Samanta membuka jendela kamarnya dan mengirup aroma pagi yang menyegarkan. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Samanta merasakan ketentraman selama beberapa hari ini.
Suaminya Arkana memiliki perjalan bisnis ke luar kota, sehingga rumah menjadi hak miliknya sendir. Dia membuka pintu kemudian melangkah untuk menuruni anak tangga rumah mereka.
Menuju ke dapur, Samanta membuka lemari pendingin untuk melihat persediaan bahan makanan mereka. Ternyata lemari pendingin itu kosong, Samanta lupa membelinya lagi.
Rumah mereka begitu sepi, meskipun Samanta menikahi seorang tuan muda kaya Raya, dia sama sekali tidak mendapatkan fasilitas yang seharusnya dia dapatkan. Semuanya sudah di ambil oleh keluarga angkatnya.
“Nona, kemana kau akan pergi?” Pak Tono, satpam rumah mereka bertanya pada Samanta ketika melihat wanita itu.berjalan keluar gerbang.
Samanta hanya.berbalik dan melirik Pak Tono sejenak lalu tersenyum dan menjawab, “Aku hanya akan ke supermarket depan, paman. Persediaan bahan makanan sudah habis, aku harus mengisinya lagi.”
“Nona, tapi tuan besar berkata bahwa kau tidak bisa meninggalkan rumah sebelum dia kembali..”
“Kapan orang itu akan pulang?” Samanta tidak mempedulikan apa yang baru saja di katakan oleh Pak Tono.
"Besok pagi nona, tuan akan kembali besok pagi,” Pak Tono menjawab patuh.
Samanta terdiam. Jika dia harus menunggu anjing itu kembali, dia pasti akan mati kelaparan, Samanta sangat lapar, dia belum makan sejak pagi tadi.
Perutnya begitu lapar dan dia tidak bisa menahannya lagi, jadi Samanta memberikan sebuah daftar pada Pada Pak Tono dan segenggam uang, “Kalau begitu, paman saja yang pergi belanja, aku yang jaga rumah..”
Samanta masuk kedalam rumah kembali sambil menunggu Pak Tono kembali. Dia duduk di depan sofa dan menyalakan televisi, mencari berita harian yang sedang Trent di luar sana.
...Breaking News...
...Pengusaha muda kaya Raya abad ini dikabarkan dekat dengan seorang wanita yang di gadang-gadang sebagai teratai putih masa lalu Tuan muda Frederik....
Samanta menatap layar TV dengan diam, sejujurnya dia tidak mengharapkan hal yang lebih akan terjadi dalam hubungan mereka, Samanta tahu dia adalah seorang pengganti dan nyonya asli rumah ini suatu hari akan kembali.
“Apakah kebebasanku sudah di depan mata?” Benaknya memikirkan pertanyaan ini, Tubuhnya tidak kuat jika terus menanggung beban tersebut.
Dia memiliki harapan yang besar, Samanta lelah hidup dalam sangkar burung yang pengap. tidak lama Pak Tono kembali dengan sekantong bahan makanan.
“Nona, hendak saya letakkan dimana barang-barang ini?”
“Tolong, letakkan di dapur saja paman.” Samanta tersenyum pada Pak Tono.
Setelah itu, Samanta menuju dapur dan memasak makan malam untuk dirinya sendiri, mungkin karena terlalu banyak berpikir Samanta akhirnya memasak terlalu banyak makanan. saat itu dia sedang menata makanan ketika pintu rumah tiba-tiba dibuka oleh seseorang.
Arkana di ujung sana menatapnya dengan jengah. Samanta menjadi linglung. Bukankah kata pak Tono suaminya baru akan pulang besok pagi? Kenapa tiba-tiba ada di rumah?
Arkana meletakkan tas kantornya di kursi lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah dokumen dari dalam tasnya, dokumen itu di letakkan di atas meja makan dengan sebuah pena juga.
“Tandatangani sekarang juga,” Ucap Arkana.
Dalam diamnya, Samanta mengambil dokumen itu lalu membacanya, “Surat Cerai?”
“Em, tunggu apa lagi? Dengan bercerai kau bisa memiliki apa yang kau mau kan? Cepat tandatangan dan aku harap kau segera meninggalkan rumah ini karena nyonya asli akan segera kembali.”
Samanta menghela napasnya, ‘Jadi itu benar, dia benar-benar sudah kembali?’
Hati Samanta bersorak karena mendapatkan keberuntungan hari ini!
Samanta tidak tahu banyak tentang siapa teratai putih Arkana itu, dia hanya mengetahui namanya Irene dan teman sekolah suaminya dulu. Pokoknya dia tidak peduli, yang penting dia bisa bebas sekarang.
Samanta mengambil pena dan menandatangani surat perceraian itu di depan mata Arkana. Tidak tahu kenapa ketika Arkana melihat itu, dia tiba-tiba ingin marah, ‘Sudah ku duga, kau hanya mengincar hartaku, ck dasar wanita murahan'
“Sudah, sekarang makanlah bersamaku. Paling tidak anggap ini sebagai yang pertama dan terakhir.” Samanta tersenyum manis pada Arkana.
Arkana hanya diam dan memilih untuk duduk lalu makan malam bersama dengan Samanta. Setelah selesai makan, Arkana meninggalkan meja makan, mengambil jasnya dan tas kantornya kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Samanta hanya menatapnya sambil memegang dokumen perceraian mereka, ada beberapa kompensasi di dalamnya, berupa mobil, rumah besar, Vila dan Saham perusahaan Frederik.
“Mungkin dia benar-benar berpikir aku mengincar hartanya, sampai dia memberi begitu banyak, ck dasar payah.”
Samanta berdiri dan membawa dokumen itu kedalam kamarnya. Tiga hari kemudian, palu di ketuk oleh hakim. Keduanya sudah resmi bercerai, Samanta segera kembali ke rumah dan mengambil kopernya kemudian meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan.
Samanta menuju ke bandara dan akan melakukan penerbangan ke suatu tempat yang asing untuknya, Samanta tersenyum melihat dari luar jendela pesawat yang sudah akan berangkat, “Akhirnya, aku bisa merasakan kebebasan juga....”
“Selamat tinggal masa lalu yang kelam dan selamat datang masa depanku yang tentram...”
Samanta tidak menyangka jika akhirnya dia bisa mewujudkan mimpinya untuk hidup bebas, setelah sekian lamanya mengalami penganiayaan dia akhirnya bisa merasakan ketenangan juga, jauh dari anjing gila, tidak ada hubungan dengan keluarga angkatnya dan juga yang paling penting dia akhirnya berhenti menjadi pengantin pengganti.
Samanta tidak tahu hal besar apa yang akan dia temukan di luar sana dan yang menunggunya di masa depan. Dia hanya berencana untuk hidup baik dan tentram, mengumpulkan uang yang banyak untuk hari tuanya nanti.
Di satu sisi, Arkana di dalam ruang kerjanya menatap lembaran yang dia berikan pada Samanta beberapa hari lalu, kemudian dia mendengar suara ketukan di pintu ruangannya.
Tok!
Tok!
Tok!
Arkana menghela napasnya, "Masuk"
Seorang pria berjas masuk kedalam ruangannya, dia menunduk dan memberi hormat, "Selamat sore Tuan,”
"Ada perlu apa kau datang kemari Ed?” Arkana bertanya pada asisten pribadinya
“Tuan, nona Irene akan kembali Lusa Nanti.” Edward memberitahu tujuannya kemari.
"Hm, baiklah. jika sudah tidak ada lagi, kau bisa pergi dan kerjakan tugasmu."
“Tuan, Nona Irene meminta agar anda menjemputnya Lusa nanti, pukul tiga sore.”
"Katakan padanya, aku sedang sibuk.”
”Tapi tuan...”
"Kau mau lakukan atau gajimu ku potong?”
“Baik tuan" Edward menundukkan kepalanya dengan takut kemudian dia mundur perlahan untuk keluar dari ruangan Arkana.
Dia baru saja resmi bercerai dengan istrinya tetapi Arkana merasakan sedikit ketidakbahagiaan dalam dirinya. Dia tidak tahu itu apa, dia hanya merasa tidak nyaman di suatu tempat.
"Aku seharusnya bahagia karena akhirnya bisa lepas dari wanita itu..." Arkana menatap nyalang keluar jendela kantor dengan sebuah bingkai foto yang memperlihatkan seorang kekasih hatinya yang sedang bermain prosotan di tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments