Samanta menarik kopernya keluar dari area bandara kota X, ini adalah lingkungan yang baru untuknya. Samanta memilih lokasi ini karena itu jauh dari Kota tempat dia tumbuh besar dan tidak begitu banyak orang menetap disana.
Tidak pula begitu luas, Samanta memilih lokasi tersebut dengan harapan dia bisa mendapatkan kehidupan yang tentram, jauh dari orang-orang yang ada di masa lalunya dan juga memulai mencari pekerjaan dan menabung untuk masa tuanya nanti.
Ada sebuah apartemen kecil di kota itu yang sudah dia sewa untuk ditinggali selama setahun ke depan, pemilik apartemen itu kebetulan adalah seorang kawan lamanya yang sudah lama tidak bertegur sapa.
Mereka tidak menjaga bertemu belum lama ini ketika Samanta pergi berbelanja ke supermarket, Samanta menceritakan semuanya kepada sahabat lamanya. Mengetahui kondisi Samanta, Aster tidak tega melihat kesulitannya.
Mereka memiliki nasib yang sama, Aster juga diceraikan oleh mantan suaminya bahkan ketika dia dalam kondisi hamil, hampir setahun yang lalu. Untung saja, Aster masih memiliki warisan dari orang tuanya sehingga dia memilih menetap di kota kecil ini dan membesarkan putranya.
Aster menatapnya dan memeluknya, ”Kau bisa menelpon untuk menjemputmu di bandara, kenapa kau menyusuhkan.dirimu sendiri?”
“Aku tidak ingin merepotkan mu. Kau sudah banyak membantu aku, Aster.” Samanta menarik kopernya kedalam apartemen.
“Jangan sungkan padaku, aku sahabatmu kau tahu. Kau menghilang begitu lama, jika aku tidak bertemu denganmu di supermarket hari itu, aku sudah berpikir kau sudah mati” Aster mengikuti Samanta masuk kedalam gedung apartemennya.
Samanta berhenti dan menoleh, “Ngomong-ngomong, dimana kamarku?”
“Mari, ikut aku...,” Aster berjalan lebih dulu menuju.ke lantai dua dan berbelok ke kiri. Dia kemudian berhenti di depan kamar nomor 15.
Meskipun kota ini kecil, Apartemen milik Aster merupakan salah satu yang terbesar di sana. Biasanya, apartemen itu hanya akan di sewa oleh pebisnis yang kebetulan sedang lewat untuk beristirahat sejenak.
Ruangannya tidak terlalu luas tapi isinya begitu rapi dan bersih. Samanta mengikuti Aster masuk dan dia meletakkan kopernya kemudian menjatuhkan dirinya di sebuah sofa ruang tengah.
“Hei, apa rencanamu berikutnya?” Aster bertanya setelah lama dalam keheningan.
“Aku mungkin akan mulai mencari pekerjaan besok, menjadi pelayan kafe atau mungkin karyawan di toko, apa saja yang bisa menghasilkan uang.” ucap Samanta.
Dia memikirkan hal ini, karena kota ini kecil, tidak akan memiliki banyak sumber daya yang dapat di gunakan. Sepanjang jalan dari bandara tadi, Samanta sudah memperhatikannya.
Ada beberapa kafe kecil, toko serba ada, warung makan, Toko sovenir, pedagang keliling, puskesmas. Masyarakat di kota ini lebih banyak berjalan kaki dan beberapa hanya menggunakan kendaraan roda dua dan mobil yang tidak begitu mahal.
"Baiklah, kalau begitu istirahatlah. Aku harus memeriksa apakah putraku sudah bangun, dia pasti akan menangis jika aku tidak ada di sampingnya”
“Kau sudah punya anak?” Tanya Samanta.
“Ya, sekarang usianya sudah 9 bulan. Lain kali, aku akan mempertemukan kalian berdua,” Aster tersenyum kemudian meninggalkan kamar apartemen Samanta.
Setelah Aster pergi, Samanta mulai mengatur barang-barangnya, dia mengeluarkan pakaiannya dan memasukkannya kedalam lemari di dalam kamarnya. Apartemen Samanta terdiri dari dua kamar, satu kamar mandi, ruang santai dan dapur.
Setelah merapikan barangnya, Samanta memilih untuk membersihkan dirinya sebelum dia pergi tidur. Dia memperhatikan postur tubuhnya yang tampaknya sedikit gemuk, “Apa aku terlalu banyak makan?”
“Tidak, aku mungkin masuk angin karena perjalanan yang panjang.”
Satu Minggu kemudian, setelah dia mendapatkan pekerjaannya di sebuah kafe, Samanta mulai merasakan mual ketika dia mencium beberapa aroma makanan yang menyerang hidungnya. Kepalanya juga teras sedikit pusing.
Setelah pulang kerja, Samanta dengan segera kembali ke apartemen. Dia membuka pintunya dan langsung berlari ke dalam kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya.
“Ada apa denganku?” mengambil ponselnya, Samanta menghubungi Aster dan memintanya untuk datang membantunya.
Dia tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Tidak lama, pintu apartemennya terbuka dan Aster berlari masuk melihat Samanta sudah bersandar lelah di sofa ruang keluarga.
“Apa yang terjadi padamu?” Aster memberikan minyak kayu putih untuk di hirup Samanta.
“Aku tidak tahu, hampir satu Minggu ini aku selalu pusing, mudah mengantuk, tidak bisa mencium bau makanan di kafe, dan juga mual-mual...” mata Samanta menjadi sayu saat mengatakan keluhannya.
Aster menatapnya dengan serius dan berkata; “Kau harus periksa ke puskesmas, aku pernah mengalami gejala serupa saat aku masih awal-awal mengandung putraku.”
“!!!”
Samanta menatapnya dengan terkejut. Dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi, wajahnya menjadi sedih, di masa depan bagaimana dia akan membesarkan anaknya dalam kemiskinan?
Dia seharusnya tidak mengembalikan kompensasi perceraian dan tidak membiarkan keluarga angkatnya mengambil sebagian dari hartanya itu.
Aster memeluknya, “Tenang saja, kau tidak sendiri. Ada aku dan Jimmy, sekarang kita adalah keluarga.”
“Ya, kita sekarang adalah Keluarga.” Samanta membalas pelukan Aster.
Keesokan harinya, Samanta memilih untuk pergi ke puskesmas dan memeriksa kondisi tubuhnya, dia tidak akan bisa bekerja dengan baik jika dia merasa tidak baik. Bidan yang telah memeriksa Samanta, tersenyum dan menatapnya dengan baik.
“Selamat Nona, Kandungan anda sudah memasuki usia empat minggu.”
“Hah, apa katamu?” Samanta terkejut ketika dia mendengar apa yang di katakan bidan tersebut.
“Selamat Nona, anda Hamil, saya harap anda menjaga kesehatan anda dengan baik" Bidan itu meninggalkan Samanta sendiri di dalam ruangan.
"Bagaimana bisa aku hamil? Tidak mungkin...” Samanta berucap lirih dan menutup mulutnya dengan satu tangannya dan tangan lainnya mengelus perutnya.
Kenangan di malam yang panas itu kembali bermunculan di ingatan Samanta. Dari segala hal, hanya malam itu yang memberikan alasan logis tentang kehamilannya sekarang.
Malam ketika kesuciannya akhirnya di ambil oleh anjing gila itu. Itu adalah malam yang keras, karena Arkana melakukan semuanya dalam kondisi mabuk, tubuhnya benar-benar di hancurkan oleh pria itu.
Kemudian, ketika pagi datang dirinya kembali di pukuli oleh Arkana, pria itu berpikir bahwa dia berusaha untuk naik ke tempat tidurnya. Padahal disini yang menjadi korban adalah dirinya.
Perasaan Samanta kemudian menjadi sedih, itu artinya ketika dia di lempar, dan ketika dirinya berusaha untuk menghabisi dirinya sendiri, di dalam perutnya sudah ada biji kecil yang mulai terbentuk..
Samanta mengelus perutnya dan tersenyum, “Maafin mami sayang, karena tindakan mami, itu hampir mencelakai mu. Mulai sekarang, mami berjanji akan menjagamu dengan baik dan menghasilkan banyak uang untukmu.”
Samanta menatap bidan yang ada di depannya kemudian tersenyum, “Terima kasih Ibu bidan, kalau begitu saya permisi dulu.”
Bidan itu hanya mengangguk dan memperhatikan Samanta yang berjalan keluar ruangannya. “Gadis muda yang kasihan...”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Arum Sekar
lanjut kakk
2023-10-17
1