.
“Maaf jika Tuan tidak ikut menyambut Anda, Nyonya. Setelah menyelesaikan urusan di ibu kota, tuan Duke langsung pergi ke Torren."
Jadi Monster itu langsung pergi ke Torren, apa dia tidak merasa lelah? Padahal orang itu langsung meninggalkan ibu kota setelah menandatangani surat pernikahan, batin Carlisle.
“Tidak masalah Silas, Duke sudah memberitahuku sejak awal di ibu kota.”
“Hari ini aku akan langsung kembali ke barat, aku tidak akan memaksamu untuk segera pindah, tidak masalah jika kau ingin tetap tinggal di Ibu kota.”
Itulah kata-kata yang masih Carlisle ingat, yang setelah mengucapkannya pria itu langsung pergi. Meski Carlisle mendapatkan kebebasan untuk pergi kapan saja, wanita itu tak ingin membuang waktu dan pergi ke Oraballe secepat yang ia bisa.
Bukan karena ingin menghindari orang tuanya, tapi Carlisle takut jika Elios berubah pikiran dan ia harus berakhir seperti yang Elios katakan pada kaisar.
“Syukurlah, maaf atas kelancangan saya, saya pikir Anda mencari Tuan.”
“Tidak, aku hanya merasa takjub dengan tepat ini, pemandangan di sini semuanya begitu indah.”
“Senang mendengar Anda menyukai Oraballe sejak awal.”
Setelahnya Silas membawa Carlisle dan Alie masuk, ia mengenalkan beberapa tempat sebelum akhirnya menunjukkan kamar baru yang akan ditempati Carlisle.
...****************...
Keesokan harinya, Carlisle yang masih belum terbiasa di Oraballe tak bisa tidur sejak malam, sekeras apa pun ia mencoba memejamkan matanya ia tetap terjaga hingga pagi.
Saat melihat langit mulai terang, Carlisle pun bangkit dari tempat tidurnya, wanita itu berjalan perlahan menuju balkon, pemandangan bukit dan pantai benar-benar mengubah suasana hati Carlisle.
Ia kembali teringat akan kata-kata Elios saat di perjalanan mengantarkan dirinya keluar dari ruangan kaisar.
“Terima kasih Anda mau menikah dengan saya, walaupun ada tahu saya tidak secantik para wanita bangsawan lainnya.”
Elios menengok ke arah Carlisle, “Mau seperti apa pun kau, aku tidak peduli. Aku memang bisa mendesak kaisar untuk membatalkan perjodohan, tapi kata-katamu bahwa kau bisa bertanggung jawab akan tugasmu ... membuat pernikahan ini tetap terjadi.”
Meski takut, seulas senyum muncul di wajah Carlisle, “Saya berjanji akan mengeban tugas saya dengan baik.”
“Aku akan memegang kata-katamu, Nyonya Alastair,” balas Elios lagi.
Carlisle menghela nafas panjang, kata-kata itu membuatnya kembali sadar mengapa dirinya berada di Oraballe.
Apa aku bisa sekuat batu karang itu? Walau ombak besar menerjangnya ia tetap kokoh.
Sedangkan untuk menikah saja aku tidak pernah membayangkannya, bisakah aku menjadi Duchess yang baik? Yang bahkan pernikahan ini saja tidak pernah diinginkan olehnya.
Tidak, bagaimana pun masalah yang harus kuhadapi, aku harus tetap bertahan, aku tidak boleh takut padanya.
Lama Carlisle berdiri memandang keindahan Oraballe, sampai sang pelayan datang membawakannya sarapan.
“Nona, oh tidak .... nyonya saya membawakan Anda sarapan.” Sembari meletakan nampan di atas meja.
“Terima kasih Alie.” Balas Carlisle yang tersadar dari lamunannya.
“No, maksud saya Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya Alie kala melihat Carlisle masih berdiri di balkon.
Mendengar kata-kata Alie, wanita itu pun kembali masuk. “Alie apa kau tidur dengan nyenyak, menurutmu seperti apa Mansion ini?”
“Ya, Nyonya saya tidur dengan nyenyak, apa lagi di Mansion ini saya mendapatkan kamar sendiri, saya benar-benar senang akan itu, lalu apa kemarin Anda tidak bisa tidur?” tanya Alie lagi saat melihat wajah lelah tuannya.
Carlisle mengangguk, “Entah, mungkin karna semuanya yang berubah tiba-tiba.”
“Apa ada yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda?”
Carlisle menggeleng, “Kita baru tiba kemarin, kau pasti juga harus membereskan barang-barangmu.”
“Pergilah Alie, hari ini kau tak perlu bekerja, istirahatlah dengan baik.”
“Barang yang saya bawa hanya sedikit, Anda tidak perlu memberikan saya waktu libur, saya baik-baik saja.”
Carlisle berjalan menuju peti dan mengambil sebuah kantong, lalu memberikannya pada Alie.
“Pergilah Alie lakukan apa pun yang kau inginkan dengan uang ini, jika kau tidak ingin beristirahat maka pergilah berlibur.”
“Tidak perlu, Nyonya.”
“Alie aku memberikannya untukmu, ambillah.”
Mata Alie berbinar menatap kantong pemberian tuannya yang kini berada di tangannya “Sungguh ini untuk saya?”
Carlisle kembali mengangguk.
Setelahnya Carlisle yang kembali sendiri mulai membuka satu-persatu peti, ia berniat membereskan barang-barang yang dibawanya ke Oraballe. Namun belum sempat Carlisle mengambil benda di dalamnya, Silas datang.
“Nyonya tidak perlu, letakan benda itu kembali!”
Carlisle yang mendengar itu sontak terhenti dari aktivitasnya dan menoleh ke arah Silas.
“Nyonya Anda tidak perlu melakukan itu, para pelayan akan segera membereskannya untuk Anda.”
“S-sungguh, b-baiklah,” balas Carlisle ragu-ragu.
Bukan tanpa alasan, saat masih berada di keluarga Targayen, Carlisle terbiasa melakukan semuanya sendiri,di tambah hanya Alie satu-satunya pelayan yang mau mendengarkan perintah Carlisle di Mansion keluarga Targayen.
“Maaf, atas kelancangan saya yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, karna melihat pintu terbuka lebar saya langsung masuk kemari, maafkan saya.”
“Tidak masalah, apa yang membawamu datang kemari Silas?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Di bandingkan dan abaikan itu rasana nano2 😐
2024-12-12
0
Bzaa
kerennn awal yg menarik
2024-11-19
0
Ayu Septiani
suka dengan ceritanya
2024-11-12
0