Gak bisa Kabur

Samanta perlahan membuka matanya ketika dia baru saja mencapai kesadarannya, matanya menatap kosong langit-langit bernuansa putih itu dengan pandangan kosong dan selang infus di tangannya, kemudian bibirnya tersenyum sedih.

.Sial, dia gagal mati!

.Hati Samanta menangis dalam keheningan, merasa tidak ada keadilan. mengapa sang pencipta tidak membiarkannya mati saja? apakah penderitaannya masih belum cukup sehingga nyawanya masih bisa di selamatkan.

Dia benar-benar lelah...

Teman aktornya itu sudah memberikan klarifikasi atas hubungan mereka, tapi sepertinya ada tangan yang jauh lebih cekatan. Semua tuduhan dilemparkan padanya, sebagai wanita penggoda dan bahkan dengan terang membawa nama keluarga Frederik.

“Bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari rumah ini?” Samanta bertanya pada dirinya sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya..

Sebagai istri dari seorang pewaris Kerajaan bisnis keluarga konglomerat, Samanta tahu rumah ini di penuhi dengan kamera pengawas, jika tidak Bagaimana pria itu tahu dia meninggalkan rumah?

Sebenarnya itu juga salah suaminya yang tidak dapat di ajak kerja sama. Sejak awal pernikahan mereka, Samanta hanya di temani penjaga rumah, Arka sama sekali tidak menyediakan pelayan untuk mengurus dapur dan keperluan lainnya.

Arka juga melarangnya keluar agar dirinya tidak menarik perhatian, orang itu sangat menjunjung tinggi martabatnya di media sosial dan sangat menjaga nama baik keluarganya.

Semula mereka memutuskan untuk jalan masing-masing, dan tidur di kamar yang berbeda. Tidak saling ikut campur, dan hubungan mereka hanya sebatas diatas kertas saja, sampai Skandal itu terjadi. Samanta mendapatkan kekerasan fisik dan pelecehan jasmani. Secara sepihak.

Dan tampaknya, Samanta sekarang tidak berada di kamarnya.

"Huh?”

“Sudah sadar, eh...” dia melihat Arkana berdiri di dekat jendela dan menatap keluar jauh ke depan seolah-olah sedang memikirkan sesuatu..

“Kau, kenapa menyelamatkan aku?” Samanta menatapnya dengan sengit.

Krakk!!!

Bunyi remasan barang yang hancur terdengar, disusul oleh langkah kaki Arka yang mendekat ke arah ranjang, “Aku tidak peduli kalau kau mati, tapi jangan meninggalkan ayatmu di rumahku!”

“Kalau begitu, beri aku kebebasan. Biarkan aku pergi, aku berjanji tidak akan menampakkan wajahku lagi..”

“Gadis bodoh, Apa kau pikir itu mudah untuk keluarga Frederik! Jika semudah itu, sudah ku lakukan sejak dulu...”

“Lalu sampai kapan ini akan terjadi?”

“Sampai nyonya yang asli kembali, selama itu kau harus menggantikan tugasnya. Jadilah pemuasku”

Samanta mengernyit menatap pria sampah di depannya. Orang itu sudah melakukannya beberapa kali, memaksanya untuk patuh dan membiarkan burungnya masuk ke sangkar kemudian menembak beberapa kali.

“Ck, apa kau menganggap wanita hanya setengah itu? Ya, sama seperti dirimu yang rendahan”

Plak!

Tamparan mengenai pipi Samanta, wanita 23 tahun itu menatap suaminya dengan mata lelah, dan kebingungan. sebenarnya apa mau pria itu?

“Kau tidak punya hak suara disini, jangan pernah membahas wanitaku. wanitaku lebih tinggi darimu, dia berhak mendapatkan semua kebahagiaan dimuka bumi ini.”

Hahaha...

Suara tawa Samanta terdengar memenuhi ruang kamar Arkana. Samanta memikirkan posisinya, keluarga Frederik bukan keluarga biasa, itu adalah keluarga konglomerat di kota ini. Arka lahir dengan sendok emas, seharusnya perceraian adalah hal yang mudah.

Jadi apa masalahnya?

Samanta tidak mengetahui bahwa setelah dia melakukan hal nekat, keluarga besar Arkana memanggilnya untuk bicara, Ayahnya marah karena membuat penyakit jantung kakeknya kambuh lagi.

Arka tidak mengetahui alasan mengapa keluarganya begitu mentolerir Samanta, padahal semua masalah berasal dari gadis itu, atau mungkin keluarganya sudah mulai melembek sehingga tidak peduli dengan kabar yang beredar

"Aku akan bercerai dengan wanita itu tidak peduli kalian menolak keputusan ku, aku tetap akan berpisah dengannya, jadi jangan halangi aku, Ayah" Arka menatap pria paruh baya yang duduk di kursi ruang kerja, rumah besar Frederik

Tuan Besar menatap putra tunggalnya dengan sengit, dasar anak keras kepala. "Lakukan kalau kau mau, tapi jangan datang meminta bantuan keluarga jika suatu hari kau menyesali perbuatanmu. Keturunan Frederik mewarisi darah keras dan konsisten. Hitam tidak pernah berubah menjadi putih.”

“Apa maksudmu keputusanku akan membuatku menyesal? Jangan merasa kalian jauh lebih mengenal wanita itu, Aku pastikan aku tidak akan pernah menyesali keputusanku.”

“Terserah, tapi kau hanya bisa melakukan itu setelah dia sehat.”

Saat itu, Arka hanya mendengarkan kalimat ayahnya kemudian dia keluar dari ruangan dan menuju ke kantor, bekerja sampai sore kemudian kembali ke rumahnya di pinggir kota. Masuk kedalam kamar dan memperhatikan Samanta yang masih tidur..

Dia benar-benar tidak peduli dengan gadis itu tapi jika membayangkan kemolekannya burung peliharaannya selalu bangun dan terus meminta untuk dimanjakan di dalam sangkar.

Dia menjadi pria kecanduan

Dia ingin terus menyentuh dan menembak, sayangnya jika terus melakukan itu kondisi Samanta tidak akan membaik, dengan begitu dia tidak akan bisa mengurus perceraian mereka.

Melihat pria di depannya diam begitu lama, Samanta memutuskan untuk beranjak dari kasur dan kembali ke kamarnya, akan tetapi langkahnya dihentikan oleh Arkana; “Siapa yang mengizinkanmu meninggalkan ruangan ini?”

Samanta mengernyit menatap pria itu, “Kau mau menahan aku di sini?”

“Perintah kakek, sudah jangan protes.”

Orang ini kenapa kembali menjadi normal seperti sebelumnya? Samanta sama sekali tidak mengerti, jelas sebelum dia melakukan percobaan bunuh diri, pria di depannya tidak bertindak seperti manusia normal pada umunya.

Arka keluar dari kamar dan kembali mengunci pintu itu, dia berjalan ke ruang kerjanya dan melanjutkan.pekerjaannya yang lain. Beberapa saat kemudian, Arka mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya.

[Arkana: Pesankan aku tiket ke kota B untuk besok pagi.]

^^^[Edward: Untuk apa kau kesana? Aku ingat, kau tidak punya rencana perjalanan bisnis untuk beberapa hari kedepannya}^^^

[Arkana: Lakukan saja, ku beri bonus 1.000.000]

^^^[Edward: Oke bos, tiket akan aku urus]^^^

[Arkana: Dan tolong atur seseorang untuk mengawasi wanita itu selama aku pergi.]

^^^[Edward: Em...]^^^

Setelah beberapa saat, ponsel Arka kembali berbunyi. Tiket sudah dia dapatkan dan bonus sudah dia kirimkan. Tempat tujuannya adalah kota B, dia berpikir untuk sebaiknya memberikan kebebasan untuk Samanta agar wanita itu bisa segera pulih. Jika dia terus ada disini, Arka tidak tahu apakah dia bisa menahannya lebih lama lagi.

Sementara itu, Samanta yang berada di kamar sudah sudah melepas infusnya dan beranjak turun dari kasur, semula dia jalan ke pintu tetapi menemukan bahwa pria itu mengunci pintunya.

Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain selain Menuju ke balkon kamar. Kamar Arka ada di lantai dua, jaraknya tidak akan langsung membuatnya mati, hanya saja melompat adalah pilihan yang buruk karena akan menimbulkan suara.

“Tidak ada pilihan lain aku harus menggunakan Alat bantu, seperti Selimut mahal milik pria itu.”

Akhirnya, Samanta menyatukan semua selimut yang ada di dalam kamar, kemudian mengikatnya di balkon lalu meluncur turun dari atas. Sayangnya dia tidak pernah memikirkan bahwa rumah Arka masih memiliki keamanan lain selain kamera pengawas.

Treng!

Treng!

Treng!

“Sialan! untuk apa dia meletakkan sirene di area kolam renan!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!