Saudara Kandung

Ketika hari sudah menjelang malam, Samanta keluar dari ballroom bersama dengan Felix dan Elsa. Dia tidak menyangkah bahwa peserta yang hadir ada begitu banyak, jika tidak salah itu berjumlah 200-an orang lebih.

Dominan hadirin adalah pelajar setingkat sekolah menengah dan universitas. Juga seorang gadis kecil, yang paling meninggalkan kesan untuknya. Samanta tidak menyangkah jika karya cerpen dongengnya akan di minati oleh anak kecil.

Ketika sampai di lokasi, Samanta tidak lupa menggunakan maskernya sebelum keluar. Dia tidak menyangkah bahwa menjadi penulis juga bisa membuatnya seperti para idola Entertainment tang memiliki banyak penggemar dimana-mana.

"Aunty!" suara teriakan Lala yang familiar membuat Samanta menoleh pada sumber suara.

Itu fans kecilnya!

Gadis kecil itu sedang duduk di pangkuan seorang wanita berpakaian formal kantoran. Wanita itu tersenyum dengan lembut padanya, sehingga membuat Samanta sedikit merasa canggung.

"Aku pikir ini pertemuan pertama kita, benar? Perkenalkan Aku Irene Sevilla, dan ini Lalaku Alula Xavier usianya baru akan jalan lima tahun."

"Aunty, panggil aku Lala. Jangan ikut Mommy panggil kelinci, Lala gak suka wortel, kelinci suka wortel."

Samanta tersenyum tipis, Xavier nama itu tampak familier di telinganya, akan tetapi Samanta tidak dapat mengingatnya dengan pasti, "Halo, gadis kecil nama aunty Samanta. Aunty juga punya Arsa di rumah, lain kali aunty akan ajak dia kemari."

"No, aunty. Lala gak suka banteng, banteng itu berbahaya bisa seruduk tuar!"

Irene melihat putrinya dan tersenyum, begitupun juga dengan Samanta. Melihat Lala membuatnya jadi merindukan Arsanya. Dia rasanya ingin segera pulang dan menghabiskan waktu bersama si kecil.

Sayangnya dia masih memiliki pekerjaan hari ini.

"Sayang, pergilah bersama kakak Lin, Mommy masih harus bekerja dengan aunty." ucapnya pada sang putri.

Lala mengangguk dan turun dari pangkuan Ibunya, dia berlari dengan kaki kecilnya menghampiri pengasuhnya yang sudah berdiri di ambang pintu.

Setelah pintu tertutup, ruangan menjadi lebih hening sejenak. Sebelum briefing mereka mulai, sutradara meletakkan beberapa lembar foto para pemeran di atas meja panjang.

"Baiklah, ini beberapa kandidat yang lulus audisi. Elsa Casilla, aktris baru yang belum lama menapakkan kakinya di dunia entertainment, Bima Samudra aktor peringkat B, sudah membintangi beberapa film dan serial tv, Emma Gabriel aktris peringkat B sudah membintangi banyak film dan serial Tv, dia juga berkecimpung di dunia modeling...."

"Em, aku rasa Emma tampak bagus untuk memerankan Sasa. Dia memiliki pembawaan yang kuat dan penampilan yang lembut, Elsa sendiri karena pendatang baru tidak harus mengambil peran terlalu banyak, dia cocok menjadi sinar bulan putih Liam, bagaimana menurut kalian?"

"Tidak, bagaimana kau bisa memberikan peran sinar bulan putih kepada Elsa? Amber memiliki karakter yang licik, serigala berbulu domba. Aku rasa peran itu lebih cocok untuk Emma..."sutradara kedua mengeluarkan pendapatnya.

“Berhenti bicara! Kalian hanya membahas tentang bintang lama dan bintang baru, bagaimana dengan bintang tengah, Siska Melania dia seroang aktris peringkat C, sudah pernah membintangi beberapa film layar lebar, sinetron, penyanyi yang sedang naik daun” Tuan Timi, asisten Irene Flower Project Film angkat suara.

Dua stiradara menoleh padanya, diam untuk sejenak kemudian melirik ke arah Samanta untuk meminta pendapatnya. Samanta sejak tadi menghabiskan waktu untuk menilai beberapa pemeran melalui penampilannya dari gambar.

“Baiklah karena ini adalah film pertamaku, sebaiknya lakukan sesederhana mungkin, kekhawatiran kalian tentang pemeran Sasa dan aktris pendatang baru, Elsa. Dalam novelnya Sasa memiliki seorang teman, berikan peran itu padanya. Ada pula untuk Sasa dan Amber, biarkan Siska dan Emma mencobanya. Sisanya biarkan kalian menentukannya sendiri.”

“Oke, kita bisa mencoba untuk membiarkannya bermain peran itu, jika tidak sesuai maka mari atur kembali.”

Setelah semuanya setuju, briefing pun di akhiri dan semua yang hadir mulai meninggalkan ruangan. Yang tersisa hanyalah Irene dan Samanta, sebenarnya Irene hari ini hanya datang untuk memeriksa perusahaan, dan secara tidak langsung ikut mendengarkan briefing untuk melihat kinerja orang-orangnya.

Setelah berjalan keluar ruangan, suara langka kaki kecil yang sedang berlari terdengar. Lala berlari kearah Irene dan memeluk Ibunya, merentangkan tangannya untuk di gendong.

Irene melihat wajah Lala tampaknya mengantuk, mungkin karena lelah bermain. Samanta diam-diam tersenyum dan mencuri pandang, pada sepasang ibu dan anak itu.

“Kalau begitu, aku akan pamit untuk pulang dulu.”

Irene menatapnya dan sedikit senyum muncul di wajahnya, “bagaimana jika kita makan siang bersama?”

Samanta mengecek jam di ponselnya kemudian mengangguk, jam baru menunjukkan pukul 14.00 siang. Mereka menuju ke kantin perusahaan, Sementara Lala sudah berpindah ke pengasuhnya.

Irene mengabadikan momennya bersama dengan Samanta dan mengirim hasil tangkapan kameranya pada suami tercinta:

Foto

Foto

Foto

[Irene: Sayang, aku bersama dengan adik ipar. Aku akan lambat pulang.]

[Jerome; Kirimkan lokasimu, aku akan datang]

[Irene: 🚩 Flower Project Film]

[Irene: Aku di kantin, datang cepat selagi makanan kami belum habis]

[Jerome: Segera nyonya]

Irene menatap Samanta yang masih memakan makanannya, kemudian berkata: “Seseorang akan datang menyusul, apa kau tidak masalah?”

Samanta mengernyit dan berbalik menatapnya, kemudian menggeleng, “Tidak masalah, aku juga sedang tidak terburu-buru.”

“Baiklah, kalau begitu kita tunggu orang itu datang.”

Samanta sebelumnya tidak banyak berpikir tentang wanita di depannya ini, tapi sekarang dia mulai memikirkannya. Sejak mereka bertemu, wanita itu tidak memiliki jarak dengannya, bertingkah seperti sudah kenal sejak lama.

Atau mungkin itu memang hanya persamaannya saja?

Samanta mencoba mengalihkan pikirannya jadi dia mencoba menoleh ke arah lain, tapi seseorang yang sedang berjalan terburu-buru itu kembali membuatnya mengernyit, bingung.

Dia merasa pernah melihat pria tinggi tampan itu.

Jerome duduk di samping Samanta dengan wajah yang memerah karena habis berlari. Dia terus saja memperhatikan Samanta dengan mata yang surga akan menangis, tangannya menggenggam tangan Irene agar dia bisa lebih tenang.

Irene memperkenalkan pria itu, “Dia Jerome Xavier, suamiku”

“Aku Samanta Leona, salam kenal Tuan Xavier.” jawabnya linglung.

“Sebenarnya, kami memiliki urusan pribadi denganmu. Maaf baru Menemui mu sekarang, bacalah dan aku harap kau bisa langsung mengerti.” Irene mengeluarkan sebuah dokumen, hasil tes DNA suaminya beberapa hari lalu..

Samanta mengambil dokumen itu, mengernyit dengan bingung tapi masih tetap membacanya hingga akhir kemudian dia menjadi terdiam dengan Keterkejutan di wajahnya:

99,99999% Saudara kandung!

Samanta meletakkan hasil tes DNA di atas meja dan langsung menatap sepasang suami istri yang sedang duduk di depannya dengan bingung, dan akhirnya Samanta tidak punya pilihan selain bertanya; “Dari sepanjang waktu hidupku Kenapa baru datang sekarang?”

Terpopuler

Comments

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2023-11-02

0

Al Vian

Al Vian

lanjut Thor

2023-11-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!