Lima Tahun kemudian

Lima Tahun kemudian, Samanta memilih untuk kembali ke kota kelahirannya. Tuntunan pekerjaan adalah alasan utama yang membuatnya harus kembali menginjakkan kakinya di kota ini lagi.

Selama lima tahun ini, kehidupan Samanta benar-benar mengalami banyak perubahan. Dimulai dari yang tidak memiliki apa-apa, seperti kendala yang dia hadapi di tahun-tahun awal adalah pekerjaan dan uang.

Belum lagi saat itu dia sudah berbadan dua, dia harus menyiapkan banyak uang untuk persalinannya dan kebutuhan si anak. Samanta hidup dari hasil menulisnya, terkadang ada pembaca yang baik hati mengirimnya banyak hadiah dan stiker yang dapat dia tukar menjadi rupiah.

Dan sekarang, alasan kembalinya dirinya ke kota kelahiran tidak lain karena karya miliknya akan segera di adopsi ke film layar lebar tidak lama Setelah Novel miliknya laris di media, Samanta dikontak oleh editor untuk penerbitan cetak.

Setelah Novel pertama selesai, Samanta menerbitkan novel keduanya yang berjudul "Bintang Kecil" cerita itu mengisahkan tentang perjuangan Sasa & putranya untuk bertahan hidup setelah dia pergi.

"Ingat untuk tidak datang terlambat besok, kau memiliki skedul yang padat." Felix selaku asisten dan editornya berbicara setelah duduk di kursi dalam kafe.

"Em, aku tahu. aku tidak akan terlambat" Samanta menghela napasnya dan memandang Felix.

"Naskah film mu sudah selesai, pencarian pemeran akan segera di lakukan dalam waktu dekat," Felix menyeduh minuman yang sudah mereka pesan.

Samanta mengangguk ketika dia mendengar penuturan dari editornya; "Ya, baik. aku akan pergi sendiri untuk melihat para peserta, kabari aku jadwalnya."

"Em, dan juga apa kau sudah menyelesaikan bab selanjutnya dari novel keduamu?" Felix bertanya padanya sambil dia memperhatikan ponselnya dan mengawasi perkembangan netizen.

Samanta menjadi muram ketika mengingat novel keduanya; "Belum, aku berencana untuk hiatus sebentar. Sekarang sedang tidak banyak ide dan minat untuk menulis, aku membutuhkan inspirasi"

Felix Theo, seorang editor dari salah satu penerbit yang sudah banyak menerbitkan novel terkenal. dia adalah teman sekolah Aster dan Samanta dulu.

Lima tahun lalu, dia melihat postingan Aster di sosial media.

Dia Tidak sengaja iseng berkomentar dengan niat menyapa kawan lama, tapi dia tidak menyangkah akan mendapatkan pesan balasan dari Aster. Aster menceritakan situasinya, dan juga tentang Samanta.

Sebagai seorang pria dia berkali-kali mengutuk mantan suami kedua temannya.

Lalu, sekarang dia menjadi bagian dari keluarga kecil itu. Felix menjadi sosok ayah untuk kedua anak kecil itu, meskipun Aster dan Samanta tidak begitu setuju, karena Felix masih memiliki masa depan yang cerah.

Samanta memperhatikan Felix yang tidak memberikan tanggapannya tentang rencana hiatusnya, jadi dia menjentikkan jarinya di depan pria itu.

"Hei, bagaimana menurutmu? Tak apakan jika kau memilih untuk hiatus dulu?" Tanya Samanta, dia takut permintaannya akan di tolak karena permintaan update terus saja meningkat.

Banyak pembaca yang menantikan kelanjutan novel kedua Samanta, dia juga tidak ingin berhenti tetapi otaknya memang sedang tidak baik. Belakangan ini, Samanta kesulitan untuk kembali menulis alur bab selanjutnya.

Novelnya berhenti pada bab 50 dimana Sasa dan putranya akhirnya memilih untuk kembali ke kota kelahiran Sasa dan memulai kembali hidupnya disana bersama dengan putranya.

"Em... Boleh aku tahu alasannya?" Felix menatapnya dan menunggu jawaban Samanta.

"Putraku sekarang sedang sangat aktif, dan juga dengan rencana perfilman aku berpikir itu akan semakin banyak mengambil waktuku." jawabnya.

Felix mengangguk, "Baiklah jika itu keputusanmu. aku akan membicarakannya dengan pihak kantor. Aku rasa kau memang membutuhkan istirahat sejenak."

"Ya, terima kasih." Samanta menyeduh tehnya yang sudah mulai dingin.

Setelah pertemuan mereka selesai, Samanta kembali ke apartemennya dengan mengunakan Taksi, Felix tidak dapat mengantarnya karena dia masih memiliki urusan di kantor.

Selama di jalan, Samanta melihat keluar kaca mobil. Kota yang sudah lama dia tinggalkan sekarang memiliki banyak perubahan, ada perpustakaan besar di dekat taman yang dulu pernah dia kunjungi.

Kota ini menyimpan banyak kenangan dalam dirinya, beberapa kenangan yang tidak terlalu jelas di sebuah rumah besar, kemudian kenangan di panti asuhan, masa kecilnya sebelum dia di adopsi oleh keluarga James.

Ketika Samanta tiba di apartemennya dia menekan tombol untuk memasukkan beberapa digit kode. Baru saja selangkah Samanta masuki apartemen, Langkahnya sudah terhenti karena ditahan oleh sesuatu.

Arsa sedang memeluk kakinya, dengan tangan imutnya. kemudian kepala Arsa mendongak, dan matanya menatap Samanta dengan berbinar seperti cahaya bintang kecil.

"Mami!!" suara Arsa menggema di ruangan itu, dan tangannya kemudian terangkat minta untuk di peluk. Samanta tersenyum dan mengangkat Arsa, membawanya kedalam pelukannya, "Sayang, mami pulang...Cup"

"Ish, mami berhenti, Arsa sudah besar. Jangan cium lagi..." wajah Arsa bernama Arsa itu memerah dan pipinya menggembung dengan bibir mengerucut menatap maminya.

"Sudah besar yah, berapa usia Arsa mami?" Samanta dengan iseng bertanya sambil menggoda putra kecilnya.

"Arsa sudah 4 tahun mami. sudah besar, sudah bisa bilang rrr beda sama kakak Jim, belum bisa bilang rrr, masih bayi..." Arsa tersenyum dengan bangga ketika dia memuji dirinya sendiri.

Samanta tersenyum dengan lembut ketika dia mendengar alasan putranya yang menganggap dirinya sudah besar: "Sayang kau masih balita..."

Wajah Arsa menjadi cemberut, dia masih tetap kekeh pada pendiriannya; "Arsa sudah besar mami! Balita itu yang tidak bisa bilang rrr seperti kakak Jim, kakak Jim masih bayi kecil, belum bisa bilang rrr"

Tuing!

Hwahh!!!!

Suara tangisan bocah lain terdengar di telinga Samanta sehingga membuatnya menoleh, begitupun juga dengan Arsa. suara itu berasal dari balik dinding, di sana ada Jimmy yang sedang mengintip sambil membawa dua botol susu.

"Mama!!!" Jimmy menangis dan memanggil namanya, seperti akan mengadukan sesuatu.

"Ada apa sayang, kenapa menangis? apa susunya sudah kamu berikan pada adikmu?" Aster menggendong Jimmy kecil dan berjalan mendekat ke arah Samanta dan Arsa.

"Mama, Alsa mengejek aku lagi... hiks... dia bilang aku masih bayi kalna belum bisa bilang lll...hiks... huah" Jimmy merengek pada induknya, dia meletakkan botol susu di atas meja dan duduk di samping Aster.

"Loh, kan memang benar sayang belum bisa bilang rrr..." Aster berbicara dengan lembut pada putranya.

"Huah... tapi Alsa bilang aku masih bayi mama, padahal kan aku lebih dulu lahil dalinya" Aster terdiam dan senyuman muncul di bawahannya.

"Gak papa sayang, Jimmy belum bisa bilang rrr tapi Jimmy lebih besar dari Arsa karena suka makan sayur." Samanta menghibur Jimmy yang masih belum berhenti merajuk.

"Benalkah mami? Hehe, wlek... Alsa bayi kecil, Jimmy udah besal kalna suka makan sayur" Jimmy balik membalas untuk mengejek perbuatan Arsa.

Terpopuler

Comments

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2023-10-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!