9 Bulan 10 Hari

Keesokan harinya Aster bangun seperti biasanya, Dia pergi mengecek putra kecilnya mungkin saja Jimmy mengompol lagi dan membuat tidurnya tidak nyaman. Setelah mengejek, Aster tersenyum bangga dan mencium dahi bayinya.

Bagus, bayiku sudah mulai meninggalkan kebiasaan buruknya!

Aster keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Setelah mengetahui kehamilan Sahabatnya, Aster memutuskan untuk tinggal di tempat Samanta, kebetulan apartemen itu memiliki dua buah kamar.

Aster tidak ingin Samanta merasakan hal yang sama seperti yang dulu dia rasakan selama masih mengandung Jimmy. Dia tinggal sendiri dan tidak bisa mengandalkan siapapun, jadi segala hal Aster mengurusnya sendiri, kecuali saat proses bersalin.

Seorang bidan beranak yang kebetulan menyewa tempatnya, membatu proses persalinannya.

Ketika Kandungan Samanta sudah akan memasuki bulan ke dua. Astermemnufuskan untuk mengurus Samanta selama dalam masa kehamilannya. Wanita hamil biasanya sangat sensitif, Mudah lelah dan yang baru-baru saja Samanta alami belakangan ini.

Morning Sickness...

Kondisi dimana perasaan ingin muntah yang disebut juga mual, dan muntah, yang terjadi selama kehamilan . biasanya ini terjadi di awal kehamilan, dan bisa saja di waktu yang tidak menentu seperti pagi, siang atau bahkan malam hari.

Hoek!

Aster mencuci tangan dan mengeringkannya dengan serbet, kemudian dia keluar dari dapur dan melihat pintu kamar mandi sudah terbuka. Aster mendekat dan memijat leher belakang Samanta.

“Bagaimana, apakah masih merasa tidak nyaman?”

“Ugh...sedikit, Aku pikir bayi kecilku akan pengertian, ternyata dia juga rewel...”

“Kedepannya hindari minuman berkafein, sering-seringlah makan tapi tidak dalam porsi yang banyak dan terpenting perbanyak minum air putih.”

“Em...Bantu aku menuju sofa"

Aster membantu Samanta, kemudian dia menuju dapur dan mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Samanta. Samanta menerima secangkir air putih dan meminumnya, rasa mualnya kemudian mulai berkurang.

“Bagaimana sekarang?" Aster bertanya dengan tangan yang masih ada di belakang leher Samanta.

“Sudah sedikit lebih baik, terima kasih.”

“Jangan sungkan, sekarang kita adalah keluarga, tunggu disini aku akan segera kembali. ”

“Kau mau kemana?”

“Sudah waktunya Ibu hamil sarapan. aku membuat bubur pagi ini dan aku rasa sudah jadi.”

Tidak lama Aster kembali dengan sebuah mangkok di tangannya. Samanta memakannya dan menuruti semua perintah Aster selama masa-masa mengandung. Samanta benar-benar fokus pada novelnya dan hidup dari dukungan pembacanya.

Memasuki bulan ke lima, Samanta mulai merasa cepat lelah, padahal setiap hari dia hanya mengerjakan novelnya. Hanya otak dan jari jemarinya yang bekerja keras. Samanta menghentikan ketikannya lalu meregangkan tangannya.

Semangat menulisnya menjadi sedikit menurun dan di gantikan dengan nafsu makan Samanta yang meningkat. Berat.bsdannha sudah naik dan perutnya juga semakin cepat membesar, itu.membuat Samanta sering kali merasakan kelelahan dan pegal di pundaknya.

“Pergilah tidur jika mengantuk, kau selalu.saja tidak ingin lepas dari sofa itu.”

“Aku baik-baik saja, ini bukan situasi yang sulit ”

“Baiklah, biarkan aku memijat lenganmu.”

Samanta meliriknya, “Bagaimana dengan Jimmy? Kau sepertinya tidak memperhatikannya belakangan ini.”

“Kau tenang saja, Jimmy sedang tidur mungkin karena lelah bermain, jadi tidak apa jika aku kembali mengurus Ibu hamil.”

Ting!

Tong!

Ting!

“Aku rasa ada tamu, biarkan aku memetiknya dulu.” Aster meninggalkan Samanta dan menuju ke pintu untuk melihat siapa yang datang.

 Tiga orang tukang antar barang berdiri di depan Aster, sambil menenteng masing-masing kardus besar. Aster mempersilahkan ketiga orang itu untuk membawanya masuk.

Samanta memperhatikan dan akhirnya dia lagi-lagi mengernyit. “Apakah dari pembacaku lagi?”

“Entahlah, kali ini aku tidak menemukan petunjuk lagi. Aku rasa kali ini pengirimnya berbeda,” Jawab Aster.

“Kira-kira siapa orang baik itu yah, dia selalu mengirim persediaan makanan dan juga keperluan lainnya sejak dua bulan lalu.”

“Entahlah, tapi mari doakan agar keluarganya selalu bahagia."

Inilah kenapa Samanta berani berkata bahwa dia bertahan hidup karena kiriman dari pembaca onlinenya. Sejak usia kandungan Samanta memasuki tiga bulan, mereka mulai mendapatkan kiriman berupa kebutuhan bulanan.

Bahkan didalamnya juga ada susu khusus Ibu hamil, padahal Samanta tidak pernah mengatakan pada siapapun termasuk pembaca onlinenya tentang kandungannya dan juga tentang alamat tempat tinggalnya sekarang.

“Jangan terlalu banyak berpikir, meskipun identitas pengirim dirahasiakan. Aku yakin, dia orang yang baik.”

“Tapi ini sama sekali masuk akal, aku tak apa jika tentang kebutuhan bulanan, hanya saja susu hamil dan vitamin, bagaimana dia tahu?”

“Hush, sudahlah... sebaiknya lihat manfaatnya dengan begitu kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Sudah, sebaiknya kau kembali ke kamarku dan tidur.”

Setelah Aster selesai menata bahan-bahan dia membantu Samanta menuju kamarnya untuk istirahat. Tidak baik jika dia terlalu banyak berpikir, itu akan berpengaruh pada kesehatan keduanya..

Mendekati hari lahirannya, Samanta benar-benar hanya berada di tempat tidur. Keringat bercucuran, dan rasa sakit yang hebat melandanya. Aster menunggu di luar bersama dengan Jimmy dalam gendongannya.

Sementara Samanta berada di dalam kamarnya dibantu oleh Bidan beranak yang pernah membantu kelahiran Jimmy dulu. Aster berjalan bolak balik didepan pintu kamar, dia juga sudah sedikit berkeringat.

"Mama...”

“Sayang, sebentar lagi kau akan punya adik kecil, kau senang kan?”

Jimmy menatap mamanya dengan bingung, meskipun dia sama sekali tidak mengerti, anak balita berusia satu tahun itu hanya mengangguk saja dan tersenyum dengan mata bunga yang berbinar.

Oek!

Oek!

Oek!

Samanta menghela napas lega dan tersenyum ketika mendengar suara tangisan anaknya, Bidan itu pergi dan membersihkan bayi kecil itu, setelahnya dia kembali dan menyerahkan bayi dalam gendongannya kepada Samanta.

"Selamat Ibu, Putra anda lahir dalam kondisi yang sehat dan tampan.” Ibu bidan beranak tersenyum pada Samanta.

“Terima kasih Ibu bidan atas bantuannya, berapa jasa bersalin yang harus saya bayar?”

“Anda tidak perlu membayar, biaya sudah ditanggung oleh keluarga anda.”

“Keluarga?” Samanta mengernyit sedikit bingung, dia sama sekali tidak memiliki anggota keluarga kecuali Aster dan Jimmy.

Setelah bidan beranak itu pergi, Aster masuk kedalam kamar Samanta, sambil menggendong Jimmy, dia tersenyum bahagia melihat Sahabat dan keponakannya yang baru saja Lahir.

“Jadi apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?” Aster bertanya padanya..

Samanta tersenyum dengan lembut, sambil memandangi wajah putra kecilnya yang sedang menyusu, “Ya, Arsa Leondra. Itu nama kesayanganku,”

"Arsa Leondra, nama yang bagus.”

Disisi lain, Arkana tiba-tiba bangun dari tidurnya. Matanya bengkak karena menangis lagi, kepalanya menjadi linglung Karena kurang istirahat dan juga nutrisi. Dia sedang duduk di lantai dan bersandar pada ranjang kamar Samanta:

“Bagaimana bisa aku seperti mendengar suara tangisan seorang Bayi?”

Terpopuler

Comments

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kakk

2023-10-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!