Fani yang melihat tampak termenung melihat Dika yang mulai mengutak-atik laptopnya. Ia pun berpikir untuk melakukan sesuatu agar membuat pria itu tersenyum lagi.
"Apa yang kamu lakukan?" bola mata Dika seketika membulat sempurna saat melihat Fani mulai berjalan berlenggak-lenggok di depannya bak seorang peragawati yang sedang melakukan catwalk.
"Hanya nyobain doang kok pak dokter. Cuma pengin tahu gimana rasanya jadi dokter," jawab gadis itu cengengesan
"Tetap saja kau tidak boleh asal memakai pakaian milik orang lain. Bagaimana jika orang itu memiliki riwayat penyakit menular. Jangan ceroboh, meskipun dengan orang yang terdekat sekalipun," ucap Dika
Ucap gadis itu segera melepaskan almamater milik Dika dan mengembalikannya.
"Maaf kalau sudah membuat mu kesal," tukas Fani kemudian berlalu pergi
Melihat raut wajah kecewa Fani membuat Dika tak enak hati. Ia buru-buru mengejarnya.
Dika menarik lengan Fani dan menghentikannya.
"Maaf kalau ucapan ku sedikit menyinggung mu," ucap Dika membuat Fani langsung menoleh kearahnya
Gadis itu tersenyum senang mendengar ucapan Dika. Namun ia sengaja menyembunyikan senyumnya dari pria itu dengan membuang muka. Ia tak mau Dika sampai tahu jika ia begitu bahagia saat mendengar ucapan permintaan maaf darinya.
"It's ok, santai saja aku bukan tipe orang yang suka baperan kok," jawab Fani
"Syukurlah kalau begitu," ucap Dika
Seorang perawat tiba-tiba menghampirinya.
"Dokter ada meeting darurat di ruang pimpinan, semua dokter sudah berkumpul di sana. Jadi sebaiknya anda segera bergegas menuju ke ruang meeting," ucap wanita itu
"Baik,"
Lelaki itu kemudian melirik kearah Fani.
"Sorry Fan, sepertinya aku ada meeting jadi maaf bila aku tidak bisa menemani mu," ucap Dika
"It's ok dokter, aku juga harus pulang karena sudah siang. Terimakasih untuk waktunya hari ini. Semangat meetingnya!" jawab Fani
Wanita itu melambaikan tangannya sebelum pergi meninggalkannya. Sementara Dika tampak tersipu mendengar ucapan gadis itu.
"Dokter ayo!" seru sang perawat tiba-tiba membuyarkan lamunan Dika
Ia segera berlari menuju ruang meeting di temani sang perawat.
Setibanya di sana, semua Dokter spesialis sudah berkumpul. Semua orang tampak tegang saat melihat kedatangan Hans.
Beberapa orang tenaga medis bahkan berusaha menghilangkan rasa tegangnya dengan memilin seragam kerjanya.
Melihat wajah tegang bawahannya membuat sang Direktur rumah sakit segera memulai meeting.
Tak mau mengulur waktu, Hans segera memaparkan rencananya di depan para dokter spesialis, dan juga para tenaga medis.
Meskipun Hans sudah berusia lanjut namun tidak bisa dipungkiri jika karisma lelaki itu mampu membuat siapapun tak berkutik di hadapannya. Semua orang tampak antusias mendengarkan pidato Hans, tak seorangpun beani main-main saat meeting sedang berlangsung.
Selama 15 tahun kepemimpinannya rumah sakit berkembang cukup signifikan dari yang hanya berupa klinik hingga berubah menjadi rumah sakit umum dengan Grade B.
Wajar saja jika Edy Setyo Utomo sang pemilik rumah sakit masih mempertahankan dokter spesialis bedah itu untuk memimpin di rumah sakitnya.
"Tujuan saya mengumpulkan kalian di sini adalah untuk membentuk tim untuk menangani pasien VIP bernama Jesica Valentina yang sebenarnya adalah putriku. Sebagai seorang ayah tentu saja saya ingin memberikan pengobatan terbaik untuk putriku agar ia bisa kembali beraktivitas seperti dulu. Bahkan aku berharap kesembuhannya akan membuatnya move on dari mantan suaminya," Terang Dokter Hans
Ia juga memperkenalkan seorang dokter bedah kecantikan yang baru saja bergabung dengan rumah sakit.
"Saya sangat berharap dokter Edward bisa mengembalikan kepercayaan diri putriku dengan merubah penampilannya. Saya harap dua tim ini bisa memberikan pelayanan terbaik untuk putriku dan bisa bekerjasama dengan Dokter Edward jika perlu melakukan operasi bedah plastik," terang Hans
Semua orang tampak antusias saat mendengar challenge dari direktur rumah sakit. Kali ini mereka benar-benar bersemangat untuk membantu penyembuhan Jessica yang merupakan putri pemilik rumah sakit.
Semua orang tampak berbisik-bisik membicarakan tentang challenge tersebut. Mereka kemudian berpisah menjadi dua tim dan menuju ke ruangan masing-masing.
Dika mengajak timnya ke ruang kerjanya.
Sementara Tim kompetitor tampak sedang melakukan diskusi dengan dokter bedah plastik yang baru.
Selesai melakukan diskusi dengan tim lawan dokter bedah pun menghampiri Tim Dika.
"Apa yang harus kita lakukan dokter?" tanya salah seorang anggota tim
"Sebaiknya kalian buat rencana dulu, setelah itu serahkan kepada ku," jawab Dika
"Siap dok," jawab mereka serentak
Kini Hans mempersilakan
Kelompok satu untuk menemui Jessica. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menanyakan kepada gadis itu perihal operasi plastik kepada gadis itu.
"Sepertinya kita kalah Start, namun jangan khawatir, aku yakin kita bisa memberikan pelayanan terbaik kepada Jessica," ucap Dika memberikan semangat kepada Timnya
Hans kemudian mendatangi Dika dan timnya. Lelaki itu kemudian memberikan wejangan kepada Dika untuk sebelum melakukan visit ke bangsal perawatan Jessica.
"Karena hari ini tim pertama sudah melakukan visiting ke ruangan Jessi, maka kelompok kalian tidak bisa melakukan visit hari ini. Aku tidak mau membuat Jessica stress karena kebanyakan dokter yang berkunjung. Jadi sebaiknya besok saja kalian melakukan visiting nya. Persiapkanlah dulu semua materinya untuk besok pagi agar kalian bisa mendapatkan jawaban yang sesuai," ucap Hans
Meskipun Hari itu Tim Dika dilarang mendekati Jessica, namun seperti pesan Hans justru Dika memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari tahu lebih banyak tentang Jessica.
Ia juga diam-diam sudah mempersiapkan sebuah pengobatan yang matang untuk bisa membuat Jesica berhasil move on dari mantan suaminya.
"Selain pengobatan medis kita juga butuh seorang psikolog untuk membuat kepercayaan diri Mbak Jessica meningkat, karena percuma saja kita melakukan pengobatan medis jika Mbak Jessica tak percaya diri. Ujung-ujungnya dia bisa mencoba bunuh diri lagi," terang salah seorang anggota tim
"Tapi di tim kita tidak ada psikolog, terus gimana dong?" sahut yang lainnya
"Nanti aku coba mendekatinya segera personal. Mungkin aku bisa menjadi teman bicaranya dulu untuk memulihkan depresinya," jawab Dika
"Baik dok, semuanya kami serahkan kepada dokter. Namun aku juga akan berusaha mencari seorang psikolog untuk membantu tim kita,"
"Ok Vin, terimakasih banyak atas masukannya, nanti kita diskusikan lagi masalah ini sebelum pulang kerja. Kalau begitu sekarang kembalilah bekerja karena sebentar lagi pergantian shif," ujar Dika
Ia kemudian bergegas keluar untuk melihat aktivitas Jessica.
Meski ia tidak bisa melihat Jessi sari dekat, namun Dika tetap memperhatikan wanita itu dari kejauhan.
Ia mengamati semua yang dilakukan Jessi bersama dokter dari tim pertama.
Dilihat dari gesture nya sepertinya Jessica memang lebih membutuhkan teman bicara daripada obat. Sebagai orang yang sama-sama pernah kecewa aku tahu apa yang ia rasakan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
akankah nanti Jessica suka ma Dika
2024-01-01
0
Zuhril Witanto
ternyata anaknya dokter Hans...
2024-01-01
0
⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈
yang ada nanti Jesika jatuh cinta sama dika
2023-12-10
0