“Maksud paman saat ini?”
“Tentu saja, semakin cepat semakin baik bukan?”
“Apalagi yang kalian berdua pikirkan, memangnya kapan kalian akan menikah jika kalian terus menunda-nunda.”
Carlisle bingung dengan jalan pikiran kaisar, baru beberapa saat yang lalu orang itu menatap jijik dan kesalnya padanya, tapi kini telah berubah menjadi orang yang berbeda.
“Kenapa kau menatap bingung, Nona Targayen? Bukankah kau sendiri yang mengatakan kau telah ditakdirkan untuknya.”
“Ya, saya memang berkata begitu, tapi apa ini tidak terlalu cepat, Yang Mulia?”
“Ha, ha, tapi tidak menurutku.”
Kaisar berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah kertas dari dalam laci. “Ah, aku sudah lama menyiapkan ini untuk Lucian, tapi ternyata kaulah yang lebih dulu menikah Elio.”
...****************...
Carlisle kembali ke kediaman Duke, kala itu hari sudah menjelang siang dan hujan pun telah mereda, tampak Duke dan Duchess menyambut kedatangannya, terlihat raut kekhawatiran di wajah keduanya.
“Carlisle, bagaimana? Apa yang dikatakan kaisar tentangmu?” tanya Duke Targayen.
“Apa kaisar setuju?”
“Carlisle jangan diam saja, jawab pertanyaan ayahmu!” tegur sang ibu sembari mengguncang bahu Carlisle.
“Ya, kaisar setuju, aku juga sudah menandatangani surat pernikahan dengan Duke Alastair.”
Duke dan Duchess saling pandang kala mendengar jawaban Carlisle, wajah khawatir mereka seketika hilang dan berubah menjadi rasa lega.
“Syukurlah jika kaisar menyetujuinya.”
Ya, bukan Carlisle yang mereka khawatirkan tapi kaisar yang menyetujui atau tidaknya pernikahan tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi keduanya kembali masuk ke Mansion, mereka tak peduli akan berita yang Carlisle sampaikan, bahwa putri sampah mereka telah menikah.
Lagi-lagi rasa sesak ini!
Carlisle mengepalkan tangannya, mencoba meredam apa yang ia rasakan, padahal putrinya telah berkorban seperti yang mereka inginkan, tapi tak sekalipun Duke dan Duchess menanyakan keadaannya.
Di saat itu pula, Esmeralda yang datang entah dari mana tiba-tiba memeluk Lise dari belakang, tidak sendiri wanita itu datang bersama nona bangsawan lain.
“Kakak, selamat untuk pernikahanmu, aku senang kau menikah,” ucapnya memberi selamat.
Ya, berbeda dengan Carlisle, Esmeralda mewarisi rambut cokelat dan mata hijau ibunya, kulitnya putih bersih, hidung mancung, dan bibir tipisnya begitu padu dengan rambut panjang bergelombang itu.
“Lihatlah apa yang aku belikan untuk kakak.”
Esmeralda memasangkan sebuah gelang yang ia beli ke tangan Carlisle.
“Aku membelikan ini bersama para Lady sebagai hadiah pernikahan untuk kakak, semoga pernikahan kakak bahagia.”
Sikap yang ditunjukkan Esmeralda benar-benar tak menunjukkan rasa penyesalan atau pun rasa bersalah pada Lise. Carlisle tak menjawab, ia merasa dadanya semakin sesak melihat perlakuan Esmeralda.
Wanita itu kemudian meninggalkan sang adik begitu saja, ia tak dapat berkata-kata melihat sikap Esmeralda. Dapat ia dengar para nona bangsawan membicarakan dirinya.
“Padahal Adiknya bersusah payah membelikan hadiah pernikahan dan reaksi Nona Carlisle malah seperti itu.”
“Ya, pantas saja ia dijuluki wanita jahat, sifatnya tak mencerminkan sosok bangsawan sama sekali.”
“Tolong jangan berbicara seperti itu, kakak hanya merasa sedih karna harus meninggalkan keluarga ini, makanya dia bersikap begitu.”
“Oh, Nona Targayen, betapa murah hatinya Anda yang masih berpikir baik tentangnya.”
“Sungguh Anda dan Nona Carlisle sangat berbeda.”
Di kamarnya terlihat Carlisle yang duduk bersandar di balik pintu, ia mencoba menenangkan rasa sakit yang menelusuk di dadanya, namun semakin ia mencoba melupakan, semakin pula ingatannya itu memutar masa lalunya yang menyedihkan
Tanpa sadar Carlisle malah mengingat kembali apa yang terjadi hari ini, bagaimana dirinya yang menandatangani surat pernikahan hingga resmi menjadi istri dari Duke Alastair.
...Kilas Balik
...
“Kau bersedia jika kita menikah sekarang nona Targayen?”
Suara berat dan dingin Elios entah mengapa semakin membuat degup jantung Carlisle bertambah, mendapati pria tersebut menunggu jawabannya Carlisle pun mengangguk pelan.
“Sungguh? Tidak masalah bagimu jika pernikahan ini tidak digelar meriah seperti bangsawan lainnya?” tanya Elios meyakinkan.
Carlisle kembali mengangguk, “Anda orang yang sibuk, mengadakan pesta besar hanya akan membuang waktu berharga Anda. Lagi pula apa yang dikatakan kaisar benar, lebih cepat lebih baik bagi Anda maupun saya.”
Untuk sesaat pria itu terdiam, tanpa berkata apa pun ia berjalan menuju meja kaisar dan menandatangani surat pernikahan. Agak mengejutkan bagi Carlisle melihat tingkah Elios, dari setengah wajahnya yang terlihat tak ada rasa penyesalan atau memikirkan kembali keputusannya.
Padahal dia sudah melihat rupaku yang seperti ini, tapi tetap saja dia mau menerimaku, batin Carlisle.
“Carlisle,” panggil Kaisar.
Mendapati Carlisle tak menyahut, kaisar kembali memanggilnya. “Carlisle!”
Seketika Carlisle tersadar dari lamunannya, “Ya, Yang Mulia, maaf saya tidak menyadari Anda memanggil saya.”
“Kau tidak papa Nona Targayen?” tanya Kaisar memastikan.
Carlisle menggeleng, “Tidak, tidak papa Yang Mulia, saya baik-baik saja.”
“Baiklah, sekarang kemarilah. Ini giliranmu untuk menandatangani surat.”
“B-baik, Yang Mulia,” balas Carlisle sembari berjalan ke meja kaisar dan berdiri di samping Elios.
“Nah Carlisle tulislah nama dan tanda tanganmu di sini,” ucap kaisar lagi sambil menunjuk bagian kertas, dan memberikan pena bulu pada Carlisle.
Saat pena bulu telah berada di tangannya, dapat Carlisle rasakan degup jantungnya semakin kencang dan tubuhnya yang bergetar menandatangani surat pernikahan tersebut.
Carlisle tahu bahwa ia sendirilah yang setuju untuk menikah lebih cepat dengan Elios, tapi ia pula yang merasa takut dan tak menyangka bahwa semuanya akan berjalan seperti ini.
Apalagi ketika Carlisle selesai menandatangani surat, dan kaisar menyatakan keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri, perasaan Carlisle benar-benar berubah campur aduk.
“Selamat, dengan ini kunyatakan bahwa kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri!”
...Kilas Balik Selesai.
...
Ucapan selamat kaisar membuat Carlisle kembali tersadar dari lamunannya, ia merasa bahwa apa yang terjadi sekarang tidaklah nyata, bagi Carlisle semuanya seperti mimpi.
“Aku tidak percaya aku melakukan ini,” gerutunya pada dari sendiri.
Beberapa kali Carlisle menghela nafas panjang, setelah merasa lebih tenang barulah ia menatap ke sekeliling kamar. Ia segara memanggil Alie, dan meminta pelayan setianya itu untuk membantu membereskan barang yang akan dibawa ke Barat.
“Alie sebelum kau membantuku, tolong bawakan menu makan siang dan beberapa tambahan menu lainnya.”
“Baik, Nona.”
Saat Carlisle kembali sendiri, ia mengingat kata-kata Elios kala keduanya telah menandatangani surat pernikahan.
“Inglah Nona Targayen ... oh, tidak, kini Nyonya Alastair, ingatlah bahwa ini hanya pernikahan politik, jangan berharap apa pun dan jadilah orang yang bertanggung jawab akan tugasmu.”
Carlisle kembali menghela nafas, “Dia pikir aku akan mengabaikan tugasku begitu?” Gerutu Carlisle sembari mengemas pakaiannya ke peti.
Setidaknya aku punya tempat, dan bisa hidup dengan nyaman di sana jika aku melakukan tugasku dengan baik.
Apa pun yang terjadi nanti, aku akan tetap bertahan di pernikahan ini. Aku akan tetap bertahan meski dia mencintai orang lain, batin Carlisle.
...****************...
Pagi hari, saat Carlisle tengah sibuk memilih barang-barang yang akan dibawa, Alie datang membawa surat kabar untuknya, wajah pelayan itu tampak tak senang saat memberikan surat kabar tersebut pada tuannya.
“Ada apa Alie?” tanya Carlisle yang menyadari ekspresi pelayan satu-satunya itu.
“Saya harap Anda melewatkan berita halaman utama, Nona.”
“Memangnya kenapa?” tanya Carlisle lagi sembari membuka surat kabar.
Ya, begitu cepat berita tentang dirinya yang menikah dengan Elios tersebar. Bukannya marah Carlisle tertawa membaca judul berita tentang dirinya.
“Akibat mencaplok tanah, Putri pertama keluarga Duke menikah dengan Duke monster!”
“Alie yang benar saja, kenapa judul berita tentangku begini?”
Dalam berita tersebut, Carlisle dideskripsikan begitu buruk, seolah-olah dirinyalah yang mengambil tanah Duke Alastair dan bukannya Esmeralda.
“Berita ini kurang menarik, Alie.”
“Seharusnya ‘Karna kejahatannya, sampah keluarga Duke akhirnya dibuang oleh Duke dan Duchess.’ “
“Aku rasa itu akan membuat surat kabar semakin laku terjual.”
Melihat reaksi tuannya Alie malah merasa sedih, bagi bangsawan umum hal itu pasti akan menjadi masalah serius dan sangat memalukan jika terjadi pada mereka. Tapi Carlisle ... dia hanya menganggap remeh dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Nona, apa Anda tidak sedih? Orang-orang berbicara buruk tentang Anda.”
“Untuk Apa? Mereka hanya menggonggong, mereka hanya mendengar berita, tak sekalipun mereka tahu tentang hidupku, Alie.”
“Percuma membela diri, kau akan tetap buruk bagi pembencimu.”
“Sudah jangan teralu memikirkan hal tersebut, perkataan manusia tidak akan ada habisnya, lebih baik sekarang kau membantuku berkemas,” ucap Carlisle lagi.
“B-baik, Nona,” balas Alie dengan wajah murung dan nada tak bersemangatnya.
“Hm, bisa saya bertanya sesuatu pada Anda?”
“Kau ingin bertanya apa?”
“Kapan Anda dan tuan Duke Alastair menikah? Apa pernikahannya akan dilangsungkan di barat, Nona?”
“Kami sudah menikah Alie,” balas Carlisle singkat.
“Apaaa!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ayu Septiani
carlisle memang lebih baik keluar dari keluarga tosix itu
2024-11-12
0
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Adik bermuka dua + muka tembok 😏
2024-12-12
0
Bzaa
pernikahan tercepat 😄🤣
2024-11-19
0