Calon Bayi yang Pengertian

Di kota xxx setelah Aster mengetahui tentang kehamilan Samanta, dirinya langsung meminta Samanta untuk berhenti bekerja dan sebaiknya beristirahat di rumah saja.

Aster tak menyangkah bahwa Samanta benar-benar mengalami apa yang pernah dia alami sebelumnya. Suaminya meninggalkan dia ketika dirinya masih dalam kondisi hamil, yang berbeda adalah dia pergi tanpa kejelasan.

Aster menganggap pernikahan mereka selesai setelah enam bulan suaminya tidak pernah ada kabar. Dia langsung kembali ke kota kecil ini dan memulai hidupnya, melanjutkan bisnis penginapan yang pernah di kerjakan oleh ayahnya.

Sementara Samanta, dia benar-benar sudah di tinggalkan. Bahkan, sekarang dia memiliki beban tambahan di punggungnya. Yah, itu bukan soal adanya anak, hanya saja tentang biaya yang dia perlukan untuk hidup juga semakin bertambah.

"Huah...Apa aku akan baik-baik saja...Hoek.  ” Samanta berlari kedalam kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.

Aster tersenyum dan memijat belakang leher Samanta dengan minyak kayu putih, "Tentu, kau akan baik-baik saja. mual di pagi hari adalah hal yang wajar untuk Ibu hamil muda sepertimu. aku juga pernah merasakannya saat mengandung Jimmy"

Wajah Samanta pucat dan tenggorokannya tidak nyama, “Benarkah? Aku sudah berpikiran buruk. ku kira sesuatu akan terjadi pada bayiku...Hoek"

"Tidak akan ada yang terjadi, kecuali jika bayimu menginginkan sesuatu, kau mungkin akan makan makanan yang tidak kau sukai atau melakukan hal yang aneh.” jelas Aster. 

"Em, aku harap dia tidak meminta yang aneh-aneh. sayang, jangan menyusahkan mami yah. kita sedang berada di kota kecil, tidak banyak makanan disini.”

Seolah mengerti apa yang di Katan Samanta, biji kecil yang tertanam di dalam perutnya akhirnya tenang dan rasa mualnya kemudian hilang. Merasa sudah baikan, Samanta akhirnya bisa duduk dengan tenang.

Samanta menutup matanya dan mengelus perutnya dengan sayang. Bibirnya tersenyum dan mulai membayangkan kehidupannya di masa depan bersama dengan calon anaknya.

Pasti akan sangat menyenangkan...

Setalah beberapa saat, Samanta membuka matanya dan menyalakan kembali laptopnya untuk menulis kelanjutan dari draf ceritanya yang sudah lama tidak dia sentuh lagi.

"Wow, sejak kapan kau bisa menulis? Aku ingat dulu kau sangat buruk dalam hal ini” Aster duduk di samping Samanta dan memperhatikan layar laptop wanita itu.

Aster membaca bagian awal dari novel Samanta dan sedikit mengernyit, dia menatap Samanta lalu berkata; "Hei, aku rasa judul ini sedikit...”

Samanta balik menatapnya dan senyum di bibirnya bermekaran; “Realistis, kan? Aku terinspirasi oleh kehidupanku sendiri, aku menikah karena orang tua angkat ku, karena adik angkat ku kabur keluar negeri satu bulan sebelum hari pernikahan.”

"Sial, kau benar-benar sesuatu. Boleh aku jadi yang pertama? ayolah....” Aster melongo terkejut dan penuh ketidakpercayaan, dia jadi penasaran dengan Novel yang Samanta tulis.

"Oke...Oek...”

Samanta melirik salah satu pintu kamar dan tersenyum lagi, "Aku rasa sebaiknya kau menunggu aku mempublikasikannya Minggu depan. Kau harus mengurus Jimmy dulu.”

“Humbt, yasudah deh kalau begitu.” Aster beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam salah satu kamar dimana seorang balita berusia hampir 11 bulan sedang menangis.

"Sayang, cup...cup... diam yah, mama disini apa bayi kecil mama sedang lapar?” Aster membawa Jimmy kedalam dekapannya.

Wajah putih kecilnya dan mata beningnya yang bersinar sangat menawan. sayangnya postur wajah Jimmy begitu mengikuti pria yang tidak bertanggungjawab itu. Sehingga, terkadang Aster suka bersedih karena mengingat masa lalunya lagi.

Setelah membuat Jimmy kembali tidur, Aster keluar dan duduk di samping Samanta lagi. Dia melihat Samanta sedang begitu fokus dengan ketikannya.

Sangat serius...

“Kau sudah akan menyelesaikannya?” Aster bertanya dan menatap kagum pada layar laptop Samanta.

Samanta mengangguk dengan semangat;  “Ya, aku sudah lama menulis novel ini, sayangnya sempat terhenti karena tidak mendapatkan inspirasi."

"Lalu, bagaimana dengan sekarang?” Tanyanya dengan penasaran.

"Lihat saja sendiri, ini inspirasi yang bagus bukan?” Samanta menoleh pada Aster saat berbicara.

Aster mulai membaca deretan kalimat yang ada di layar laptop Samanta, kemudian matanya melotot terkejut; “ Astaga, kau menjadikan dirimu sendiri sebagai tokoh utama? seorang pengganti?”

"Awalnya, aku tidak berencana seperti itu  tapi siapa Sanglah aku justru mengalami hal yang sama dengan tokoh yang aku ciptakan sendiri?” Wajahnya menjadi sendu ketika dia mengatakannya.

Rencana awal alur cerita yang dia buat itu biasa saja, pernikahan yang terjadi karena perjodohan keluarga, Sasa menggantikan kakaknya untuk menikah. Konflik perkawinan tidak terlalu berat, dengan alur yang santai.

Namun Seiring berjalannya waktu konsep Samanta adalah tentang  perasaan diantara keduanya pun mulai tumbuh, sampai akhirnya kakaknya kembali dan sikap suaminya.memjadi berubah.

Perubahan itu membuat Sasa sadar dengan posisinya, sehingga dia dengan perlahan memilih untuk mundur dan menyerahkan posisi itu kembali pada sang kakak.

Tulisan Samanta berakhir sampai disana karena tidak mengatakan ide untuk alur selanjutnya. kemudian kejadian itu terjadi di hidupnya. Di malam hari, ketika semua orang sudah tidur, Samanta akan bangun dan kembali menulis ceritanya lagi.

"Uh, Aku tidak menyangkah kau akan melakukan seperti itu.," Aster menghela napas lalu berdiri dan pergi mengambilkan Samanta beberapa potong buah segar.

Samanta dengan perasaan yang lembut berkata; "Aku hanya tidak menyadari jika sudah memasukkan diriku sendiri kedalam Cerita."

Semua hal bisa terjadi saat kamu menulis dalam keadaan menangis, karena pada saat  itu bukan pikiran yang berkerja tetapi perasaan yang sedang dialami oleh penulis sendiri.

"Iya, baiklah. Ngomong-ngomong apa kau tidak ingin memakan sesuatu?” Aster bertanya dan menatap serius Samanta.

“Em, kenapa kau bertanya begitu?” Samanta menghentikan kegiatan mengetuknya dan menatap Aster.

Aster menghela napasnya kemudian berkata; "Tiga bulan pertama, ibu hamil biasanya menginginkan banyak hal, kau yakin tidak ingin sesuatu?”

Samanta mengernyit, benar juga kandungannya sudah mau memasuki bulan kedua tapi dia sama sekali tidak merasakan ngidam, "Mungkin bayiku tahu aku tidak punya banyak uang jadi dia tidak banyak meminta. Lihat, mungkin saja dia ingin menulis sehingga hari ini aku memiliki ide untuk melanjutkan ceritanya.”

Kali ini, Aster menatapnya dengan lebih serius lagi, temannya ini seharusnya memiliki sesuatu yang ingin dia.makan; "Tak apa, katakan saja. aku bisa meminta kenalanku untuk membantu, tidak perlu sungkan begitu.”

"Baiklah, aku ingin makan Samyang level 20. Itu saja," Samanta menghela napasnya setelah dia mengutarakan isi hatinya.

Aster tersenyum dengan mata berbinar karena memperoleh kemenangan setelah mendengar keinginan Samanta. Dia kemudian mengambil ponselnya dan membuat pengumuman di sosial medianya.

[Mama_Jimmy: Temanku sedang ngidam Samyang, dimana aku harus menemukannya?] 

[Cicakmati: apa yang di inginkan temanmu, saos Samyang atau.mie Samyang, katakan dengan jelas...]

[Buayaterbang: Pesan online saja, tapi harus tunggu beberapa hari]

[Felix Theo: Siapa yang ngidam?]

Terpopuler

Comments

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2023-10-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!