Rasanya ingin Mati

Samanta berbaring dengan lembut di atas kasurnya, tulang-tulangnya begitu sakit. Sudah tidak terhentikan lagi rasa sakit yang di dapatkannya selama satu Minggu penuh ini.

Sejak kejadian mabuk anjing liar itu, terjadi. Tidak ada kata damai dalam kehidupan sunyi Samanta. Arkana tidak membiarkan dia untuk istirahat sedikitpun. Pagi hari dan malam hari yang panjang adalah waktu liar si anjing gila tersebut.

Samanta tidak dapat melawan, dia merasa lemah karena rasa sakitnya yang sering dia dapatkan. Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, umpatan kutukan yang di berikan oleh Samanta pada Arkana.

Samanta bangkit, dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sekarang jam menunjukkan pukul 17.00 sore, masih ada beberapa jam lagi sebelum Arkana pulang.

Setelah acara mandi selesai, Samanta menuju ke dapur dan memasak untuk makan malamnya, dia penuh harap agar anjing liar itu tidak kembali malam ini, badannya sangat membutuhkan istirahat yang cukup begitupun juga dengan hati dan pikirannya.

Namun mungkin memang takdirnya yang buruk, sehingga sekarang Samanta melihat Arkana berdiri di ambang pintu ruang makan dan menatap kearahnya.

"Kau, apa kau sudah makan?" Samanta mencoba untuk sedikit merasa tenang dengan bertanya pada suaminya itu.

Arkana menyeringai menatap ke arah Samanta dan berkata dengan suara yang dingin; "Hm, apakah kau menyiapkan semua ini? Sangat bagus, tapi bagaimana jika kita melakukan sebuah pembukaan dulu?"

Samanta melotot, kakinya mulai gemetar kembali sehingga perlahan dia tanpa sadar meluncur ke belakang dan setiap kali dia melakukannya, Arkana akan selalu melangkah maju mendekat kearahnya.

"Apakah kau takut? Ini sudah satu Minggu, seharusnya kau sudah terbiasa. Benar bukan?" Arka melihatnya dan menatapnya dengan senyum aneh di wajahnya.

"Kau, apa yang mau kau lakukan!" tatapan Takut terlihat jelas di mata Samanta.

Arka mendekat pada Samanta. Wajah putih milik wanita itu bersemu memerah dan terkejut, Sekilas Arka tertawa dalam hatinya, istrinya ini cukup lucu ternyata..

Samanta melotot, kakinya memilih untuk berjalan mundur ketika Arka melangkah maju.

"Aku sudah bilang, tatap mataku dan jawab pertanyaannya ku, apa kau masih tidak mengingatnya?" Arkana mengangkat dagu Samanta lalu menatapnya dengan tatapan yang membuat Samanta jadi merinding.

Kemudian bibir Samanta diserang lagi oleh seekor anjing liar. Rasa perih dirasakan oleh Samanta, pasti berdarah lagi, sangat sakit. Air matanya pun akhirnya tumpah lagi, dan suara tangis kemudian menyerang pendengaran Arkana.

Arkana melepaskannya lalu memandang Samanta, dan berdecak tidak suka; "Dasar cengeng!"

Arkana membanting Samanta ke lantai, dan meninggalkan wanita itu tanpa menoleh. Samanta duduk dan memeluk lututnya, masih terus menangis.

Kapan dia bisa bebas dari rumah ini?

Adakah hari dimana dia bisa pergi?

Samanta tidak bisa menahan jika harus mengalami pelecehan dan kekerasan rumah tangga setiap harinya. Bagaimanapun juga dia cuma manusia biasa, bukan robot yang tahan banting.

Samanta berdiri nafsu makannya menghilang, dia akhirnya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai pertama, mengunci pintunya dan mengurung dirinya di dalam kamar mandi.

Samanta meraih sebuah silet yang ada di sana, entah sudah berapa kali pula Samanta melakukan hal ini, tapi langit sepertinya masih belum mau menerimanya.

Dia menggores area nadinya lagi, goresan itu tidak dalam. Namun cukup untuk membuatnya menjadi tenang sedikit, darah miliknya mengalir, menetes kebawah lantai dingin.

"Aku ingin pergi, ini menyakitkan," Samanta masuk kedalam bak mandi dan membiarkan dirinya diam disana.

Brakk!!!

Gubrak!!

Prakkk!!

"Buka pintunya wanita sialan!!!" Arkana berteriak dari luar, tadinya dia ingin memulai permainannya tetapi dia tidak menemukan sosok sang istri di ruang makan.

"Kau pasti di dalam kan? Ayolah, jangan sembunyi dariku. Jika kau membuatku puas, aku bisa memberikanmu banyak hartaku. Kau mau kan?"

Samanta mengabaikan pendengarannya, dia tetap menutup matanya, merasakan sesuatu yang mengenai area luka bekas silet tadi, "Tolong biarkan aku mati. Aku tidak kuat," lirihnya

Brakk!

Brakk!

Gubrak!

Pintu akhirnya berhasil di buka oleh Arkana, dia berjalan memasuki kamar Samanta, dan melihat isinya. Lalu kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi, karena mendengar suara air yang mengalir.

Terkejut! Mata Arkana membulat sempurna dan tali yang dia bawa tadi terjatuh di lantai. Dia melihat Samanta sudah tidak sadarkan diri sambil berendam di air, yang sudah mulai keruh.

Arkana bergegas mengangkatnya dan melihat kulit serta wajahnya yang memucat; "Apakah aku terlalu berlebihan?"

Jujur saja setelah menghabiskan malam yang panjang dengan Samanta, Arkana seperti merasakan perasaan yang aneh, badannya bergejolak dan seperti meminta lebih.

Ini perasaan yang sulit dia jelaskan, selama ini dia sudah melakukannya dengan banyak wanita dan tidak pernah ada perasaan yang semenyenangkan ini, Arkana merasa lebih bersemangat dan lelahnya akan hilang ketika dia bersama dengan Samanta.

Istri yang selama ini sudah dia abaikan.

Dia baru menyadari bahwa Samanta memiliki aroma badan yang khas dan menenangkan, sehingga itu membuat perasaan Arkana lebih tenang, dan tidurnya juga jadi lebih baik.

Tetapi Arkana tidak bisa menyadari hal ini, baginya Samanta pasti memiliki tujuan sehingga sejak awal tidak menolak perjodohan ini, Arkana melihat Samanta seperti wanita di luar sana.

Hanya menginginkan harta keluarganya.

Hatinya juga masih terus menunggu kepulangan wanita itu, wanita yang dengan tidak elitnya di usir oleh keluarganya. Di buang ke luar negeri, Arkana benci mengingat hal ini.

Sudah dua tahun lamanya Arkana terus berusaha untuk menemukan gadis itu, tetapi sama sekali tidak memberikan hasil yang baik. Kedatangan Samanta di dalam hidupnya sepanjang tahun ini justru semakin membuatnya marah.

Pada awalnya Arkana berpikir Samanta berbeda dengan gadis yang lain lain, tetapi karena rumor di luar sana dan kedekatannya dengan seorang selebriti terkenal, Arkana menjadi ragu dan memungkinkan melampiaskan semuanya pada Samanta.

Setelah dokter memeriksa keadaan Samanta, dia pun berkata; "badan nyonya sangat lemah, dan terlalu banyak luka di badannya. Jika terus seperti ini, itu akan membahayakan hidupnya."

Arkana mengangguk pada dokter kemudian mempersilahkannya untuk keluar dari ruangan tersebut. Setelah dokter pergi Arkana masuk kedalam ruang kamar Samanta, dia berdiri menatap wajah Samanta yang sedang tertidur pulas.

"Apa aku sudah terlalu berlebihan?" Dia mendekat kemudian mengelus kepala Samanta dengan lembut.

"Baiklah, Karen kau sedang sekarat aku akan bersikap baik padamu sebentar.”  Setelah mengucapkan itu Arkana meninggalkan kamar Samanta.

Di dalam ruangan yang hening, Samanta perlahan membuka matanya, kepalanya sangat pusing dan hatinya terasa nyeri. Kenapa laki-laki itu harus datang dan menolongnya? Samanta sudah tidak kuat tinggal di rumah ini, dia ingin kebebasan yang sudah lama dia impikan.

“Aku ingin bebas, bisakah aku mendapatkannya?” Samanta bertanya pada langit-langit kamarnya dengan air mata yang kembali menetes lagi, berharap Tuhan segera mengabulkan permohonannya.

Terpopuler

Comments

abcsajawelah

abcsajawelah

lanjuttt

2023-10-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!